
Kala pagi datang menyapa, Soleha sudah bangun dan ikut membantu Umi di dapur. Dia ingin menyibukkan diri dari pikiran dan hati yang selalu tertuju pada David, calon bayi mereka yang sudah tidak ada, rumah tangga yang harus terpisah dan hubungan mereka yang masih belum kuat.
"Kamu masih harus istirahat, Leha." Umi meminta Leha untuk ke kamar lagi atau kalau pun ingin di dapur, hanya cukup melihat saja tanpa melakukan aktivitas yang lain.
"Ini kan tidak berat, Um." Soleha bersikeras tetap ingin membantu Umi.
"Ya sudah yang penting hati-hati." Soleha mengangguk sambil tersenyum, karena pada akhirnya Umi membiarkan dirinya untuk ikut membantu pekerjaan di dapur.
Sesekali Umi melirik pada Soleha yang sedang menyusun semua piring sampai rapi.
"Leha..." Panggil Umi.
"Iya, Um." Sahut Soleha sambil meletakkan kain lap di kursi. Lalu dia duduk di sebelah Umi.
"Berapa hari kamu cuti?."
"Insya Alloh kalau besok aku sudah merasa lebih baik, aku akan pergi ke kampus. Kasihan mereka Um yang sudah bayar uang les."
__ADS_1
"Umi harap kamu mempertimbangkan baik-baik keputusan mu untuk kedepannya."
Soleha mengangguk sambil memegang tangan Umi Uswatun.
"Iya, Um. Aku sedang mempertimbangkan semuanya. Tapi aku juga harus melihat keseriusan dan kesungguhan David dalam memperjuangkan rumah tangga kami. Jadi bukan hanya aku saja yang bertanggung jawab tapi kami berdua, Um."
Umi tersenyum hangat sambil mengusap lengan Soleha. "Entah kenapa, ibu merasa David akan sangat memperjuangkan mu."
"Aamiin, Um. Kalau seperti itu, aku merasa senang." Soleha bangkit dan hendak mengambil air minum tapi Nenek Widya sudah menyodorkannya gelas berisi air putih hangat.
"Terima kasih, Nek." Ucap Soleha sambil tersenyum lalu menerima gelas tersebut dan mulai meneguk minumannya.
Sementara itu, David sudah ke kantor. Dia akan mengambil alih perusahan yang dititipkannya pada Jack dan Rudy.
Perusahan kecil yang dibangunnya dari hasil jerih payahnya sendiri.
Meski belum memiliki banyak klien tapi lebih dari cukup untuk memajukan perusahaan dan para karyawan.
__ADS_1
"Aku sudah mencari informasi tentang dosen itu. Dan memang sudah dari lama dia sangat mengagumi sosok Soleha. Bahkan sebelum dosen itu menikahi Melia." Rudy memperlihatkan beberapa foto yang didapatnya.
David mengambil satu lembar foto yang sama persis dengan apa yang diperlihatkan oleh Melia.
"Aku sudah menuduh istri ku berbuat macam-macam. Padahal dosen itu yang tidak berhenti mengejar istri ku. Kenapa aku bisa sebodoh ini?." Gerutu David pada dirinya sendiri.
"Dan kabar yang aku dengar, dosen itu sudah menceraikan Melia, hanya saja tinggal menunggu surat keputusan pengadilan." Lanjut Rudy memberikan informasinya dengan sangat detail.
David sangat menyesali kebodohannya, bisa-bisanya dia percaya begitu saja pada Melia dan apa yang dilihatnya. Padahal itu belum tentu sesuai dengan kebenarannya.
"Tumben sekali kau tidak meminta kami untuk menyelidikinya?."
"Aku sudah begitu sangat cemburu pada mereka, hingga aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Apa lagi semua ini begitu cepat terjadinya, sampai calon anak kami yang harus menjadi korbannya." Sesal David merogoh sesuatu yang selalu dibawanya.
Dia menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Maaf kan Papa sayang."
Rudy dan Jack hanya saling pandang, pria yang garang dan tidak mengenal rasa takut itu kini menangis.
__ADS_1
Sore ini, Daddy Fahmi kembali ke rumah mereka. Mommy Bella cukup merasa senang jadi dia tidak merasa sendiri. Dan semoga saja ada perubahan yang terjadi dalam rumah tangga mereka.