
Beberapa jam sebelum pernikahan David dan Soleha akan di gelar. Itu pun Mommy Bella dan Daddy Fahmi baru mengetahuinya dari saudaranya yang lain.
Bukan dari Nenek Widya sebagai seorang ibu dari Daddy Fahmi atau pun dari David sebagai seorang putra yang seharusnya meminta restu padanya.
"Ma, tolong jelaskan pada ku apa yang tidak aku ketahui selama ini tentang David. Dan ini apa-apaan Ma?, Mama mau menikahkan David tanpa sepengetahuan ku dan Bella." Ucap Daddy Fahmi siang itu ketika semua persiapan sudah rampung seratus persen. Dan mereka hanya tinggal berangkat ke hotel dimana pernikahan itu akan dilangsungkan.
"Seperti yang kau dan Bella dengar. David akan segera menikah dengan wanita pilihan ku." Ucap Nenek Widya santai sambil menatap wajah Fahmi dan Bella silih berganti.
"Iya kan kami sebagai orang tua dari David berhak tahu, Ma. Tidak seperti ini, masa kami tahu dari Santi dan Heru. Dan Mama malah menjadikan Heru sebagai wali dari pihak David. Aku Daddy nya, Ma. Kami masih ada, kamu belum mati!." Ucap Daddy Fahmi begitu emosi dengan kenyataan yang begitu menamparnya.
"Iya kau dan Bella masih belum mati tapi seperti sudah mati karena kalian tidak pernah mempedulikan apa pun tentang David, aku dan yang lainnya.
"Yang ada dalam otak kalian hanya kekuasan, harta, bersenang-senang dan pertengkaran. Tidak ada waktu kalian untuk aku atau pun David." Ucap Nenek Widya mengeluarkan semua unek-uneknya pada sang putra dan menantu.
Daddy Fahmi dan Mommy Bella hanya bisa terdiam, karena semua yang dikatakan oleh Nenek Widya benar adanya.
Semakin mereka banyak bicara akan semakin terlihat salah di depan Nenek Widya. Sebab Nenek Widya sedikit banyaknya sudah tahu dengan borok rumah tangga mereka.
"Kalian berdua sibuk dengan pembelaan kalian yang tidak ada habisnya. Siapa pun yang salah diantara kalian. Bagi ku kalian berdua lah yang sudah sangat salah, dengan mengabaikan David selama bertahun-bertahun. Dan kalian tidak pernah menyadari itu." Lanjut Nenek Widya semakin mengeluarkan isi hatinya karena anak dan menantunya hanya menjadi pendengar yang baik.
"Tapi aku tetap ingin menjadi wali nikah untuk putra ku. Walau pun sebenarnya David tidak membutuhkan wali. Tapi setidaknya kali ini saja tolong anggap aku dan Bella ada. Kami ingin menyaksikan pernikahan putra semata wayang kami." Kata Daddy Fahmi dengan nada yang begitu lirih.
__ADS_1
"Hem...baik kalian boleh ikut, tapi aku minta tolong pada kalian jadi lah pasangan yang baik untuk anak dan menantu kalian nantinya, walau hanya cuma satu hari." Nenek Widya mengajukan syarat yang sebenarnya bisa mereka penuhi. Maka dari itu Daddy Fahmi dan Mommy Bella menyanggupinya.
Daddy Fahmi dan Mommy Bella segera bersiap karena waktu yang mereka miliki tidak banyak. Mommy Bella membawa beberapa set perhiasan sebagai Hadiah untuk menantunya. Begitu juga Daddy Fahmi sudah menyiapkan hadiah untuk David dan menantunya berbulan madu.
Tidak ada hal yang harus dipenuhi untuk menjadi menantu mereka, cukup hanya baik, sabar, setia dan bisa mengurus semua keperluan anak semata wayang mereka, bisa mengisi kekosongan yang telah lama mereka tinggalkan.
Tidak mesti orang kaya, cantik, berpangkat dan bermartabat karena mereka sudah memiliki itu semua.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Semua anggota keluarga yang ikut sudah meninggalkan Jakarta. Mereka sudah dalam perjalanan menuju Bandung. Langsung mendatangi hotel dimana tempat David dan Soleha akan menikah.
Ada kelegaan yang luar biasa ketika persiapan yang sudah jauh-jauh hari dipersiapkannya sudah selesai. Mulai dari hotel, catering, pakaian, dekorasi kamar hotel untuk malam pertama pengantin, souvernir, tamu undangan yang merupakan rekan bisnis mendiang sang suami. Yang sebagain besar dari mereka rekan bisnis dari Daddy Fahmi sebagai penerus.
"Terima kasih sudah menyiapkan semua ini untuk ku." Ucap David pada Nenek Widya yang duduk di sebelahnya.
"Akan aku usahakan Nek." Jawab David sambil tetap fokus pada kemudiannya.
"Tapi ngomong-ngomong Nek, apa calon istri ku itu memiliki anggota tubuh yang lengkap?." Goda David, karena dia mendapatkan beragam cerita dari teman geng motornya. Kalau wanita yang akan menjadi istrinya mungkin tidak memiliki tangan, jari, kaki atau anggota tubuh yang lain.
Mendengar pertanyaan konyol dari sang cucu, mulut Nenek Widya begitu gatal karena ingin memakinya. Namun tiba-tiba saja sebuah ide muncul untuk mengerjai sang cucu.
"Ada beberapa anggota tubuh yang tidak sempurna ada pada tubuh calon istri mu. Tapi apa lah artinya itu semua dengan kesalehan yang dimiliknya."
__ADS_1
Nenek Widya tersenyum kecil, ketika melihat David menelan ludahnya sendiri, sehingga terlihat jelas jakunnya yang naik turun.
"Bagaimana tubuh mana saja Nek yang tidak sempurna?." David begitu serius menanggapi ucapan sang Nenek.
"Nanti kamu akan tahu saat kalian melakukan malam pertama." Jawab Nenek Widya tanpa melihat ekspresi wajah David. Yang bisa dipastikan oleh Nenek Widya jika David pasti akan merasa penasaran dengan apa sudah diucapkan.
Tidak terasa mobil rombongan keluarga Nenek Widya sudah di sampai di hotel ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Semuanya sudah memasuki kamar masing-masing untuk persiapan besok, menyambut hari yang bersejarah untuk David.
Tidak lupa juga David mengundang teman-teman dari geng motornya. Tapi tenang saja, penampilan mereka tidak akan urakan seperti saat membawa motor besar di jalanan. Sebab pada dasarnya memang mereka bisa menyesuaikan dengan keadaan di sekeliling.
Memikirkan perkataan sang Nenek yang beberapa jam lalu, terkait dengan adanya bagian tubuh dari istrinya yang tidak sempurna. Tapi sang Nenek tidak menyebutkannya secara detail. Sehingga dirinya begitu penasaran sampai harus meraba-raba di bagian mana saja.
Tok...tok...tok...
David yang belum tidur bisa mendengar jelas ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia pun segera bangkit dan berjalan kearah pintu untuk membukanya.
"Daddy...Mommy..." Panggil David pada dua sosok manusia yang saat ini ada tepat dihadapannya.
"Boleh kami masuk?. Daddy dan Mommy tidak akan lama menyita waktu mu malam ini, hanya setengah jam." Pinta Daddy Fahmi masih belum melangkah karena belum mendapatkan izin dari si pemilik kamar.
__ADS_1
"Iya tentu saja Dad, Mom. Ayo kita masuk!." David membuka pintu kamar dengan lebar untuk mempersilakan kedua orang tuanya masuk.
Daddy Fahmi dan Mommy Bella duduk di sofa yang menghadap kearah tempat tidur. Begitu juga dengan David yang menarik kursi untuk duduk di hadapan Daddy dan Mommy nya.