
David dan Soleha masih memiliki waktu satu hari lagi untuk tetap berada di hotel. Setelahnya baru mereka akan tinggal di rumah Umi dan Abi untuk sementara sampai kuliah Soleha selesai.
Sementara anggota keluarga yang lain sudah pulang terlebih dulu, termasuk Umi dan Abah, Mommy Bella dan Daddy Fahmi.
Saat ini, hanya Nenek Widya yang masih bersama pengantin baru, namun itu pun nanti sore Nenek Widya baru akan kembali ke Jakarta.
Nenek Widya memperhatikan mereka berdua yang terlihat seperti sudah saling akrab.
Contohnya saat ini, saat mereka bertiga sedang sarapan. Dimana sangat jelas terlihat oleh kedua mata Nenek Widya. David tidak sungkan-sungkan untuk meminta sesuatu pada Soleha, dan Soleha begitu melayani dan memperhatikan David dari hal-hal kecil.
"Nenek begitu senang kalian bisa berkomunikasi dengan biak."
"Iya Nek." Jawab keduanya begitu kompak.
Soleha dan David untuk saat ini sudah berkomitmen untuk bisa berkomunikasi untuk hal apa pun. Tapi belum untuk perasaan mereka, karena itu perasaan yang tidak akan bisa dipaksakan.
"Nanti sore Nenek pulang sama siapa?." Tanya David.
"Nanti di jemput supir. Tapi supirnya ke rumah Umi dan Abi dulu karena menjemput Mang Maman dan Bibi Elis. Biar Nenek ada teman ngobrol."
"Soleha boleh minta tolong buatkan Nenek roti bakar di kasih selai coklat!."
"Baik Nek."
Soleha meninggalkan meja makan menuju tempat pembuatan roti bakar.
Nenek Widya sengaja meminta Soleha untuk membuatkan roki bakar, supaya dia bisa berbicara dengan David.
"Ingat selalu pesan Nenek, David. Tidak akan sulit untuk mencintai Soleha. Karena dia istri yang paket komplit. Jangan pernah kamu sia-sia kan dia."
"Iya Nek, aku akan selalu ingat. Aku akan belajar untuk mencintai dan menerimanya."
"Nenek tidak memiliki keinginan yang lain hanya itu saja yang Nenek ingin kan."
David mengangguk sambil memegang tangan sang Nenek yang ada disebelahnya.
"Terima kasih sayang." Ucap Nenek ketika Soleha sudah membawa roti bakar isi selai selai kacang permintaannya.
"Sama-sama Nenek."
Mereka bertiga pun segera menghabiskan makanannya. Lalu mereka kembali ke kamar hotel.
"Apa yang belum selesai di packing Nek, biar kami bantu?." Tanya Soleha saat sudah di kamar Nenek Widya.
"Sudah tidak ada Soleha, Nenek hanya bawa tas ini saja." Tunjuk Nenek Soleha pada tas kecilnya.
__ADS_1
Soleha hanya mengangguk sambil tersenyum .
Karena Nenek Widya yang ingin istirahat sebelum pulang ke Jakarta, maka Soleha dan David kembali ke dalam kamarnya.
Saat melihat tempat tidur, David kembali mengingat percintaannya tadi malam. Lalu dia menolah pada Soleha yang baru saja membuka ponselnya.
Dia tidak menyangka akan bisa melakukan hubungan suami istri tanpa adanya dasar cinta, hanya menjalankan hak dan kewajibannya mereka saja.
Tapi David juga tidak bisa memungkiri, itu adalah pengalaman pertama yang begitu indah dan tiba-tiba saja dia ingin mengulangi malam panas tersebut.
"Leha..."
"Apa?." Tatapan Soleha tertuju pada David yang duduk di tepi tempat tidur.
David tidak bisa melanjutkan perkataannya, ketika wajah teduh Soleha mengarah padanya.
Yang ada, tanpa banyak kata. David menghampiri Soleha lalu mengambil dan meletakkan ponsel Soleha di atas meja. Kemudian David menggendong Soleha dan merebahkannya di atas tidur.
Soleha hanya bisa pasrah dan menunaikan kewajibannya ketika David mulai melepaskan pakaiannya.
David langsung memeluk Soleha setelah usai percintaan mereka dengan mata yang terpejam.
"Nanti saja mandinya kalau mau shalat Dzuhur, sekarang tidur dulu!." David mengecup pipi Soleha lalu mulai tertidur. Karena memang rasa kantuk yang semalam masih belum hilang, ditambah lagi dengan percintaan yang barusan sampai dua kali.
Soleha mengangguk lalu mulai memejamkan matanya.
David dan Soleha ikut turun ke lobby guna mengantarkan Nenek Widya.
"Jaga baik-baik diri kalian."
"Iya Nek." Soleha memeluk Nenek Widya yang begitu menyayangi dirinya.
"Hati-hati, Nek." David pun melakukan hal sama, melepaskan kepergian Nenek Widya dengan sebuah pelukan hangat.
David dan Soleha masih berdiri di lobby sampai mobil yang ditumpangi Nenek Widya, Mang Mamat dan Bibi Elis tidak terlihat oleh mata keduanya.
"Ayo!." Ajak David pada Soleha sambil melangkahkan kaki menuju lift.
Saat keduanya berjalan beriringan, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil Soleha.
"Soleha..."
Soleha dan David berhenti bersamaan saat berpapasan dengan pria yang sudah memanggilnya.
"Pak Maulana?." Balas Soleha sedikit menundukkan kapala nya sebagai tanda hormat. Karena Pak Maulana merupakan salah satu Dosen yang mengajar di kampusnya.
__ADS_1
"Kamu katanya izin satu Minggu?. Pantes pas saya ngajar kamu enggak ada." Tatapan lain yang diperlihatkan oleh Pak Maulana.
"Oh iya Pak, saya izin satu Minggu."
"Oh ya Pak Maulana, kenalkan isi suami saya!."
"Suami?."
"Suami kamu?." Karana Pak Maulana cukup terkejut, dia sampai mengulang perkataanya.
"David!." Ucap David memperkenalkan diri. Ada rasa kebanggaan tersendiri, ketika Soleha memperkenalkan dirinya sebagai suaminya.
Pak Maulana menyambut perkenalan David dengan menyebutkan namanya sendiri, namun dengan perasaan yang masih belum percaya. Jika wanita idamannya selama ini sudah diperistri oleh pria lain.
Soleha berpamitan terlebih dahulu pada Pak Maulana ketika David sudah dua kali mencolek pinggangnya.
David segera menutup pintu kamar hotel lalu menguncinya.
"Apa ada yang kamu rahasiakan tentang pria dari masa lalu mu?."
Soleha menggeleng sambil duduk di tepi tempat tidur, "Tidak ada, karena aku tidak memiliki hubungan dengan siapa pun sebelum kita menikah."
"Lalu pria itu?."
"Pak Maulana Dosen di kampus ku, itu saja. Memangnya kenapa?."
"Sepertinya dia tertarik pada mu?."
"Aku tidak tahu jika Pak Maulana tertarik pada ku, karena Pak Maulana sendiri tidak pernah mengatakan hal itu.".
"Masa kamu tidak tahu?."
"Terserah pada mu saja kalau tidak percaya."
"Bukannya begitu, hanya saja aku paling tidak suka untuk dibohongi."
"Aku juga sama."
Hening untuk beberapa saat usai pembicaraan yang cukup memanas terhenti. Keduanya terdiam dengan mata yang saling menatap.
Sampai sudah larut malam, mereka belum ada yang buka suka suara lagi. Entah apa yang mereka diamkan?.
David sudah bersiap untuk naik ke atas tempat tidur, namun tiba-tiba pergelangan tangannya di pegang oleh Soleha. David pun menuruti apa yang diminta Soleha untuk bicara terlihat dulu.
"Aku tidak tahu letak salah ku dimana, jadi tolong beritahu aku jika aku ada salah pada mu. Karena aku tidak terbiasa untuk mendiamkan masalah."
__ADS_1
David menatap lekat wajah cantik sang istri. Setelah pertemuan tadi Pak Maulana, David menyadari mungkin dirinya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dosen itu, secara personal. Sebab dirinya sampai saat ini belum memiliki pekerjaan yang tetap yang bisa dibanggakan.