David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)

David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)
Bab 33 David dan Soleha


__ADS_3

Keesokan paginya....


David dan Soleha sudah sarapan bersama mereka, nenek Widya begitu senang dengan kedatangan cucu menantunya. Nenek Widya memeluk Soleha dan David sangat erat dengan kedua tangannya yang tidak sampai. nenek Widya begitu sayang pada keduanya, tidak ada yang membedakannya.


Kegagalan rumah tangga yang dialami oleh Daddy Fahmi, itu sangat melukai hatinya. Tapi itu lah yang terjadi. Dia harus bisa menerimanya.


"Kalian tidak ingin berbulan madu?." Nenek Widya mengelus lengan Soleha.


"Soleha yang belum mau, Nek. Nanti saja kalau kuliah Soleha sudah selesai."


"Oh gitu, tapi ada baiknya juga karena biar kalian bisa fokus."


"Iya, Nek." Jawab kedua kompak.


Umi dan Abi hanya tersenyum.


Nenek Widya meminta Soleha untuk menemaninya ke kamar, dan Soleha membantu memapahnya.

__ADS_1


Nenek Widya duduk di kursi, dia memegang erat tangan Soleha. "Temani lah David sampai kapan pun, jangan pernah tinggalkan dia. Kalian harus berjuang untuk selalu tetap bersama."


Soleha menghapus air mata yang jatuh membasahi kedua pipi nenek Widya.


"Ternyata nenek begitu lebih terpukul karena mendengar mereka berpisah ketimbang mendengar pertengkaran mereka. Nenek tidak ingin jika hal itu terjadi menimpa pada kalian." Lanjutnya lagi, nenek Widya mengusap lembut wajah Soleha.


Soleha memeluknya dengan penuh kasih, mengusap punggungnya dengan hangat. "Siapa pun tidak ada yang menginginkan perpisahan. Tapi mereka juga tidak berdaya untuk melawannya, Nek. Mommy dan Daddy sudah sama-sama mengusahakan yang terbaik untuk pernikahan mereka. Tapi mungkin perpisahan ini jalan yang terbaiknya. Dan untuk aku dan David, insya Allah kita akan belajar terus untuk memperbaiki diri, supaya kita sama-sama mengerti akan pentingnya sebuah rumah tangga yang utuh." Balas Soleha setelah melerai pelukannya.


Nenek Widya menunjuk tas yang berada di atas koper. Dia meminta Soleha untuk mengambilnya.


"Ini apa, Nek?." Soleha menatap wajah nenek Widya namun kembali lagi menatap kotak tersebut.


"Buka lah, Leha!." Pinta nenek Widya mengusap pipinya.


Soleha membuka kotak tersebut lalu menatap wajah nenek Widya dan meletakkan kotak itu di atas tempat tidur.


"Aku tidak bisa memberikan mu apa-apa selain itu. Kamu simpan kotak dengan baik, suatu hari nanti kamu dan David akan membutuhkannya."

__ADS_1


"Tapi aku rasa David tidak akan mau menerima ini, Nek. Aku harus tanya ke David dulu." Soleha tidak mau menerima begitu saja apa yang diberikan oleh nenek Widya. Apalagi itu memiliki nilai yang sangat besar.


"Iya kamu benar, David pasti tidak mau menerima pemberian dari nenek. Tapi tolong beri pengertian pada David, kalau nenek juga ingin memberikan sesuatu untuk kalian."


"Nek..nenek sudah banyak memberikan hal yang tak ternilai dengan apa pun. Wejangan yang dari nenek begitu David dan aku junjung tinggi. Jadi simpan lah kotak itu untuk nenek."


"Apa kalau nenek sudah meninggal kamu dan David mau menerimanya?."


"Nenek!. Jangan bicara seperti itu. Nenek pasti akan panjang umur. Apa nenek tidak ingin melihat ku dan David memiliki anak."


Nenek Widya mengangguk sambil tersenyum.


"Nenek pasti akan melihatnya, tapi tolong kamu terima kotak ini."


Nenek Widya kembali memohon dan akhirnya Soleha luluh juga untuk menerima kotak berisi perhiasan dan surat berharga lainnya.


"Terima kasih, Leha. Sekarang nenek bisa pergi dengan tenang." Soleha mengerutkan keningnya kala mendengar ucapan nenek Widya seperti salam perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2