David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)

David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)
Bab 13 David dan Soleha


__ADS_3

"Sejak kapan kamu di sini?." Tanya David pada Soleha yang duduk disebelahnya. Ketika dia sudah bangun lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, kini hanya ada mereka berdua.


"Kamu sudah bangun?. Mau makan atau minum atau mau apa?." Soleha menanyakan apa yang David inginkan saat bangun tidur.


"Tolong ambilkan air minum." Ucap David karena dia bangun karena merasakan tenggorokannya begitu kering. Soleha menuangkan air minum ke delam gelas lalu diberikan pada David.


David langsung menghabiskan minumannya dalam dua kali tegukan lalu menyerahkan gelas kosong itu pada Soleha.


"Siapa yang menyuruh mu untuk datang ke sini?."


"Nenek, nenek yang meminta ku datang ke sini untuk menemani mu menyelesaikan pekerjaan. Supaya kita cepat kembali ke rumah kontrakan kita."


"Nenek?."


"Hem."


David mencoba mengingat sebelum dirinya tidak sadarkan diri karena dadanya yang sesak. Seingatnya tidak ada siapa pun di ruangannya pada saat kejadian itu.


"Tadi suster sudah mengantarkan makan siang, jadi kamu makan sekarang ya?." Soleha sudah menyiapkan makanan supaya David bisa langsung makan.


David menyibak selimut lalu menyilang kakinya di atas brankar. Soleha menaruh makanannya di depan David.


"Pasti rasa makanannya tidak enak." Tebak David sambil menyicipinya secuil.


"Aku bantu suapi ya?." Soleha menawarkan diri sambil duduk di atas brankar menghadap David.


David hanya mengangguk mengiyakan.


Makanan yang tadinya sangat mustahil bisa masuk ke dalam perutnya. Tapi di tangan Soleha dengan cepat semua makanan itu sudah habis tanpa sisa.


Setiap suapan yang masuk ke dalam mulut David selalu diiringi senyum manis dari Soleha supaya melancarkan jalannya makanan dengan lancar. Dan itu sangat berhasil.


David segera meminum obat yang sudah disiapkan oleh Soleha.

__ADS_1


Soleha merapikan bekas makan David lalu dirinya duduk lagi di sebelah David.


"Kata Dokter yang visit tadi pagi, kalau tidak ada masalah dengan tubuh mu dan luka mu sudah berangsur membaik, mungkin besok sudah boleh pulang." Ucap Soleha memberitahunya.


"Kamu tidak bertanya kenapa aku membohongi mu?."


"Pasti kamu memiliki alasan sendiri kenapa melakukan kebohongan itu. Tapi apa pun alasannya tetap saja itu sebuah kebohongan yang tetap menyakitkan." Jawab Soleha.


"Kamu marah?."


"Apa dengan marah semuanya bisa kembali pada keadaan awal sebelum kamu melakukan kebohongan itu. Aku hanya kecewa, ternyata aku bukan orang yang bisa kamu percaya."


"Bukan begitu, aku hanya.... " Perkataan David belum semuanya tersampaikan karena suara ketukan pada pintu dibarengi dengan ucapan salam dari wanita yang sangat dikenalnya.


"Assalamu'alaikum... "


"Wa'alaikumsalam... Nek." Jawab David dan Soleha berbarengan.


Wanita paruh baya itu semakin berjalan mendekat kearah mereka sehingga tatapan mereka tidak bisa lepas dari sang Nenek.


Tanpa menunggu dipersilakan duduk oleh David atau pun Soleha, nenek Widya langsung duduk di kursi kosong itu sambil mengulurkan tangan karena Soleha ingin menyalaminya.


Nenek Widya mengabaikan pertanyaan David, dia malah menatap wajah teduh Soleha yang semakin cantik walau terlihat sangat lelah karena kurang istirahat pastinya.


Keduanya saling tersenyum ramah dan hangat.


"Nek, bagaimana nenek tahu aku di sini?." David memegang bahu nenek Widya sambil mengajukan pertanyaan yang sama lagi.


"Rudi yang menelepon nenek, karena dia panik melihat mu tidak sadarkan diri." Jawab nenek Widya meletakkan tangannya pada kaki David yang terlihat memar.


"Awww...." David meringis ketika luka memar itu di tekan kencang oleh nenek Widya.


"Makanya jangan suka bohong, bilangnya banyak pekerjaan tapi nyatanya terbaring di sini. Kalau kamu kenapa-napa bagaimana dengan ku dan Soleha?." Isak tangis nenek Widya perlahan mulai terdengar dengan menyuarakan hati tentang kekhawatiran dan ketakutannya.

__ADS_1


"Maaf aku Nek, Leha. Bukan aku bermaksud membohongi kalian, hanya saja aku tidak ingin membuat kalian khawatir. Tapi aku salah justru kalian malah tahu dari orang lain." Kata David penuh penyesalan dan permohonan maaf pada kedua wanita yang sangat berharga.


Akhirnya David bisa menyelesaikan kalimat yang sempat terpotong tadi sekalian menjawab pertanyaan dari nenek Widya.


"Besok-besok aku tidak mau dibohongi. Begitu juga pada Soleha. Terbuka lah untuk urusan apa pun jangan sampai ada kesalahpahaman dari komunikasi yang kurang baik diantara kalian. Mau sepahit apa pun kejujuran itu tetap penting untuk rumah tangga kalian." Nenek Widya memberikan wejangan pada Soleha dan David, Terlebih untung sang cucu karena adanya masalah ini.


"Iya, Nek. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Untuk apa pun aku akan bicara jujur pada istri ku." Balas David sambil menatap wajah sang istri begitu menenangkan.


Nenek Widya menjaga David selama Soleha mengerjakan shalat di masjid rumah sakit. Banyak yang David bicarakan mengenai kejadian yang menimpanya, tentunya untuk yang satu ini David masih berbohong. Karena dia tidak ingin membuat nenek Widya semakin terluka.


Dan untuk Soleha, mungkin nantinya David akan jujur jika semua urusannya dengan geng motornya selesai. Tapi untuk sekarang biarlah dia simpan sendiri.


Nenek berpamitan karena supir sudah menunggunya di lobby, ketika Soleha sudah pulang dari masjid dengan membawa tentengan berupa buah dan cemilan untuk David dan dirinya.


Setelah mendapatkan izin dari David, Soleha mengantarkan Nenek Widya sampai lobby. Kemudian Soleha kembali ke ruangan David saat nenek Widya sudah naik mobil dan meninggalkan gedung rumah sakit.


Saat Soleha akan masuk ke dalam ruangan David, di dalam ruangan kamar itu sudah ada dua orang pria. Soleha memundurkan langkahnya supaya tidak menganggu mereka yang sepertinya sedang sangat serius.


Dari tempatnya duduk saat ini, terdengar David berbicara seperti memberikan perintah pada kedua orang tua tersebut. Meski pun samar-samar Soleha masih bisa mendengarnya.


Tidak lama kemudian, kedua orang pria itu keluar dengan wajah yang sangat serius namun tetap ramah saat melihat Soleha bahkan mereka sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Kalau pekerjaan mu sudah selesai, tidur lah!. Tadi kamu sudah minum obatnya 'kan?, memang kamu tidak mengantuk?." Soleha merapikan bantal supaya nyaman untuk kepala dan leher David.


"Berdua ya di sini?." Pinta David sambil menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat pada Soleha.


Soleha mengikuti apa yang diinginkan oleh sang suami dan untuk menyenangkan hati suaminya supaya apa yang dikerjakan mereka mendapatkan pahala.


Keduanya lalu berbaring dengan saling berhadapan dengan mata yang saling menatap penuh dengan kerinduan.


"Aku ingin memeluk mu."


Soleha lebih mendekatkan lagi tubuhnya kearah David supaya bisa di peluk David dengan mudah.

__ADS_1


"Hangat." Bisik David di telinga Soleha yang langsung memejamkan matanya karena desiran itu menyapa tubuhnya.


__ADS_2