
Semalaman Moza tak berhenti menetes kan air matanya, jujur malam ini ia kembali ragu akan keputusannya, karena mulai besok hingga hari-hari kedepannya akan berubah ia akan tinggal di rumah Shine dan akan meninggalkan rumahnya, meninggalkan sang adik serta meninggalkan papa dan mamanya yang senantiasa bawel kepada dirinya.
Pernikahan yang ia impikan bersama Arby akan musnah untuk sesaat karena tujuan ia menikah dengan Shine adalah mendapatkan cinta Arby seutuhnya, ia pun tak dapat memastikan sampai kapan pernikahan nya bersama Shine akan bertahan.
Entah sampaikapan ia bisa mendapatkan cinta dari Arby Moza sendiri pun tak tahu jawabannya, yang pasti ia yakin bahwa pernikahan ini hanya lah batu loncatan untuk nya bisa menggapai Arby.
"Tok--tok" Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar jendela kamarnya yang menyatu dengan taman samping rumahnya yang tak berpagar.
"Siapa ya malam-malam gini gedor jendela"
Dengan ragu-ragu Moza mendekatkan telinganya ke arah jendela,
"Siapa ?? jangan nakut-nakuti deh, karena gue gak takut"
"Shut-- Moza Lo jangan teriak ini gue Shien, gue mau ngomong sama Lo"
Mendengar suara Shien ia pun langsung membuka jendela kamarnya, karena ia juga ingin membicarakan sesuatu hal penting kepada Shien, jujur saja walau pun esok mereka akan menikah namun dari hari lamaran hingga esok pernikahan Shien dan Moza tidak pernah bertemu,
Semua rangkaian acara lamaran hingga pernikahan esok semua telah di atur oleh kedua orang tua mereka.
"Lama banget sih Lo"
Moza masih sedikit termangu saat melihat ke arah Shien yang kini tengah berusaha masuk kedalam kamarnya,
"Sorry abis gue gak nyangka aja Lo datang ke kamar gue"
"Sebenarnya gue males, tapi ini semua demi masa depan gue"
Akhirnya Shine berhasil masuk setelah memanjat jendela kamar Moza yang tidak terlalu tinggi .
Moza hanya bisa terdiam, walaupun mereka sudah saling mengenal sejak kecil namun hari ini merupakan hari pertama mereka berinteraksi cukup intens.
"Eh!! kenapa Lo bengong??" Shien mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajah Moza yang terlihat melamun.
__ADS_1
"Ih-- apaan sih lo!! awas deh tangannya, bau tahu" Moza berlalu dari hadapan shine dan memilih duduk di atas kursi belajarnya.
"Lo yang bau, wangi gini Lo bilang bau!! gue gak pernah bau!!" Dengan ketus shine berucap sembari mencium kedua tangannya yang memang masih wangi aroma maskulin parfum yang tiap waktu menempel di tubuhnya.
"Ya udah e- Lo mau ngapain ke sini?"
Shine pun memilih berdiri agak berjarak dari tempat Moza duduk sembari melipat kedua tangannya di dada,
"Gue mau Lo batalin pernikahan besok"
Tanpa beban Shien berucap kepada Moza yang terlihat biasa saja saat mendengar ucapan Shien
"Enggak, gue gak mau! kalau loe mau Lo aja yang batalin"
"Maksud Lo apa?? bukannya Lo mencintai kak Arby? jadi ngapain lo ngotot mau nikah sama gue?"
"Karena kak Arby! karena gue cinta mati sama kakak lie, jadi makanya gue mau nikah sama kakak Lo"
Shien tersenyum sinis di hadapan Moza
Shine menekankan ucapan nya di hadapan Moza, pria itu tampak sangat marah karena nyatanya Moza sengaja menikah dengannya hanya untuk sebuah permainan.
Karena bagi nya pernikahan hanya akan ia lakukan sekali dan dengan orang yang ia cintai.
"Gue memang gila Shien! dan ini adalah satu cara pengejaran tergila gue untuk dapatin kakak Lo! lagian Lu juga di untungkan, nyokap dan bokap lu saat ini berfikir kalau lu itu punya penyakit menyimpang, makanya mereka maksa Lo buat nikah secepatnya! dan gue rasa kalau Lo gak nikah sama gue pun Lo bakal di nikahi dengan cewek lainnya!! dan gue gak masalah kalau Lo buat gue jadi tameng buat nutupi penyakit belok Lo! Dan Lo bisa bayangin kan kalau Tante Maya maksa Lo nikah sama cewek lain??"
Moza berucap dengan lugas sambil terus memprovokasi Shien yang terlihat emosi di hadapannya.
"Apa jadi papa dan mama berfikir seperti itu!!"
Dengan enteng Moza berucap kepada Shien yang tampak kaget dengan ucapan Moza.
Shine pun mentap tajam kearah Moza ada banyak pemikiran di kepala nya saat ini hingga pria itu pun memilih untuk segera pergi dari kamar Moza tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
***
Pagi ini Moza di sibukkan dengan keruwetan di dalam keluarganya, tepat pukul 05:00 ia tengah sibuk di dandani oleh seorang Mua langganan sang mama jika ada acara penting, namun sedari tadi subuh mama Moza tak henti nya bolak balik kamar mandi hal ini di sebabkan perutnya yang terasa melilit hingga membuat wanita paruh baya itu mengeluarkan keringat dingin menahan perutnya yang sakit.
Sedang kan Pak Agung ayah Moza yang baru pertama kali akan menikahkan anak gadisnya begitu ribet dengan kursi tamu dan lighting tempat resepsi yang ternyata mendadak mati pagi itu,
Pak agung merasa sedikit kecewa dengan pihak WO yang menurut nya tidak sesuai dengan bayaran yang harus ia keluarkan.
Di sisi lain saat ini mama Moza mencoba mendudukkan dirinya di kamar Ana sang putri bungsu.
"Ma udah dong mondar mandir nya, Ana jadi worry lihat mama gak kelar-kelar buang air nya"
Ana sang adik perempuan Moza pun menjadi resah saat melihat wajah sang mama yang tampak memucat dan berkeringat.
"Aduh Na, perut mama sakit banget, kamu bisa ambilin mama obat diare gak? rasanya mama gak kuat lagi buat berdiri"
Dengan tergesa-gesa Ana berjalan mendekat ke arah sang mama, ia pun mulai menyeka keringat yang keluar di dahi mamanya, sembari mengecek suhu tubuh nya.
"Ya ampun ma! badan mama dingin banget, kayanya Ana harus panggil papa, lebih baik mama baringan di kasur Ana aja dulu ya"
Namun mama nya kembali menarik tangan Ana
"Gak usah Na, papa kamu juga sedang repot ngurus di depan, kan gak enak kalau para tamu udah datang tapi semuanya belum siap"
"Tapi ma kalau mama sakit kaya gini siapa nanti yang dampingi kak Moza? dan pastinya kak Moza akan sedih kalau mama gak dampingi dia di hari penting di dalam hidupnya"
"Iya mama tahu Na, maka nya kamu cepat ambil kan mama obat diare, nanti pasti baikan, ini pasti karena semalam mama makan seblak level 5 padahal biasanya mama cuma beli yang level 3 tapi kata bude mu kalau level 5 lebih endul, aduh nyesal deh mama"
"Ya ampun ma, bisa-bisa nya mama makan pedas kaya gitu, gak sayang apa sama lambung"
Ana berucap sambil berjalan meninggalkan sang mama menuju tempat penyimpanan P3K yang terletak di dapur.
"Huft, mau bagaimana lagi Na, nasi udah jadi bubur, nyesal deh mama makan yang pedas-pedas"
__ADS_1
Tiba-tiba mama Moza kembali merasakan sakit pada perutnya sehingga ia pun kembali bergegas masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar sang putri bungsu.
Berambung...🤗🤗