Demi mendapatkan cinta Arby aku rela menikahi adiknya

Demi mendapatkan cinta Arby aku rela menikahi adiknya
Kemben


__ADS_3

"Aduh kok ribet banget ya pakai bajunya"


Moza saat ini tengah memakai kemben pengantin yang nantinya akan ia pakai di hari pernikahannya 2 hari lagi, karena hari H yang mepet membuat mereka memutuskan untuk membeli pakaian untuk akad nikah yang sudah jadi.


"Za, cepat dong keluarnya mama mau lihat"


Mama Moza dan Tante Maya tengah menunggu Moza keluar dari dalam kamar ganti sebuah butik khusus pakaian pengantin.


"Iya ma, ini tunggu sebentar, ribet banget soalnya"


Moza berteriak dari dalam kamar ganti sembari mencoba kembali menaikan Zipper yang ada di belakang punggungnya.


Untuk Moza ini adalah pertama kalinya dia harus memakai kemben sehingga ia sedikit keteteran untuk memakainya ditambah bagian dada nya yang cukup berisi sehingga membuat kemben itu sulit untuk di kancingkan.


"Ribet gimana Za, sini biar mama bantuin"


"Udah mbak, sabar aja, bentar lagi pasti Moza nya keluar"


Mama Shien yang sebenarnya juga sama tidak sabarnya mencoba menenangkan sang calon besan yang tampak mondar mandir di depan pintu ruang ganti di mana Moza berada saat ini.


"Kriet"


Hampir 10 menit kemudian baru lah Moza keluar dari dalam ruang ganti dengan memakai sebuah kemben ketat berwarna hitam di tubuhnya.


"Huft---" Beberapa kali Moza mencoba untuk menarik nafasnya.


"Wah cantik banget anak mama, udah kaya putri keraton aja iya kan May?"

__ADS_1


"Benar mbak, Moza memang cantik banget, mana body nya cakep kaya Tante muda dulu"


"Haha--- berati kita sama ya may, dulu body ku juga gitu lho"


"Iya sama mbak, tapi sekarang udah enggak kan"


"Hahaha" Kedua sahabat itu akhirnya tertawa saat menyadari tubuh mereka yang tak seimbang dan seramping dulu lagi.


Sedangkan Moza masih tetap harus menahan sesak akibat baju yang ia pakai


"Ma- Tante, udah belum ketawanya? baju nya sempit nih, boleh ganti gak?" Dengan memasang wajah memelas Moza melihat ke arah sang mama dan calon mertuanya yang baru tersadar.


"Ya ampun sayang maafin Tante karena malah asik ketawa sama mama kamu,"


Seorang wanita paruh baya pemilik butik pun akhirnya kembali melihat kemben yang tengah Moza pakai,


"Hehe iya buk, di ganti aja size yang pas"


Tante Maya kembali menimpali perkataan sang pemilik butik sekaligus designer baju pengantin tersebut.


"Oke, kalau gitu tunggu sebentar ya, biar saya cari kan yang pas. Saya yakin kalau manten nya ayu koyo ngene pasti suaminya semakin kesemsem"


"Iya buk pasti putra saya kesemsem wes ayu, baik, body ne koyo gitar spanyol kan buk"


Seketika pipi Moza merona saat mendengar ucapan Tante Maya sang calon mertua dan sang designer yang kini tengah meledeknya.


***

__ADS_1


Shine saat ini tengah frustasi, saat kembali mengingat bagaimana sang mama yang mengancam akan pergi dari rumah mereka kalau dirinya tidak ingin menikah dengan Moza.


Dan sang papa juga mengancam akan mengeluarkan dirinya dari kartu keluarga,


"Argh!! kenapa harus jadi kaya gini sih!!"


"Racun apa yang wanita itu berikan hingga papa dan mama lebih mihak ke dia dibanding ke aku!!"


Shine kembali memutar pulpen di jarinya, sejak terpaksa harus menerima pernikahan nya dengan Moza membuat hari-hari Shine menderita, hampir 3 hari ini dirinya seperti orang gila mendekati hari pernikahan.


Bahkan sudah hampir 1 Minggu lamanya sang mama tidak memperbolehkan dirinya untuk keluar dari rumah, kecuali hanya untuk kuliah, sedangkan untuk urusan cafe nya harus dia serahkan kepada sahabatnya yang sekaligus sepupunya.


"Pasti semua ini karena tu cewek si**alan, dia kan suka nya sama kak Arby! tapi kenapa harus aku yang nikah sama dia! apa gak ada laki-laki lain di luar sana! kenapa harus aku sih yang di jadiin pengganti! apa karena kami mirip jadi dia mau nikah sama aku! tapi aku bukan Arby!! aku Shine dan tak akan pernah jadi Arby!"


Hingga kelas terakhir berakhir, Shine yang masih menyimpan amarahnya, memiliki untuk beberapa saat diam di dalam kelas.


Andai saja rasa sayang nya tidak begitu besar untuk sang mama mungkin Shine lebih memilih untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri, dari pada harus menikah di usia muda dengan wanita yang tidak ia cintai, namun kasih sayang sang mama sedari kecil terhadap dirinya dan keluarga mereka membuat Shine tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah akan keputusan kedua orang tuanya.


Di balik cerita pernikahan Shine dan Moza yang akan berlangsung beberapa hari lagi, mendadak membuat Arby cemas, Hampir sepanjang hari Arby termenung di ruangnya, mengingat pernikahan yang akan dilakukan Shine dan Moza semakin dekat, ia merasa semua ini hanya lah akal-akalan Moza untuk mendekati dirinya kembali, karena ia yakin Moza masih tergila-gila terhadap dirinya,


Sebaliknya Moza sama sekali tidak pernah tertarik dengan kehidupan Shine, bahkan dulu Arby pernah mencoba untuk menjodohkan Moza dengan Shine, namun dengan yakin Moza malah meremehkan Shien dan menganggap Shane sebagai seorang penyuka sesama.


"Pernikahan itu sebaiknya jangan sampai terjadi, karena aku yakin ini semua karena kegilaan Moza! Kalau mereka menikah maka selamanya aku akan merasa bersalah sama Shien, karena pasti Moza hanya mempermainkan dia, dan--- mana mungkin aku membiarkan Shine mendapatkan perempuan bekas" Ucap nya pelan


Seketika Arby tertegun setelah menyadari ucapannya yang terkahir,


"Bersambung.....🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2