
Mama Maya membawa Shine kembali masuk kedalam keluarga Moza, setelahnya ia berniat ingin kembali ke rumah nya sendiri, namun sebelum pulang ia meminta kunci motor serta hp milik sang putra karena ia khawatir kalau shine akan pergi diam-diam dengan kendaraanya ataupun menelpon salah satu rekannya untuk menjemputnya, karena hal ini sudah menjadi sesuatu sering terjadi apabila Shine sedang bersitegang ataupun berbeda pendapat dengan keluarganya.
"Ma balikin hp sama kunci aku ma"
"No, Shine hari ini kamu harus sudah bisa merubah sifat kekanakan mu, karena sekarang Moza itu tanggung jawab kamu, mama gak mau kamu kabur-kaburan seperti dulu"
Shine hanya mantap malas kearah sang mama karena semua ini bukanlah atas keinginannya namun keinginan kedua orang tuanya.
"Shine please, paling tidak lakukan ini demi mama kalau memang kamu belum bisa menerima Moza di hidup kamu, lakukan lah demi mama mu yang sudah tua ini, bukannya mama tidak pernah meminta apapun dari kamu sebelumnya?"
Shine sedikit tersentuh akan ucapan mamanya yang sejatinya ia sayangi, akhirnya ia menatap serius ke arah sang mama.
Mama Maya pun berhambur memeluk Shine tangis yang sedari pagi ia tahan sedari akhirnya keluar deras. Sesungguhnya ia belum siap untuk ditinggal sang putra menikah, namun ia terpaksa memaksakan keinginannya berharap Shine bisa sembuh dari penyakit menyimpang nya,
"Baik lah ma Shine akan coba, namun Shien gak bisa janji hubungan kami akan berhasil"
Mama Maya merasa senang saat Shine akhirnya mau mencoba menerima pernikahannya.
"Makasih ya nak, kalau begitu mama pulang dulu"
Mama Maya mulai melepaskan pelukannya terhadap Shine, ia pun kembali menyeka air matanya yang sudah membasahi pipinya,
"Jangan lupa Shine, cobalah untuk merima Moza karena dia itu gadis yang baik dan cantik mama yakin tidak akan sulit untuk kami jatuh cinta kepada istri mu sendiri"
Shine merapatkan bibirnya seperti tengah menahan sesuatu, ia pun hanya menganggukkan kepalanya ke arah sang mama,
"Maaf kan aku ma tapi mungkin ini tidak gampang karena aku masih mencintai seseorang, .. tapi aku akan coba semampu aku, namun aku akan tetap meninggalkannya jika "ia" kembali"
Setelah melihat kepergian sang mama akhirnya mau tak mau Shine kembali masuk ke dalam kamar Moza di mana tadi siang ia sempat masuk untuk mengganti baju pesta nya tadi siang.
Ia berjalan meninggalkan ruang tamu, yang malam itu terlihat sudah mulai sepi hanya tampak seorang art yang di bantu oleh beberapa orang yang sama sekali Shine tak kenal tengah membersikan kediaman Moza,
__ADS_1
"Tok-tok" Sesampainya di depan kamar Moza tanpa ragu beberapa kali Shine mencoba untuk mengetuk pintu kamar istrinya itu.
Hingga beberapa kali Shine mengetuk namun sama sekali tidak ada yang menyahut dari dalam,
"Apa tu cewek udah tidur ya"
Shine kembali berbalik untuk meninggalkan kamar Moza,
"Kriet"
Hingga suara pintu kamar terbuka membuat Shine menghentikan langkahnya,
"Lu mau apa?" Moza yang baru selesai mandi hanya menyembulkan kepalanya keluar pintu,
"Ehm---, aku mau masuk"
Dengan ragu Shine menjawab pertanyaan Moza,
"Eum--, bukan nya tadi kamu pulang?"
"Mama nyuruh aku tidur di kamar kamu"
Tiba-tiba jantung Moza berdetak kencang saat mendengar ucapan dari mulut suaminya,
"kamu yakin mau tidur di kamar aku? bukannya kita..."
"kamu jangan ngarep lebih, aku cuma numpang tidur besok kita kembali ke rumah ku, dan kamu wajib ikut!"
Tanpa menunggu jawaban dari Moza Shine langsung melangkah kan kaki nya masuk kedalam kamar Moza, bahkan pria itu sedikit mendorong tubuh Moza yang tengah menghalangi daun pintu.
"Aww, pelan dong, sakit tahu. Main nerobos aja"
__ADS_1
Moza mengusap bahunya yang lumayan nyeri karena berbenturan dengan pintu kamarnya.
Akhirnya Shine berbalik menatap Moza yang masih mengusap bahunya dengan masih memakai selembar handuk minim berwarna pink muda.
"Uhuk--uhuk" Dengan wajah yang sudah memerah dengan cepat Shine pun langsung kembali memutar kepalanya,
"Nah, batuk kan, makanya kalau belum aku izinin masuk , ya jangan masuk salah tingkah kan jadinya lihat aku kaya gini!!"
Moza membesarkan volume suaranya untuk meluapkan kekesalannya terhadap Shien.
"aku keluar dulu!!"
Shine kembali berjalan meninggalkan kamar Moza,
"Lain kali bilang kalau lagi kaya gini"
Shine langsung menutup kembali pintu kamar Moza yang ia buka.
Moza menatap bingung ke arah punggung Shine yang akhirnya menghilang di balik pintu.
"Ih pakai marah lagi kan dia yang salah, lagian bukannya dia bengkok jadi ngapain juga aku harus takut, Hehe"
Moza langsung mengambil satu stel piyama tidurnya beserta **********, ia pun langsung mengenakannya dengan sigap.
***
Shine memilih untuk duduk di atas tangga rumah Moza, malam itu kediaman Moza sudah gelap hanya lampu lorong kamar atas yang menyala, secara samar-samar Shine bisa melihat keadaan rumah yang sudah bersih seperti sedia kala,
"Huft, dalam semalam hidup ku berubah, kaya nya aku gak bisa jalani hidup kaya gini!! " Shine memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Ra, kamu di mana, maafin aku karena terpaksa ngikuti keinginan mama, tapi aku janji kalau kamu pulang aku bakal pisah dengan Moza, dan untuk saat ini mungkin ini yang terbaik"
__ADS_1
Shine yang kelelahan akhirnya tanpa sadar tertidur di tangga, ia menyenderkan lengan kanan dan kepalanya di dinding tangga.
Bersambung....🤗