
"Moza" Teriak Shine dengan intonasi yang cukup tegas, matanya tajam ke arah Moza yang terlihat santai menghadapinya.
"Hey Shien kamu di sini juga? kamu ke sini sendiri?" Moza celiak celiuk melihat disekitar Shien,
"Ayo pulang" Ucap Shine sambil langsung menarik lengan kanan Moza.
" Shine wait!" Moza yang merasa perih dengan lengan kanannya mencoba memberontak untuk melepaskan genggaman tangan Shine.
Namun tanpa sadar Shine malah lebih memperat genggamannya agar tak terlepas.
"Eh, stop bro lepas tangan nya, kasihan dia cewek" ucap Damar yang sudah terpancing emosi melihat tindakan Shine yang keterlaluan.
"Anda siapa tuan? tolong jangan ikut campur" ancam Shine sembari menatap tajam ke arah Damar yang tampak memilki hati terhadap Moza.
"Sorry kalau kaya gini saya akan ikut campur! mau anda kekasihnya atau bahkan hanya penggemar nya saja, saya tidak akan membiarkan seorang wanita di sakiti kaya gini" tantang Damar yang emosi nya sudah terpancing,
Emosi Shane semakin tersulut saat mendengar kata penggemar dari bibir Damar, hampir saja kata istri terucap dari bibir nya karena tidak terima ikatan pernikahan mereka lebih dari sekedar kekasih apa lagi hanya seorang penggemar.
Shine pun langsung mendekat dan menarik kasar kerah baju Damar hingga pria tinggi itu berdiri dari kursinya.
Melihat hal itu kedua saudaranya lelakinya pun ikut berdiri seakan ikut membela Moza.
"Maaf kayanya aku memang harus selesaikan masalah ini, makasih atas jamuan makan malamnya" ucap Moza dengan berjalan tergesa-gesa, akhirnya Moza memilih untuk mengalah karena tampak beberapa mata pengunjung yang ada di sana tak lepas ke arah mereka,
Terlebih Moza tidak ingin keributan di antara Shine dan ketiga saudara Alya akan berlanjut hingga baku hantam.
"Za-- tunggu kamu mau kemana?" Alya yang merasa bingung dan cemas mencoba menghentikan langkah sahabatnya itu.
"Al sorry untuk malam ini dan Lu tenang aja gue aman pulang sama dia, dan besok gue akan jelasin semua nya" ucap Moza sembari berjalan mengikuti langkah Shine yang masih menggenggam tangannya menuju ke pintu keluar restoran.
Shane mengendarai mobilnya tepat di belakang mobil milik Moza, dan saat sampai di dalam apartment Moza berjalan mendahului Shine masuk kedalam kamar nya, namun langkahnya terhenti saat Shine menarik lengan Moza kembali.
"Berhenti! kamu mau kemana?" tanya Shien dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Aku mau tidur"
Shine melangkah lebar dan berdiri tepat di hadapan Moza untuk mengehentikan langkah Moza.
"Siapa pria tadi?" tanya Shine tegas sambil berdiri dengan memegang kedua pundak Moza cukup kuat.
"Itu bukan urusan kamu Shien, jadi please lepaskan kan aku"
"Ck-- sekali murahan tetap lah murahan. setelah menjerat aku untuk menikahi kamu demi Arby, dan sekarang kamu sudah punya target baru" ucap Shine sarkas dengan wajahnya tepat berada di hadapan wajah Moza.
"Plak" Reflek Moza langung mengarahkan tamparan di wajah Shine,
"Kamu jahat Shine, aku memang salah karena memaksa mama untuk menikah dengan kamu, tapi aku bukan wanita murahan seperti kamu bilang" Tanpa bisa di tahan air mata pun mulai tumpah di wajah Moza, ia tidak mengira Shine bisa menghinanya sehina itu.
"Dan bukannya kau belum pikun Shien? kau pria yang berhasil merenggut kepe**rawanan aku. Apa kau lupa. kau yang brengsek!"
Jawab Moza dengan penuh amarah, dengan sisa tenaga nya Moza menarik paksa pundaknya dari genggaman Shane, hingga terlepas dan berlari masuk kedalam kamar dan membanting pintu dengan kuat tepat di hadapan Shine berdiri.
Moza langsung mengunci pintu kamar dan naik ke atas kasur ia pun menenggelamkan dirinya di dalam sebuah selimut yang tebal.
*
"Kenapa dengan ku? kenapa aku bisa berkata sekasar itu! ada apa dengan diri ku sebenarnya? kenapa aku merasa sesak saat melihat Moza dekat dengan pria lain seperti tadi" ucap Shine di dalam hati, Ia menjambak rambut nya dengan kedua tangannya cukup kuat,
"Argghh" teriak Shien, ia pun kembali pergi keluar dari apartment nya guna mendinginkan pikirannya yang terasa panas.
*
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu, dan Shien pun lebih memilih untuk pulang ke apartment nya ia tidak pernah lagi menginap di cafenya, bahkan pria itu pulang lebih awal dari sebelum-sebelumnya.
Saat ini Moza masih asik mengerjakan tugas kuliah nya di beranda apartemen mereka, ya sejak kejadian hari itu Moza sangat jarang berbicara lagi dengan Shien, walau Shine selalu mengajak nya mengobrol, namun Moza menjawab sekenanya, bahkan lebih sering tidak menjawabnya.
Shien sadar akan kesalahannya terhadap Moza namun bibir nya sangat sulit untuk mengucap kata maaf, karena egonya yang begitu tinggi.
__ADS_1
Setiap kali Moza meminta cerai dari dirinya, maka Shine langsung menolak nya. Sekarang pun Shien tidak mempersalahkan jika Moza tak mau berbicara kepadanya. karena yang terpenting untuk dirinya saat ini adalah Moza tetap berada di sisinya.
Apakah itu karena cinta? jawaban nya tidak kata hati Shien, karena Shine masih mengharapkan Reyna sang kekasih, namun tanpa pria dingin itu sadari cinta nya kini telah beralih kepada Moza sang istri, Namun Shien selalu menyangkal perasaannya.
Sore itu Moza masih sibuk dengan tugas kuliahnya, Sedangkan Shine yang sudah kembali dari cafe hanya bisa memandang Moza dari ruang tengah apartment
Sambil menyeruput secangkir kopi yang tadi ia buat, Shine mulai mencari informasi tentang kampus di mana ia akan melanjutkan S2 nya mendatang,
Sesekali mata Shien menatap ke arah Moza yang tidak pernah sekalipun terlihat menatap ke arahnya.
"Ehem--" Shine sengaja berdehem untuk mencari perhatian Moza yang tak pernah menganggap nya ada.
"Ehem--"
Namun Moza masih asik dengan tugas-tugas yang menumpuk di hadapannya.
"Ehem--" Shine kembali melakukan nya hingga beberapa kali.
Moza pun mulai terganggu dengan deheman Shine, ia tahu jika Shien sengaja menggodanya.
"Ih malas kali lihat nya, pokonya sekali benci tetap benci. aku gak akan mau ngomong lagi sama kamu Shine!" Moza berucap di dalam hati, sembari menatap sedetik ke arah Shine yang kini ternyata tengah memandangnya dari kejauhan.
Shine terdiam saat melihat Moza menatap ke arahnya, rasanya sudah lama ia tidak melihat mata hezel wanita yang sudah 3 minggu mendiaminya itu.
Rambut Moza tergerai begitu indah kini tengah tertiup angin, warna hitam yang biasanya berbentuk lurus itu hari ini sudah bergelombang di bagain bawahnya, dan membuat Moza semakin cantik di mata Shien.
"Cantik"
"Astaga berapa lama Moza berada di dalam salon sehingga semakin hari dia terlihat semakin cantik" celetuk Shine di dalam hati.
Padahal Moza tidak begitu sering ke salon dia hanya melakukan perawatan sederhana di rumah, dan hari ini Alya menjadikan rambut Moza sebagai bahan percobaan untuk mencoba alat scrol rambut yang baru Alya beli.
"Owh God, kenapa saat ini aku menginginkannya!" batin Shien berteriak, sungguh godaan Moza begitu sulit untuk Shine lupakan.
__ADS_1
Bersambung...✍️✍️