
Malam itu setelah menangis semalaman akhirnya Moza tertidur hingga harus melupakan makan malamnya, dan keesokan paginya mama Moza mendatangi kamar Moza, di kamar itu ia kembali terkejut saat melihat keadaan kamar Moza yang sudah tidak karuan, bahkan gadis itu masih tampak terlelap di balik selimutnya,
"Ya ampun Moza!!" mama Moza langsung mendekati Moza dan menarik selimut nya hingga terangkat,
"Ayo bangun Moza!! sudah jam berapa ini!! masa anak gadis masih tidur jam segini!!"
"Ayo bangun Moza!!" sang mama kembali menggoyang kan tubuh Moza cukup kuat, hingga gadis itu mulai menggeliat kan tubuhnya karena merasa tidurnya terganggu.
"Hmm--, apa sih ma?"
"Apa? kamu bilang apa? Moza Aurelia!! kamu sadar gak ini udah Jan berapa? apa kamu mau bolos kuliah lagi!! dan coba lihat kenapa kamar kamu berantakan kaya gini!! kenapa sih kamu itu jadi pemalas dan berantakan kaya gini sekarang?"
"Bagaimana laki-laki mau nikahin kamu kalau kami nya jorok kaya gini! "
"Aku enggak mau nikah ma, kalau gak sama kak Arby! jadi mama jangan khawatir"
"Aku gak akan nikah ma!! makanya mama gak usah khawatir kalau gak ada laki-laki yang mau sama aku"
"Kamu ngomong apa sih!! jangan ngomong kaya gitu tabu tahu!"
"Tapi aku gak bisa dapati cinta aku ma, jadi mending aku gak nikah selanya"
"Memang siapa cinta kamu? apa kamu menyukai seseorang! apa kamu suka Arby?" mama Moza langsung menutup mulutnya seakan tidak percaya akan omongannya sendiri,
"Hmm--, apa sih mama kepo deh, aku rasa memang lebih enak sendiri ma, aku lebih senang tinggal sama mama dan papa aja, lagian kaya nya semua udah gak penting lagi ma"
"Moza kamu jangan ngomong kaya gitu dong, mama sedih loh dengar nya, karena harapan semua orang tua itu bisa melihat anaknya menikah dan bahagia, kalau kamu memang masih merasa kehilangan sosok kakak di hidup kamu karena Arby menikah bagaimana kalau kamu menikah sama adiknya aja?"
Mama Moza mulai duduk di samping Moza yang tampak kaget mendengar gurauan dari mulut sang mama.
"Maksud mama?" Dengan menaikan sebelah alisnya Moza memandang sengit ke arah sang mama yang terlihat biasa saja.
"Sebenarnya kemarin Tante Maya dan om agung datang ke sini untuk melamar kamu untuk shine"
__ADS_1
"Moza gak salah dengar kan ma? mama jangan gurau deh, karena Moza lagi gak tertarik buat bercanda ma"
Mama Moza mulai menggenggam tangan sang putri sembari meyakinkan perkataanya, karena sejujurnya ia berfikir bahwa kehilangan sosok seseorang yang Moza anggap penting maka bisa di ganti kan dengan sosok baru, terlebih Shine hampir memiliki wajah yang sama dengan Arby, bahkan pria itu lebih tampan dan tinggi di bandingkan Arby sang kakak.
"Mama gak bercanda sayang, mungkin ini memang terlalu cepat, tapi mama rasa hanya ini yang membuat kamu bangkit, mama ingin kamu bisa ceria seperti dulu lagi"
"Lagian mama dan papa sudah mengenal keluarga Shine dari dulu, bahkan dari Arby dan Shine kecil kami sudah tahu tingkah laku mereka berdua yang terlahir dari kedua orang tua yang baik asal usulnya,"
"Setidaknya kehadiran Shien bisa mengganti kan sosok Arby buat kamu, ya bisa jadi kakak juga suami"
"Menikah dengan Shine?? pria bengkok itu? plus ketus dan sok cuek luar biasa!!! gak mungkin kan aku bersanding dengan cowok metroseksual yang cakep nya lebih dari dirinya KUA sendiri!!!"
"Maaf ma tapi aku gak bisa, karena ini bukan main-main ma!"
Mama Moza langsung memotong pembicaraan Moza,
"Kalau kamu dengan Shine kamu masih bisa kan jadi adik Arby yang sebenarnya? ya walaupun adik ipar, bukannya kamu tetap mau jadi adik Arby?"
Dengan pandangan menyelidik mama Moza menatap tajam ke arah Moza yang tampak tengah berfikir keras.
"Lagian kan hanya menikah dengan si pria bengkok, jadi pasti gampang untuk berpisah kedepannya!!"
"Bagaimana? kamu mau kan menikah dengan Shien? kalau masih belum siap punya anak juga gak papa Za, mama gak bakal maksa kalian untuk punya anak dulu"
"Uhuk--uhuk"
"Mama apaan sih!! nikah aja belum uadj ngomongin anak!!"
"Hehe, ya kali aja kamu keberatan karena mikirin masalah anak"
"Ya udah ma, aku mau secepat nya nikah sama Shine! kalau perlu sebelum pesta pernikahan nya kak Arby, jadi nanti kami bisa pesta barengan"
"Ih, pamali atuh nak kalau pestanya barengan, kalau di kampung mama dulu nanti salah satu nya ada yang bakal berpisah sayang"
__ADS_1
"Aih, mama zaman now kok masih percaya yang kaya begituan, ya kalau kami berempat cerai ya pasti sudah takdir lah"
"Dugh"
"Awwww, sakit mama!!!"
Mama Moza reflek memukul kening sang putri saat mendengar ucapan saru dari mulut Moza.
"Lagian punya mulut kok gak ada remnya, enak aja bilang cerai berempat, pokoknya mama gak mau ya kalau ada kata cere"
"Ih, iya-iya--- siap bos,"
Moza meletakan sebelah tangannya, memberi hormat bak seorang kopral kepada jendralnya,
" Pokonya Moza mau nikah sama Shien, secepat nya ya ma, dan pesta nya barengan"
"Aduh anak gadis mama gak ada akhlaknya nya, masa tadi nya nolak sekarang malah pingin cepat"
"Iya ma udah kebelet soalnya"
"Dugh--dugh"
Mama Moza kembali memukul kening sang anak iya merasa malu mendengar ucapan sang putri yang terlihat sangat agresif di hadapannya.
"Aww, sakit ma! di pukul terus nih, entar aku nya jadi o-on gimana? mama mau punya anak yang beloon emang nya?"
"Amit-amit jabang bayi, jauh-jauh--" berkali-kali mama Moza memukul pelan kepalanya dengan jari dan berlatih memukul ke ranjang.
"Kamu tuh kalau ngomong sembarang aja!! buat mama naik darah enggak genah!!"
"Hehe, ampun deh ma, kan cuma bercanda, lagian mungkin itu ekspresi senang aja ma"
Mama Moza kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Moza yang berubah 180 derajat, padahal tadi ia melihat Moza begitu enggan untuk menikah dengan Shine, namun seketika gadis itu berbalik menerima pernikahan bahkan meminta pernikahan itu dipercepat.
__ADS_1
Bersambung...🤗🤗