
Dan pergumulan panas itu terjadi berulang kali, Shine sama sekali tak melewatkan malam itu sedetik pun. Hingga mereka tertidur dalam kelelahan.
Keesokan paginya Moza mulai terbangun saat jarum jam menunjuk ke pukul 10 pagi,
"Astaga aku kembali terlambat pagi ini" rutuk nya dalam hati sambil menyambar sebuah handuk yang ia yakini milik Shine,
"Ish-- kenapa pria itu bisa pergi begitu saja, apa kah dia tidak berniat membangunkan aku. Padahal dia tahu bahwa hari ini adalah ujian terakhir ku" Moza masih saja terus mengomel atas tindakan Shine yang terlihat hanya mengungkap tubuhnya saja.
Setelah melingkarkan handuk ditu*buhnya, Moza lalu berlari kecil keluar dari kamar utama menuju kamarnya sendiri, ia sudah menerima amarah yang akan di semburkan oleh dosennya pagi ini namun setidaknya ia masih bisa mengikuti detik-detik ujiannya di menit terakhir kelasnya akan berakhir.
Moza yang sudah siap langsung melajukan kendaraannya di jalanan yang tidak begitu ramai pagi menjelang siang ini.
Di tempat lain hari ini Shine masih asik dengan mengecek beberapa barang yang harus dia siapkan sebelum launching kafe nya besok siang. Entah kenapa hari ini Shine begitu semangat dalam menyelesaikan pekerjaannya, ia merasa sama sekali tidak ada beban dalam mengerjakan pekerjaannya yang padat.
"Jhony bisa kah temani aku untuk melihat pembangunan kantor baruku?" Shine berucap sembari memegang sebuah pulpen di jarinya.
"Baik pak saya siap" Jawab Jhony yang merasakan sedikit energi positif dari bos besarnya itu. Walau pun Shine masih tergolong sangat muda di usianya namun pencapaiannya sangat luar biasa, sehingga banyak karyawannya yang begitu segan dan menghormati Shine sebagai seorang pimpinan.
Shien berdiri dari kursinya dan bersiap untuk menyelesaikan satu persatu urusannya hari ini juga.
Shien berjalan di tengah ramainya pengunjung cafe, dan seperti biasanya banyak mata pengunjung wanita yang terpesona akan ketampanannya.
__ADS_1
Shien berjalan keluar pintu cafe sambil memakai sebuah kaca mata hitam dan sebuah hp di tangannya.
Sedangkan Jhony sudah berada di dalam mobil milik Shine, ia yang memilki wajah oriental tidak kalah tampan dengan sang atasan.
*
Setelah menyelesaikan ujiannya Moza memilih untuk segera pergi ke kantin kampus, bersama Alya sahabat baiknya Moza berjalan sembari mengobrol ringan.
"Hey, lu mikirin apa sih?" tanya Alya heran saat melihat sadari pagi Moza tampak tak bersemangat.
"Za, are u ok? gue lihat sejak ujian ada yang beda deh sama Lo Za. Biasanya lu itu cewek paling on time dan gak pernah lelet masalah pendidikan. Tapi di hari pertama ujian lu sampai gak datang. kenapa ? bukannya Arby udah ke laut?" Tanya Alya dengan santai.
"Entah, gue pusing dengan hidup gua Al. Rasa nya Maslah gue itu udah complex banget" Ucap Moza lemas sambil meletakan dagunya yang bertumpu pada tangan kanannya di atas meja kantin.
"Ya elah, Za semangat dong. Kita itu calon dokter harus terus semangat mengejar cita-cita. Ingat Za banyak pasien yang sedang menunggu uluran tangan kita" jawab Alya dengan percaya diri.
"Apa gue pindah jurusan aja ya Al?" jawab Moza lemas.
"What? ada apa sih dengan lu Za. gue ngerasa lu bukan Moza yang gue kenal?" Ucap Alya yang tengah berdiri di hadapan Moza sambil bertegak pinggang.
__ADS_1
"Udah deh, gue lapar please belikan gue bakso Al" Moza meletakan selembar uang lima puluh ribuan diatas meja.
Tanpa pikir panjang Alya langsung melangkahkan kakinya menuju gerai bakso, dan segera memesan sesuai keinginan sahabatnya itu.
Alya begitu sedih melihat sang sahabat yang terlihat begitu rumit dalam hubungan percintaannya. Padahal Moza bukan lah seorang gadis biasa, bagi Alya Moza adalah seorang gadis yang sangat sempurna, dari segi apapun. Karena Moza terlahir dari keluarga berada, dia juga gadis yang sangat cantik dan pintar, bahkan tak sedikit pria di kampus mereka berlomba untuk mengejar cinta Moza. Namun Moza tak pernah bergeming karena hanya ada Arby di hatinya.
"Huh, memang takdir itu Tuhan yang menentukan dan cobaan nya berbeda-beda, yang udah sempurna aja di coba dengan cinta yang sulit di gapai" ucap hati Alya sembari duduk di samping Moza Dnegan membawa semangkok bakso ditangannya.
Moza yang sudah begitu kelaparan karena semalam dia hanya memakan sedikit makan malam nya akibat mendapat rayuan dari Shine, dan pagi ini ia sama sekali belum mengisi perutnya karena datang terlambat ke kampus.
"Dasar pria breng*sek! habis manis sepah di buang" rutuk Moza di dalam hati, entah kenapa ia begitu kesal dengan perlakuan Shine terhadap dirinya. Saat pagi tadi ia kembali tidak melihat Shine di kamar setelah hubungan mereka semalam, dan hal itu terulang kembali. Dan hingga siang ini pun Shine sama sekali tidak memberi nya kabar.
"Apa dia hanya menganggap aku wanita pemu*as nafsunya saja. semalam dia merayu ku hingga mau dan pagi ini dia pergi begitu saja, ARGH--" Tanpa sadar Moza membanting kedua sendok yang ia pegang kedalam mangkok bakso cukup keras hingga menimbulkan suara berisik dan mengundang orang untuk melihat.
Alya menatap canggung ke arah Moza yang terlihat aneh di matanya, ia pun tersenyum tersipu kepada setiap mahasiswa yang tampak sedikit terganggu dengan tingkah Moza.
Sedangkan Moza masih asik berdialog dengan dirinya sendiri, karena saat ini ia belum siap menceritakan pernikahannya dengan Shien kepada Alya. Karena Moza tahu sahabatnya dulu pernah menaruh hati kepada Shien, namun perasaanya luntur ketika Moza tanpa sengaja memfitnah Shien yang dulu belum ia ketahui akan kebenaranya.
Dan kini saat ia menjadikan Shien sebagai pionnya dalam mendapatkan Arby, malah dirinya kini terjebak dengan pesona Shine yang belum ia sadari.
Bersambung...🤓🤓
__ADS_1