Demi mendapatkan cinta Arby aku rela menikahi adiknya

Demi mendapatkan cinta Arby aku rela menikahi adiknya
Kesedihan Moza


__ADS_3

Siang ini sepulang dari kampus Moza memutuskan untuk mendatangani salah satu perusahaan perbankan dimana Arby bekerja senyuman mengambang tampak jelas di wajah nya.


"Permisi mbak apaQ saya bisa bertemu bapak Arby ?" tanya nya,


Sungguh cinta itu buta, perasaan cinta Moza kepada Arby yang ia pupuk sejak dini membuat Moza menjadi gelap mata dan sulit melepaskannya. Bahkan hal yang sama sekali tidak mungkin menjadi sesuatu keyakinan yang pasti di hatinya.


"Tunggu sebentar ya mbak saya hubungi sekretaris bapak Arby dulu, kalau boleh tahu dengan mbak siapa ya mbak?" tanya sang cs dengan sopan.


"Moza Aurelia"


Beberapa saat dengan sabar Moza menunggu di depan desk cs perusaahan tempat Arby bekerja selama 3 tahun belakangan ini.


"Maaf mbak tapi bapak Arby nya telah kembali ke kota J karena seminar nya telah berakhir dua hari yang lalu"


"Apa? bagaimana bisa mbak tadi malam saya masih berjumpa sama beliau jadi mana mungkin dia sudah tidak berada di sini?" tanya Moza dengan intonasi suara yang meninggi.


"Maaf mbak saya juga tidak tahu, tapi bapak Arby memang hanya mengikuti seminar Dikota ini dan beliau memang sudah mutasi ke kota J sejak beberapa bulan yang lalu"


"Jadi kak Arby tidak kembali tugas disini ya mbk?"


"Tidak mbak, apa ada yang lainnya mbak?" tanya sang cs sopan.


Moza yang tampak shock hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan gontai kembali ke mobilnya.


"Hiks--"

__ADS_1


Moza menangisi histeris di dalam mobilnya, dada nya begitu sesak mendengar perkataan sang customer service kepadanya.


"Kamu tega kak! jika bukan kamu yang bercin**ta dengan ku semalam lalu siapa pria itu kak?"


Tiba-tiba bayangan demi bayangan dan suara rintihan pria yang menjadi pasangannya tadi malam seakan kembali berputar di kepalanya.


"Bugh" Moza memukul-mukul stir kemudinya dengan kuat hingga membuat tangan nya putihnya memerah.


"Bre**ngsek"


"Hiks--"


"SHINE" sumpah serapah lolos dari mulutnya ketika ia kembali mengingat cum**an nya bersama Shien.


*


"Plak" Tiba-tiba sebuah tamparan melayang di pipi nya,


"Dasar pria bajing**@n apa yang sudah kamu lakukan kepada aku semalam?" Moza memukul-mukul dada dan wajah Shine dan tampak melindungi wajahnya dari pukulan membabi buta dari tangan Moza.


Dengan kuat Arby langsung memegang kedua tangan Moza yang tak berhenti bergerak, lalu menekan tubuh Moza Kedinding.


"Lepaskan aku..lepaskan " teriak Moza.


"Tidak, sebelum kami mengehentikan kegilaan ini"

__ADS_1


"Ck, gila kamu bilang? kamu yang gila. kenapa kamu memper**kosa aku semalam?" tanya Moza sambil menahan amarahnya.


"Siapa yang memper**kosa kamu? kita melakukannya dengan sadar. Oke aku memang di bawah pengaruh obat tapi jika kamu tidak menarik tubuh ku duluan mungkin hal itu tidak akan terjadi"


"Jangan banyak berkilah. dan Obat? heh, aku yakin itu hanya alasan kamu untuk menutupi kebereng**$ekan kamu Shien!" jawab Moza ketua sambil terus berusaha berontak melepaskan kedua tangannya yang di cengkram Shien.


"Aku tidak sebreng*sek yang kamu katakan, karena pria yang selama ini kamu cintai lah yang telah memberikan obat perang**sang di minuman aku sehingga aku tersiksa semalaman. Dan karena diri mi sendiri akhirnya hal itu terjadi" Bentak Shine


"Lepaskan aku!! apa maksud kamu berkata demikian? tidak mungkin kak Arby yang melakukannya" teriak Moza di hadapan Shine.


"Arby mengingin kan aku untuk selalu menjaga mu, bahkan ia ingin terlepas dari kamu Moza, dia sengaja menjebak aku semalam"


Moza merasa sedih mendengar ucapan Shien, ia mulai melemah dan tak lagi memberontak, sehingga Shien mulai melepaskan cengkraman nya dari kedua tangan Moza.


"Hiks-- sebenci itu kah kak Arby kepada ku? apa kah aku salah jika mencintainya? dia begitu baik dan menjaga ku dari aku kecil dan--" Moza lunglai ke lantai, dia menutupi wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.


Shien menatap nanar ke arah Moza yang terlihat sangat menyedihkan. ia masih berdiri di depan Moza sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Setidaknya kita melakukannya dalam ikatan suami istri, dan aku akan bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu"


"Hiks" Moza bertambah sendu saat mendengar ucapan Shien, sudah bisa di pastikan sesuatu yang buruk bagi Shine adalah jika dirinya mengandung anak Shine,


Shine pun berlalu meninggalkan Moza sendirian, dan Moza masih meratapi nasib nya yang tidak pernah bahagia.


"Semua pria itu memang breng*sek!" cetus Moza dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"Maaf Moza tapi ada sebuah janji yang harus aku tepati sehingga aku tidak bisa berbuat lebih kepadamu" Shine terduduk dan menyenderkan tubuhnya di balik pintu kamar dengan kedua tangannya menutupi wajahnya yang tampak lelah.


Bersambung...🧐🧐


__ADS_2