
Shine yang tidak bisa lagi menahan has*ratnya langsung beranjak dari atas sofa yang ia duduki, dan menggeser pintu yang menghubungkan antara beranda dan ruang tengah.
Moza cukup kaget saat menyadari Shine telah berada di dekatnya, namun Moza masih mencoba untuk menstabilkan perasaanya,
Tapi tanpa aba-aba Shine langsung menggeser leptop Moza dan duduk tepat di hadapan Moza bahkan tangan dan bibirnya nya secara serentak menyambar bibir dan tengkuk Moza.
Shine menye*sap bibir yang sudah membuat dirinya candu itu cukup lama, dan secara perlahan tangan nya pun mulai merayap masuk ke dalam baju Moza, hingga Moza yang sempat terbuai dengan ciuman Shine sadar akan tindakan suaminya yang hampir berhasil membuka pengait b*ra nya.
Moza mendorong keras tubuh Shine hingga ciuman itu terlepas.Moza memukul tangan nakal Shine cukup kuat hingga mengeluarkan sebuah suara.
" Lepas" ucap Moza yang kini kedua tangannya menahan bahu Shine, yang terlihat kembali ingin nyosor ke arah Moza.
"Dasar mesum. bisa gak biarin aku sendiri! udah deh jangan ganggu" Moza mencoba untuk berpindah sambil membawa laptopnya.
Namun Shine yang sudah tidak sabar lagi untuk menahan has*rat yang hampir sebulan ini ia tahan, menyambar laptop Moza dan menggendong tubuh mungil sang istri di pundaknya.
"Bugh--kamu mau bawa aku kemana Shine! turunkan aka, jika tidak aku akan teriak"
Shien sama sekali tidak memperdulikan teriakan Moza dia tetap melangkah kan kakinya naik ke kamar utama,
"Bruk" Shine menjatuhkan tubuh Moza di atas ranjang milikinya
"Teriak lah sayang, aku sangat merindukan teriakan ****y mu itu" ucap Shine vulgar dengan suara beratnya. pandangan mata Shine tampak sudah berubah. Dan saat ini Moza tahu tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
"Lakukan kan lah Shine. Setelah itu ceraikan aku, aku tak sanggup lagi jika hanya menjadi pelampiasan naf*su mu, kenapa tidak ada satu pun pria yang bisa mencintai aku dengan tulus" batin Moza berucap dan tanpa bisa ia tahan air mata pun mengalir begitu saja di pipinya.
Shine yang telah berhasil membuka semua pakaian mereka, melepaskan tautan bibir nya.
Ia sedikit kesal melihat Moza tidak membalas ciumannya,
"Baiklah jika kamu masih tetap merajuk gak masalah, karena setelah ini aku yakin kau akan berhenti merajuk sayang"
Ucap Shane menggoda, entah kenapa saat di depan Moza Shine tak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Moza, hingga selama sebulan ini ia merasa seperti orang gila.
Shine tidak perduli saat kini Moza memalingkan wajahnya saat mereka berc*inta.
Apakah sulit menerima aku Za? kenapa di dalam hati mu hanya ada Arby? Apakah tidak ada sedikit cela untuk ku"
__ADS_1
Shine menghentakan dengan kuat rasa rindu dan kesal yang hadir secara bersamaan membuat dirinya menggila saat menaiki Moza.
Percintaan panas itu berlangsung hingga beberapa jam, karena Shine hanya menjeda beberapa menit dan kembali menyerang tubuh sang istri, hingga Moza tertidur karena kelelahan saat kegiatan itu masih berlangsung.
**
Moza mengerjapkan matanya, tampak sinar matahari telah masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka,
Moza mencoba untuk bangun namun tubuhnya tertahan dengan sebuah tangan besar yang memeluk tubuh nya erat.
"Ck-- untuk kali ini kau memberi aku muka Shine, aku kira kau sudah pergi seperti sebelum-sebelumnya" Moza berucap di dalam hati, Moza yang merasakan haus kembali mengangkat tangan Shine dari tubuhnya, namun Shine menghentikan gerakannya.
"Tidur lah sebentar lagi. bukan kah ini hari Minggu. " Shine berucap sembari mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma wangi tubuh Moza yang kini menjadi candu untuk Shine,
"Ehmmm" Shien kembali mencium tengkuk Moza dari belakang dengan masih menutup kedua matanya.
"Andai kau selalu manis seperti ini Shien mungkin aku bisa bertahan di samping mu"
"Shine, menurut mu seperti apa hubungan kita saat ini? aku merasa ini salah. Apakah sebaiknya kita segera bercerai Shien?" celetuk Moza
Hilang sudah rasa kantuk Shien mendengar kalimat Moza, ia pun langsung membuka kedua matanya dan membalikan tubuh Moza menghadap ke arahnya
Niat nya ingin memperbaiki hubungan nya dengan Moza lenyap sudah.
"Kenapa kau marah? bukan kah kau sudah tahu aku hanya memanfaatkan mu."
ucap Moza santai. walau ada perasaan mengganjal di hatinya, jujur setelah hidup bersama Shine Moza tidak pernah lagi memikirkan tentang Arby.
Namun ia juga belum tahu apakah kini ia telah mencintai Shien, yang pasti kini ia hanya akan hidup untuk membahagiakan orang tua nya, dan hidup tanpa cinta seumur hidupnya.
"Bisakah sedikit saja kau mencoba untuk menyenangi hati ku. Paling tidak kita bisa mencoba untuk saling menerima. Kita bisa mencobanya pelan-pelan Za" dan kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulut Shien.
Moza merasa kaget mendengar jawaban yang keluar dari mulut Shien, ia menatap dalam ke arah mata Shien dan ia tidak menemukan kebohongan di sana.
"Tapi Shien, hubungan ini di mulai dari sesuatu yang salah. dan kita tidak saling mencintai. aku takut ini akan menjadi masalah di masa depan"
Moza berkata dengan bersungguh-sungguh, sesekali tangannya menarik ujung selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
__ADS_1
Moza takut apabila tidak di awali dengan cinta dan tiada cinta dianatara mereka, bagaimana jika dengan hubungan yang mereka lakukan saat ini bisa membuat Moza hamil, dan mau tidak mau Shine akan mempertahankan pernikahan ini dengan terpaksa demi sang buah hati kelak.
Shine cukup lama terpaku mantap Moza yang diluar dugaannya, gadis berumur 19 tahun itu tampak lebih dewasa dengan ucapannya, ia menyangka selama ini sikap Moza terlalu kekanak-kanakan di matanya.
Setelah hari ini akhirnya Shine semakin yakin bahwa Moza benar-benar pilihan yang tepat untuknya.
"Kita akan mencoba nya, aku yakin hubungan kita akan baik-baik saja. Dan aku yakin suatu saat cinta itu akan tumbuh diantara kita"
Shien berucap dengan penuh kelembutan,
Dengan penuh kasih sayang ia mencium ujung jari Moza yang tengah memegang selimut tebal yang melilit tubuhnya.
"Tapi Shien?"
"Moza please, percayalah padaku. Aku akan membuktikan ucapanku"
"Tapi Shien--"
Shine kembali mengecup lembut bibir moza dan menatap kedua mata Moza hingga hidung mereka kembali bersentuhan.
"Hilang kan keraguan di hati mu. dan yakin lah kepadaku. dan satu hal yang aku minta. lupa kan Arby, ----dan kini hanya ada kita di dalam hubungan ini" Shien berucap sembari mengelus lembut kedua pipi Moza dengan kedua tangannya,
Dan perlahan Shane kembali membaringkan tubuh mereka ke atas kasur.
"Tunggu Shien. aku belum selesai bicara" sungut Moza marah melihat kemesuman Shine yang tak pernah di duga sebelumnya, ia menahan tubuh Shine dengan kedua tangannya yang terlepas dari selimut, sehingga mengexpos bagian dadanya.
Shine yang kembali tergoda dengan hal itu tanpa ragu langsung menyambar gundukan bulat itu dengan bibirnya, dan meng**hisap nya lembut.
"Shine stop! " Moza kembali menarik selimut nya dan menjauhkan tubuh nya dari kepala Shine yang seketika jatuh keatas bantal.
"Dasar pria mesum" Namun Shine tak pantang menyerah ia kembali mengarahkan wajah nya ke dada Moza yang indah dimatanya.
"Bugh- " Moza kembali memukul kepala Shien dengan bantal sambil tangan satu nya mempertahankan selimut yang menutupi bagian dadanya.
Dan kamar itu menjadi ribut dengan canda mereka, bahkan Moza harus berlari menghindari Shien dengan melilitkan selimut di tubuhnya, dan meninggalkan Shien yang polos yang tengah mengejarnya.
"Pffff---Hahahhaha" Tawa Moza tersembur tat kala melihat penampilan Shien saat ini, Dimata Moza hilang sudah predikat cowok cool untuk Shine, karena yang ia lihat saat ini nyata nya Shien adalah seorang pria mesum yang tak pernah puas mengg*uli dirinya.
__ADS_1
Bersambung..🤣🤣