Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Tuan tampan


__ADS_3

Rigel menatap Jeanne dan Hera secara bergantian. "Bolehkah aku meminta tolong pada kalian berdua?"


Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat tanda tanya di dalam benak Hera dan juga Jeanne.


Keduanya bertanya-tanya akan maksud Rigel di sana. Apa yang dia mintai pertolongan di sana. Sebelum pada akhirnya, Rigel malah terlihat meragu untuk mengatakan apa yang hendak dia katakan pada keduanya. Membuat Rigel pada akhrinya merapatkan bibirnya dan menatap keduanya bergantian.


"Tidak, lupakan. Tidak jadi," ucap Rigel pada akhrinya dengan gelengan kepala yang sudah dia tunjukan pada mereka berdua.


Dan itu jelas membuat Hera dan Jeanne menatapnya tak percaya. Benar-benar cukup kecewa saat mereka sebelumnya sudah begitu menantikan apa yang hendak dia katakan.


Jeanne bahkan sudah memutar bola matanya malas dan mendecih dengan jelas. "Minus satu untuk dirimu, Rigel. Aku tidak begitu menyukai pria yang labil."


Sedangkan untuk Hera, dia hanya menatap Rigel dengan lekat. Dia berusaha mencari tahu sesuatu melewati sorot mata pria itu. Karena sedikitnya, Hera juga paham. Ada sesuatu yang berusaha Rigel sembunyikan dari mereka.


"Ya sudah. Lebih baik kita pergi sekarang. Sebelum semuanya akan lebih membuang waktu dengan percuma," ujar Hera pada akhrinya. Dia berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu fokus pada apa yang dikatakan Rigel sebelumnya.


Dan sekarang, baik Rigel atau pun Jeanne, keduanya juga setuju denhan usul yang diberikan Hera. Selain karena Jeanne tidak ingin membuang waktu, juga karena Rigel tidak ingin kembali membahas apa yang tidak jadi dia katakan. Hal yang lebih dia pilih untuk disimpan sendiri tanpa mengatakannya pada siapa pun termasuk Hera dan juga Jeanne.


Lantas, ketiganya sudah berlalu dari sana secara bersamaan. Seperti apa yang dikatakan sebelumnya, mereka siap untuk mencari pakaian yang cocok untuk Rigel. Memilihkan pakaian yang bisa menonjolkan kesempurnaan yang nyaris dimiliki oleh pria seperti Rigel di sana. Jelas dengan Rigel yang tidak biasa.


***


"Kau yakin akan mengenakan pakaian seperti itu?" tanya Hera dengan raut terkejutnya saat dia melihat pada Jeanne yang sudah berada di hadapannya.


Bagaimana Hera tidak terkejut, saat dia sudah mendapati Jeanne mengenakan pakaian yang mampu membuat mulutnya terbuka tak percaya.

__ADS_1


Jeanne saat ini mengenakan dress merah yang begitu banyak menampakan bagian dari tubuhnya. Mulai dari belahan dress yang mencapai batas paha atasnya, belahan dada yang terlihat lebih banyak, juga bahkan tentang put*ng wanita itu yang mencuat dari balik dress yang dia kenakan. Belum lagi dengan bahu dan punggung yang terekspos di nyaris seluruhnya di sana. Benar-benar terlihat seperti Jeanne malas berpakaian bagi Hera.


"Kenapa? Apa masih kurang seksi untukku?"


Pertanyaan gila itu yang malah dijadikan sebagai respon dari apa yang dikatakan oleh Hera di sana oleh Jeanne. Dia benar-benar tidak merasa jika apa yang dia kenakan adalah sesuatu yang berlebihan. Menurut Jeanne, dia akan memakai apa yang dia inginkan dan menurutnya nyaman.


"Jeanne, kau benar-benar terlihat siap 'berpesta' saat ini juga," ujar Hera dengan gelengan pada kepalanya yang sudah dia tunjukan.


Percuma juga kalau dia mengatakan jika Jeanne terlalu terbuka dengan pakaian seperti itu. Jelas Jeanne juga tidak akan mendengarkan pendapatnya di sana. Sebab, Jeanne hanya akan melakukan apa yang menurutnya benar saja.


"Tentu saja!" Seru Jeanne tanpa membantah sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Hera di sana. Membuat Hera sekali lagi menggelengkan kepalanya. "Dimana Rigel? Dia belum keluar?" tanya Jeanne kemudian pada Hera.


Kali ini Hera menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan. "Ya, dia belum keluar juga. Mungkin sebentar lagi," ujar Hera kemudian.


Dia saja sejak tadi sedang menunggu pria itu keluar.


"Kurasa, aku terlihat aneh."


Seseorang yang baru saja mengatakan hal itu membuat fokus Hera dan Jeanne lantas teralihkan. Menatap pada seorang pria yang kini tengah berjalan mendekat ke arah keduanya.


Rambut yang tertata rapi, setelan jas mahal yang melekat pada proporsi tubuh yang sempurna. Penampilan yang mampu membuat kedua wanita itu terdiam dengan senyuman yang sudah terlukis.


"Wow! Kau terlihat semakin menawan, Tuan tampan. Masih tidak ingin mencoba berc*nta denganku?" Celetuk Jeanne begitu saja.


Mengabaikan apa yang dikatakan oleh Jeanne, Rigel kini lebih memilih untuk mendekat pada Hera. Mengambil tempat untuk berdiri di samping wanita.

__ADS_1


"Aku tidak terbiasa dengan ini. Apalagi soal rambut ini," ujar Rigel di sana.


Nyatanya, dia memang baru saja mengubah gaya rambutnya saat pergi dengan dua wanita itu. Tentu saja atas paksaan mereka berdua. Sebenarnya tidak terlalu buruk, tapi Rigel yang hanya merasa aneh dengan semua perubahan ini.


"Tidak, kau terlihat cukup sempurna," ucap Hera pelan. "Ayo, kita harus berangkat sekarang. Sebelum terlambat dan membuat Tuan Moris marah," ujar Hera cepat sebelum Rigel kembali menimpali apa yang dikatakan oleh Hera dengan pujian yang wanita itu berikan padanya.


"Benar. Pria itu akan menyeramkan kalau berada di dalam emosinya. Aku tidak mau malam ini malah menjadi pelampiasan kemarahannya. Aku hanya ingin mencoba melakukannya dengan kau!" Tunjuk Jeanne pada Rigel.


Memberikan tatapan yang tajam pada Jeanne di sana, lantas Rigel segera memutar bola matanya malas. Yang dipikirkan wanita itu hanya soal ************ saja, Rigel tak terlalu suka dengan hal itu.


"Lebih baik memang kita berangkat sekarang," ujar Rigel dengan suara yang begitu tegas.


Kali ini tak ada penolakan atau respon lain dari dua wanita yang bersamanya. Selain dengan langkah dua wanita itu yang sudah berjalan mengekor di belakang Rigel. Dimana Rigel sudah berjalan memimpin terlebih dahulu. Membuat pria itu terlihat seperti sang pemimpin di antara keduanya. Menjadi yang paling mendominasi.


Nyatanya, bukan hanya penampilan Rigel yang berubah. Tapi juga aura yang terpancar darinya. Dengan sorot mata yang tajam syarat akan perasaan marah yang dia pendam sejak hari itu. Sejak pengkhianatan yang dilakukan oleh istrinya sendiri. Ah, ralat— mantan istri.


"Rigel?"


"Apa?" Respon Rigel singkat atas panggilan yang ditujukan padanya dari Jeanne.


"Mau aku beritahukan sesuatu?" ucap Jeanne sekali lagi.


"Apa?" Respon Rigel lagi dengan respon yang sama. Singkat dan terlihat seolah tak peduli sama sekali.


Namun, itu tetap membuat lengkungan senyum di bibir Jeanne terlukis karenanya. "Nama suami baru dari mantan istrimu juga terdaftar di daftar tamu yang diundang oleh Tuan Moris. Dan kemungkinan besar, dia juga akan datang bersama istrinya. Lebih tepatnya, mantan istrimu."

__ADS_1


Rigel sempat terdiam karenanya. Sebelum pada beberapa detik berikutnya, senyuman miring lantas terlukis pada bibirnya.


"Kalau begitu, bagus!"


__ADS_2