
Rigel menggeliat dari tidurnya. Dengan mata yang sudah terbuka secara perlahan. Dimana dia sudah mendapati seorang wanita yang tengah memunggunginya. Seorang wanita yang seluruh tubuhnya sudah dia jamah.
Memandang punggung polos Hera di hadapannya, membuat Rigel kembali mengingat apa yang telah terjadi semalam di antara dirinya dan Hera. Sesuatu yang masih begitu melekat di dalam memori kepalanya.
Dia jelas tidak akan pernah lupa tentang bagaimana luar biasanya malam panjang bersama wanita itu semalam. Terlebih, saat Rigel mengecupi setiap inchi tubuh Hera yang memabukkan. Seperti candu yang baru dia temukan, Rigel seolah melupakan apa pun semalam. Dia melupakan apa yang tengah mengacaukan pikirannya. Hera, telah berhasil mendistraksi Rigel dari semua masalahnya.
Tentang bagaimana Hera yang begitu pasrah berada di bawah kungkungan Rigel. Bagaimana wanita itu melenguh dan mendesahkan nama Rigel. Tentang bagaimana Rigel menerobos masuk ke dalam pusat tubuh Hera yang benar-benar masih gadis. Ya, Rigel menjadi yang pertama untuk wanita itu. Dan itu, pengalaman pertama yang Rigel dapatkan untuk berc*nta dengan seseorang yang masih perawan. Mengingat saat bersama Erina, wanita itu sudah tidak perawan saat menikah dengan Rigel.
"Hera? Apa kau sudah bangun?" tanya Rigel saat dia menyadari pergerakan dari wanita di hadapannya.
Tidak langsung menoleh pada Rigel yang baru saja menyerukan namanya, Hera terlihat terdiam sejenak seperti tengah melakukan sesuatu. Sampai pada beberapa detik kemudian, dia telah berbalik untuk berhadapan dengan Rigel. Dengan tangan yang sudah menahan selimut yang membalut tubuhnya.
"Eum, kau juga sudah bangun?" tanya Hera dengan suara yang begitu serak.
Dimana Rigel yakin, itu bukan hanya suara serak sehabis bangun tidur, melainkan juga karena Hera telah kehabisan suaranya setelah mendesahkan nama Rigel semalaman ini, atau bahkan setelah Hera, menangis?
Tunggu. Rigel menyadari sesuatu sekarang. Dia menatap Hera dengan mata yang terlihat cukup sembab. Jelas itu bukan karena Hera menangis saat merasakan sakit karena diperawani oleh Rigel. Karena dapat terlihat jelas sisa air mata baru yang ada di matanya. Hera baru saja menangis.
"Are you okay?" tanya Rigel kemudian. Begitu lembut dan berhati-hati.
Hera menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa."
__ADS_1
Rigel tahu. Hera berbohong. Sebab matanya tidak mengatakan demikian. Justru di balik senyum wanita itu, sorot matanya justru terlihat begitu sendu dan menyedihkan. Dengan genangan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Sekali berkedip, dan cairan bening itu akan jatuh.
Rigel segera menarik Hera ke dalam pelukannya. Dengan beberapa usapan yang dia berikan pada punggung polos Hera yang pada akhrinya membuat isakan lembut Hera terdengar.
"Kau menyesal?" tanya Rigel pada akhirnya.
Dia paham kesedihan yang dirasakan oleh Hera sekarang. Bukan tidak mungkin jika wanita itu akan menyesal setelah melakukan semua ini. Memberikan kehormatannya pada seorang pria yang bahkan belum lama ini dia kenal. Pria yang hanya bisa memberikan janji yang tak pasti.
"Sudah kukatakan semalam, kau mungkin akan menyesali semua ini. Tapi semuanya sudah terjadi, aku tidak bisa mengembalikan keperawananmu juga," ucap Rigel apa adanya.
Hanya itu yang bisa dia katakan. Tidak ada lagi hal lain yang coba dia katakan pada Hera untuk menenangkan. Karena memang semuanya sudah terjadi. Ibaratkan nasi sudah menjadi bubur. Dan selaput dara milik Hera yang juga sudah dikoyak oleh milik Rigel.
"Aku menangis bukan karena aku menyesal, Rigel," ucap Hera.
Penuturan yang membuat Rigel mengernyitkan dahinya tak paham menatap Hera di sana. "Lalu kenapa?" tanyanya penasaran.
Sekarang, Hera telah menghapus air matanya dengan punggung tangannya sendiri. Menatap Rigel dengan tatapan sendunya di sana. "Aku menangis karena aku masih tidak menyangka dengan apa yang aku lakukan semalam. Dimana pada akhrinya, aku telah melanggar batas yang diberikan oleh Tuan Moris."
Rigel terdiam. Dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Hera di sana. Berusaha memahami apa maksud dari wanita itu.
"Rigel, bukan hanya kau yang memanfaatkanku. Tapi, juga aku yang sudah memanfaatkanmu. Jadi, biarkan kita saling memanfaatkan satu sama lain sekarang. Kau membutuhkanku dan aku juga membutuhkanku. Kita sama," ujar Hera pada akhirnya.
__ADS_1
Iya, Rigel mulai paham akan hal itu. Dia juga tidak begitu merasa bersalah saat mendengar penuturan Hera kali ini. Tapi, dia hanya tidak menyangka jika Hera akan seperti ini. Wanita itu, benar-benar rela mempertaruhkan dirinya hanya demi kebebasan.
"Baiklah. Aku tidak akan membantah soal itu. Anggap saja kita akan memulai kerja sama sekarang!" Tegas Rigel dengan satu tangan yang sudah terulur pada Hera.
Hera meraih uluran tangan yang diberikan oleh Rigel. Dia tersenyum tipis meski matanya masih terlihat basah karena air mata. "Aku siap membantumu, Rigel. Manfaatkan aku selagi bisa kau manfaatkan. Katakanlah apa yang harus aku lakukan setelah menjadi tunangan Andrey."
Senyuman lebar Rigel telah terlukis. Dia seperti telah mendapatkan jalan besar yang bisa membantunya untuk segara sampai pada tujuan yang sudah dia tuju sejak awal di sana. Dia seperti mendapat pijakan yang bisa membawanya melangkah lebih tinggi lagi.
Tinggal melangkah sedikit lagi untuk Rigel mendapatkan apa yang dia inginkan. Untuk membalaskan seluruh dendamnya. Dia yakin, dia akan mendapatkan uang itu dari Tuan Moris yang akan mengubah kehidupannya. Rigel akan menjalani kehidupan barunya setelah itu terjadi.
"Aku akan berangkat ke kantor dulu hari ini untuk mengurus beberapa hal. Kau hanya perlu melakukan apa yang sudah aku jelaskan padamu sebelumnya. Dan jangan pernah gegabah atau melakukan hal yang tidak aku perintahkan," ujar Rigel pada Hera.
Ya, dia memerintahnya. Seolah dia memang seseorang yang sudah bisa mendominasi Hera sepenuhnya sekarang. Membuat wanita itu juga tunduk padanya. Rigel, telah berhasil membuat sisi devil di dalam dirinya mendominasi.
"Sekarang kau boleh beristirahat dulu, aku tahu kau masih lelah dan merasa sakit di bawah sana. Dan untuk yang semalam, terima kasih. Itu benar-benar luar biasa, Hera," ujar Rigel yang kini sudah mengusap kepala Hera dengan lembut sebelum akhirnya bangkit dari posisinya. Meninggalkan Hera yang masih membalut tubuhnya dengan selimut.
Dimana apa yang dikatakan oleh Rigel telah berhasil membuat Hera tersipu dibuatnya. Sebuah sanjungan yang membuat Hera juga bangga pada dirinya sendiri. Senang karena bisa memberikan kepuasan di pengalaman pertamanya ini pada pria itu.
Pengalaman pertama yang membuat Rigel juga teringat akan pertamanya bersama Erina. Meski mantan istrinya itu tidak perawan saat menikah dengannya, tapi Rigel justru masihlah seorang perjaka saat menikahi Erina.
Dan kenangan itu pula yang membuat Rigel mengepalkan tangannya sekarang. Membayangkan kembali pengkhianatan yang diberikan Erina setelah dia berusaha keras untuk memperjuangkannya.
__ADS_1