
Rigel tak dapat tertidur dengan tenang. Dia kini malah memainkan ponselnya sembari duduk bersandar pada sofa ruangan tengah. Alih-alih tertidur saat waktu sudah menunjukan pukul tengah malam, Rigel malah lebih memilih untuk menyusun rencana yang harus dia lakukan. Strategi bisnis dengan sedikit bumbu kelicikan yang disarankan oleh Jeanne padanya.
"Untuk dapat membuat bisnis ini berkembang, aku akan melakukan beberapa hal termasuk dengan mengubah diriku sendiri. Aku juga harus membuat mereka yakin untuk menjadi klienku," gumam Rigel pada dirinya sendiri. Dengan tangan yang masih sibuk untuk mengetikkan beberapa kata yang merupakan rencana yang harus dia lakukan.
Rigel memang tak begitu pandai dalam melakukan semua ini. Apalagi, melakukan hal ilegal seperti ini. Tapi, dia memiliki tekad yang kuat, ambisi yang besar. Untuk itu dia mencoba mem'push' dirinya sendiri. Mungkin selain ini, dia juga akan bertanya soal bisnis pada seseorang yang sudah ahli dalam bidang ini.
"Aku juga mungkin harus mengambil kelas beberapa bahasa. Agar aku bisa mendapatkan klien dari negara lain. Bagaimana pun, aku harus bisa membuat bisnis ini lebih sukses. Kalau bisa, lebih sukses daripada saat dipegang oleh Big boss!" Tegas Rigel sekali lagi. Dimana dia sudah mulai semakin membesarkan ambisi yang dia miliki terhadap tujuan yang harus dia capai.
"Kau pasti bisa melakukannya!"
Rigel segera menoleh pada asal suara. Dimana dia sudah mendapati Hera degan pakaian tidur yang cukup tipis melekat pada tubuhnya, dengan segelas air putih yang berada dalam genggaman tangannya.
Dapat ditebak oleh Rigel, kalau wanita itu baru saja terbangun dari tidurnya dan mengambil air minum karena merasa haus. Terlihat dari raut wajah Hera yang cukup mengantuk. Dan juga suara wanita itu yang terdengar sedikit serah, suara khas bangun tidur.
"Bekum tidur?" tanya Hera yang kini sudah mengambil tempat untuk terduduk di samping Rigel yang kosong.
Rigel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dengan senyuman tipis yang telah dis tunjukan pada wanita itu. "Aku tidak bisa tertidur. Jadi memilih untuk kemari sekalian menyusun beberapa hal soal bisnis yang aku pegang," ujar Rigel tanpa menyembunyikan apa pun pada Hera di sana.
Hera lantas mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia paham dengan apa yang baru saja dijelaskan Rigel padanya. "Ah, begitu, ya? Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kau pasti bisa sukses secara perlahan," ujar Hera.
Pun begitu, Rigel juga telah menganggukkan kepalanya setuju. Dia juga tidak membantah apa yang dikatakan oleh Hera di sana. Karena memang yang dikatakan oleh wanita itu ada benarnya. Dia mungkin bisa sukses secara perlahan, tapi yang menjadi masalah untuknya adalah. "Tapi, aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Aku harus mendapatkan semua hal yang dijanjikan oleh Tuan Moris secepatnya."
__ADS_1
Ya, Rigel tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membalaskan dendamnya pads Erina dan juga Roby. Dia sudah benar-benar merasakan gatal pada kedua tangannya untuk menunjukan dirinya yang bisa sukses dan membalas perbuatan mereka.
"Untuk itu kau juga meminta bantuanku?" Memanfaatkan aku?" tanya Hera pada akhirnya.
Pertanyaan yang berhasil membuat Rigel terdiam tanpa bisa menjawab apa pun lagi. Karena Hera telah mengatakan sebuah kebenaran. Kebenaran yang tak bisa dibantah oleh Rigel sama sekali. Fakta yang sudah mutlak di sana.
"Maaf." Hanya itu yang bisa terucap dari mulut Rigel.
Pun begitu, Hera justru malah terlihat menyunggingkan senyumnya. Senyuman tipis yang terlihat cukup sendu.
"Tidak perlu meminta maaf. Anggap saja kita telah membuat kesepakatan. Antara kau dan aku, bahkan kita berdua akan mendapatkan keuntungannya masing-masing," ujar Hera.
Rigel juga setuju dengan hal itu. Dia tak sepenuhnya memanfaatkan Hera karena Hera juga memanfaatkan dirinya untuk melarikan diri dari Tuan Moris.
Meski sempat meragu, tapi pada akhirnya Rigel juga telah menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan. "Katakanlah," ucapnya tak kalah serius.
"Buktikan padaku kalau kau tidak akan mengingkari janjimu. Atau setidaknya, berikan jaminan padaku kalau kau tidak akan mengkhianati aku," ucap Hera dengan begitu yakin.
Penjelasan yang mampu membuat Rigel terdiam di tempatnya dan menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa mendadak mengering saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Hera di sana. Dia benar-benar tak menyangka jika Hera mengatakan hal demikian. Saat dia sebelumnya begitu yakin bahwa Hera akan percaya begitu saja padanya.
"A—apa yang harus aku buktikan dan jadikan sebagai sebuah jaminan padamu?" tanya Rigel dengan kegugupan yang sudah dia rasakan sekarang juga.
__ADS_1
Dia menatap Hera tak kalah lekat. Bersamaan dengan menanti jawaban yang akan diberikan oleh Hera padanya.
Sampai pada akhirnya, Hera telah menghela nafasnya dalam. Menatap Rigel dengan tatapan yang sudah semakin sendu. "Tidurlah denganku malam ini."
Rigel nyaris tersedak ludahnya sendiri saat mendengar apa yang dikatakan oleh Hera. Lagi-lagi wanita itu malah membahas soal itu. Saat Rigel juga telah berusaha sekeras mungkin untuk menahan diri agar tidak terjerat ke dalam pesona Hera dan malah membuat sebuah langkah yang salah.
Tapi, degan ludahnya, Hera malah kembali mengatakan hal yang mampu membuat Rigel pening sendiri. Ini gila, terdengar gila bagi Rigel mendapatkan permintaan yang seperti itu.
"Tidak mungkin, Hera. Bagaimana bisa aku tidur denganmu. Aku sudah cukup merasa bersalah karena mencuri ci*man pertamamu. Tidak mungkin aku malah tidur denganmu juga!" Tegas Rigel dengan penolakannya pada wanita.
Bukannya menyerah, Hera kini malah menarik salah satu tangan Rigel. Membuat pria itu semakin merasakan jika debaran jantungnya semakin cepat. Berdetak tak normal. "Agar aku juga yakin kau tak akan mengingkari janjimu. Karena jika aku mengandung anakmu, kau tidak akan meninggalkan aku. Karena aku tahu, kau juga begitu menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidupmu."
Rigel rasanya akan semakin gila sekarang. Apa yang diungkapkan oleh Hera hanya bisa membuatnya semakin kacau. Semakin pening dengan segala hal yang ada di dalam pikirannya.
"Hera. Kau tid—"
"Please. Aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya padamu selama perjanjian ini berlangsung. Kau bisa membuatku mengandung anakmu selama aku menjadi tunangan Andrey. Sampai aku yakin kau akan membantuku pergi dari genggaman Tuan Moris setelah kau juag mendapatkan apa yang ingin kau dapatkan dariku dan Andrey.
Dan kau, juga bisa meninggalkan aku dan terbebas dariku begitu anakmu terlahir. Rigel, tidakkah kau merasa iba padaku yang rela menyerahkan tubuhku ini padamu demi sebuah kebebasan? Kumohon, lakukanlah. Tidur denganku malam ini," pinta Hera semakin nekat.
Rigel seperti berada di persimpangan jalan yang sama-sama berbahaya untuknya. Ini benar-benar membuat kepalanya pening sekali sampai rasanya siap meledak kapan pun. "Tak dapat dia sangka kalau Hera malah menyerahkan diri begitu saja pada dirinya.
__ADS_1
"Tapi Hera, bagaimana kalau aku justru lebih jahat dari yang kau kira? Bagaimana kalau aku tidak menjadi malaikat penolongmu tapi justru malah menjadi iblis yang lebih buruk daripada Tuan Moris. Kau tak pernah mengenal bagaimana aku yang sebenarnya."
Alih-alih berhenti. Kini Hera malah mendekatkan wajahnya pada Rigel. "Aku tak perduli. I trust the devil inside you!"