
"Hamili aku. Buat aku hamil, Rigel."
Dan sekali lagi, Rigel tak dapat menyembunyikan keterkejutannya terhadap apa yang dikatakan oleh Hera di sana. Ini gila, benar-benar gila. Rigel tak mengerti kenapa wanita seperti Hera dapat mengatakan hal itu dengan mudahnya.
Tawarannya memang menggiurkan, tapi tidak dengan rencananya. Jika Rigel memang melakukan hal itu, maka Rigel akan benar-benar menjadi iblis yang licik. Lebih tepatnya mungkin Rigel seperti menggali kuburannya sendiri karena hal itu. Kehidupannya pasti akan berakhir dengan cepat. Jika pun berhasil, Rigel akan menjadi seseorang yang tak memiliki hati karena membuat Hera mungkin akan mempertaruhkan kehidupannya.
"Bagaimana, Rigel? Bukankah itu adalah suatu hal yang menarik?" tanya Hera sekali lagi yang masih menunggu jawaban dari Rigel.
Jujur saja Hera menaruh harapan yang besar pada Rigel. Dia tidak memikirkan apapun lagi selain dengan membebaskan diri dari Tuan Moris yang begitu mengekangnya. Mungkin, jika dia sudah menikah dengan Rigel, dia akan mendapat kebebasannya. Rigel pasti akan lebih mudah dia atasi daripada Tuan Moris.
Namun, helaan nafas kekecewaan harus ditelan bulat-bulat oleh Hera saat itu juga. Saat Rigel lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakannya atas tawaran yang diberikan Hera. Rigel terlihat masih mempertahankan keputusan yang dia miliki sejak awal soal ini.
"Kenapa? Ini juga akan menguntungkanmu. Ini pasti akan—"
"Aku mungkin bisa membuatku menikahimu dan membebaskanmu dari Tuan Moris. Tapi, tidak dengan cara kotor seperti itu, Hera. Aku masih memiliki moral," jelas Rigel dengan alasan yang dia miliki.
Ya, kalau Rigel menghamili Gera terlebih dahulu sebelum menikahinya atau bahkan demi menikahinya, Rigel sama saja seperti pria yang tak bermoral. Dan Rigel tidak ingin mendapat cap buruk seperti itu. Sekali pun dia siap berubah menjadi seorang iblis dengan kepakan sayap yang sudah siap dia gunakan, tapi tidak dengan hal itu.
Rigel, tidak ingin menjadi pria yang brengsek seperti apa yang dilakukan oleh sang adik.
"Apa itu berarti kau akan menerima tawaranku? Menikahiku dan membawaku pergi dari Tuan Moris meskipun dengan cara yang lain?" tanya Hera dengan lebih berantusias.
__ADS_1
Rigel benar-benar tidak menyangka jika Hera akan seantusias itu hanya dengan jawaban yang dia berikan sebelumnya. Namun, Rigel mencoba untum mengabaikan hal itu dan lebih memilih untuk kembali menikmati cairan alkohol yang membuat tubuhnya lebih hangat lagi. Sekali pun kepalanya sudah cukup pening.
"Aku percaya padamu, Rigel," ucap Hera saat tak ada jawaban lagi dari Rigel.
Dan entah kenapa, apa yang dikatakan oleh Hera dengan suara yang lirih itu membuat Rigel menjadi cukup merasa iga pada wanita itu. Wanita yang bahkan rela memberikan tubuhnya demi sebuah kebebasan.
***
Alih-alih pulang setelah menyelesaikan pesta. Kini Aldrich justru lebih memilih untuk pulang sebelum pesta selesai. Dia mengajak Hera untuk kembali ke rumah wanita itu karena pening di kepalanya sudah semakin dia rasakan.
Ya, Rigel benar-benar minum hingga mabuk. Tepat seperti apa yang dia katakan saat mengajak Hera pergi bersamanya. Dia ingin minum sampai mabuk tanpa memperdulikan pemikiran orang-orang yang ada di sana termasuk Erina dan Roby yang sempat Rigel lihat begitu dia berjalan sempoyongan bersama dengan Hera. Dua pria yang masih menunjukan tatapan yang cukup meremehkan pada dirinya.
"Tidurlah. Kau harus mulai melakukan pekerjaanmu besok. Atau Tuan Moris akan berubah pikiran dan malah menendangmu jauh jauh," ujar Hera yang kini sudah berhasil memapah Rigel hingga terbaring di atas ranjang yang juga sebelumnya telah ditempati oleh pria itu.
"Mau kemana?" tanya Rigel yang kini sudah menahan pergelangan tangan Hera.
Membuat wanita itu lantas menatap Rigel dengan helaan nafas dalam yang telah dia lakukan. Sorot matanya telah terlihat begitu sendu menatap Rigel yang kini telah menunjukan sorot matanya yang sayu.
"Aku akan kembali ke kamar," ucap Hera pelan padanya.
Namun, hal mengejutkan yang telah dia dapati selanjutnya adalah gelengan pada kepala Rigel. Menunjukan jika Rigel tidak menyetujui apa yang dikatakan olehnya.
__ADS_1
"Jangan pergi, temani aku di sini," ujar Rigel pada akhirnya.
Suaranya terdengar cukup lirih. Bersamaan dengan genggaman tangannya yang semakin erat untuk menggenggam salah satu tangan Hera. Seolah dengan sengaja menahan wanita itu agar tidak pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Hera sendiri tidak tahu apa yang dikatakan Rigel adalah kesungguhan atau hanya memiliki maksud lain. Akan tetapi, Hera juga terlihat tak tega kalau harus meninggalkannya di sana. Untuk itu dia kini telah mengambil tempat untuk terduduk di tepi ranjang. Tepat di samping Rigel yang masih menatapnya dengan sorot mata yang sayu.
"Kenapa aku harus menemanimu di sini?" tanya Hera dengan suara yang lembut.
Senyuman Rigel lantas tersungging. Dia senang saat mendengar suara Hera yang mengalun dengan lembut seperti ini. Seolah mengalahkan betapa merdunya suara siren yang dapat membuat orang-orang kacau. Suara Hera mampu membuat Rigel juag semakin kacau di tengah mabuknya.
Sampai akhirnya, dia telah menarik tengkuk Hera untuk mendekat padanya. Dengan Rigel yang kini sudah mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Hera. Memberikan ******* lembut tanpa memikirkan bagaimana raut wajah terkejut Hera saat ini juga.
Sebuah pagutan yang mampu membuat ingatan tentang rasa sakitnya terhadap Erina kembali dia rasakan. Kisah manis antara dirinya dengan Erina yang harus dihancurkan begitu saja oleh sebuah pengkhianatan dari wanita itu sendiri dan juga adik kandungnya.
"Aku akan menghancurkan mereka kembali. Aku akan membuat mereka hancur sehancur-hancurnya dan—"
Rigel tak melanjutkan kalimatnya. Bukan karena dia tak tahu harus mengatakan apa lagi atau tidak ingin melanjutkannya. Melainkan karena bibirnya sudah kembali terbungkam.
Hera sudah memagutnya kembali. Seolah dengan sengaja wanita itu ingin mengatakan pada Rigel agar tidak melanjutkan kalimatnya. Ci*man pertanyaan dengan Rigel terasa aneh, tapi dia kini yang malah membungkam mulut Rigel.
Rigel sendiri tidak taku kenapa Hera melakukannya. Dia tak terlalu memikirkan itu karena pengaruh alkohol di dalam dirinya benar-benar lebih mendominasi. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah, betapa nikmatnya pagutan yang tengah dia lakukan bersama Hera. Sebuah pagutan dalam dan panas yang mampu membuat Rigel merasakan sesuatu di bawah sana sudah terbangun dan mendesak ingin dilepaskan.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Rigel merasa benar-benar terangsang selain karena Erina, saat dia masih menjadi istrinya.