
Rigel ingin sekali untuk fokus pada pekerjaannya dan tidak memikirkan hal lain saat ini merupakan hari pertamanya bekerja di sebuah kantor kecil yang tersembunyi. Namun, alih-alih fokus pada pekerjaan yang dia miliki, Rigel malah memikirkan hal lain. Tentang apa yang dikatakan Hera padanya tadi pagi. Hal yang mengganggu Rigel dsn pikirannya.
"Tuan Rigel, apa kau mendengarkan aku?"
Rigel tersadar kembali dari lamunannya. Entah untuk ke berapa kalinya Rigel nyaris terperanjat saat satu orang yang tengah bersamanya ini kembali berbicara padanya. Memanggil namanya berkali-kali meskipun baru direspon oleh Rigel setelah beberapa panggilan kemudian telah diperdengarkan pada dirinya yang melamun.
"Kau melamun lagi?" tanyanya kemudian.
Rigel memijat pangkal hidungnya sendiri sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Maafkan aku. Ini hari pertamaku jadi semua pekerjaan ini hanya membuatku cukup kebingungan," ucap Rigel membuat alasan.
"Kau berbohong, Tuan. Kau tak bisa membohongiku. Ini mungkin kali pertama kita bertemu, tapi aku mengerti mana yang kebingungan soal pekerjaan, mana yang malah tidak fokus sama sekali pada pekerjaan," ujar pria bertubuh kurus itu pada Rigel.
Rigel cukup tertegun saat pria itu mengatakannya, karena dia pikir dirinya akan dipercaya begitu saja. Mengingat pria itu juga adalah salah satu bawahan yang ditunjuk oleh Tuan Moris untuk menemani Rigel sebagai bawahannya.
"Baiklah, maaf kalau begitu. Aku hanya sedang tak fokus, Eddie," ucap Rigel pada akhirnya. Dia tidak bisa membantah lagi saat dia memang sudah ketahuan seperti ini.
Eddie, pria yang sekarang sudah menatap Rigel dengan kesal itu hanya bisa menghela nafasnya berat. Dia sadar kalau dia tak bisa memarahi Rigel lebih jauh saat pria itu adalah atasannya sendiri.
"Kalau begitu, lebih baik kau lebih fokus, Tuan Rigel. Kau harus persiapkan data-data untuk besok. Mungkin besok kau akan menemui klien pertamamu," ujar Eddie pada akhirnya.
Sekarang, Rigel nampak menganggukkan kepalanya untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh Eddie di sana. Dia tidak akan mencoba membantah. Memiliki jabatan yang lebih tinggi dari Eddie bukan berarti bisa membuat Rigel bersikap seenaknya. Karena dia juga merasa perlu menghargai orang lain.
Pun begitu, Eddie sudah meninggalkan Rigel sendiri di sana. Saat Rigel sendiri sudah meraih berkas yang berisi nama-nama klien yang pernah membeli senjata ke tempatnya saat bisnis itu masih dipegang oleh Big boss. Dan deretan nama itu membuat Rigel membuka mulutnya tak percaya.
__ADS_1
Bukan hanya soal berapa banyaknya nama klien di sana. Tapi, juga karena terdapat nama-nama yang tidak dia sangka. Seperti beberapa pengusaha dan pejabat yang bahkan terdaftar di sana.
"Okey, sepertinya, dari sini aku memang bisa mengetahui sisi gelap orang lain juga," gumam Rigel pada akhirnya.
Dan ya, tak hanya itu saja. Yang tidak Rigel mengerti adalah kenapa hari ini dia tak mendapatkan panggilan apapun dari orang-orang ini? Saat seharusnya dia juga menemui kliennya di hari pertama ini. Membuat Rigel berpikir, jika mungkin mereka memang belum mempercayai Rigel untuk menggantikan Big boss saat ini. Untuk itu dia masih diragukan dan belum mendapatkan hasil apapun di hari pertamanya ini.
Lantas Rigel segera meraih ponsel miliknya. Ya, dia harus fokus pada pekerjaannya kali ini. Demi apa yang dia coba raih dan dapatkan dari Tuan Moris. Demi balas dendamnya yang masih coba dia tahan seorang diri. Demi 200 juta dolar yang bisa mengubah kehidupannya.
***
"Rigel!"
Rigel yang tengah membereskan mejanya kini menoleh pada asal suara. Dimana seorang perempuan baru saja menyerukan namanya.
"Kenapa, Jeanne? Kenapa kau bisa kemari?" tanya Rigel pada akhirnya.
Pun begitu, Jeanne nampak tersenyum dengan begitu lebar sampai berdiri tepat di hadapan Rigel. Dengan kedua tangan yang sudah dilipat di depan dadanya.
"Aku mau menyampaikan sesuatu padamu!" Seru Jeanne yang kini nampak begitu berantusias.
"Soal apa? Kalau memang mau menggodaku lagi sebaiknya kau pergi saja dari sini. Aku sedang bekerja. Ini hari pertamaku memegang bisnis Big boss. Aku tidak boleh gagal dan malah mengacaukan segalanya sampai aku tidak bisa mendapatkan apapun lagi," ucap Rigel tanpa berbasa basi.
Ya, dia ingin semua orang tahu kalau dia memang sudah bertekad besar demi kesuksesan yang harus dia raih. Rigel tidak ingin dia mengalami kegagalan untuk kali ini. Dia tidak mau lagi direndahkan oleh orang lain. Sekalipun harus ada yang direndahkan di dunia ini, maka itu bukan dirinya lagi. Kalau perlu, Rigel sendiri yang akan mengambil posisi unyuk merendahkan orang lain jika itu memang bisa menyelamatkannya dari hinaan orang-orang yang tak suka kemiskinan.
__ADS_1
Jeanne nampak terkekeh untuk merespon apa yang dikatakan oleh Rigel. Kedua alisnya juga sudah terangkat saat menatap pria di hadapannya, dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan pada Rigel di sana. "Tenang saja, kali ini aku tidak akan mencoba menggodamu lagi. Tapi, justru aku ingin mengatakan soal pekerjaan."
Kali ini, Rigel terlihat lebih berantusias. Tidak seperti sebelumnya yang bahkan merespon Jeanne dengan cukup malas. Takut-takut jika wanita itu malah kembali menggoda dirinya dan masih berusaha membuatnya berakhir di atas ranjang yang sama dengan wanita itu.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Rigel dengan rasa penasaran yang telah dia miliki.
Lantas Jeanne menganggukkan kepalanya dengan begitu yakin. "Sebelumnya, bolehkah aku duduk terlebih dahulu? Atau kau memang sengaja membiarkanku tetap berdiri seperti ini?"
Rigel menyadarinya. Dimana dia dan Jeanne kini malah berdiri saling berhadapan daripada duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka berdua. Membuat Rigel jadi tak enak sendiri. Bagaimana pun, kedatangan Jeanne di sini juga adalah sebagai tamunya.
"Duduklah," ujar Rigel yang sudah mempersilahkan Jeanne untuk duduk di seberang mejanya. Dimana Rigel sendiri juga sudah menyusul untuk duduk di kursi kerjanya sendiri.
Jeanne mengangguk. Kini mereka duduk saling berhadapan satu sama lain. Dimana selanjutnya, Jeanne kembali menyunggingkan senyuman lebarnya pada Rigel.
"Kau masih belum mendapatkan klien mu bukan?" tanya Jeanne dengan kedua alis yang sudah terangkat.
Dimana pertanyaan itu lantas dijawab oleh sebuah anggukkan dari Rigel. "Ya, begitulah. Mungkin karena hari ini memang hari pertamaku. Orang-orang belum mempercayai aku dalam bidang ini."
Alih-alih mencoba menenangkan Rigel, kini Jeanne malah terkekeh dibuatnya. "Tidak, Rigel. Bukan seperti itu cara mainnya di dunia ini!"
Rigel mengernyit menatap Jeanne. "Apa maksudmu? Lalu aku harus bagaimana?"
Jeanne kini telah menatap Rigel dengan serius. "Andrey adalah salah satu sainganmu dalam bisnis ini. Dan pria itu, akan bertunangan dengan Hera beberapa hari lagi. Bagaimana jika kau memanfaatkan keadaan ini? Kau bisa meminta Hera untuk mendapatkan informasi tentang klien Andrey. Dan kau, bisa mencuri kliennya!"
__ADS_1