Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Pengalaman di atas ranjang


__ADS_3

Rigel dapat melihat keputus asaan yang dirasakan oleh Hera saat ini. Sampai wanita itu rela melakukan apa pun. Bahkan rela mempercayakan semuanya di antara keabu-abuan yang diberikan oleh Rigel. Wanita itu sudah seperti berada di tepi jurangnya sendiri, dimana satu-satunya yang dia harapkan adalah sesuatu yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Tanpa dia tahu, Rigel mungkin tak sebaik yang dia kira. Tanpa dia tahu jika Rigel mungkin bisa berubah menjadi seorang Devil berwujud manusia.


"Rigel, kau hanya perlu menyentuhmu. Jadikan aku sebagai pelampiasanmu," ucap Hera sekali lagi.


Dimana hal itu jelas membuat Rigel menelan ludahnya dengan susah payah. Karena ini adalah sesuatu yang benar-benar menggoda dirinya.


Bagaimana pun, dia juga adalah seorang pria yang normal. Beberapa kali mungkin bisa dia tahan, tapi kalau untuk berkali-kali, dia mungkin akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Seperti yang belakangan ini biasa terjadi, sisi lain dalam dirinya akan menguasai lagi. Ya, The devil inside him.


"Kau mungkin akan menyesal jika kita melakukannya, Hera," ucap Rigel pada wanita itu.


Dia masih bisa berbaik hati agar memberikan kesempatan untuk Hera mundur dan pergi dari situasi ini. Rigel akan senang hati melepaskan Hera begitu saja dan melupakan apa yang wanita itu tawarkan padanya. Dia tak masalah dengan hal itu, tak masalah jika dia harus memendam hasrat yang sudah bangkit itu seorang diri.


Namun, bukannya segera beranjak dari tempatnya sekarang dan pergi melarikan diri dari Rigel dengan segala hasrat yang mencoba ditahan oleh pria itu, kini Hera malah semakin mendekatkan dirinya pada Rigel. Hingga beberapa saat kemudian, dia sudah bersiap untuk duduk di atas pangkuan Rigel yang menatapnya dengan kepala uang sudah pening.


"Tidak akan ada kata menyesal untuk aku melepaskan pertamaku pada pria yang aku sukai," ucap Hera yang sudah sukses duduk di atas pangkuan Rigel.


Belum sempat Rigel mempertanyakan apa yang dimaksud oleh Hera di sana, wanita itu sudah membungkamnya dengan sebuah ci*man. Membuat Rigel hanya bisa bertanya-tanya akan maksud Hera mengatakan dirinya adalah pria yang dia sukai.


Dan begitu Rigel merasakan betapa canggungnya ******* yang diberikan Hera pada bibirnya, membuat Rigel melupakan segalanya. Bibir lembut yang pernah dia rasakan itu seolah membuatnya lupa bagaimana caranya menghentikan kegilaan ini. Membuat Rigel malah membalas ******* itu dengan lembut. Seolah menuntun Hera, si gadis polos itu untuk mengikuti pergerakannya.

__ADS_1


Sejujurnya, cukup mengejutkan untuk Rigel karena mendapati Hera seperti ini. Hera yang bertingkah seperti Jeanne yang biasa menggodanya. Padahal, Rigel juga sadar kalau Hera tidak seperti Jeanne. Hanya saja semua yang terjadi padanya mungkin telah membutakan wanita itu hingga rela seperti ini.


"Tidak, kita tidak bisa melakukannya di sini," ujar Rigel ketika dia sudah melepaskan tautannya bersama Hera.


Pagutan yang terlepas dimana hal itu lantas membuat nafas keduanya terengah dan berburu oksigen yang belum sempat mereka hirup sampai beberapa saat lalu. Dengan tangan Rigel yang sudah sedikit mendorong tubuh Hera untuk menjauh darinya.


"Kenapa?" tanya Hera dengan lirih. Matanya juga telah sayu saat menatap Rigel.


Rigel juga tahu, kalau Hera tengah berada dalam hasrat yang sama dengan dirinya. Apalagi, setelah Hera juga telah mendapatkan pagutan yang membuatnya terlena.


Kini Rigel telah menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Ini yang pertama untukmu. Aku harus membuat semuanya menjadi lebih indah. Setidaknya, kau bisa mendapatkan pertamamu yang cukup baik," ucap Rigel.


Dan membicarakan soal pertama, Rigel jadi mengingat malam pertamanya dengan Erina, sang mantan istri. Pertamanya yang tak akan pernah dia lupakan begitu saja. Pengalaman luar biasa yang akan terus melekat di dalam memorinya.


"Rigel?" panggil Hera.


Lantas Rigel segera menyadarkan dirinya sendiri dari lamunan. Panggilan Hera yang mampu membuatnya tersadar ke dalam kenyataannya kembali. Bahwa wanita ini lah yang sekarang tengah berada di hadapannya. Bukan lagi Erina dengan segala kenangan yang Rigel miliki bersamanya.


"Ya? Maksudku-"


"Kau mau menghentikannya?" tanya Hera kemudian. Dimana sorot matanya sudah terlihat cukup kecewa saat menatap Rigel di hadapannya.

__ADS_1


Rigel menggeleng dengan cepat. Dia sama sekali tak berniat untuk menghentikan apa yang dia lakukan saat gairahnya sudah bangkit seperti ini. Apalagi, saat dia juga malah semakin bergairah saat kembali membayangkan apa yang pernah dia lakukan bersama Erina.


"Tidak, bukan begitu," ucap Rigel mencoba membuat alasan.


Namun, Hera masih menunjukan kekecewaannya pada Rigel. Dia bahkan berniat beranjak dari atas pangkuan Rigel di sana. Sebelum pada akhirnya, Rigel telah menarik tangannya. Mempertahankan posisi Hera untuk tetap berada di atas pangkuannya.


Hingga Rigel, kembali mendaratkan bibirnya tepat pada bibir wanita itu. Kembali ******* bibir tipis itu dengan cepat. Dengan tangan yang lantas menahan pinggang Dan juga tengkuk Hera. ******* yang jelas dibalas dengan baik oleh wanita itu di sana. Hingga Rigel sudah memutuskan untuk bangkit dari posisinya. Tanpa berniat untuk melepaskan pagutan yang tengah mereka lakukan.


Lenguhan demi lenguhan terdengar selagi keduanya masih memagut satu sama lain. Memperdalam ******* yang semakin dikelilingi oleh gairah yang tercipta di antara keduanya. Bersamaan dengan Rigel yang sudah membawa Hera ke dalam kamar yang dia tempati. Menutup pintu dengan rapat dan lantas membaringkan tubuh wanita itu di atas ranjangnya. Membiarkan Hera kini berada di bawah kungkungannya.


"Kau yakin akan tetap membiarkanku menjadi yang pertama untukmu?" tanya Rigel saat dia sudah kembali melepaskan pagutannya.


Menatap Hera dengan begitu sendu, kembali mempertanyakan apakah Hera sudah cukup yakin untuk melakukan hal mungkin akan membuatnya menyesal. Rigel ingin Hera benar-benar yakin soal ini.


Namun Hera menganggukkan kepalanya. "Iya. Lakukanlah. Jadikan aku milikmu malam ini, Rigel. Berikan malam yang panjang untukku," ucap Hera dengan suara yang terdengar begitu lirih.


Dimana selanjutnya, apa yang dijawab oleh Hera membuat Rigel juga meyakinkan dirinya. Memenuhi permintaan Hera di sana untuk memberikan sentuhan pada wanita itu.


Bukan hanya soal sentuhan, Rigel juga sudah siap untuk mengambil pertama Hera. Menjadi yang pertama untuk memenuhi wanita itu di bawah sana. Membuat Hera mengerang dan mendesah di bawah kuasanya. Mendominasi seluruh tubuh wanita itu hanya untuk dirinya sendiri.


Nyatanya, Rigel bukanlah Rigel yang dulu lagi. Dimana dia yang dulu akan menolak siapa pun yang menggodanya demi menjaga kesetiaannya pada sang istri, kini sudah berbeda. Kali ini Rigel telah mendapati dirinya yang lain. Dimana dia, juga tergoda dengan wanita yang sudah berada di bawah kuasanya. Wanita yang sudah membuatnya mabuk dengan sentuhan yang mereka lakukan pada malam ini.

__ADS_1


__ADS_2