
"Puaskan aku di atas ranjang. Aku menginginkan itu sebagai rasa terima kasihmu atas saran yang sudah aku berikan. Apa kau bersedia, Rigel Zach Spencer?"
Sudah Rigel duga sebelumnya soal Jeanne yang pasti akan mengatakan jawaban yang menuju ke arah sana. Tentang kepuasan di atas ranjang yang sejak awal memang Jeanne inginkan dari Rigel. Sesuatu yang mungkin membuat wanita itu penasaran tentang bagaimana rasanya berbagi kehangatan dengan Rigel di atas ranjang yang sama.
"Bagaimana? Apa kau mau memberikannya untukku?" tanya Jeanne sekali lagi.
Wanita itu seolah tak mengenal kata menyerah. Meskipun di tolak berkali-kali oleh Rigel, tetap saja dia bersikeras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sepertinya, memang tidak ada kata menyerah di dalam kehidupan wanita berbibir tebal itu.
"Tidakkah kau menginginkan hal yang lain? Jangan itu, kau tahu aku tidak mungkin memberikannya padamu," ujar Rigel sekali lagi memberikan penolakan.
Selama ini, Rigel ada tipe seorang pria yang hanya setia pada satu wanita. Terbukti saat masih menjadi suami Erina, dia tetap setia pada istrinya itu. Menolak berbagai macam wanita yang mencoba menggodanya untuk naik ke atas ranjang yang sama.
Dan sekarang, Rigel sudah memiliki tanggung jawab terhadap Hera. Dia yang mengambil keperawanan gadis itu, jadi tidak mungkin Rigel malah tidur dengan wanita lain. Saat satu wanita seperti Hera saja sudah membuatnya cukup pening memikirkan bagaimana dia harus bertanggung jawab. Saat Rigel juga tidak begitu yakin kalau dia mampu melakukannya untuk Hera.
"Kenapa, Tampan?" Goda Jeanne sekali lagi. Tangannya sudah terulur untuk menarik jaket yang dikenakan oleh Rigel di sana. "Ah, jangan bicara di sini. Sebaiknya kita bicara di tempat lain. Karena Tuan Moris pasti akan mencurigai kita kalau sampai melihat kita berdua seperti ini," tambah Jeanne. Dimana dia juga sudah menarik Rigel untuk melangkah pergi dari Lobi itu.
Dan, ya. Rigel tak bisa membantah kalau sudah seperti ini. Dia telah mengekor di belakang Jeanne. Wanita bertubuh sintal itu.
Sampai pada akhrinya, mereka telah tiba di basement parkir perusahaan. Dimana Rigel, sudah berada di dalam mobil yang sama dengan Jeanne. Mobil milik wanita itu.
"Apa, Jeanne? Katakan hal lain, jangan terus mengatakan soal kepuasan di atas ranjang. Karena aku tak akan pernah memberikannya padamu," ujar Rigel membuka suara saat dia sudah menoleh pada Jeanne di sampingnya.
Sekarang, posisi mereka sama-sama duduk di kursi belakang. Saling berdampingan dengan supir Jeanne yang diperintahkan keluar dan menunggu jauh dari keberadaan mobil milik Jeanne.
"Kalau aku tetap bersikeras ingin tubuhmu, bagaimana?" ucap Jeanne dengan nada yang menggoda.
__ADS_1
Bahkan, Jeanne sudah mengusapkan tangannya pada paha Rigel.
Rigel tentu saja segera menyingkirkannya. Bagaimana pun dia ini seorang lelaki. Sekalipun otaknya menolak denhan keras, kalau digoda seperti itu maka tubuhnya yang akan bereaksi. Belum lagi, dengan hasrat yang dia miliki dan bisa terpancing kapan saja kalau diperlakukan seperti ini.
"Kenapa? Kau hanya perlu diam, Rigel. Aku yang akan bergerak," bisik Jeanne tepat di telinga Rigel.
Sungguh, Rigel merasakan tubuhnya meremang seketika. Apalagi, saat hembusan nafas Jeanne juga dapat dia rasakan di telinganya. Menggelitik salah satu bagian sensitif yang dimiliki oleh Rigel.
"Jeanne, please stop. Kau tidak seharusnya melakukan hal ini. Tuan Moris pasti akan marah besar kalau tahu kelakuanmu yang seperti ini!" Tegas Rigel.
Pria itu masih mempertahankan kewarasannya. Membentengi diri dengan tembok tebal yang berusaha dia bangun. Dia bahkan sudah kembali mendorong Jeanne untuk menjauh dari tubuhnya.
"Apa kau takut pada si tua itu? Jangan khawatir, Rigel. Kita aman kalau kita bermain dengan aman juga. Kau dan aku, hanya perlu melakukannya secara diam-diam," ucap Jeanne.
Rigel menggeleng dengan yakin. "Tidak. Sekali tidak tetap tidak, aku tidak bisa melakukannya denganmu. Kalau tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku, lebih baik aku keluar dari sini dan kita sudahi pembicaraan kita," tegas Rigel pada Jeanne.
Menyandarkan tubuhnya pada sudut kursi mobil dengan kedua kaki yang saling menumpang, Jeanne menatap pria itu. "Kau memang sulit, ya. Apa susahnya memasukan junior-mu itu ke dalam milikku? Padahal, kita juga sama-sama akan merasakan enaknya."
Gila, Rigel benar-benar tidak sanggup lagi kalau harus berhadapan dengan Jeanne lebih lama. Penuturannya saja sudah mampu membuat Rigel pening sendiri. Benar-benar tidak paham lagi dengan wanita itu.
"Aku pergi dulu. Hubungi aku saja kalau kau menginginkan imbalan yang lain selain dengan tubuhku," ucap Rigel pada akhrinya.
Rigel sendiri sudah siap untuk bangkit dan keluar dari sana, sebelum pada akhrinya, Jeanne malah mengatakan hal yang mampu membuat Rigel berhenti di sana.
"Aku akan mengatakan informasi lain yang mungkin penting untukmu, jika kau menuruti kemauanku," ucap Jeanne dengan suara yang begitu serius. "Aku memiliki informasi lain. Tentang Hera, tentang Andrey, dan juga Roby. Adik kandungmu sendiri," tambah Jeanne dengan begitu yakin.
__ADS_1
Rigel sempat terdiam sesaat. Dia nampak menimbang-nimbang akan apa yang baru saja dia dengarkan dari wanita itu.
"Aku pastikan kau tidak akan menyesal saat mengetahui informasi itu, Rigel," ucap Jeanne sekali lagi dengan begitu santai.
"Aku akan pergi," ucap Rigel.
Dia mencoba mengabaikan penawaran Jeanne di sana. Lebih memilih untuk segera pergi dari mobil itu meninggalkan Jeanne yang kini malah menyunggingkan senyumnya dan bergumam dengan pelan. "Aku akan pastikan kau akan kembali padaku karena rasa penasaranku, Rigel."
Berjalan keluar dan menjauh dari mobil Jeanne, Rigel menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Karena jujur saja, dia memang begitu penasaran akan informasi aoa yang Jeanne maksud di sana. Apalagi, ada nama Roby, adiknya sendiri yang juga disebutkan oleh Jeanne.
"Tidak, Rigel. Jeanne mungkin saja hanya mencoba menipumu!" Tegas Rigel pada dirinya sendiri.
Dia berusaha keras untuk melupakan soal itu meski terasa cukup sulit. Dia bahkan berkali-kali mencoba mendistraksi pikirannya sendiri dengan hal lain. Benar-benar berusaha melupakannya.
Namun, belum sampai Rigel memasuki mobil miliknya, sebuah pesan telah masuk ke dalam ponselnya. Membuat Rigel segera mengambil ponsel di dalam saku celananya untuk melihat siapa yang mengirim pesan. Berharap jika isi pesan itu juga mampu membuatnya melupakan penawaran yang diberikan oleh Jeanne.
Saat Rigel menyalakan ponselnya, dia terkejut saat nama yang terpampang di sana adalah Jeanne. Wanita yang berusaha dia hindari. Dengan isi pesan yang tidak kalah mengejutkan bagi Rigel di sana.
[Temui aku di Hotel Paradise pukul sembilan malam jika kau berubah pikiran. Aku akan berada di sana sampai besok. Aku akan berbaik hati memberikan waktu untukmu berpikir, Rigel. Karena aku tahu kau juga penasaran tentang hal itu.]
Selesai membaca pesan Jeanne, Rigel berusaha mengabaikannya. Dia memilih masuk ke dalam mobilnya sekarang. Akan tetapi, belum sempat dia menyimpan ponselnya, satu pesan lagi telah masuk ke dalam ponselnya. Masih dari satu orang yang sama. Jeanne.
Dan begitu Rigel membaca isi pesan yang juga dilampiri dengan satu foto, kali ini Rigel telah memfokuskan perhatiannya pada isi pesan itu. Dengan tangannya yang sudah meremat ponselnya sendiri.
Jeanne telah berhasil membuat Rigel semakin bimbang dengan isi pesan yang baru saja dikirimkannya.
__ADS_1
"Jeanne, sialan!"