
"Andrey adalah salah satu sainganmu dalam bisnis ini. Dan pria itu, akan bertunangan dengan Hera beberapa hari lagi. Bagaimana jika kau memanfaatkan keadaan ini? Kau bisa meminta Hera untuk mendapatkan informasi tentang klien Andrey. Dan kau, bisa mencuri kliennya!"
"Tidak!" Sanggah Rigel pada akhirnya begitu Jeanne selesai menjelaskan di sana. "Itu sama saja dengan aku menjadikan Hera sebagai umpan."
Dia jelas tidak setuju dengan apa yang disarankan oleh Jeanne di sana. Apalagi saat dia juga harus menjadikan Hera yang tak bersalah apapun atas dirinya lantas dijadikan sebagai umpan. Dan lagi, saat Hera sendiri sudah menunjukan dengan terang-terangan kalau dia meminta bantuan Rigel agar diselamatkan dari perjodohan yang dibuat oleh Tuan Moris.
"Kenapa, Rigel? Apa yang salah dengan saran yang aku berikan? Hanya karena Hera kau akan menolaknya?" tanya Jeanne dengan kening yang sudah mengernyit tak mengerti dengan alasan Rigel menolak apa yang dia berikan sebagai saran.
"Tentu saja tidak bisa. Ini soal urusanku dan bisnis ini aku yang memegangnya. Aku tidak bisa kalau melibatkan Hera dan malah menjadikannya sebagai umpan saat Hera juga tidak tahu apapun," jelas Rigel.
Pun begitu, Jeanne hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Sedikitnya dia mengerti maksud Rigel. Dia mengerti kalau pria seperti Rigel akan cukup meragu kalau melakukan hal licik seperti itu.
"Baiklah, itu terserah dirimu saja. Tapi, kalau meurutku, lebih baik kau juga membahasnya dengan Hera. Mungkin, kau juga bisa menawarkan sesuatu pada wanita itu agar mau melakukannya. Aku memberitahumu karena aku tahu, akan sulit untuk menjalankan bisnis ini.
Sekadar informasi, kalau Big boss saja dulu menjalankan bisnis ini begitu lama. Butuh bertahun-tahun sampai dia membuat bisnis ini sukses. Apalagi, bisnis ini memang dilakukan secara ilegal. Seharusnya kau juga paham akan betapa sulitnya menjaga bisnis ini. Itu, kalau kau memang mau mendapatkan apa yang dijanjikan Tuan Moris secepatnya," jelas Jeanne berusaha meyakinkan Rigel.
Jujur saja, setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jeanne di sana, Rigel sempat tergiur saat mendengarnya. Karena sekalipun ini hari pertama Rigel bekerja dan memegang bisnis ini, dis tahu jika mendapatkan klien memang tidak semudah itu. Apalagi, kalau harus membuat bisnis ini berjalan dengan baik dan mendapat banyak klien. Bisa-bisa benar seperti apa yang dikatakan oleh Jeanne. Kalau Rigel harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan 200 juta dolar yang dijanjikan Tuan Moris.
Dan berarti, Rigel juga harus menunggu waktu lama untuk membuat orang-orang yang pernah merendahkannya menyesal. Dia akan membutuhkan waktu lama untuk membalaskan dendamnya pada Erina dan juga Roby. Dua pengkhianat yang telah mengacaukan kehidupannya.
__ADS_1
"Okey, hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Karena aku juga mendengar soal pertunangan itu dari Tuan Moris pagi ini, dan aku hanya ingin membantumu," ujar Jeanne yang kini sudah bangkit dari duduknya. Dengan kedua tangan yang sudah terlipat di depan dadanya.
Rigel telah ikut bangkit dari duduknya. Menatap Jeanne dengan tatapan yang sulit di artikan. Seolah dia memang masih ragu dengan keputusan apa yang harus dia ambil atas saran Jeanne di sana. Meski pada akhrinya, dia mencoba bersikap tenang dan menganggukkan kepalanya pada Jeanne.
"Baiklah, terima kasih untuk sarannya. Tapi, untuk saat ini sepertinya aku tidak bisa melakukan semua itu," ujar Rigel.
Sekali lagi, Jeanne nampak menganggukkan kepalanya mendengar penuturan Rigel di sana. "Aku tak akan memaksa. Kalau begitu, aku harus pergi lagi, ada yang harus aku lakukan dengan pekerjaanku. Kecuali kalau kau mau memintaku untuk tetap di sini dan melakukan sesuatu mungkin? Aku bisa melakukannya di kantor, aku tidak berisik kalau—"
"Cukup, Jeanne. Jangan melanjutkannya. Kau akan kembali membahas urusan ranjang lagi," potong Rigel dengan cepat.
Jeanne lantas terkekeh mendengarnya. "Tidak, aku tidak mengatakan soal ranjang, kok. Memangnya ada ranjang di sini? Gak ada kan? Kita bisa melakukannya di kursi kerjamu, atau di sofa ini mungkin?"
Jeanne nampak menekuk bibirnya, tidak begitu suka saat Rigel secara tak langsung mengusir dirinya. Tapi, dia jugs tak bisa memaksa pria itu dan kini dia malah mendekat pada Rigel, memberikan pelukan untuk berpamitan pada Rigel, diakhiri dengan satu kecupan yang juga dia berikan tepat pada pipi Rigel.
Sebelum pada akhirnya, Jeanne lantas pergi dari sana. Kembali meninggalkan kantor kecil milik Rigel di tempat itu.
Setelah kepergian Jeanne, Rigel yang telah kembali duduk di kursi kerjanya lantas menatap kosong pada berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Jujur saja, isi kepalanya kini malah kembali memikirkan Hera. Saat dia mencoba melupakan soal wanita itu, sekarang dia malah harus diingatkan kembali dengan tambahan informasi yang telah membuatnya bimbang.
"Sepertinya aku memang harus bicara dengan Hera terlebih dahulu," gumam Rigel pada akhirnya. Dimana dia sudah meraih ponselnya dan telah melakukan panggilan pada nomor Hera yang sudah tersimpan di sana.
__ADS_1
"Helo, Hera?" tanya Rigel saat panggilan sudah mulai tersambung.
"Ya, halo, Rigel. Ada apa?" tanya Hera di seberang sana.
Suaranya terdengar begitu lembut, membuat Rigel entah kenapa jadi penasaran bagaimana raut wajah Hera di sana sekarang.
"Ada yang harus aku bicarakan denganmu," ucap Rigel langsung. Dia tidak ingin berbasa basi atau semacamnya. Untuk itu dia langsung mengatakannya.
'Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?' tanya Hera yang sudah terdengar begitu penasaran.
"Kau dimana sekarang? Di rumah? Bisakah kau datang ke tempatmu saat ini juga?" tanya Rigel. Dia ingin mengatakannya secara langsung pada Hera. Karena rasanya kalau melalui telpon dia menjadi tak leluasa. Dan kalau harus menunggu sampai dia pulang dan membicarakan hal ini dengan Hera nanti, rasanya Rigel tak mampu menunggu.
Rasanya akan percuma kalau dia juga melanjutkan pekerjaannya, yang ada dia malah akan kembali tak fokus krena terus memikirkan soal hal ini.
'Aku sedang tidak di rumah. Kenapa? Aku masih cukup sibuk denhan apa yang sedang aku lakukan sekarang. Hadi lebih baik kau katakan sekarang juga, aku harus kembali,' ujar Hera dengan sedikit terburu-buru.
Membuat Rigel sadar kalau wanita itu mungkin memang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Lantas Rigel sudah bangkit dari duduknya dengan cepat. Dia juga telah meraih jas miliknya dan juga kunci mobil yang sebelumnya tergeletak di atas meja.
"Katakan padaku dimana kau sekarang dan kirimkan lokasi tepatnya. Aku akan ke sana, aku ingin berbicara secara langsung denganmu. Karena ini cukup penting bagiku dan juga bagimu!"
__ADS_1