
"Bisakah kau temani aku di sini? Tetaplah di sini untuk menemani aku. Dan kau tahu? Andrey, dia mencoba untuk menyentuhku tadi. Dia memaksaku untuk memberikan kepuasan padanya. Andrey, membuatku takut, Rigel. Dia menakutkan."
Bukan hanya terkejut, nyatanya apa yang dikatakan oleh Hera padanya mampu membuat Rigel mengeraskan rahangnya di sana.
Bukankah itu sama saja dengan Andrey mencoba melakukan tindak pemerkosaan pada Hera? Rigel sadar kalau dia memang telah memperawani Hera. Tapi, dia melakukannya denhan atas persetujuan Hera sendiri. Mereka melakukannya secara sadar dengan adanya consent. Tidak seperti Andrey yang pada kenyataannya telah membuat Hera ketakutan seperti saat ini.
"Sialan!" Tegas Rigel.
Selanjutnya, Rigel telah membawa Hera ke dalam pelukannya. Dia berusaha menenangkan wanita itu. Karena dia sadar, kalau Hera tengah ketakutan karena mengingat kembali apa yang terjadi.
Tanpa dikatakan secara jelas pun, Rigel tahu kalau Hera memang begitu ketakutan.
"Ini juga bukan kali pertama Andrey bersikap seperti itu. Sebelumnya, dia juga bersikap brengsek. Dia hampir memaksaku tidur dengannya. Beberapa hari sebelum pertemuan mu dengannya malam itu," jelas Hera lagi.
Lantas Rigel terdiam di tempatnya. Dengan tangan yang sudah bergerak untuk mengusap-usap punggung Hera dan memberikan ketenangan untuknya. Dia sadar, mungkin Andrey akan meninggalkan trauma yang cukup besar pada Hera kalau seperti ini.
Beberapa menit berlalu, Rigel telah melepaskan pelukannya dari Hera. Dimana dia juga sudah mengambil tempat untuk duduk di tepi ranjang tepat di hadapan Hera di sana.
"So, apa kau mau menghentikannya? Kita bisa membatalkan perjanjian kita. Dan aku akan tetap bertanggung jawab karena telah mengambil pertamamu," ucap Rigel pada akhirnya.
Dia tidak tega kalau harus tetap melibatkan Hera ke dalam masalah ini. Karena jelas, ini pasti akan menjadi hari yang berat untuk Hera. Harus bertunangan dan berpura-pura menjalin hubungan yang baik dengan orang yang hampir memperkosanya. Tentu dengan mendengarnya saja Hera pasti akan ketakutan sekali di sana.
"Tapi, bagaimana dengan rencanamu? Tuan Moris tidak akan segan memarahi mu kalau kau gagal. Dan bukan tidak mungkin dia juga akan menghajar mu kalau dia tahu apa yang telah terjadi di antara kita berdua," ucap Hera dengan mata yang begitu sendu.
"Aku bisa membatalkan rencananya. Mungkin, aku bisa mencari cara lain. Dan soal Tuan Moris tahu apa yang telah aku lakukan padamu, aku bisa menanggung semuanya. Karena bagaimana pun, aku yang menidurimu," ujar Rigel dengan suara yang nyaris lirih.
__ADS_1
Iya, mau tidak mau dia memang harus melakukan semua itu. Dia juga tidak bisa memaksa Hera untuk tetap melakukan apa yang membahayakannya.
Namun, bukannya setuju dengan aoa yang dikatakan oleh Rigel di sana. Hera justru menggelengkan kepalanya untuk membantah apa yang dijelaskan oleh Rigel. Dia tidak menyetujuinya sama sekali.
"Tidak, aku akan tetap melakukannya," ujar Hera pada Rigel.
Rigel lantas mengernyitkan dahinya dan menatap Hera di sana. "Kau yakin? Kenapa?"
"Karena aku sudah berjanji padamu, Rigel. Aku juga tak mau membuatmu berjuang sendiri saat aku sudah memberikan harapan padamu," jawab Hera dengan penuh keyakinan.
Menghela nafasnya dalam, Rigel seperti berada di dalam kebimbangannya mendengar penuturan Hera. Dia tak tahu lagi harus bicara apa. Entah itu persetujuan atau justru penolakan keras.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu," ucap Rigel pada Hera di sana.
Raut wajahnya sudah semakin serius lagi di sana. Menatap Hera dengan lekat dan mata yang menyorot dengan cukup lembut.
Tanpa langsung mengajukan pertanyaannya, Rigel telah menghela nafasnya cukup dalam. "Apa kau menyerahkan keperawananmu padaku karena Andrey? Kau memberikannya padaku karena kau takut jika Andrey yang mengambilnya? Kau takut Andrey akan memaksamu menyerahkannya?" tanya Rigel dengan begitu serius.
Dan pertanyaan itu berhasil membuat Hera terdiam di tempatnya. Dengan tangan yang lantas meremat selimut di hadapannya dnegan cukup kuat.
Hingga pada akhirnya, dengan kepala yang sudah menunduk menghindari sorot mata Rigel, Hera menganggukkan kepalanya. "Iya, aku memang melakukannya karena itu sebagai salah satu alasannya."
Ya, tebakan Rigel tepat. Dia memang sudah menduga soal itu sejak tadi. Karena tidak mungkin Hera memberikannya begitu saja tanpa alasan. Sekarang, pada kenyataannya, Hera memang memberikannya karena takut jika Andrey memaksanya, mengambilnya dengan paksa dan bersikap kasar.
Sampai Hera lebih memilih untuk memberikannya pada Rigel yang tak mungkin bersikap kasar menurutnya. Memilih Rigel yang bisa memperlakukannya dengan lembut saat itu merupakan pertamanya melakukan hubungan intim seperti itu. Yang Rigel tidak mengerti adalah,
__ADS_1
"Kenapa kau percaya padaku?"
Lantas Hera kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap Rigel. Menatap Rigel dengan lembut. "Karena aku yakin kau tidak seperti Andrey."
Rigel mengernyitkan dahinya. "Hanya karena itu? Kau yakin? Bagaimana kalau pada faktanya aku lebih jahat dari Andrey. Ka tak pernah mengenalku dengan baik. Dan seperti yang pernah kau katakan padaku, Devil dalam diriku mungkin akan bangkit."
Mendengar penuturan dari Rigel membuat Hera menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak begitu setuju dengan hal itu. "Itu, karena—"
"Baiklah, lebih baik lupakan saja. Aku akan tidur di sini untuk menemanimu. Dan aku berjanji tidak akan melakukan apa pun yang akan melanggar batas," potong Rigel cepat sebelum Hera selesai berbicara.
Hera cukup kecewa dan lega secara bersamaan. Karena dia sendiri memang belum begitu yakin dengan jawaban seperti apa yang akan dia katakan padanya.
Sampai pada akhirnya Hera lebih memilih untuk menggeser tubuhnya pada sisi ranjang yang lain. Dimana dia memberikan sisi yang kosong untuk ditempati oleh Rigel di sana. Membuat keduanya kini berbaring saling berdampingan satu sama lain di atas ranjang yang sama.
Hera berusaha memejamkan matanya dan kembali tertidur, sedangkan Rigel, kini hanya menatap langit-langit kamar bernuansa putih dan abu muda itu. Dia terdiam saat pikirannya mulai berkelana.
'Bagaimana pun, aku harus berhasil. Semua tanggung jawab Hera juga ada di tanganku. Jadi, aku tak ingin membuatnya kecewa. Dan aku juga tak ingin jika rencana balas dendamku gagal.'
Pikiran itu muncul begitu saja di dalam benak Rigel. Sedikitnya dia yakin pada dirinya sendiri busa menjalani semua itu. Walau di sisi lain dia juga merasa takut akan adanya sebuah kegagalan. Dia takut jika dia tidak bisa memenuhi ekspektasinya sendiri.
Maka dengan tangan yang sudah mengepal di atas perutnya sendiri, Rigel kembali memikirkan beberapa rencana yang dapat dia pastikan akan berhasil dengan baik. Rigel, pasti akan melakukannya dengan baik, dia akan berusaha sebaik mungkin.
"Rigel?" Panggilan itu cukup mengejutkan bagi Rigel. Dia bahkan segera tersadar dari pikirannya.
"Ya?" Respon Rigel singkat. Dengan mata yang mencoba dia pejamkan.
__ADS_1
"Apakah kau masih mencintai Erina?"