Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Hubungan di atas Ranjang


__ADS_3

"Baiklah, sekarang lebih baik kau pergi dari sini dan berhenti membuat Rigel tak nyaman dengan apa yang kau lakukan," pinta Hera pada Jeanne di sana.


Tidak ada yang dapat Hera lakukan lagi selain dengan mengusir Jeanne dari kamar itu. Apalagi, tentang pembahasan Jeanne sebelumnya. Hera juga tidak mungkin membantah soal hal itu. Jadi, mau tidak mau Hera juga akan membiarkan Jeanne menginap malam ini. Walau pasti akan sangat merepotkan sekali.


"Hera sayang, kenapa 'sih? Kau benar-benar tidak memperbolehkan aku bersama Rigel? Padahal biasanya kau juga tak perduli jika aku meniduri pria lain selain big boss," ucap Jeanne sembari mencolek dagu Hera.


Membuat Hera dengan cepat menghindarinya. Dia tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Jeanne tersebut.


"Tak perduli dengan pria lain. Tapi jangan Rigel," tegas Hera.


Bukan hanya Jeanne yang menjadi penasaran kenapa Hera bersikeras seperti itu. Tapi, juga dengan Rigel yang sudah menatapnya penasaran. Jujur saja, Rigel juga jadi penasaran apa alasan Hera seperti itu untuk melindunginya dari godaan wanita seperti Jeanne.


"Mau mencoba threesome saja? Aku juga bisa mengajarkanmu karena pasti untuk pertama kalinya kau akan merasa—"


Tanpa bisa melanjutkan pembicaraannya, Jeanne harus berhenti saat Hera sudah menarik pergelangan tangannya dan menariknya untuk berjalan ke arah luar. Hera sedang berusaha membuat Jeanne pergi dari sana.


Berbeda dengan Rigel yang membuka mulutnya tak percaya melihat apa yang terjadi di hadapannya. Apalagi untuk apa yang dikatakan oleh Jeanne. Wanita itu benar-benar sudah tak waras lagi sepertinya.


"Lepaskan aku, Hera!" Seru Jeanne yang sudah memberontak dari tarikan Hera.


Membuat Hera lebih memilih untuk melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jeanne saat mereka sudah berdiri di pintu kamar Rigel.


"Mau apa lagi?!" Kesal Hera pada Jeanne.


Rigel menatap keduanya. Dia juga dapat melihat kekesalan yang ditunjukan oleh Hera terhadap Jeanne. Dimana Rigel juga dapat memahami kekesalan yang dirasakan oleh wanita itu. Sikap Jeanne memang terlihat menyebalkan sekali.


"Aku mau tetap mengobrol dengan Rigel di sini dan—"


Sekali lagi Jeanne menggantung kalimatnya. Kali ini bukan karena Hera menariknya. Akan tetapi karena Rigel sudah melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Hera dan Jeanne. Dimana selanjutnya dia telah berdiri tepat di hadapan Jeanne. Menatapnya dengan sorot mata yang begitu tegas.

__ADS_1


"Kenapa, Tampan? Sudah berubah pikiran dan berniat menunjukan kehebatanmu di atas ranjang? Aku bisa kau jadikan pelampiasan. Menjadi seorang duda pasti sulit untukmu," ucap Jeanne yang sudah mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Rigel.


Namun, dengan cepat Rigel menahan tangan Jeanne. Sebelum wanita itu benar-benar menyentuh pipinya. Rigel memberikan cengkraman pada lengan Jeanne di sana, dengan sorot mata yang kini sudah menajam.


"Aku tidak tahu siapa sebenarnya dirimu. Tapi, berhentilah bersikap menjijikan seperti ini!" Seru Rigel begitu tegas.


Rigel tidak menunjukan ketakutannya sama sekali terhadap Jeanne yang mungkin adalah sama pentingnya dengan Hera. Rigel tak perduli lagi akan hal itu sebab dia juga ikut kesal seperti Hera sekarang. Jeanne memperlakukan dirinya seperti pria murahan yang bisa tidur dengan sembarang wanita.


Dan itu mengingatkan Rigel akan mantan istrinya. Dia bukan Erina yang bisa dengan mudah memberikan tubuhnya bahkan pada adik Rigel sendiri. Jelas Rigel memiliki harga diri dimana dia tidak dapat membiarkan wanita sembarangan mendapatkan tubuhnya.


"Berhenti menggangguku," tambah Rigel lagi sembari menghempaskan tangan Jeanne dari genggamannya.


Dan entah kenapa, setelah itu Rigel sudah mendapati Jeanne yang diam tanpa berusaha membantah lagi. Entah karena Rigel berhasil mengancam Jeanne, atau justru memang karena aura dominan Rigel yang kembali menyeruak.


"Aku tidak akan menyerah!" Seru Jeanne kesal. Bersamaan dengan Jeanne yang sudah menghentakkan kakinya dan berlalu pergi meninggalkan Hera dan Rigel di sana.


Hera menatap Rigel, tepat membuat keduanya bersitatap. Dan Rigel, mendapati sorot mata Hera yang teduh, sorot mata lembut yang ditunjukan pada dirinya di sana saat itu.


Hera menggelengkan kepalanya. Dia juga sudah menghindari tatapan mata Rigel. "Apa kau lapar?" tanya Hera.


Rigel mengangguk. Dia tak mungkin berbohong karena sejak tadi dia juga merasakan lapar pada perutnya. Malam ini dia belum makan sama sekali.


"Tunggu di sini, aku akan membuatkan makanan untukmu," ucap Hera pelan. Dia sudah bersiap melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana menuju dapur.


Akan tetapi, tangannya sudah tertahan. Dimana Rigel yang kini telah menahan tangannya, dengan tangan kekar Rigel yang sudah melingkar pada pergelangan tangan Hera.


Tidak seperti saat Rigel mencengkeram pergelangan tangan Jeanne dengan cukup kuat, kali ini Rigel justru mencengkeram pergelangan tangan Hera dengan cukup lembut. Seolah tengah berhati-hati agar dia tidak menyakiti wanita itu.


"Apa?" tanya Hera.

__ADS_1


Sempat terdiam sejenak, Rigel hanya menatap Hera dengan lekat. Dia terus memandangi setiap inchi wajah Hera dimana sorot mata itu berhenti tepat pada bibir Hera. Rigel jadi teringat saat dia menyentuhkan bibirnya pada bibir itu. Manis dan hangat.


"Tidak!" Seru Rigel saat dia kembali membayangkan ciu*annya dengan Hera. Berusaha mengenyahkan pikiran itu dengan cepat.


Hera menatap Rigel dengan kening yang sudah berkerut. Tak mengerti kenapa Rigel tiba-tiba berseri seperti itu.


"Ada apa? Apa kau membutuhkan psikolog?" tanya Hera asal.


Sebab, Hera merasa Rigel seperti pria yang tak waras karena tiba-tiba berseru dan menggelengkan kepalanya cepat.


Rigel melepaskan tangannya dari tangan Hera. Dimana dia sudah mengusap wajahnya pelan sebelum kembali menatap pada Hera di depannya.


"Jangan buatkan makanan. Kau tidak perlu melakukannya. Aku hanya akan tidur, obat yang kau berikan ada obat tidurnya kan?" tanya Rigel kemudian.


Bukannya mengangguk atau menggeleng, Hera kini malah menatap Rigel heran dengan mulut yang sudah terbuka dan bertanya, "kenapa?" Pada Rigel.


"Hanya ingin tidur dan beristirahat cepat. Lagipula, sepertinya besok pasti akan menjadi hari yang panjang bukan?" tebak Rigel dengan satu alis yang sudah terangkat.


Pertanyaan yang membuat Hera lantas menganggukkan kepalanya. "Kunci pintunya, jangan sampai Jeanne datang dan menghampirimu saat kau dalam pengaruh obat tidur. Jeanne wanita yang nekat melakukan apapun untuk apa yang dia inginkan."


"Benarkah? Jeanne seagresif itu?" tanya Rigel terkejut.


Hera pun menganggukkan kepalanya. "Begitulah. She's hyper sexualities," ucap Hera pelan. Bersamaan dengan helaan nafas yang dia lakukan.


Ya, Hera mengatakan pada Rigel tentang bagaimana Jeanne soal seksualitasnya. Wanita bernama Jeanne itu memang seolah candu terhadap apapun yang berbau se*s.


Rigel kini malah menjadi canggung sendiri saat membahasnya. Dimana dia sudah mengusap tengkuknya sendiri dan menatap Hera dengan teramat canggung.


Namun, saat Hera juga menatap ke arahnya, Rigel jadi penasaran akan satu hal tentang Hera.

__ADS_1


"Kau sendiri bagaimana, Hera? Apa kau tidak tertarik pada hubungan di atas ranjang seperti itu?"


Pertanyaan Rigel yang hampir membuat Hera tersedak ludahnya sendiri.


__ADS_2