
Rigel segera mendorong tubuh Hera untuk menjauh darinya. Membuat pagutan yang tengah mereka lakukan itu lantas terlepas begitu saja. Rigel seolah segera menarik diri ke dalam kesadarannya. Dia sadar, dia telah membuat kesalahan di sini, di tengah mabuknya saat ini. Pada wanita yang beberapa waktu lalu telah dia tolak saat Hera sendiri yang memintanya untuk dihamili.
"Kenapa?" tanya Hera yang sudah menatap dengan penuh tanya pada Rigel.
Sebuah gelengan di kepala Rigel telah ditunjukan. Di tengah rasa pening yang dia rasakan. Di tengah mabuknya karena alkohol dan karena ci*mannya dengan Hera, Rigel berusaha menarik kesadaran penuh dalam dirinya di sana.
"Tidak, kita tak bisa melakukannya. Ini tidak seharusnya terjadi," ujar Rigel dengan gelengan kepala yang telah kembali dia tunjukan.
Rigel benar-benar mencoba menahan segala hasrat yang telah dia rasakan. Kepalanya menjadi lebih pening daripada sebelumnya karena harus menahan diri seperti ini. Tapi, dia tidak ingin menjadi pria brengsek yang bahkan mengingkari apa yang dia katakan sendiri.
Rigel bukan pria yang bisa dengan mudahnya merusak seorang wanita. Dia selalu menghargai wanita, dia tak bisa menjadikan tubuh seorang wanita hanya sebagai pemuas nafsunya saja. Rigel tidak ingin dis menjadi pria yang buruk, pria yang brengsek dan bersikap semaunya.
"Hera, please. Bisakah kau keluar dari sini saat ini juga?" pinta Rigel pada akhrinya.
Dia akan memegang teguh keputusannya saat ini. Meskipun sulit saat miliknya di bawah sana sudah turn on, tetap dia tak bisa mematahkan prinsipnya sendiri. Untuk itu, dia lebih memilih untuk meminta Hera segera pergi dari sana, menjauh dari dirinya.
"Baiklah. Maafkan aku," ujar Hera yang kini sudah berlalu pergi dari tempat Rigel berada.
Rigel dapat melihat jika Hera memiliki raut kekecewaan pada wajah cantiknya itu. Dia mengerti bagaimana rasanya saat sudah mulai turn on tapi malah dipaksa menghentikannya saat itu juga. Karena Rigel sendiri juga sedang mengalaminya sekarang.
***
Rigel berjalan dengan pakaian yang sudah terlihat rapi pada tubuhnya. Kemeja hitam dengan celana yang senada. Belum lagi dengan sepatu yang mengkilat. Rigel sekali lagi telah menunjukan pesonanya pagi ini.
"Tuan Moris sudah menunggu di tempat," ujar Hera begitu dia mendapati Rigel keluar dari kamarnya. Suaranya terdengar cukup pelan.
__ADS_1
Rigel terdiam sejenak saat sudah menatap wanita itu. Jelas ada kecanggungan yang menyeruak di antara keduanya. Membuat Rigel seberusaha mungkin untuk terlihat tenang. Seperti yang dilakukan oleh Hera di sana, Rigel juga sedang mencoba untuk bersikap biasa saja. Berusaha agar tidak menunjukan jika sesuatu telah terjadi di antara mereka malam tadi.
"Ah, iya. Berikan saja alamatnya, nanti aku naik bus untuk—"
"Ponsel dan kunci mobil dari Tuan Moris," potong Hera cepat dengan kepala yang sudah menunjuk pada meja yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Dimana Rigel juga dapat melihat ada ponsel yang disebutkan oleh Hera. Ponsel pintar yang terbaru, dimana Rigel sendiri tak pernah membayangkan jika dia akan memiliki ponsel semahal itu. Dan jangan lupakan soal kunci mobilnya yang bisa dia kenali jika itu bukanlah milik Hera.
"I–ini untukku?" tanya Rigel tak percaya saat dia juga sudah meraih ponsel tersebut dan melihat kemewahan yang dimiliki ponsel baru tersebut di sana.
Hera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ponselnya memang Tuan Moris berikan untukmu. Ponsel itu akan menjadi milikmu untuk dapat dihubungi olehnya dan juga beberapa pekerjaan yang mengharuskanmu menghubungi klien dan semacamnya. Tapi, soal mobil, Tuan Moris mengatakan dia hanya akan meminjamkannya. Jadi, kau harus menjaganya dengan baik. Kalau kerjamu bagus di awal, dia akan memberikannya untukmu," jelas Hera dengan segala hal yang dia ketahui dari Tuan Moris.
Jelas semua ini membuat Rigel beranggapan jika kehidupannya mulai membaik. Dia seperti telah melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang dia miliki sebelumnya. Jangankan ponsel mahal dan mobil dinas, demi makan saja Rigel harus bekerja lebih giat sebelumnya.
Rigel lantas menoleh ke arah Hera saat itu juga. Menatap wanita itu dengan tatapan yang penuh tanya. Dia tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Hera di sana soal itu.
"Untuk?" tanya Rigel pada akhirnya.
Dimana selanjutnya, tatapan Hera terlihat begitu sendu. Seperti ada sesuatu yang bahkan mengganggu Hera di sana.
"Kenapa, Hera?" tanya Rigel sekali lagi. Saat Hera tak juga mengatakan apapun selain dengan terus menatap Rigel dengan tatapan sendunya. Atau lebih tepatnya mungkin tatapan yang syarat akan kekhawatiran.
"Kau harus berhati-hati dengan apa yang akan kau kerjakan, Rigel. Karena dengan pekerjaan yang baru kali ini kau jalani akan dipenuhi dengan kata bahaya," jelas Hera dengan suara yang terdengar lirih.
Rigel paham kekhawatiran yang dirasakan oleh Hera. Apalagi, saat wanita itu juga menunjukan dengan jelas kekhawatirannya pada raut wajah itu. Yang tidak dia mengerti adalah, kenapa Hera mengkhawatirkan dirinya?
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Karena jelas bisnis ini ilegal bukan? Ini sama saja sebuah kejahatan. Dan bukan tidak mungkin jika sesuatu mengancam sebuah kejahatan. Kejahatan yang terancam oleh kejahatan lainnya," ucap Rigel dengan senyuman tipis yang telah dia tunjukan pada Hera di sana.
Ya, Rigel tak berbohong. Dia tahu bisnis ini berbahaya. Dia paham apa yang telah dia ambil ini adalah sebuah keputusan besar yang juga bisa mengancam nyawanya. Bukan hanya ancaman ketahuan oleh pihak berwajib atau semacamnya, tapi juga karena pasti dalam bisnis seperti ini akan ada yang namanya Rival. Persaingan bisnis yang tidak selalu bersih.
"Tenang saja, aku akan berusaha sebaik mungkin," tambah Rigel mencoba meyakinkan Hera.
Rigel juga mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja saat semuanya belum dimulai. Maka dari itu, hari ini dia akan membuktikan terlebih dahulu kalau dia memang bisa melakukan ini dengan baik, dan membuat semuanya berjalan lancar.
"Rigel?" panggil Hera yang kini sudah menatap pria itu kembali.
Tak hanya itu, Hera juga menatapnya penuh dengan keseriusan.
"Kenapa, Hera?" tanya Rigel pada wanita itu. Sekali lagi dia dibuat bertanya-tanya akan apa yang akan dikatakan oleh Hera di sana padanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa itu?" tanya Rigel penasaran dengan satu alis yang sudah terangkat saat menatap Hera.
Di sana, Hera terlihat menghela nafasnya dalam. Membuat Rigel jadi ragu sendiri jika apa yang dikatakan oleh Hera adalah hal yang baik. Karena dari gelagat yang ditunjukan oleh wanita itu terlihat bukan sesuatu yang baik.
"Tuan Moris memintaku untuk menikahi Andrey. Pria yang kau temui tadi malam."
Rigel tak begitu mengerti kenapa Hera mengatakan itu padanya meski itu membuat Rigel terkejut karenanya. Hanya saja, Rigel juga melihat keputusasaan yang diperlihatkan Hera padanya.
Hera seperti, meminta pada Rigel untuk diselamatkan. Kalau seperti ini, apa yang harus dilakukan Rigel sekarang?
__ADS_1