
Rigel sampai tak bisa diam dengan tenang. Dia hampir selalu bergerak dengan gelisah ke sana kemari dengan rasa penasaran yang dia miliki. Belum lagi dengan kecemasannya soal siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Hera.
Rigel kini juga telah memijat pangkal hidungnya sendiri. Saat rasa pening itu sudah kembali dia rasakan dalam dirinya. Sungguh, semua ini terasa menyiksanya secara perlahan. Bukan secara fisik, melainkan secara mental.
"****! Bisa-bisa aku jadi gila kalau terus seperti ini!" Seru Rigel sembari mengacak rambutnya frustrasi.
"Ya, kurasa kau memang sudah akan gila, Mr. Spencer."
Rigel segera menoleh pada asal suara. Dan selanjutnya, dia telah mendapati seorang wanita yang tersenyum lebar ke arahnya tepat di pintu kamar yang sudah terbuka.
"S—siapa?" tanya Rigel kebingungan.
Ya, bukan Hera yang ada di sana. Melainkan seorang wanita asing yang sepertinya memiliki usia yang sana dengan dirinya.
Rambut wanita itu nampak terikat, dia memiliki bibir yang cukup tebal dengan wajah yang lebih tegas. Berbanding terbalik dengan Hera.
"Kurasa Hera belum menceritakan tentangku, ya?" tanya wanita itu pada Rigel.
Rigel pun hanya menganggukkan kepalanya. Mencoba memberikan jawaban yang sebenarnya.
"Aku Jeanne," ucap wanita itu pada Rigel dengan tenang.
Sekarang, Rigel hanya terdiam. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.
Melihat kebingungan yang ditunjukan Rigel, maka Jeanne pun mencoba melangkahkan kakinya untuk mendekat pada pria itu. Dengan senyuman yang penuh arti saat menatapnya.
"Tunggu, apa yang kau lakukan!" Seru Rigel dengan keterkejutannya.
Bagaimana mungkin dia tidak terkejut saat wanita bernama Jeanne itu sudah mengalungkan kedua tangannya pada leher Rigel, sembari mengikis jarak antara mereka berdua. Dengan tubuhnya yang terus didekatkan pada tubuh Rigel hingga nyaris menempel jika saja Rigel tidak mencoba untuk menghindarinya.
'Sialan! Apa wanita-wanita yang ada di tempat ini memang suka sekali menyerang tiba-tiba? Setelah Hera, sekarang malah Jeanne yang lebih agresif,' batin Rigel berbicara.
"Tenang, tampan. Jangan tegang seperti itu. Tapi, tak apa kalau yang menegang bagian bawah," ucap Jeanne dengan sensual. Bahkan dia berbicara tepat di depan wajah Rigel.
Demi tuhan, Rigel malah jadi pening sendiri dengan apa yang dikatakannya. Jangan lupakan jika Rigel juga pria normal.
__ADS_1
"Tidak, Jeanne. Siapapun kau, kurasa kau tidak bisa melakukan hal ini," ucap Rigel berusaha melepaskan tangan Jeanne darinya.
Jeanne memang cantik, meski lebih cantik Hera. Tapi, Jeanne memiliki dada yang lebih besar daripada Hera. Bohong kalau Rigel tidak menelan ludah saat melihatnya. Tapi, dia mencoba menahan diri untuk tidak begitu saja tergoda rayuan wanita yang bahkan tidak dikenalinya.
Bukannya melepaskan Rigel, Jeanne kini malah semakin merapatkan tubuhnya dan terus mendorong Rigel. Sampai pada akhirnya, Rigel terjatuh berbaring di atas ranjangnya. Membuat Jeanne mengambil kesempatan untuk berada di atas tubuh pria itu.
"Pantas saja Hera betah sekali menjagamu. Ternyata, memang kau memiliki tubuh yang seksi sekali," ucap Jeanne sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Rigel saat kaus pria itu sedikit tersingkap.
Gila, Rigel hampir menggeram dibuatnya. Ini benar-benar hal tergila baginya.
"Please, tidak, jangan lakukan ini," pinta Rigel setengah memohon pada Jeanne.
Meski dia pria normal, tapi bukan berarti dia juga menormalkan jika terjadi sesuatu di antara mereka berdua saat ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Tenang, Rigel. Aku hanya sedang mencoba membuatmu melupakan masalahmu," ucap Jeanne berbisik di telinga Rigel.
Dan saat Jeanne hendak mencium bibir Rigel, seseorang sudah menggebrak pintu. Membuat Jeanne dan Rigel lantas menoleh pada asal suara.
"Jeanne! Hentikan!" Seru Hera yang kini mendekat dengan cepat pada keduanya.
"****! Kau selalu menggangguku!" Keluh Jeanne yang kini sudah ditarik oleh Hera.
"Sampai kapan kau mau seperti ini!" Tegas Hera pada Jeanne di sana.
Matanya sudah menyorot dengan tajam pada Jeanne. Menunjukan ketidaksukaannya atas apa yang dilakukan Jeanne pada Rigel.
Memasang wajah tak perduli, Jeanne kini malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kenapa kau selalu mencampuri urusanku? Kalau iri, lakukan saja seperti apa yang aku lakukan. Bukannya malah sok suci."
Sekarang, Rigel hanya bisa menyaksikan perdebatan keduanya. Dia sudah berdiri dan membenarkan kausnya yang sempat tersingkap.
"Sebentar, siapa dia, Hera?" tanya Rigel tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Wanita penggoda!" Jawab Hera dengan tegas.
Jawaban yang membuat Jeanne mendecih dan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Jujur saja, sekarang yang dirasakan Rigel malah semakin pening. Perdebatan dua wanita di hadapannya benar-benar tidak dapat dimengerti.
Ini seperti dia tengah menonton perdebatan antara wanita penggoda yang dikatakan Hera, dengan wanita suci seperti yang dikatakan Jeanne pada Hera di sana.
"So, bolehkah kalian tidak mengabaikan aku dan katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Rigel mengeluarkan sikap tegasnya.
Dimana dengan aura dominannya dia saat ini telah berhasil membuat dua pasang mata yang sejak tadi bersitatap dengan tajam ini teralihkan padanya.
"I'm Jeanne. Bukankah aku sudah memperkenalkan diriku padamu tadi, tampan?" ucap Jeanne dengan kecentilannya.
Mendengar jawaban itu, Rigel kini lebih memilih untuk menatap pada Hera. "Hera, jelaskan padaku," pinta Rigel.
Dan ya, Hera seolah tidak bisa menolak aura dominan yang dipancarkan Rigel di sana. Hingga membuatnya hanya menurut pada pria itu.
"Dia Jeanne. Dia juga pernah di sini. Dia memiliki hubungan khusus dengan Big boss sebelumnya," jawab Hera dengan dirinya yang mencoba lebih tenang.
Rigel lantas menatap pada Jeanne yang kini sudah mengangkat kedua bahunya.
"Lalu kenapa kau melakukan itu padaku?" Tanya Rigel pada Jeanne sekarang.
"Karena aku penasaran sehebat apa kau di atas ranjang," jawab Jeanne tanpa ragu sama sekali.
Yap, Rigel sudah mengerti kalau Jeanne sepertinya tidak waras. Benar-benar tipikal wanita penggoda yang sudah begitu ahli.
"Ada apa kau kemari, Jeanne?" tanya Hera kemudian. "Sudah aku katakan untuk tidak mencampuri urusanku dengan Rigel."
"Wow, Hera. Jangan-jangan kau tertarik pada pria ini juga, ya? Apa sekarang kau mau melepas kan keperawananmu itu? Apa pria ini yang menjadi pilihanmu?" tanya Jeanne dengan nada yang meledek pada Hera.
Dimana itu jelas membuat Hera menatap Jeanne semakin tajam.
Rigel pun yang mendengar itu benar-benar tak suka pada Jeanne. Dimana di sisi lain Rigel jadi tahu kalau Hera benar-benar seorang wanita yang bisa dikatakan masih suci.
Di jaman seperti ini, terdengar jarang sekali seorang wanita yang masih gadis bahkan belum pernah sama sekali berc*uman.
"Aku hanya ingin memberitahu kalian, dia akan datang kemari besok. Untuk itu aku akan berada di sini malam ini untuk memastikan semuanya," ujar Jeanne dengan raut wajah yang lebih serius.
__ADS_1
Penjelasan yang membuat Hera terkejut kemudian. Sedangkan Rigel hanya bisa diam dan membaca raut wajah Hera berharap dia bisa membaca pikirannya.
Rigel menjadi penasaran. Karena sepertinya, 'dia' yang terus mereka bahas seperti begitu menakutkan.