
Rigel tidak dapat berbohong dengan apa yang dia rasakan sekarang saat melihat adiknya sendiri telah bergandengan tangan dengan mantan istrinya sendiri. Belum lagi, saat dia juga bisa melihat dengan jelas senyuman lebar di antara keduanya. Sebuah senyuman yang seolah begitu bahagia saat mereka bersama. Tanpa memperdulikan jika mereka telah menyakiti hati Rigel selama ini.
Pun begitu, Rigel mencoba untuk bersikap dengan tenang. Dia menenangkan dirinya sendiri dalam diamnya. Meski pada akhrinya, Rigel tak tah jika Hera akan menyadari kegundahan hatinya.
"Kau baik-baik saja, Rigel?"
Rigel segera menggelengkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan Hera padanya. Dia kembali mencoba menyembunyikan bagaimana perasaannya saat ini. Karena bagaimana pun, Rigel tak bisa bersikap lemah. Yang ada, dia mungkin akan kembali ditertawakan oleh orang lain. Dia harus menjadi pria yang angkuh. Dia akan membuktikan jika dirinya bisa membalikan keadaan.
"It's okay. Ayo kita hampiri mereka," ujar Rigel terhadap Hera.
Dia tak berniat melepaskan genggaman tangan Hera di sana. Dengan sengaja, dia malah mengeratkan genggaman tangan itu pada wanita di sampingnya.
Rigel tahu, jika mungkin saja Hera juga sadar kalau dia tengah dijadikan sebagai pelampiasan Rigel. Atau justru malah dijadikan sebagai tameng kepura-puraannya. Tapi, Rigel juga tak mau menghentikan hal ini. Dia akan tetap memanfaatkan Hera yang nyatanya ada bersamanya sekarang.
"Kau yakin ingin menghampiri mereka? Kau tidak akan melakukan hal gila lagi seperti yang kau lakukan sebelumnya kan?" tanya Hera sembari berjalan mengikuti Rigel.
Ya, nyatanya Hera sedang membahas kembali apa yang Rigel lakukan padanya saat pria itu juga menemui dua orang itu. Menjadikan Hera sebagai pelampiasannya.
Rigel juga sadar diri, dia juga cukup merasa bersalah soal hari itu. Dan jelas dia tidak berniat untuk mengulangi hal yang sama. Mungkin dia memang memanfaatkan Hera, tapi tidak sampai melakukan hal seperti itu lagi pada wanita yang saat ini sedang bersamanya. Rigel akan lebih mengontrol diri.
"Aku minta maaf soal itu, tapi ya aku akan menghampiri mereka. Dan tenang saj, aku tidak akan melakukan hal yang sama lagi," jelas Rigel mencoba meyakinkan Hera.
Hingga pada akhrinya, Hera juga hanya bisa menganggukkan kepalanya paham. Dia tidak akan mencoba melarang Rigel atau semacamnya. Dia hanya perlu menemani pria itu sekarang.
__ADS_1
"Rigel?"
"Bertemu lagi," ucap Rigel begitu dia berdiri tepat di hadapan dua orang itu. Merespon saat salah satu di antara keduanya telah menyebutkan namanya dengan sorot mata yang terlihat cukup terkejut karena kehadirannya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Erina dengan kening yang sudah mengernyit menatap sang mantan suami.
Membuat Rigel lantas menyunggingkan senyumnya pada wanita itu. Senyuman yang terlihat meremehkan. "Kau datang kemari tanpa tahu apa acara ini?" ujarnya dengan decihan.
Erina lantas menatapnya dengan nyalang. Seolah mendapati Rigel di sana hanya membuatnya waspada. Entah kenapa, melihat perubahan yang didapati Erina pada Rigel juga membuat banyak tanya dan bingung sendiri. Apalagi, saat pria itu kini berada di acara mewah ini bersama seorang wanita yang terlihat cantik. Meskipun menurut Erina sendiri, dirinya sendiri yang tetap menjadi yang tercantik.
Yap. Kepercayaan diri Erina memang cukup besar.
"Apa kau mengenal Tuan Moris?" tanya Roby yang juga penasaran akan keberadaan Rigel di sana.
Hal itu membuat Rigel lantas tersenyum puas. Dia benar-benar merasa puas saat sang adik dan mantan istri yang mengkhianatinya ini tak sadar. Dia menduga, sepertinya memang Tuan Moris juga merencanakan hal ini. Dengan sengaja mengundang keduanya tanpa tahu acara apa yang sebenarnya tengah dilangsungkan.
Bersamaan dengan itu, Hera juga menunjukan senyumannya pada dua orang yang ada di hadapannya. "Dia akan menjadi bagian dari pihak Tuan Moris," jelas Hera.
Sebenarnya, Rigel tak berniat menjelaskan pada dua orang itu. Tapi, nyatanya Hera sudah lebih dahulu unyuk memberitahukan soal ini pada Erina dan juga Roby. Membuat Rigel juga kini hanya bisa menyunggingkan senyumannya.
Erina mendecih menatap Rigel. "Jadi supir pribadinya? Tetap saja kau akan miskin, Rigel. Kau tidak akan dapat membeli rumahmu sendiri. Kau akan tetap menjadi pria yang tak punya uang. Kasihan sekali wanita ini kalau sampai dia malah bersamamu. Kau akan menderita, Nona," ujar Erina yang sekali lagi meremehkan Rigel.
Tangan Rigel mengepal dengan kuat, dia kesal. Dia tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Erina. Tapi, dia mencoba menahan diri karena tidak ingin membuat keributan.
__ADS_1
"Akan aku buktikan padamu, Erina. Akan aku buat kau menyesal karena telah mengkhianatiku. Akan aku buat kau memohon di bawah kakiku!" Tegas Rigel dengan sorot matanya yang sudah menatap dengan tajam.
Dia tidak main-main dengan apa yang tengah dia katakan. Dia sudah bertekad sejak awal. Dia akan membalas Erina dan orang-orang yang sudah menghina dan merendahkan dirinya. Rigel akan buktikan dia mampu melakukan semua itu. Apalagi, kalau dia juga berhasil mendapatkan 200 juta dolar yang dijanjikan Tuan Moris.
"Kak Rigel, sebaiknya jangan terlalu berusaha keras. Bisa-bisa kau menjadi gila nantinya," ucap Roby yang ikut berbicara.
Tidak seperti sebelumnya, kini Roby juga bahkan dengan beraninya merendahkan Rigel. Merasa jika dia telah memenangkan Erina, maka dia berhak merendahkan kakaknya sendiri.
Jelas membuat amarah Rigel semakin memuncak. Sampai pada akhrinya dia merasakan genggaman tangan Hera yang semakin erat di tangannya. belum lagi dengan ibu jari Hera yang sudah bergerak mengusap punggung tangan Rigel, seolah wanita itu berniat untuk membuat Rigel lebih tenang.
"Lebih baik kalian jaga sikap selama di sini. Kalian bisa merendahkan Rigel, tapi tidak dengan diriku. Rigel datang bersamaku di sini dan atas permintaan Tuan Moris. Kau," tunjuk Hera pada Roby. "Kau pasti tahu siapa aku. Jadi jangan berani-beraninya kau seenaknya di sini!"
Tepat. Hera tak salah sama sekali. Roby sudah mencari tahu soal Hera sebelumnya. Setelah dia mendapati Hera datang bersama dengan Rigel ke rumahnya. Dan jelas, saat itu juga dia tahu siapa Hera. Sebuah fakta yang membuat Roby yang sedang terkekeh meremehkan Rigel di sana lantas memudarkan kekehannya.
"Memangnya kau siapa? Jangan-jangan kau salah satu ****** yang—"
"Erina! Kita pergi dari sini!" Potong Roby dengan cepat. Dimana dia segra menarik Erina untuk menjauh dari sana.
Dengan Erina yang sudah menoleh pada Rigel sembari berjalan. "Jangan harap aku kembali pada dirimu, miskin!" Seru Hera.
Rigel berniat mengejar. Dia tak terima, hatinya bergemuruh. Sakit dan kecewa, sungguh. Diperlakukan seperti ini oleh wanita yang pernah teramat dia cintai begitu menyesakkan. Akan tetapi, Hera sudah berdiri di hadapan Rigel dengan cepat, menahannya.
"Kau bilang ingin membalas dendam, jadi jangan tunjukan kelemahanmu," ujar Hera.
__ADS_1
Lantas Rigel terdiam. Hera benar, dia setuju dengan apa yang Hera katakan. Dia tak boleh terpancing emosi hingga menunjukan sisi lemahnya terhadap dua pengkhianat itu. Maka dari itu, Rigel telah menarik nafas dalam dan menegakkan kembali tubuhnya. Dengan rahang yang sudah terangkat, Rigel menunjukan sorot mata yang tajam.
"Temani aku minum sampai mabuk malam ini, Hera."