
"Apa kau menerima tantangan itu, Rigel Zach Spencer?"
Tanpa ragu Rigel menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin menjadi pria pengecut yang akan menyerah sebelum mencobanya. Dia ingin menjadikan dirinya lebih baik daripada sebelumnya. Dia akan melakukan apapun demi pembalasan dendamnya pada orang-orang yang telah menghinakan dirinya.
Rigel, telah bertekad kuat untuk apa yang akan dia lakukan mulai saat ini. Menjadi Rigel yang baru, Rigel yang tak akan mudah ditindas. Menjadi Rigel yang siap mengepakkan sayapnya dan terbang setinggi ia bisa.
"Bagus! Kau akan memulainya besok!" Seru Moris dengan senyuman kepuasan yang telah dia tunjukan. "Karena malam ini, kita akan mengadakan pesta penyambutan untukmu!" Tambahnya dengan antusias.
Membuat Jeanne lantas ikut terkekeh dan menerima pagutan dari Moris di sana.
Melihat itu, Rigel menjadi semakin sadar kalau memang Jeanne mudah sekali memberikan tubuhnya pada seorang pria. Dia merasa bersyukur tidak jatuh dalam godaan wanita itu.
"Sebelum itu, boleh aku bertanya sesuatu? Bisnis apa yang harus aku urus?" tanya Rigel saat dia menyadari kalau dia perlu mengetahuinya terlebih dahulu.
Soal bisnis yang harus dia urus demi 200juga dollar yang menjadi impiannya sekarang.
Tak langsung menjawab pertanyaan Rigel, Moris justru menyunggingkan senyuman miringnya. "Bisnis penjualan senjata api," jawab Moris.
Senyuman Rigel yang sebelumnya terlukis lantas memudar begitu dia mendengar jawaban Moris.
'Senjata? Yang benar saja. Bukankah itu ilegal? Lalu bagaimana mungkin aku mengurus bisnis yang tak pernah aku jalani sebelumnya?' batin Rigel yang mulai gundah.
"Kenapa? Apa kau berniat berubah pikiran?" tanya Moris menelisik.
Rigel yakin, Moris bertanya seperti itu pasti karena melihat raut wajah Rigel sekarang. Dimana Rigel kini telah kembali terkejut dan terus hening dan tak bergeming.
"Aku masih bisa memberikan kesempatan untukmu meno—"
"Akan tetap aku lakukan!" Tegas Rigel memotong pembicaraan Moris.
Rigel berucap dengan penuh keyakinan. Seolah dia sudah sama sekali tidak meragu dengan keputusan yang telah dia buat saat ini.
Pria itu sudah sangat bertekad. Aset 200juta dollar itu telah menjadi harapannya. Sebuah harapan yang dapat membuatnya mampu membalaskan orang-orang itu termasuk istri dan adiknya sendiri yang mengkhianatinya.
"Akan aku buktikan kalau aku bisa mengurus bisnis itu dengan baik! Aku akan mendapatkan 200juta dollar itu dengan usahaku!" tambah Rigel penuh dengan ketegasan.
__ADS_1
Membuat Rigel dengan samar dapat melihat senyuman Hera yang berada tak jauh darinya. Senyuman yang menunjukan seolah wanita itu bangga dengan tekadnya.
"Good boy! Akan aku lihat seberapa berbakatnya kau dalam hal ini!" Seru Moris dengan kekehan puasnya. "Datang ke tempatku tepat pukul sembilan malam. Akan aku buatkan pesta penyambutan untukmu sebagai pemimpin baru dalam bisnis itu. Hera, kau datanglah bersamanya," tambah Moris pada Hera di sana.
Perintah yang membuat Hera menganggukkan kepalanya dan siap mematuhi apa yang diperintahkan oleh Moris sebagai pria yang dia sebut 'Tuannya' si sana.
"Tuan Moris, bolehkah aku ikut membantu Hera mencarikan pakaian untuk Rigel?" tanya Jeanne dengan centilnya pada Moris.
Tangan wanita itu bahkan dengan lihainya mengusap paha bagian dalam milik moris. Membuat Rigel mendecih sendiri saat melihatnya.
Jeanne benar-benar berbahaya.
"Kau yakin? Bukankah kau tak suka jika bersama dengan Hera?" tanya Moris.
Jeanne menganggukkan kepalanya. "Aku yakin, Tuan Moris. Aku juga bisa pergi bersama dengan mereka berdua nanti malam ke tempatmu," ucap Jeanne dengan sedikit manja pada Moris.
Dan lagi-lagi, Moris hanya bisa tersenyum sembari menatap Jeanne. Sebelum akhirnya dia kembali meraup bibir tebal milik wanita itu, memberikan ******* singkat sebelum akhirnya dia bangkit dari duduknya.
"Okay, kalian bertiga datanglah secara bersama nanti malam!" ucap Moris yang kemudian melenggang pergi meninggalkan ketiganya di sana.
Semuanya terdiam sampai Tuan Moris benar-benar pergi dari sana dengan suara mobil yang sudah terdengar pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa?" tanya Rigel pada keduanya.
"Pilih, aku atau Hera?" tanya Jeanne begitu tiba-tiba. Dia menatap Rigel dengan bibir bawahnya yang sudah dia gigit.
Jujur saja, Jeanne memang menggoda. Tubuhnya yang sedikit berisi, bibir yang cukup tebal, dan gestur tubuhnya yang sensual. Semua itu berhasil membuat Rigel selalu berpikir yang tidak-tidak meski dia tak menyukai bagaimana Jeanne selalu pandai menggoda seorang pria.
Tapi, Rigel justru juga tertarik pada Hera dengan wajah cantiknya itu. Meski tubuhnya tidak se seksi Jeanne, setidaknya Hera memiliki lekuk tubuh yang indah. Bagian dada dan bokongnya terlihat cukup sintal dengan pinggangnya yang kecil.
Rigel menggeleng dan berusaha menyadarkan dirinya saat pemikiran itu muncul di dalam kepalanya. 'Tidak, Rigel! Jangan berpikir macam-macam!' batin Rigel memperingati dirinya sendiri.
"Untuk apa aku harus memilih. Aku tidak akan memilih satu pun di antara kalian berdua," ujar Rigel dengan tegas.
Dia mencoba bersikap acuh pada keduanya, meski pikirannya sempat menjadi nakal saat melihat postur tubuh keduanya.
__ADS_1
Entah kenapa, Rigel justru kini mendapati Hera yang tersenyum puas akan jawaban yang dia berikan.
"Baguslah. Kau memang tak perlu memilih," ucap Hera pada Rigel di sana.
Berbeda dengan Jeanne yang terlihat mendengus kesal. Dia menatap tak suka pada Hera di sana.
"Jeanne, lebih baik kau siapkan dress-mu sendiri. Biar aku yang memilihkan pakaian yang akan dikenakan Rigel," ucap Hera pada Jeanne kemudian.
"Tidak, aku bisa memilihnya sendiri," ucap Rigel menolak Hera di sana.
Hera lantas menatap Rigel di sana. Dia menaikan kedua alisnya menatap Rigel. "Memangnya kau tahu jenis-jenis jas mahal? Acaranya bukan sembarangan, Rigel. Kau akan bertemu orang-orang penting Tuan Moris," ucapnya.
Rigel lantas terdiam. Jelas dia tak mengerti soal pakaian bermerk yang mewah dan mahal. Karena Rigel sendiri selama ini hanya hidup pas pasan. Jangankan jas, Rigel saja hanya memakai pakaian yang dijual dengan harga murah di pasar.
"Aku akan tetap ikut membantu!" Seru Jeanne tak mau kalah.
Membuat Jeanne mendapatkan tatapan tak suka dari Hera.
"Kenapa? Mau melarangku? Memangnya kau tahu jenis pakaian seperti apa yang cocok untuk tubuh Rigel?" tanya Jeanne mencoba membalikan pertanyaan Hera sebelumnya pada Rigel.
Sama seperti Rigel sebelumnya, Hera juga ikut terdiam atas pertanyaan itu. Sebab, Hera juga tak begitu tahu tentang ukuran yang pas untuk proporsi tubuh seorang pria. Berbeda dengan Jeanne yang mungkin sudah hafal di luar kepala.
Hak itu membuat Jeanne tersenyum penuh kemenangan.
"Kita berangkat sekarang!" Seru Jeanne pada Rigel dan Hera.
"Tunggu sebentar," tahan Rigel saat dia teringat akan sesuatu.
Lantas dua wanita itu menoleh secara bersamaan ke arahnya.
"Kenapa?"
"Ada apa?"
Tanya keduanya nyaris bersamaan.
__ADS_1
Rigel menatap Jeanne dan Hera secara bergantian. "Bolehkah aku meminta tolong pada kalian berdua?"
Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat tanda tanya di dalam benak Hera dan juga Jeanne.