Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Sebuah tantangan


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Jeanne sebelumnya. Seseorang kini telah datang dengan pakaian serba hitamnya. Seseorang dengan aura mencekam begitu dia memasuki tempat Hera di sana.


Orang yang selalu disebutkan oleh Hera pada Rigel. Membuat Rigel menjadi semakin penasaran siapa dia sebenarnya saat Rigel sendiri sudah berhadapan langsung dengannya saat ini. Pria yang memiliki tinggi hampir sama dengan Rigel, dengan rambut yang hampir memutih sepenuhnya.


"Kau, Rigel?" tanya pria itu sembari menunjuk pada Rigel.


Rigel sendiri kini hanya menatap pria itu dengan satu alis yang sudah terangkat. Dia sama sekali tidak menunjukan ketakutannya pada pria itu. Karena menurutnya, meski aura pria itu begitu kuat, Rigel sama sekali tidak merasa terintimidasi.


"Tuan Moris. Selamat datang." Hera menengahi keduanya saat Rigel dengan pria bernama Moris itu saling bersitatap dengan sorot mata yang tajam.


Dan itu berhasil karena Moris kini telah menoleh pada Hera dan menunjukan senyumannya. "Gadis kecilku, Hera. Long time no see," ucapnya sembari merentangkan tangan pada Hera.


Rigel memperhatikan keduanya. Dimana Hera kini sudah membalas senyuman Moris dan berhambur ke dalam pelukan pria berambut putih itu. Jujur saja, Rigel menjadi semakin penasaran dengan siapa Moris dan apa hubungannya dengan Hera. Apalagi saat Moris sendiri memanggil Hera dengan sebutan 'Gadis kecilku' di sana.


"Ow, Tuan Moris-ku tersayang sudah datang rupanya!"


Suara Jeanne terdengar. Dimana dia sudah berlari kecil menghampiri Moris tanpa takut terkilir dengan heels yang dia kenakan. Sebelum akhirnya Jeanne menyingkirkan Hera dari pelukan Moris. Membuat dirinya yang menggantikan posisi Hera di sana.


"Berhenti bersikap seperti ini, Jeanne. Seolah kau lama tidak bertemu denganku, padahal kemarin kau baru saja merangkak di atas ranjangku," ucap Moris sembari tertawa.


Dimana itu dibalas dengan tawa dari Jeanne.


Rigel semakin terdiam dan bertanya-tanya saat melihatnya. Ada begitu banyak tanya di dalam benak Rigel sekarang.


"Masuklah. Kita harus berbicara di dalam."


Rigel menatap pada Hera di sana, membuat matanya lantas bersitatap dengan wanita itu. Membuat Rigel kembali menaikan satu alisnya saat menatap Hera.


"Baiklah. Kau! Ikut masuk karena aku perlu berbicara denganmu!" Tegas Moris pada Rigel.

__ADS_1


Sebenarnya, Rigel hendak menolak karena Moris terlihat mencoba mendominasi Rigel. Akan tetapi, karena rasa penasaran yang ada di dalam benaknya, Rigel lebih memilih untuk mengekor di belakang pria itu yang sudah menggandeng Jeanne, dan Rigel berjalan bersama Hera di sampingnya.


"Tunjukan sedikit kesopananmu," bisik Hera pada Rigel sembari berjalan. Memastikan hanya Rigel yang mendengarnya.


"Memangnya kenapa? Apa dia orang yang begitu penting?" tanya Rigel sembari mendecih sedikit meremehkan Hera di sana.


Dimana selanjutnya, Rigel telah mendapati tatapan tajam dari Hera. "Dia yang akan mengubah hidupmu. Aku tahu kau ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah menghinamu. Dan dia, satu-satunya orang yang dapat membantumu mendapatkan apa yang kau butuhkan dengan cepat!"


Bohong kalau Rigel tidak tertegun akan apa yang dikatakan oleh Hera baru saja. Sebuah penjelasan yang mampu membuat Rigel semakin tertarik pada pria bernama Moris itu dan apa maksud dan tujuan mereka membawa Rigel ke tempat seperti ini.


"Duduklah!" Seru Moris begitu mereka telah sampai pada salah satu sofa di sana. Dengan Jeanne yang kini sudah terduduk di samping Moris tanpa berniat melepaskan gandengannya.


Tanpa mencoba membantah, Rigel telah duduk di sofa tepat di hadapan Moris dan Jeanne. Dengan Hera yang duduk di kursi yang lainnya.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rigel tanpa ragu sebab dia sudah begitu penasaran akan Moris.


Rigel terdiam sejenak setelah mendapatkan jawaban dari Moris. Dia berpikir keras. Sebab, nama yang disebutkan Moris terdengar tidak asing di telinganya. Rasanya dia pernah mendengar nama itu sebelumnya.


Sebelum pada akhirnya, Rigel membulatkan matanya terkejut menatap Moris. "Moris Devender?! Pemilik bisnis alkohol terbesar di Asia dan Eropa?"


Rasanya Rigel tak mampu menutup mulutnya dengan cepat saat pria yang berada di hadapannya ternyata adalah orang yang luar biasa. Nama itu pernah Rigel dengar di berita dan beberapa tamu vip-nya di club.


Keterkejutan Rigel membuat Moris tersenyum miring. Merasa bangga sekaligus menyombong pada pria itu. "Benar sekali!"


"Tuan Moris, bolehkah aku menjelaskan sedikit tentang hal ini pada Rigel?" pinta Hera pada Moris di sana.


Menatap Hera dengan lembut, akhirnya Moris menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mempersilahkan Hera untuk bicara pada Rigel yang masih menatap Moris terkejut.


"Rigel Zach Spencer, tanpa perlu memperkenalkan Tuan Moris padamu, aku akan mengatakan sedikitnya tujuan Tuan Moris. Tuan Moris adalah teman dekat Big boss. Sama seperti Tuan Moris, Big boss adalah pemilik bisnis yang sama dengannya. Dan Tuan Moris, yang akan menggantikan posisi Big boss yang berniat membawamu ke dalam kehidupannya," jelas Hera dnegan serius pada Rigel.

__ADS_1


Jujur saja Rigel tak mengerti dengan maksud dari apa yang dikatakan Hera. Dia masih belum paham apa yang menjadi tujuan utama Big boss itu ataupun Moris membawa dan menolongnya.


"Aku juga tak tahu kenapa Big boss memilihmu. Tapi, aku hanya akan meneruskan apa yang dia inginkan," ucap Moris yang kini sudah menatap Rigel tajam.


Tatapan yang berhasil membuat Rigel sedikitnya menelan ludahnya dengan paksa. Jantungnya berdebar karena dia juga menjadi sangat penasaran dan tak sabar mendengar apa yang akan dikatakan lagi oleh Moris. Sembari dia terus memperhatikan Moris dengan lekat, mencoba menyelidiki dengan sorot matanya.


"Pegang salah satu bisnis kecil Big boss. Jika kau bisa membuat bisnis itu berkembang, aku akan memberikan aset Big boss yang bernilai 200juta dollar."


Rigel diam. Benar-benar diam bak patung yang tak dapat berbicara atau bergerak sama sekali. Dia masih begitu terkejut dengan nominal yang disebutkan oleh Moris di sana.


Jelas itu adalah nominal yang fantastis bagi Rigel. Nominal yang bahkan tak sanggup Rigel untuk dia impikan sekali pun.


"Kau serius?" tanya Rigel dengan kaku.


Dia masih ragu apakah Moris mengerjainya atau semacamnya. Akan tetapi, Hera yang kini bangkit dari duduknya telah berjalan mendekat pada Rigel. Dia menunjukan sesuatu dari tab yang sejak tadi dia pegang.


"Tidak ada kata main-main untuk Tuan Moris atau Mendiang Big boss," ucap Hera tegas.


Dimana sekali lagi, Rigel membuka mulutnya tak percaya saat dia meraih tab yang disodorkan Hera padanya. Dan dia menatap sebuah foto saldo rekening bernilai 100juta dollar. Dengan foto lain yang menunjukan sertifikat rumah besar bernilai 100juta dollar atas nama Rigel Zach Spencer.


Dan Rigel tahu, itu bukan sebuah tipuan. Foto itu benar-benar nyata, hanya dari foto saja Rigel sudah tahu kalau Moris tak main-main.


"Kau bisa mendapatkan semua itu jika benar-benar bisa membuat bisnis kecil itu berkembang. Jika tidak, bukan hal sulit untukku kembali mengganti kepemilikan rumah dan rekening itu, Mr. Spencer!" Seru Moris dengan senyum yang menantang.


Gila. Rigel hampir menampar dirinya sendiri untuk memastikan apakah dia bermimpi atau berhalusinasi.


Ternyata benar kata Hera, Moris benar-benar bisa membuat kehidupannya berubah.


"Apa kau menerima tantangan itu, Rigel Zach Spencer?"

__ADS_1


__ADS_2