Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Sebuah rencana


__ADS_3

Penyadap, kamera tersembunyi, Rigel sudah memasang dua benda itu di kediaman Andrey. Dimana dengan bangganya, dia telah berhasil memang itu tanpa diketahui oleh siapa pun kecuali dengan pria yang bekerja bersamanya, Eddie. Sampai pada akhirnya, kini Rigel telah menatap Eddie dengan bangganya, bersamaan dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan.


"Kita harus kembali ke tempat acara sekarang, sebelum pria itu dsn orang-orangnya curiga karena tidak menemukan keberadaan kita berdua," ucap Rigel yang kini sudah mengajak Eddie untuk pergi dari sana.


Eddie pun hanya bisa mengangguk dan menurut pada apa yang dikatakan oleh Rigel. Dimana pada kenyataannya, Rigel atas seorang atasan yang diutus Tuan Moris dan juga Big boss. Orang terpilih yang entah kenapa bisa menjadi sespesial itu untuk mereka.


"Acaranya sudah dimulai. Ayo mendekat ke sana," ajak Eddie saat melihat orang-orang tengah berdiri dan berkerumun di salah satu sudut tempat itu.


Dan tentu saja, dua orang penting yang ada di antara mereka semua. Hera dan Andrey yang tengah bertukar cincin di hadapan semuanya.


Rigel terdiam sembari menatap keduanya di depan sana. Dia mengambil posisi yang tak terlalu jauh atau pun terlalu dekat. Dimana dia sudah menatap Hera yang tengah tersenyum saat cincin berlian sudah melingkar di salah satu jarinya. Dan Rigel juga tahu, kalau itu adalah sebuah senyuman yang terlihat palsu.


"Terima kasih untuk kalian yang telah datang ke acara ini. Aku harap kalian menikmati pestanya. Dan dengan ini, aku juga menyatakan bahwa Hera, adalah milikku sekarang, tunanganku," ucap Andrey seperti tengah memberikan sebuah pengumuman pada orang-orang yang ada di sana. "Silahkan nikmati acaranya!"


Tangan Andrey juga sudah meraih jemari tangan Hera yang sudah terdapat cincin berlian yang dia persiapkan. Beberapa saat kemudian, Audrey juga telah memberikan kecupan pada punggung tangan Hera yang masih saja menunjukan senyuman yang terlihat di paksakan.


Sebenarnya, Hera pandai berpura-pura. Orang-orang pasti akan mengira jika itu adalah senyuman yang tulus. Penuh rasa cinta. Tapi, tidak bagi Rigel yang kini melihat gurat kesedihan di wajah Hera. Dia sadar, Hera tengah menunjukan sebuah kepalsuan, sandiwara yang telah dia lakukan sampai rela mengorbankan dirinya demi membantu Rigel.


Rigel berjalan mendekat pada mereka.


"Selamat atas pertunangan kalian, Andrey, Hera," ucap Rigel yang sudah mengulurkan tangan pada keduanya untuk memberi selamat.


Andrey sudah tersenyum lebar saat melihat kehadiran Rigel dan juga mendengar ucapan selamat darinya. Menunjukan sebuah kesombongan yang dapat Rigel lihat secara lebih jelas lagi. Dimana Rigel, juga sadar sedikitnya Andrey telah menunjukan kepuasannya.

__ADS_1


"Thanks, Rigel. Aku kira kau tidak akan datang kemari," ucap Andrey tanpa meraih uluran tangan yang diberikan oleh Rigel di sana.


Menatap tangannya yang dibiarkan begitu saja membuat Rigel menghela nafasnya tak ketara. Berusaha menahan kekesalan yang tengah dia rasakan. Hingga detik berikutnya, Rigel telah menarik kembali tangannya dari Andrey. Dengan senyuman lebar yang juga tak ingin kalah dia tunjukan di sana.


"Oh, tentu saja aku harus datang. Tuan Moris bahkan sudah mengundangku secara langsung," ucap Rigel dengan nada yang sedikit menyombong. Tentu saja dia juga ingin menunjukan pada Andrey kalau dia juga telah mendapatkan perlakuan istimewa dari Tuan Moris. Bukan hanya dirinya saja.


Andrey nampak mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan. Sedangkan salah satu tangannya sudah bergerak untuk melingkar pada pinggang Hera, menarik tubuh wanita itu untuk mendekat ke arahnya.


"Ya, aku sudah tahu dari Tuan Moris sendiri. Dia bahkan bertanya lebih duku padaku. Katanya, haruskah dia mengundangmu, atau tidak."


Ya, sekali lagi Andrey nampak berusaha menunjukan serangan lain gang telah dia lemparkan pada Rigel. Sekali lagi dia jelas membanggakan dirinya sendiri. Bukan hanya dipercaya, tapi juga Andrey memang sudah seperti menjadi prioritas utama di antara pekerjaan Tuan Moris.


Kali ini giliran Rigel yang telah menunduk dengan lidah yang telah dis tusukan pada pipi bagian dalamnya sendiri. Sembari terkekeh kecil dengan lirih.


Daripada meladeni apa yang dikatakan oleh Andrey, kini Rigel lebih memilih untuk mengulurkan tangannya pada Hera untuk memberikan selamat. Berbeda dengan Andrey, tentu Hera lebih cepat meraih uluran tangan Rigel dan menerima ucapan selamat itu.


"Thanks, Rigel," ucap Hera dengan lirih.


Aksi jabatan tangan itu tak berlangsung lama karena lagi-lagi Andrey yang mengacaukannya. Dimana pria itu juga sudah memberikan tatapan tajam pada Rigel dengan satu alis yang terangkat.


"Baiklah, hope you enjoy my party," ucap Andrey yang semakin merapatkan tubuh Hera semakin mendekat padanya. Membuat Rigel merasakan kekesalannya.


Sebenarnya, Rigel tidak tahu bagaimana perasaannya pada Hera sekarang. Yang jelas, dia tidak suka situasi yang terjadi sekarang. Dia tidak suka saat melihat Andrey merasa menang di atas segalanya.

__ADS_1


"See you, Rigel!" Seru Andrey padanya. Dimana pria itu juga sudah meninggalkan Rigel seorang diri, sedangkan dia sudah berjalan bersamaan dengan Hera untuk menemui tamu yang lainnya.


Rigel kini telah menatap punggung dua orang itu yang sudah menghilang dari pandangannya. Sampai pada akhirnya, dia telah mendapatkan satu tepukan tepat pada bahunya. Sebuah tepukan yang lantas membuat Rigel segera menoleh ke arahnya.


"Sekarang sudah tahu bagaimana sikap asli Andrey di sana?" tanya Eddie yang sempat menatap Rigel mengobrol dengan Hera.


Rigel mengangguk perlahan. Dia mulai sedikit paham akan bagaimana Andrey. Pertemuan kedua yang lantas membuat Rigel bisa merasakannya secara langsung. Merasakan bagaimana sikap Andrey yang lebih banyak sikap negatifnya.


"Tapi, jangan khawatir. Aku akan mengalahkan dia dengan cepat," ucap Rigel dengan penuh keyakinan.


Eddie tidak bisa percaya begitu saja pada Andrey. Karena bagaimana pun, Eddie paham sekali kalau Andrey bukan tandingan yang mudah untuknya dan juga untuk Rigel khususnya.


Tapi, dia juga hanya bisa menganggukkan kepalanya. Berpura-pura percaya lebih tepatnya.


"Ayo, aku harus pulang sekarang," ajak Rigel pada Eddie.


Sebenarnya dia juga enggan. Masih belum rela saat pada akhirnya Hera bertunangan bersama pria lain. Walaupun Rigel sendiri yang bahkan memberikan rencana seperti itu untuk dirinya sendiri juga dengan kemajuan bisnisnya.


"Acaranya belum selesai, Kenapa harus pulang sekarang?" tanya Eddie dengan kening yang sudah mengernyit heran.


Rigel menghela nafasnya dan menunjukan kembali senyuman miring yang terlihat keren dan tampan secara bersamaan pada Eddie di sana. "Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Mungkin, kau bisa ikut bersamaku sekarang? Atau, besok juga akan baik-baik saja. Karena aku, telah mendapati ide lain untuk rencana yang akan kita lakukan soal data-data yang dimiliki oleh Andrey di sana."


Dan selanjutnya Rigel tak ada hentinya untuk tersenyum menatap Eddie. "Ayo kita buat rencana itu lebih kuat lagi dan buat semuanya berjalan menjadi lebih cepat!"

__ADS_1


__ADS_2