
"Maaf, Rigel. Maaf. Aku tidak bisa membantumu lagi. Dan karena itu juga, aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut pada akhrinya aku akan dibuang begitu saja saat aku sudah tidak lagi berguna untukmu."
Rigel menggelengkan kepalanya dan mengusap bahu Hera dengan lembut. Terlihat seolah dia tengah berusaha untuk membuat Hera lebih tenang.
"Kau tenang saja, aku tidak mungkin meninggalkanmu. Jadi, jangan khawatir soal itu, ya," ucap Rigel pada Hera.
Tentu saja dia tidak akan mengatakan terang-terangan kalau dia juga pernah berpikiran untuk meninggalkan Hera begitu saja setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan dati gadis yang rela menyerahkan dirinya itu.
Dan sekarang, Rigel juga sudah lebih memilih untuk mengatakan sebuah kebohongan yang manis. Meski tak sepenuhnya sebagai sebuah kebohongan karena Rigel juga masih tidak tahu apakah dia harus tetap menepati janjinya pada Hera atau tidak. Rigel seperti tengah berada di antara sisi baik dan sisi jahatnya. Sebuah persimpangan yang berhasil membuat Rigel bimbang atas jalan yang harus dia tempuh.
"Kau berjanji kan, Rigel? Kau tidak akan membuangku begitu saja dan mengingkari janjimu?" tanya Hera sekali lagi. Dia masih belum merasa percaya akan apa yang baru saja Rigel katakan padanya. Dia masih menginginkan kejelasan yang lebih daripada semua hal itu.
Sedangkan Rigel? Dia nampak terdiam sejenak di tempatnya sembari menatap Hera. Jujur saja, ini cukup sulit untuknya. Karena Rigel tidak mungkin malah melayangkan janji kembali dan pada akhrinya malah menyulitkan dirinya sendiri saat dia harus mengingkari janjinya.
Maka, alih-alih memberikan jawaban pada Hera, Rigel justru malah mendekatkan wajahnya pada wajah Hera, berhenti di depan wajah wanita itu dengan jarak yang begitu dekat. Sampai mereka bisa merasakan embusan nafas satu sama lainnya.
"Percaya padaku."
Ya, bukan sebuah janji yang diucapkan oleh Rigel. Melainkan sebuah perintah agar Hera memang percaya pada dirinya. Urusan tentang mengkhianati kepercayaan itu atau tidak, akan menjadi urusan nanti saja.
Karena sekarang, Rigel sudah menarik tengkuk Lyra. Dengan bibir yang sudah dia tempelkan pada bibir tipis Hera di sana. Memberikan sebuah ******* yang mampu membuat Hera memejamkan matanya. Pasrah dengan apa pun yang coba dilakukan oleh Rigel di sana.
Pagutan yang keduanya lakukan dengan melibatkan lidah mereka itu mampu membuat keduanya melenguh bersamaan. Dengan tubuh yang semakin mendekat pada satu sama lain. Hal yang kembali mengingatkan mereka pada momen malam itu. Momen yang sempat selalu berada di dalam pikiran Rigel. Hal yang tak mungkin bisa dilupakan oleh Hera atau pun Rigel sekalipun.
Seperti Deja vu, mereka mengulanginya lagi. Saling ******* satu sama lain, menjadikan udara di sekitar mereka menjadi lebih panas daripada sebelumnya. Menjadikan AC yang menyala sama sekali tidak berguna untuk mendinginkan suasana panas di antara mereka berdua.
"Aku menginginkanmu lagi, Hera. Aku merindukan tubuhmu."
__ADS_1
Entah iblis macam apa yang telah bersarang di dalam diri Rigel saat ini. Karena Rigel bahkan dengan beraninya berkata demikian. Membiarkan nafsu yang menggerogoti dirinya menguasai. Mengambil alih setiap kesadaran yang dimiliki Rigel.
Sedangkan Hera yang sudah mendengar hal itu menjadi pening sendiri. Bohong kalau dia mengatakan dia tidak menginginkan Rigel juga. Saat malam itu telah menjadi malam yang tidak terlupakan untuknya. Kenikmatan yang dia dapatkan dari oris itu membuatnya menginginkan lagi dan lagi.
Maka dengan kepala yang sudah mengangguk, Hera sudah memberikan consent untuk Rigel di sana. Membiarkan pris itu sekali lagi menikmati tubuhnya dan memberikan kenikmatan padanya. Lebih tepatnya, mungkin mereka akan berbagi kenikmatan untuk satu sama lain nya.
"Lakukanlah, Rigel. Sentuh aku, lakukan apa yang kau inginkan padaku," ucap Hera yang sudah menjenjangkan lehernya saat Rigel sudah memberikan kecupan di sana.
Sebuah kecupan, yang telah berubah menjadi *******-******* kecil dengan beberapa hisapan yang diberikan. Namun, berhati-hati untuk tidak meninggalkan bekas apa pun pada kulit putih pucat milik Hera di sana.
***
"Jam berapa sekarang?" tanya Rigel yang sudah menggeliat dari tempatnya.
Dia tengah bertanya pada dirinya sendiri, karena wanita yang saat ini tertidur di bawah selimut yang sama dengannya juga masih memejamkan matanya.
Benar, itu Hera. Wanita yang sudah kembali dia nikmati tubuhnya. Wanita yang telah dia berikan hujaman yang dalam hingga sebuah cairan yang kembali masuk ke dalam milik wanita itu. Wanita yang kini tertidur di dalam pelukannya, di atas sofa yang sama, tempat mereka memulai.
"Rigel, kau bangun?"
Suara serak terdengar di telinga Rigel. Suara serak yang benar-benar terdengar seksi! Membuat Rigel nyaris kembali membayangkan suara itu terdengar di telinganya dengan ******* saat dia menghujam miliknya ke dalam kewanitaan Hera.
Sial! Bisa-bisa Rig kembali turn on kalau terus membayangkan.
"Ah, maaf. Apa aku membangunkan mu?" tanya Rigel pada akhrinya.
Hera tak memberikan jawaban, saat matanya hanya mengerjap berusaha melawan rasa kantuknya. Menatap Rigel yang juga sedang memberikan tatapan lekat padanya.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu, Hera. Atau kau benar-benar tidak bisa berjalan besok," ucap Rigel tak main-main.
Mata mengantuk yang berusaha menatapnya, Hera telah berhasil membuat Rigel gemas sendiri. Terlihat seperti Hera sedang memohon padanya padahal wanita itu tidak melakukan apapun. Yang sialnya, hal itu malah membuat Rigel sekali lagi membayangkan hal kotor.
Ya, sepertinya sedikit banyak memang sang iblis telah mengkontaminasi pikiran Rigel.
Hera hanya bisa terkekeh pelan. Lucu juga baginya melihat tingkah Rigel yang seperti itu.
"Apa kau mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Hera saat dia telah mendapati perubahan di raut wajah Rigel.
Apalagi, saat pria itu juga beberapa kali menatap layar ponsel yang ada di tangannya. Membuat Hera penasaran apa yang sebenarnya tengah dikhawatirkan oleh Rigel di sana.
Rigel sendiri tak langsung menjawab, dia hanya memberikan senyuman tipisnya.
Dia tidak mungkin mengatakannya pada Hera. Karena ini, bahkan sesuatu yang menyangkut tentang Jeanne. Iya, lagi-lagi wanita itu. Jeanne mengirim beberapa pesan pada Rigel. Dan di antaranya, terdapat beberapa foto bagian tubuh Jeanne. Atau bahkan, tentang pakaian yang dikenakan Jeanne sekarang. Sebuah lingerie tipis yang wanita itu kenakan saat tengah berbaring di atas ranjangnya.
Nyatanya Jeanne sedang mencoba menggoda Rigel lagi. Berusaha membuat pria itu tergoda tanpa dis tahu ada seorang wanita naked yang berada di dalam dekapan Rigel saat ini.
"Rigel?" Panggil Hera saat Rigel malah terlihat melamun di tempatnya.
"Oh? Iya, kenapa Hera?" tanya Rigel yang segera menyadarkan dirinya dari lamunan.
Rigel kini menatap Hera dengan kedua alis yang terangkat. Bertanya-tanya kenapa Hera memanggil namanya.
"Ponselmu berbunyi," ujar Hera.
Membuat Rigel sadar kalau ada satu panggilan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Dan itu, Jeanne.
__ADS_1
Hera sudah menatap Rigel kembali setelah melihat layar ponsel Rigel sebelumnya. Membuat keduanya saling menatap dalam diam.
"Jeanne? Kenapa dia menghubungimu, Rigel?"