
Memasuki rumah yang belakangan ini telah dia tinggali, Rigel yang baru saja memasuki kamarnya, dia telah mendapati seorang wanita yang tengah tertidur di atas ranjangnya.
Ya, tentu saja itu adalah Hera yang juga tinggal bersamanya. Wanita yang baru saja dia perawani kemarin malam ini.
Rigel lantas mengernyitkan dahinya, yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, kenapa wanita itu malah tertidur di kamarnya, bukan di kamarnya sendiri.
"Apakah aku harus membangunkannya?" gumam Rigel pada dirinya sendiri.
Dia telah berjalan mendekat pada ranjangnya dengan perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara berisik yang mungkin akan secara tak sengaja membangunkan wanita yang tidur di sana sekarang.
Rigel juga telah menatap Hera untuk beberapa saat. Dengan pikiran yang lantas saling berargumen, kebingungan untuk memutuskan apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah membangunkan Hera atau membiarkannya tetap di sana.
Akan tetapi, begitu Rigel memperhatikan wajah Hera yang tengah terlelap, membuat rasa tak tega itu muncul sata dia hendak membangunkannya. Hingga akhirnya, Rigel lebih memilih untuk meraih selimut dan menyampirkannya pada tubuh Hera. Dengan dia yang berniat untuk kembali keluar dari kamar itu.
Mungkin, dia bisa tidur di ruang tengah saja, lagipula, sofa di sana juga cukup empuk dan tidak akan membuat tubuhnya terasa pegal atau semacam itu.
"Rigel?"
Belum sampai Rigel menuju pintu keluar kamar, dia sudah mendengar Hera memanggil namanya. Padahal, dia sudah berjalan sepelan mungkin tanpa menimbulkan suara. Siapa sangka kalau Hera masih tetap terbangun dan terusik dari tidurnya. Dimana wanita itu kini telah terduduk dan menatap Rigel dengan raut wajah yang terlihat begitu mengantuk.
"Ah, kau terbangun?" tanya Rigel yang kini sudah menoleh dan menatap Hera.
Hera menganggukkan kepalanya. Dia mengerjap beberapa kali, memperhatikan Rigel yang masih memilih untuk terdiam di tempatnya sembari menunggu Hera berbicara lagi.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkan aku? Kau sudah datang sejak tadi?" tanya Hera pada akhirnya. Dengan suara yang terdengar cukup serak. Menandakan jika dia memang benar-benar baru saja terbangun dari tidurnya.
Rigel lantas mengusap tengkuknya sendiri. "Tidak enak untuk membangunkanmu. Tapi kau terlihat pulas sekali," ucapnya dengan cukup canggung. "Ah, tenang saja, aku juga baru saja sampai, kok. Tadi, aku berniat keluar lagi, tidak tahu kau malah terbangun. Maaf aku mengganggu tidurmu," tambah Rigel.
Hera menggelengkan kepalanya. "Tidak, tak apa. Aku juga tidak sengaja tertidur di sini. Sebelumnya, aku berniat menunggumu pulang kerja, tidak tahu kalau kau akan pulang terlambat sampai aku ketiduran. Tadinya, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Kali ini, Rigel telah berjalan mendekat pada Hera. Kemudian berhenti tepat di hadapan wanita itu dan mengambil tempat untuk duduk di tepi ranjang. Menatap Hera dengan kedua alis yang sudah terangkat. "Apa itu hal yang penting sampai kau menungguku?" tanya Rigel penasaran.
Hera merapatkan bibirnya untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya sendiri dan menganggukkan kepalanya. "Mungkin, cukup penting."
"Ah, begitu. Aku tadi mengerjakan beberapa hal yang membuat aku tak sadar jam. Dan saat akan bergegas pulang, ternyata mobil Eddie bocor. Jadi, aku mengantarkannya ke tempat tinggalnya. Jadi, cukup membuatku terlambat pulang. Maaf," jelas Rigel dengan sejujur-jujurnya.
Walau pun dia tak mengatakan semuanya dengan jelas. Todak mungkin juga dia menceritakan tengang dirinya yang mampir ke depan rumah Roby dan Erina, melempar batu ke gerbang rumah mereka di sana. Karena kalau dia mengatakannya, mungkin Hera akan menganggapnya kekanakan. Dan Rigel juga sadar kalau dia kekanakan setelah melakukan semua itu.
"Tidak, jangan meminta maaf seperti itu, lagipula memang aku tidak bisa menyalahkanmu karena pulang terlambat. Itu hak mu sendiri," ujar Hera.
Hera terlihat mengusap kedua matanya sendiri sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rigel. Sebelum akhirnya, dia telah menunjukan keseriusannya di sana.
"Soal aku dan Andrey," ucap Hera pada Aldrich.
Penuturan yang membuat Rigel lantas memusatkan perhatiannya pada Hera di sana. Rasa penasaran itu semakin besar lagi. Dia begitu penasaran akan apa yang hendak dikatakan oleh Hera padanya soal dia dan Andrey.
"Kenapa? Apa Tuan Moris sudah menentukan tanggal pertunangan kalian berdua?" Tebak Rigel.
__ADS_1
Menatap Rigel dengan terkejut, Hera terlihat tak menyangka jika Rigel akan menebak demikian. Dimana tebakannya itu tepat pada sasaran. Ditunjukan dengan Hera yang sudah menganggukkan kepalanya pada Rigel.
"Lusa. Tuan Moris ingin mengadakan pertunanganku dengan Andrey lusa," ucap Hera yang sudah menunduk. Bahkan, suaranya terdengar semakin lirih.
Rigel pun hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. Cukup kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Tadi Tuan Moris dan Andrey datang kemari. Mereka juga sudah membuat undangan dan bahkan sudah disebarkan," tambah Hera dengan suara yang semakin lirih lagi.
Rigel menatap Hera yang tertunduk lesu. Dia paham kalau wanita itu tak begitu setuju dan terpaksa melakukan semuanya. Bukan hanya soal paksaan Tuan Moris, tapi juga dia yang tak bisa melarikan diri karena sudah berjanji akan membantu Rigel dan mengambil kesempatan ini untuk memanfaatkan Andrey.
"Kau tenang saja, aku akan melakukannya dengan cepat. Aku pasti tidak akan membiarkanmu berada di sekitar Andrey lebih lama," ucap Rigel mencoba menenangkan.
Dia juga sudah menepuk-nepuk lengan atas milik Hera. Memberikan ketenangan pada wanita itu. Berusaha membuat Hera yakin dan percaya padanya.
Hera mengangguk. Terlihat seperti dia juga memang mempercayakannya pada Rigel. Meski pun Rigel sendiri tak begitu yakin benar-benar akan membantu Hera. Katakanlah, Rigel kini lebih besar memikirkan dirinya sendiri daripada wanita yang sudah menyerahkan diri padanya.
"Kau tidur lagi saja, kau pasti akan aman dan baik-baik saja sampai saat itu tiba," ucap Rigel lagi.
Dia berniat bangkit dari duduknya, tapi Hera sudah menahan tangannya di sama. Membuat Rigel mau tak mau kembali duduk di tepi ranjang untuk berhadapan dengan Hera.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu, Rigel," ucap Hera.
Suaranya masih terdengar begitu lirih, tapi, kali ini Rigel bisa mendengar suara Hera juga cukup bergetar. Membuatnya terkejut dan penasaran secara bersamaan akan apa yang terjadi.
__ADS_1
Mendongak demi menatap mata Rigel, dengan gemetar, tangan Hera sudah mengeratkan genggaman tangannya pada pria itu. Bersamaan dengan mata yang sudah terlihat memerah sekali di sana.
"Bisakah kau temani aku di sini? Tetaplah di sini untuk menemani aku. Dan kau tahu? Andrey, dia mencoba untuk menyentuhku tadi. Dia memaksaku untuk memberikan kepuasan padanya. Andrey, membuatku takut, Rigel. Dia menakutkan."