
"Temani aku minum sampai mabuk malam ini, Hera."
Permintaan itu sekali lagi tak dapat ditolak oleh Hera. Sekarang, dia sudah duduk berhadapan dengan Rigel, bersamaan dengan dua botol Champagne yang sudah disediakan di atas meja yang ada di antara keduanya. Dengan masing-masing satu gelas yang mereka genggam di satu tangannya.
"Jangan terlalu mabuk, Rigel. Kau mungkin akan terlihat menyedihkan," celetuk Hera saat melihat Rigel sudah kembali mengisi gelasnya yang lagi-lagi sudah kosong.
Namun, yang diperingatkan malah mendecih dan terkekeh dengan lirih. Seolah dia juga tak begitu perduli dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang saat ini sedang bersamanya. "Memangnya kenapa? Biarkan saja aku terlihat menyedihkan untuk malam ini. Tapi, akan aku pastikan aku tidak akan semenyedihkan ini mulai besok. Aku akan mendapatkan 200 juta dolar yang dijanjikan oleh Tuan Moris. Aku akan menjadi kaya raya dan memutarbalikkan keadaan!" Tegas Rigel dengan segala tekadnya.
Dia cukup serius dengan apa yang dia katakan. Dia hanya akan menjadikan malam ini sebagai malam yang terakhir untuknya sebagai Rigel Zach Spencer yang menyedihkan. Sebelum akhrinya dia akan bangkit menjadi seorang Rigel Zach Spencer yang baru. Rigel yang bisa membuat orang-orang yang pernah merendahkannya berlutut di antata kedua kakinya hingga menangis untuk memohon ampun.
"Mungkin tidak akan semudah itu. Bisnis yang akan kau pegang tidak akan mudah," ucap Hera yang kemudian menyesap kembali champagne di gelasnya.
Dia juga terdengar lirih saat mengatakan hal itu. Bukan karena dia ingin mematahkan semangat Rigel, tapi dia hanya mencoba mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mau juga jika Rigel akan terlalu berharap dengan setinggi itu. Saat kekecewaan mungkin akan menunggunya di atas sana.
"Tidak ada salahnya aku mencoba, Hera. Aku juga sudah mengalami berbagai kekecewaan dalam hidupku. Kalau kali ini aku kembali gagal dan hasilnya mengecewakan, mungkin aku akan mengakhirinya. Aku bisa mengakhiri hidupku saat itu juga," ucap Rigel dengan decihan pada akhir kalimatnya.
Ada gurat kesedihan yang bisa Hera sadari dari pria yang ada di hadapannya. Dan juga raut wajah yang sedang tersenyum miring itu. Hera merasa cukup iba padanya, meski pada akhirnya, tekad besar yang dimiliki pria itu membuat Hera kagum. Rigel terlihat memiliki sisi lain yang mungkin memang dapat memutarbalikkan keadaan yang terjadi.
Menjadikan luka sebagai senjatanya.
__ADS_1
"Aku bisa sedikit membantu di awal kau memulai bisnismu atau mungkin, kau bisa menjadikannya sebagai senjata yang lain jika bisnis itu gagal," ujar Hera dengan raut wajah yang sudah serius menatap Rigel.
Rigel menoleh ke arahnya, menatap keseriusan yang ditunjukan oleh Hera di sana. Dengan segala pertanyaan yang muncul di dalam benaknya saat itu juga.
"Apa itu?" tanya Rigel dengan satu pertanyaan yang sudah dia miliki.
Hera nampak terdiam sejenak, seolah dia tengah mempertimbangkan sesuatu dengan serius di sana. Dan dia juga terlihat begitu berhati-hati dengan apa yang akan dia katakan pada Rigel.
Sampai pada akhrinya, Hera menghela nafasnya dalam. Menatap Rigel dengan begitu lekat, sebelum dia berkata, "Nikahi aku. Bawa aku pergi dan terbebas dari Tuan Moris. Jadikan aku milikmu."
Jelas apa yang dikatakan oleh Hera berhasil membuat Rigel membulatkan matanya tak percaya. Alkohol yang dia minum saja sudah mampu membuat rasa pening di kepalanya terasa. Sekarang, malah ditambah dengan penuturan yang dikatakan oleh Hera padanya. Sebuah hal gila yang mampu membuat Rigel menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Bercanda mu sangat tidak lucu sekali, Hera," ujar Rigel masih dengan gelengan pada kepalanya. Dia tersenyum asimetris, dengan mulut yang kembali menyesap alkohol yang membakar tenggorokannya.
"Aku serius. Tidak bercanda. Sebagi informasi, nyatanya aku memang terjebak di dalam kehidupan Tuan Moris. Dia memang tak melakukan hal yang jahat padaku, tapi dia selalu mengekangku. Karena pada kenyataannya, dia telah mengambil peran sebagai pengganti orangtuaku."
Rigel kembali menatap Hera dengan tak percaya. Tidak disangka jika Hera akan mengatakan hal seperti itu dengan penjelasannya. Akan tetapi, jika mengingat tentang Hera yang bahkan tak pernah mendapatkan ci*man pertamanya membuat Rigel sadar, betapa protektifnya seorang Tuan Moris terhadap Hera.
Dan Rigel? Menikahinya? Tak dapat dibayangkan akan seperti apa nantinya. Mungkin kehidupan Rigel akan berakhir sebelum dia mencoba membalaskan dendamnya.
__ADS_1
"Gila. Aku tidak mau melakukannya," tegas Rigel sebagai jawaban.
Jelas dia akan menolaknya. Secantik apapun Hera, dan keuntungan apapun yang akan dia dapatkan setelah menikahi seorang gadis seperti Hera, tetap saja tak membuat Rigel tergiur. Karena pastinya, dia sudah akan mendapatkan hal buruk sebelum dia berhasil menikahinya. Lebih buruknya, dia akan mati begitu mengatakan pada Tuan Moris akan menikahi Hera.
Dan nasib 200 juta dolar yang diharapkan oleh Rigel, pasti akan lenyap begitu saja. Sedangkan Roby dan Erina? Malah hidup berbahagia di luar sana.
Sial! Mengingat dua orang itu selalu membuat Rigel marah. Tangannya sudah mengepal kuat dengan sorot mata yang tajam.
"Aku juga bisa membuat mantan istrimu menyesal. Kau pikir, apa yang akan dipikirkan Erina kalau dia tahu kau menikahi wanita sepertiku? Wanita yang bersangkutan dengan Tuan Moris, si kaya raya," ucap Hera dengan satu tangan yang sudah dia letakkan pada tangan Rigel yang terkepal.
Rigel menoleh pada wanita itu. Dia nyaris luluh karenanya. Hera seolah tahu bagaimana caranya membuat Rigel tergiur dengan apa yang dia tawarkan. Bukan menawarkan tubuhnya, justru Hera malah menawarkan keuntungan apa saja yang akan didapatkan oleh Rigel. Termasuk membuat mantan istri pria itu menyesal karena telah meninggalkannya. Dijadikan sebagai pelampiasan yang bisa membuat Rigel merasa menang atas mantan istri dan adik kandungnya sendiri.
"Tapi aku bisa mati di tangan Tuan Moris kalau aku menikahmu," ujar Rigel dengan lirih. Baiklah, dia akui kalau dia mulai tergiur.
Hera melukiskan senyum pada bibirnya atas apa yang dikatakan oleh Rigel. "Aku memiliki cara agar Tuan Moris tak dapat menolak permintaan kita untuk menikah," ucapnya dengan senyuman yang dibanggakan.
Rigel menatapnya dengan satu alis yang sudah terangkat, bertanya-tanya pada wanita yang ada di hadapannya.
"Hamili aku. Buat aku hamil, Rigel."
__ADS_1
Dan sekali lagi, Rigel tak dapat menyembunyikan keterkejutannya terhadap apa yang dikatakan oleh Hera di sana. Ini gila, benar-benar gila. Rigel tak mengerti kenapa wanita seperti Hera dapat mengatakan hal itu dengan mudahnya.
Tawarannya memang menggiurkan, tapi tidak dengan rencananya. Jika Rigel memang melakukan hal itu, maka Rigel akan benar-benar menjadi iblis yang licik.