
Beberapa klien yang sempat dan akan bekerja sama dengan Andrey telah berhasil Rigel rebut. Tentu dengan rencana yang begitu matang telah dia rencanakan. Bahkan, Rigel juga telah mendapatkan beberapa hal dari Hera yang rela menjadi tunangan Andrey. Termasuk dengan jadwal pertemuan Andrey, atau bahkan yang lebih penting adalah beberapa data yang Hera curi dari ruangan kerja Andrey.
Sampai pada akhirnya, setelah waktu berlalu, Rigel sudah mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Pemasukan dalam bisnisnya sudah cukup besar. Sudah mampu dia tunjukan dan banggakan pada Tuan Moris.
"Apakah ini masih belum cukup untuk aku mendapatkan 200juta dolarnya, Tuan Moris?" tanya Rigel yang saat ini telah berdiri di hadapan meja Tuan Moris.
Tuan Moris nampak memperhatikan selembaran data yang sebelumnya telah diberikan oleh Rigel. Dimana beberapa saat kemudian, dia telah terkekeh saat melihatnya.
"Hasilnya masih belum seberapa, tapi aku suka bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini di awal membuka bisnis tanpa bantuan apa pun kecuali Eddie." Tukas Tuan Moris yang sudah meletakan kembali selembaran data itu di atas mejanya begitu saja.
Rasanya Rigel ingin sekali tertawa saat itu juga. Tanpa bantuan katanya? Pria itu tak tahu saja kalau wanita yang sudah dia anggap seperti seorang anak sekaligus tawanan untuknya itu telah membantu Rigel. Dimana wanita itu bahkan rela memberikan kepercayaan yang begitu besar untuk Rigel. Hingga rela memberikan tubuhnya pada pria berstatus duda sepertinya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Rigel lagi. Dia menginginkan kepastian dari Tuan Moris saat ini juga.
"Aku tidak bisa memberikan 200 juta dolar itu sekarang," ucap Tuan Moris yang sudah menatap Rigel sembari bersandar pada kursi singgasananya.
Rigel mengerutkan keningnya. Ada kekecewaan yang telah dia tunjukan pada pria berambut putih di hadapannya tersebut. Jelas Rigel merasa tidak terima dengan jawaban tersebut. Bukan itu yang dis inginkan. Bahkan, sebelumnya Rigel juga sudah menaruh harap pada pria itu sebelum datang kemari. Rigel sudah membayangkan saat dia mendapatkan semua uang tersebut.
"Kenapa? Bukankah kesepakatannya kal—"
"Memangnya kau merasa kalau bisnis yang kau pegang sekarang itu sudah sukses? Rigel Zach Spencer, jangan merasa sombong terlebih dahulu. Ini sama sekali belum apa-apa. Kau masih harus melalui jalan yang panjang," tukas Tuan Moris dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan.
Bahkan, Tuan Moris itu sudah mengangkat kedua kakinya untuk diletakkan di atas meja. Menatap Rigel degan kesombongannya.
__ADS_1
Ya, harusnya dia berkaca terlebih dahulu saat mengatakan Rigel menyombong. Walaupun memang Tuan Moris lebih memiliki segalanya dibandingkan dengan Rigel yang sama sekali tidak memiliki apa pun. Jangankan sebuah harta, istrinya saja dia sudah tidak punya lagi karena direbut adiknya sendiri
"Tapi tenang saja. Kau memang tidak akan mendapatkan 200 juta dollarnya sekarang. Aku akan mengirimkan dua Milyar padamu. Anggap saja sebagai uang muka dan pembagian hasil pekerjaanmu di awal ini," ucap Tuan Moris begitu tenang.
Rigel sempat terdiam. Jujur saja dia nyaris menganga mendengarnya. Walau pun memang tak sebanding dengan 200 juta yang ditawarkan oleh pria itu, tetap saja jumlah uang 2 Milyar bagi Rigel itu besar sekali. Apalagi untuk Rigel yang tak pernah memiliki uang sebanyak itu di dalam hidupnya. Dan sekarang, untuk pertama kalinya Rigel telah mendapati deretan angka itu pada saldo rekeningnya.
"Terima kasih, Tuan Moris. Aku akan bekerja lebih keras lagi!" Seru Rigel yang sudah menunduk dengan hormat pada Tuan Moris.
"Ya, sekarang keluarlah. Aku masih memiliki pekerjaan," ucap Tuan Moris yang sudah menggerakkan tangannya untuk mengisyaratkan Rigel segera pergi dari sana.
Rigel menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum begitu lebar sebelum akhrinya melangkah pergi meninggalkan Tuan Moris yang memperhatikan Rigel dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan.
"Sepertinya, tidak salah kau memilih dia sebagai penggantimu, Big boss. Kurasa dia akan menjadi penerusan dengan baik. Dan aku, akan tetap mempertahankan posisiku ini!" Gumam Tuan Moris pada dirinya sendiri.
Namun, begitu Rigel keluar dari lift dan berjalan di lobi, seseorang kini telah menghadangnya. Seorang wanita yang bisa dia kenali dengan sangat jelas.
Jeanne. Ya, itu dia.
"Helo, Tampan! Senang bertemu denganmu!" Seru Jeanne yang sudah melambaikan tangannya pada Rigel.
Rigel menunjukan senyumnya. Meski dia cukup malas untuk berhadapan dengan wanita itu, tetap saja dia tidak bisa mengabaikannya. Apalagi, kalau wanita di hadapannya itu lah yang membantu Rigel memberikan rencana dan saran soal Hera dan Andrey.
"Hai, Jeanne," sapa Rigel kembali.
__ADS_1
"Tidakkah kau harus berterima kasih padaku? Aku sudah mendengarnya dari Tuan Moris soal keberhasilan mu di awal ini. Dan aku tahu, tentang—" Jeanne menjeda kalimatnya. Kini dia telah mendekat pada telinga Rigel. "Aku tahu tentang kau yang mengambil saranku," bisik Jeanne tepat di telinga Rigel.
Rigel menghela nafasnya. Dia tahu pada akhrinya Jeanne juga akan menyadarinya. Wanita itu pasti tahu kalau Rigel melakukan apa yang telah dia sarankan sebelumnya.
"Iya, aku melakukannya," ucap Rigel dengan anggukan yang sudah dia tunjukan pada Jeanne. "Terima kasih, ini berkat saranmu."
Jeanne tersenyum lebar. Dia juga sudah memberi jarak antara dirinya dan juga Rigel. "So, hanya kata terima kasih saja?"
Rigel menaikan satu alisnya menatap Jeanne heran. Sebelum akhirnya dia membuka mulutnya dan lantas menganggukkan kepala. "Ah, soal itu. Jangan khawatir. Aku baru saja mendapat sejumlah uang dari Tuan Moris. Kirimkan nomor rekeningmu dan aku akan—"
Jeanne tertawa saat mendengarnya. Membuat Rigel menghentikan kalimatnya dan menatap Jeanne heran. Jujur saja dia tidak mengerti kenapa wanita di depannya ini tertawa secara tiba-tiba. Saat dia sendiri tidak merasa mengatakan hal yang lucu seperti lelucon atau semacamnya yang bisa membuat tertawa.
"Apa ada yang lucu?" tanya Rigel pada akhirnya.
"Tentu saja lucu, Rigel. Kau pikir saja sendiri, memangnya aku terlihat seperti menginginkan uangmu? Jumlah uang yang diberikan oleh Tuan Moris saja tidak sebanding dengan isi saldo di rekeningku," ujar Jeanne sembari tertawa.
Rigel tahu mungkin Jeanne tak bermaksud menyombong. Tapi, tetap saja itu terdengar seperti Jeanne tengah menyombongkan isi rekening nya pada Rigel.
"Lalu, kalau bukan uang, apa?" tanya Rigel pada akhrinya.
Rigel cukup was was saat bertanya demikian. Karena sedikitnya dia juga tahu bagaimana Jeanne. Dia tahu bagaimana sikap dan sifat wanita itu bersamaan dengan hal yang mungkin akan dia berikan sebagai jawaban.
Dan itu terbukti dengan Jeanne yang sudah menyunggingkan senyumannya. Sembari menggigit bibir bawahnya sendiri, Jeanne nampak menatap Rigel dengan sorot nata yang sulit dijelaskan.
__ADS_1
"Puaskan aku di atas ranjang. Aku menginginkan itu sebagai rasa terima kasihmu atas saran yang sudah aku berikan. Apa kau bersedia, Rigel Zach Spencer?"