Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Dua pengkhianat itu


__ADS_3

Rigel tak banyak mengenal orang-orang yang kini telah datang pada acara yang disebutkan Tuan Moris untuk penyambutan kehadiran Rigel. Dimana Rigel itu akan mengambil alih bisnis Big boss mereka.


Hanya saja, yang membuat Rigel tak begitu mengerti adalah orang-orang di sana terlihat begitu menyambut Rigel. Meski tak sedikit juga yang telah memberikan tatapan yang cukup sinis padanya. Dimana Rigel dapat menebak, jika mereka memang tidak menyukai kehadiran Rigel pada dunia mereka.


"Helo, Mr. Spencer."


Rigel yang baru saja menghindari kerumunan dan berhasil mundur dari perbincangan dengan Tuan moris dan beberapa rekannya, harus kembali menghela nafasnya berat saat mendengar sapaan itu.


Dia tidak menyangka jika lagi-lagi akan ada orang yang menemukannya. Padahal, Rigel sudah pergi ke tempat yang cukup sepi dengan segelas champagne yang berada di dalam genggamannya.


"Sorry?" tanya Rigel. Karena dia juga tidak tahu siapa pria muda yang ada di hadapannya.


Cukup merepotkan saat Hera tidak berada di sampingnya. Sebab tanpa wanita itu, Rigel jadi tak tahu siapa saja orang yang menghampiri dirinya. Hera terlalu sibuk dengan apa yang dia lakukan sekarang, mendampingi Tuan Moris dan Jeanne untuk berbicara dengan para tamu undangan.


Sebenarnya beberapa saat lalu, Rigel juga bersama mereka. Sebelum akhirnya Rigel berpamitan untuk pergi ke toilet sebagai alasan. Dimana sebenarnya dia hanya ingin menjauh sejenak dari keramaian dan pembahasan yang tidak dia mengerti di antara mereka semua.


"Kenalkan, aku Andrey, Andrey Sinclair," ucap pria yang sejak tadi menunjukan senyumnya pada Rigel.


Rigel sendiri tak mengerti dengan arti senyuman yang pria itu tunjukan. Apakah memang senyuman untuk menyapanya dengan ramah, atau justru sebaliknya.


"Rigel. Rigel Zach Spencer," ucap Rigel kemudian untuk ikut memperkenalkan namanya.


Dengan kedua tangan mereka yang kini sudah saling berjabatan untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya, Rigel segera melepaskan kembali jabatan tangan mereka saat Andrey menatapnya dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan.


"Senang akhirnya bisa bertemu dengan seseorang yang selalu Tuan Moris katakan padaku. Kukira dia hanya membual soal dirimu, tapi ternyata kau memang sudah bersamanya," ujar Andrey kemudian.


Jujur saja, Rigel tak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Andrey. Apalagi, dengan apa yang dia katakan soal Tuan Moris yang selalu mengatakan padanya. Membuat Rigel juga lantas penasaran apa yang sebenarnya dikatakan Tuan Moris pada orang-orang tentang dirinya, termasuk dengan Andrey di sana.

__ADS_1


Pun begitu, Rigel hanya menunjukan senyuman tipisnya pada Andrey di sana. Dia juga tidak memiliki kata untuk diucapkan pada pria itu. Dia benar-benar tidak mengenalnya sedikit pun.


"Aku ingin tahu, apa yang kau miliki sampai bisa bergabung dan melanjutkan bisnis Big boss."


Lantas Rigel mengernyit dengan apa yang dikatakan oleh Andrey. Pasalnya, Andrey mengatakan itu dengan senyuman yang nampak meremehkannya. Bertingkah seolah dia telah meremehkan Rigel di sana. Membuat Rigel paham jika pria itu sejak tadi tersenyum bukan karena mencoba bersikap ramah atau semacamnya.


"Rigel!"


Baru saja Rigel hendak membalas ucapan Andrey, dia justru malah mendapati seseorang memanggil namanya. Seorang wanita yang kini melangkah cepat ke tempat dimana Rigel sedang berhadapan dengan Andrey.


"Wow, beautiful Hera. Nice to see you, Baby," ucap Andrey berantusias saat melihat Hera yang sudah mendekat ke arahnya.


Senyumannya berubah, bukan lagi senyuman yang sebelumnya ditunjukan pada Rigel. Sekarang, Andrey nampak menunjukan senyuman yang sok manis, genit, menggoda. Ya, seperti itu yang terlihat di mata Rigel.


Mengabaikan sapaan Andrey di sana, Hera sudah lebih memilih untuk meraih salah satu tangan Rigel, dan membawanya ke dalam genggaman. "Ayo, pergi dari sini, Rigel," ajaknya.


Bukannya mengikuti Hera dan segera pergi dari sana, Rigel justru malah menahan langkahnya. "Tidak, aku sudah cukup lelah," ucapnya begitu saja.


"Apa kau mengabaikan aku? Apa itu karena apa yang aku lakukan padamu sebelumnya? Ayolah, Hera. Aku saja tidak sampai menempelkan bibirku pada bibirmu itu," ujar Andrey.


Mendengar itu, Rigel ikut menoleh secara bersamaan pada Andrey dengan Hera. Rigel sudah menatap Andrey penasaran, berbeda dengan Hera yang sudah menunjukan tatapan tajamnya. Sebelum akhirnya, Hera kembali menatap Rigel, seolah memohon pada pria itu lewat sorot matanya.


Membuat Rigel yang paham dari arti tatapan Hera lantas membalas genggaman tangan wanita itu. Dia meneguk isi gelasnya sampai habis dsn menyimpannya pada meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Ayo," ucapnya kemudian.


Hingga tanpa berbasa basi lagi, Hera menarik tangan Rigel untuk berjalan menjauh. Meninggalkan Andrey yang kini tersenyum miring. Jujur saja, Rigel menyimpan beberapa pertanyaan tentang Andrey.


"Siapa dia?" tanya Rigel begitu dia merasa sudah cukup menjauh dari Andrey berada.

__ADS_1


"Jangan percaya apapun yang dia katakan. Dan jangan pernah berharap dia orang yang baik," jawab Hera dengan cukup dingin.


Rigel menaikan satu alisnya dengan langkah yang sudah dia hentikan. Membuat Hera mau tak mau ikut menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rigel. "Aku bertanya siapa dia, Hera. Jawabanmu tidak tepat," ucap Rigel.


Hera menghela nafasnya. Matanya juga sempat terpejam untuk sepersekian detik. "Dia juga salah satu rekan Tuan Moris. Andrey juag memiliki bisnis yang sama dengan yang dimiliki Big boss. Dan dia adalah pria yang licik," jawab Hera.


Rigel sudah menunjukan raut wajah yang begitu serius. Pantas saja Andrey terlihat begitu meremehkan dirinya. Mungkin Andrey merasa jika Rigel tak pantas untuk bersaing dengannya.


"Apa dia mencoba menci*mmu?" tanya Rigel tiba-tiba.


Dimana selanjutnya, Rigel dapat melihat Hera yang terkejut atas pertanyaan yang dia berikan. Wanita itu terlihat tak menyangka jika Rigel akan memberikan pertanyaan seperti itu.


"A–apa maksudmu?" tanya Hera kembali dengan kegugupan yang dia rasakan.


"Andrey mengatakan soal bibir tadi. Apa dia memang berniat seperti itu sebelumnya?"


"Tidak. Kenapa kau malah bertanya seperti itu. Tidak seharusnya kau menan—"


"Karena aku juga melakukan hal yang sama. Bahkan aku sendiri juga malah mendapatkannya. Ci*man pertamamu," potong Rigel cepat.


Hal yang membuat Hera juga tak bisa berkata-kata lagi. Dia menghela nafasnya sembari menghindari tatapan mata Rigel padanya.


"Sebentar, bukankah itu dia?" ucap Hera saat dia malah menemukan sesuatu yang dapat mengalihkan apa yang tengah dia bahas bersama Rigel di sana.


"Apa?" tanya Rigel yang telah mengikuti arah pandangan Hera.


Dan ya, sama seperti Hera. Rigel sempat terdiam saat menatap ke arah sana.

__ADS_1


"Ya, itu dia. Dua penghianat itu," ujar Rigel dengan genggaman tangannya pada Hera yang semakin kuat.


Membuat Hera menoleh dengan cepat pada Rigel dan menahan sedikit rasa sakit yang dia rasakan sekarang. "Kau, baik-baik saja, Rigel?"


__ADS_2