Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Janji palsu


__ADS_3

"Kau, benar-benar ingin aku melakukan semua itu untukmu?"


Rigel sadar, jika respon Hera tidak mungkin akan langsung positif. Terlihat jelas sekarang, setelah dia mengatakan semuanya pada Hera, wanita itu bahkan segera bangkit dari duduknya dan menatap Rigel tak percaya. Denhan kepala yang berkali-kali dia gelengkan tak percaya dengan segala rencana yang diucapkan Rigel pada dirinya.


Sungguh, Rigel juga jadi merasa tak enak sendiri saat melihat respon Hera yang seperti itu. Dia sadar kalau dia juga tak mungkin melakukan semua itu saat Hera tak menyetujuinya, apalagi tak menyukainya. Dia todak akan mungkin memaksa Hera melakukan apa yang disarankan oleh Jeanne padanya.


"Kau sendiri yang merencanakan semua itu?" tanya Hera sekali lagi saat Rigel tak juga menjawab pertanyaan yang sebelumnya.


Kali ini Rigel telah menggelengkan kepalanya untuk merespon apa yang dipertanyakan oleh Hera. "Iya, aku sendiri yang merencanakannya."


Rigel berbohong. Dan dia dengan sengaja melakukannya. Karena tidak mungkin jika dia mengatakan yang sesungguhnya. Dimana Jeanne lah yang memberikan saran seperti ini. Rencana gila yang mungkin akan membahayakan Hera jika saja itu gagal. Karena Rigel juga paham kalau hubungan antara Jeanne dan Hera memang tidak begitu baik. Mereka bisa berdebat kapan pun, apalagi dengan masalah yang cukup besar seperti ini juga.


"Kenapa kau tidak ingin mendengarkan permintaanku dan malah merencanakan hal lain?" tanya Hera pada akhrinya.


Rigel masih bisa merasakan kekecewaan Hera yang ditunjukan soal penolakan Rigel terhadap tawarannya, soal Hera yang meminta untuk dihamili dan dinikahi secepat mungkin. Sebelum wanita itu terlanjur dinikahkan dengan pria bernama Andrey yang tidak disukai oleh Hera sendiri.


"Hera, aku tahu ini gila. Tapi tidak lebih gila dari apa yang juga kau tawarkan padaku. Kau juga berhak menolak tawaranku ini. Meski pun sedikitnya aku juga berharap padamu untuk melakukan ini. Karena dengan rencana itu, aku atau pun kau, kita sama-sama akan mendapat keuntungan masing-masing," ucap Rigel tanpa ingin menyerah begitu saja.


Ya, ini saatnya dia kembali menunjukan sisi lain dari dalam dirinya menunjukan bagaimana dominannya dia yang mungkin akan terlihat sedikit lebih tega daripada dirinya yang biasanya.


Lantas hal itu juga telah berhasil membuat Hera terdiam di tempatnya. Dia telah menatap Rigel dengan begitu lekat, bersamaan dengan Hera yang juga telah kembali mendudukkan tubuhnya di samping Rigel.


"Berapa lama?" tanya Hera pada akhrinya.


Rigel sempat kehilangan fokusnya. Dimana dia kini malah menatap Hera dengan kedua alis yang sudah terangkat. "Ya?"

__ADS_1


"Berapa lama aku harus menjalani peranku sebagai tunangan Andrey sampai kau mendapatkan apa yang kau butuhkan?" tanya Hera lagi. Dengan pertanyaan yang lebih detail.


Sampai pada akhirnya Rigel sadar, kalau Hera mulai kalah akan dirinya. Atau justru, Hera memang mulai cukup tertarik dengan penawaran yang diberikan oleh Rigel padanya.


"Secepatnya dua minggu. Bisa lebih cepat atau bahkan lebih lambat. Tapi, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu juga," jelas Rigel kembali menatap Hera dan mencoba untuk meyakinkannya.


Hera nampak menghela nafasnya saat mendengar penjelasan dari Rigel. Dimana dengan sorot mata yang begitu teduh, dia menatap Rigel dengan begitu lekat. Membuat Rigel bertanya-tanya akan maksud dari pandangan mata tersebut.


"Dan kau berjanji akan membawaku pergi dari Tuan Moris setelah itu?" tanya Hera dengan suara yang terdengar cukup lirih.


Rigel mengangguk dengan yakin. Dia mengiyakan Hera di sana. "Aku berjanji. Aku akan membawamu bersamaku, sejauh mungkin dari Tuan Moris dan segala hal yang mengekangmu. Kita akan pergi setelah aku juga menyelesaikan semuanya," ucap Rigel meyakinkan.


Bagaikan sihir yang mampu menghipnotis Hera, wanita cantik itu pada akhrinya telah menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan melakukannya."


"Terima kasih, Hera." Pun begitu Rigel tetap berterima kasih pada Hera.


Karena mulai sekarang, dia juga akan melibatkan Hera ke dalam urusannya.  Dia yang akan memanfaatkan wanita itu dalam bisnisnya. Rencana licik yang akan membuat bisnisnya lebih berkembang daripada hari pertamanya ini.


Hera hanya bisa mengangguk tanpa mengatakan apa pun lagi. Dimana jujur saja, hal itu membuat Rigel menjadi tidak enak sendiri padanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Rigel juga membutuhkannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Harta yang akan dia jadikan senjata balas dendam pada orang-orang yang telah merendahkan dan menghinanya. Terkhusus, dua pengkhianat yang telah banyak melukai hatinya.


"Mau pulang bersamaku?" tanya Rigel pada Hera.


Dia akan berhenti sejenak untuk membahas soal tawaran bisnis ini. Mengganti topik untuk mengajak Hera pulang bersamanya karena dia juga memang berniat kembali ke rumah.


Namun, Hera terlihat menggelengkan kepalanya di sana. Dia menolak ajakan Rigel untuk pulang bersama. "Aku masih harus berada di sini sampai makan malam. Aku harus mengurus semua ini karena Tuan Moris akan datang kemari besok. Dia akan mengadakan acara bakti sosial yang akan diliput oleh beberapa media. Dia ingin aku memastikan kalau semua persiapan untuk besok beres."

__ADS_1


Apa yang dikatakan Hera membuat Rigel mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah," ucap Rigel pada akhrinya dengan canggung.


Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi di saat seperti ini. Maka, setelah beberapa saat saling terdiam, Rigel telah bangkit dari duduknya. Dia menatap Hera dengan tangan yang sudah bergerak untuk mengusap tengkuknya sendiri.


"Kalau begitu, haruskah aku kembali sekarang? Mungkin, kau juga harus melanjutkan kembali apa yang sedang kau lakukan di dalam," ucap Rigel pada Hera.


Karena nyatanya, mereka kini lebih memilih untuk berbicara di area taman bermain pada panti tersebut.


Hera ikut mengangguk mendengarnya. Dia juga sudah ikut bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan Rigel. "Iya, aku harus kembali ke dalam."


Dan sekali lagi, Rigel juga menganggukkan kepalanya mengerti. Tapi, dengan tubuh yang masih saja terdiam di tempatnya. Tidak beranjak dari sana seperti apa yang dia katakan sebelumnya.


"Masih ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Hera yang melihat keterdiaman Rigel di tempatnya.


Rigel menggeleng dengan cepat mendengar pertanyaan itu. Diaman dia sudah menunjukan senyuman tipisnya pada Hera dsn berbalik, melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Hera di sana.


"Rigel!"


Baru beberapa langkah Rigel berjalan, suara panggilan dari Hera itu kembali di dengar oleh Rigel. Yang membuat dia lantas kembali menoleh pada wanita yang kini berdiri menatap ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Rigel penasaran. Dimana dia malah berdebar sendiri sembari menunggu jawaban Hera. Dia benar-benat gugup dan membayangkan Hera akan mengatakan hal yang penting padanya.


Sampai pada akhirnya, Hera menjawab, "Bisakah kau bantu aku membenarkan beberapa barang lain di dalam?!"


'Sial! Ternyata salah!' batin Rigel.

__ADS_1


__ADS_2