
Menyusun rencana ini dan itu bersama Eddie membuat Rigel tak sadar jika waktu berlalu begitu cepat. Matahari sudah mulai kembali tenggelam. Menunjukan jika ini waktunya untuk mereka kembali ke hunian mereka masing-masing. Melupakan sejenak tentang pekerjaan dan bisnis yang mereka kelola untuk mengistirahatkan tubuh juga isi kepala yang telah berpikir seharian.
"Kenapa mobilmu?" tanya Rigel begitu dia berjalan keluar.
Sekarang, dia telah mendapati Eddie tengah berkacak pinggang di depan mobil milik pria itu sendiri. Dengan raut wajah yang terlihat begitu masam.
"Bocor. Padahal, tadi sepertinya baik-baik saja," jelas Eddie dengan helaan nafas berat yang telah dia lakukan di sana.
"Benarkah? Apa di sini ada bengkel yang dekat?" tanya Aldrich kemudian.
"Ada, aku juga sudah menelpon mereka karena kebetulan aku kenal dengan pemilik bengkelnya. Tapi, mereka mengatakan kalau hari ini tidak bisa datang karena bengkelnya tutup. Dan hanya itu satu-satunya bengkel terdekat.
Kalau aku menghubungi bengkel lain, kebanyakan dari mereka pasti akan menolak mengingat jarak yang jauh," jelas Eddie dengan raut wajah yang semakin suram saja.
Terdiam sejenak dengan kunci mobil yang dia mainkan di tangannya, Rigel menatap mobil milik Eddie dan pria itu secara bergantian. "Mau aku antarkan ke rumah saja, Eddie?" tanya Rigel memberikan penawaran padanya.
Namun, Eddie malah menatap Rigel dengan ragu. "Kau yakin? Tapi, rumahku cukup jauh dari sini dan berlawanan arah dengan tujuanmu," ujar Eddie dengan sungkan.
Tersenyum lebar dengan tangan yang sudah menepuk pada bahu Eddie, kini Rigel tiba-tiba saja melempar kunci mobilnya pada pria itu. "Kalau memang merasa tak enak, kau yang menyetir sampai rumahmu!" Serunya.
Lantas senyuman Eddie juga telah tersungging setelah Rigel berujar demikian. Kalau sudah seperti ini juga dia tidak bisa menolaknya. Apalagi, saat kunci mobilnya sudah berada di tangannya sedangkan Rigel sendiri sudah berjalan masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping kemudi.
"Baiklah. Thanks, Tuanku!" Seru Eddie dengan senang.
Tak dapat dia sangka kalau Rigel memang sebaik itu. Ternyata, tidak terlalu menyebalkan juga seperti apa yang dia duga di awal.
Melewati jalanan yang cukup lenggang, keduanya banyak mengobrol tentang ini dan itu. Nyatanya, baik Rigel atau Eddie memang memiliki banyak kesamaan. Membuat mereka menjadi lebih akrab lagi setelah ini. Apalagi, yang dibahas mereka sekarang bukan lagi soal pekerjaan. Tapi, obrolan santai seperti mereka yang suka minum kopi, selera musik dan semacamnya.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, senyuman Rigel harus memudar saat Eddie telah membelokkan mobilnya pada sebuah perumahan yang tidak asing untuk dirinya.
"Eddie, rumahmu di sekitar sini?" tanya Rigel memastikan.
Eddie yang tengah asyik menyetir menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan Rigel. "Iya, apa aku tidak pernah mengatakannya padamu? Aku baru saja pindah kemari bersama istriku beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya, kita juga menang mencari tempat tinggal yang lebih dekat denhan tempat kerja istriku. Jadi kita berdua memutuskan untuk pindah kemari."
Bukannya fokus mendengarkan penjelasan Eddie dan ceritanya di sana, Rigel justru malah terdiam dan menatap lurus ke depan. Dengan pikiran yang lantas berkelana ke dalam memori yang tersimpan di dalam sana. Memori buruk yang jelasĀ membuat hatinya kembali teriris dengan pilu, sesak dan begitu menyedihkan sekali.
"Rigel? Rigel!" Panggil Eddie dengan sedikit menaikan nada bicaranya di akhir panggilan.
Sebab, beberapa kali dia memanggil nama Rigel, pria itu malah terdiam dan tenggelam di dalam lamunannya. Membuat Eddie harus sedikit berteriak saat memanggilnya.
"Oh, iya? Kenapa?" ujar Rigel cepat. Dimana dia yang segera menarik diri ke dalam kesadarannya.
Eddie menatap Rigel, memperhatikan pria itu dengan serius. "Kau baik-baik saja?"
Eddie mengernyitkan dahinya menatap Rigel. "Kau benar-benar baik -baik saja? Tapi, kurasa kau tidak seperti itu."
Rigel terkekeh. "Kenapa seperti itu. Aku baik-baik saja, kok."
"Kau yakin? Tapi kau bahkan tak sadar kalau aku sudah menghentikan mobilnya bukan?"
Sial! Eddie benar. Rigel tak sadar kalau mereka telah sampai di depan perumahan milik Eddie. Membuat Rigel menghela nafasnya dalam dan tersenyum kaku sembari mengusap tengkuknya sendiri. "Ah, maaf, aku terlalu banyak melamun."
Eddie menepuk pundak Rigel di sana. "Tenangkan pikiranmu, jangan memikirkan soal pekerjaan terus. Mau mampir dulu tidak? Sepertinya kau butuh minum atau semacamnya terlebih dulu. Istriku juga bisa membuatkan makanan untukmu," ucap Eddie yang sekarang suda turun dari mobil bersama dengan Rigel.
__ADS_1
Rigel segera menggeleng dengan cepat. "Tidak, tidak apa-apa. Tak perlu, aku baik-baik saja. Aku akan segera pulang sekarang, Hera juga pasti sedang menungguku."
Eddie akhirnya mengangguk. Dia juga tahu kalau Rigel memang tinggal di tempat Hera.
"Kalau begitu, aku akan pulang dulu, Eddie," ujar Rigel yang sudah duduk di balik kemudinya.
Eddie tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baik, terima kasih tumpangannya. Hati-hati di jalan dan jangan melamun!"
Sebuah anggukan ditunjukan Rigel sebelum akhirnya melajukan mobilnya pergi meninggalkan Eddie di sana. Rigel sendiri berniat untuk bergegas pulang. Akan tetapi, saat dia melewati beberapa rumah dari rumah Eddie sebelumnya, laju mobil itu lantas melambat, tepat di depan sebuah rumah yang dia datangi sebelumnya.
Rumah Erina, mantan istrinya dengan suami barunya yang merupakan adiknya sendiri, Roby.
Hati Rigel mencelos saat menatap rumah tersebut. Sampai tak sengaja dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mereka. Menatap lampu rumah tersebut yang masih menyala. Menunjukan jika merek berdua ada di dalam dan masih belum tertidur.
"Aku merindukan kalian," gumam Rigel.
Bagaimana pun, tak dapat dipungkiri jika Rigel memang merindukan keduanya. Walau pun rasa benci yang lebih mendominasi.
Dia merindukan kenangan mereka bersama. Dengan sang adik yang dia sayangi, atau sang istri yang dia cintai. Kenangan yang hanya akan menjadi cerita yang membawa luka.
"Aku akan membuatmu memohon di bawah kakiku untuk kembali bersamaku, Erina. Akan aku buat kau melakukan semua itu," gumam Rigel sekali lagi. Dimana dia sudah mengepalkan tangannya dan memukul stir mobilnya sendiri di sana.
Namun, alih-alih dia segera beranjak pergi dari sana, Rigel malah turun dari mobilnya. Dia meraih satu batu dengan seukuran telapak tangan. Dimana selanjutnya, dia kembali naik ke dalam mobilnya. Dan dalam hitungan satu sampai tiga, Rigel segera melempar batu tersebut tepat pada pintu gerbang rumah mereka.
Batu yang mengenai gerbang besi itu lantas menimbulkan bunyi berisik. Membuat Rigel dengan cepat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Brengsek!" makinya.
__ADS_1
Sebelum pada akhirnya, Rigel telah tertawa seorang diri sembari melajukan mobilnya. Apa yang dia lakukan, sedikitnya hanya awal dari pembalasannya pada dua orang tersebut.
"Kali ini mungkin hanya batu yang dilempar ke gerbang rumah kalian. Tapi, selanjutnya, biar aku lemparkan masalah besar pada kalian berdua!"