Dendam Sang Mantan Suami

Dendam Sang Mantan Suami
Box Bayi


__ADS_3

Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, kini Rigel tengah berada di dalam perjalan untuk menghampiri Hera. Bermodalkan alamat yang diberikan Hera dan GPS yang terpasang pada mobil tersebut yang sudah menuntunnya tanpa takut tersesat atau semacamnya.


Dan selama perjalanan itu pula, Rigel telah memikirkan beberapa hal yang telah memenuhi kepalanya. Termasuk dengan keputusan yang akan dia bahas bersama Hera saat ini juga. Suatu hal yang sebenarnya masih membuat dirinya cukup ragu, apakah mungkin dia benar melakukan hal ini, atau malah menjadi sebuah masalah.


"Panti asuhan?" gumam Rigel bertanya-tanya dalam dirinya sendiri. Saat dia sudah sampai pada tujuannya. Tempat dimana Hera berada saat ini.


Pin begitu, Rigel segera meraih ponsel miliknya. Berniat menghubungi Hera jika dia telah sampai pada alamat yang diberikan wanita itu. Sebelum pada akhrinya, dia telah mendapati seorang wanita yang setengah berlari menuju ke arahnya. Dengan rambut yang terikat, Rigel bisa hafal betul siapa wanita yang kini tengah mendekat padanya.


Dan Rigel sendiri sudah memilih untuk memasukan kembali ponselnya ke dalam saku, dan lantas turun dari mobil yang dia kendarai itu. Berdiri tepat di hadapan mobilnya sembari menunggu Hera yang kini tengah terburu-buru mendekat ke arahnya.


"Rigel!" Panggil Hera begitu dia tinggal berjarak beberapa meter dari Rigel berada.


"Kenap—"


"Ikut aku. Kita bicara nanti. Kau harus membantuku terlebih dulu. Beruntung kau datang tepat waktu," ujar Hera yang sudah menarik tangan Rigel dengan cepat.


Rigel cukup kebingungan dan bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi. Dimana dia sendiri bahkan seperti tak dipersilahkan untuk berbicara sama sekali. Saat Hera hang juga telah memotong pembicaraannya.


Tapi, bersamaan dengan itu, Rigel juga hanya bisa mengekor di belakang Hera yang sudah menarik tangannya. Berjalan memasuki area panti. Tanpa melakukan penolakan atau semacamnya, saat dia juga cukup merasa penasaran apa yang telah membuat Hera seperti ini.

__ADS_1


"Kemari," ajak Hera lagi yang sudah membawa Rigel masuk ke dalam sebuah ruangan yang bisa Rigel lihat sepertinya itu adalah kamar.


Sebenarnya, Hera sendiri tak perlu memerintahkan Rigel untuk mengikutinya lagi. Karena tanpa perintah tambahan seperti itu pun sejak tadi Rigel hanya bisa membiarkan dirinya ditarik oleh wanita itu. Membuat langkahnya dengan terpaksa mengekor di belakang Hera.


"Tolong aku," pinta Hera saat langkahnya sudah terhenti.


Dengan tangan Hera yang sudah lepas dari tangan Rigel, wanita itu telah menunjuk kedua tangannya pada arah depan. Membuat Rigel juga pada akhrinya telah menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Rigel. Demi melihat apa yang sebenarnya tengah dimaksud oleh wanita itu di sana.


Tepat setelah Rigel menatap apa yang ditunjuk oleh Hera. Dia lantas mengernyitkan dahinya. Kembali menatap Hera dengan tatapan yang tak begitu mengerti. Dia benar-benar telah mengernyit dengan heran pada wanita itu.


"Apa maksudmu, Hera?" tanya Rigel pada akhirnya.


Karena jujur saja, dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan permintaan tolong Hera sekalipun dia juga sudah menoleh ke arah yang ditunjuk Hera di sana. Dimana dia malah mendapati seorang bayi yang tengah tertidur lelap di atas kasur lantai.


Dan itu, lantas membuat Rigel terdiam sejenak sembari menatap bayi itu dan Hera secara bergantian, membuat Rigel juga lantas sadar kalau di dekat bayi itu ada sebuah box bayi. Membuat kekehan Rigel lantas terdengar setelahnya.


"Astaga, Hera. Aku kira kau membawaku dengan tergesa karena apa, ternyata hanya karena ini!" Seru Rigel tak habis pikir lagi.


Dia pikir, Hera membawanya dengan terburu-buru karena ada hal penting yang harus dia lakukan dan benar-benar urgent untuk dibantu oleh Rigel saat itu juga. Siapa sangka, kalau Hera hanya ingin meminta Rigel membenarkan box bayi yang terlihat rusak.

__ADS_1


"Kenapa malah tertawa seperti itu? Ini juga benar-benar penting. Bayi iyu tak bisa lebih lama tidur di lantai. Kondisinya sedang lemah, tidur di lantai hanya akan membuat kondisinya memburuk," ujar Hera dengan tatapan yang terlihat tak suka saat menatap Rigel yang menertawakannya.


Melihat hal itu, membuat Rigel jadi tak enak sendiri. Dia lantas berdeham sebelum akhirnya berhenti terkekeh dan mengusap tengkuknya sendiri. "Baiklah, maaf. Aku tidak tahu," ucapnya cukup merasa bersalah.


Hera kini hanya menunjukan raut wajah yang dingin saat mendengar Rigel berkata demikian. Sebelum akhirnya dia berjalan mendekat pada bayi berusia empat bulan itu dan membawanya ke dalam gendongannya. "Alat-alatnya ada di dekat box itu. Aku tidak tahu apa saja yang akan dibutuhkan, tapi kata ibu panti di sini, itu alat-alat yang cukup lengkap," ujar Hera dengan suara yang terdengar begitu dingin.


Rigel juga sadar, kalau Hera tengah menunjukan kekesalannya atas apa yang dikatakan dan dilakukan Rigel. Tapi, meski begitu Rigel juga tak berniat membujuknya. Dia kini hanya berjalan tanpa bicara apapun lagi pada box itu dengan beberapa alat yang tersedia di dalam kotak peralatan yang tak jauh dati box bayi tersebut.


Rigel nampak memperhatikan box bayi itu dengan seksama. Seolah tengah mencari tahu apa yang salah dan apakah itu bisa dia perbaiki atau tidak. Sampai pada akhrinya, begitu dia menemukan letak masalahnya, dia telah menoleh pada Hera.


"Bukan rusak. Ini hanya perlu dikencangkan lagi saja," ujar Rigel yang kini sudah kembali fokus pada box bayi yang ada di hadapannya.


Yang dia maksud di sana adalah baut pada box tersebut yang hampir terlepas. Untuk itu kini dia juga telah mengambil sebuah obeng untuk membenarkan baut tersebut. Hingga tak membutuhkan waktu lama untuk Rigel membenarkan beberapa baut yang nyaris terlepas dan membuat Box bayi itu kembali rapi.


"Selesai," ujar Rigel.yang sudsh kembali menyimpan obeng yang ada di tangannya. Dia juga kini telah menoleh pada Hera yang sedang menggendong bayi perempuan tersebut. "Kau bisa menidurkannya lagi di box. Sekarang akan lebih aman," ujar Rigel lembut.


Terdengar berhati-hati sekali karena sepertinya, Rigel tak ingin membuat Hera semakin bersikap dingin padanya. Karena bagaimana pun, kehadirannya di sini sekarang adalah untuk membujuk Hera melakukan hal yang akan membantu dirinya dalam bisnis yang sekarang dia pegang.


Hera terlihat menganggukkan kepalanya. Dimana dia juga sudah membaringkan bayi kecil itu ke dalam box dan menyelimutinya.

__ADS_1


Rigel dapat melihat Hera tengah tersenyum saat mengusap pipi bayi itu dengan lembut. Menunjukan bagaimana penyayangnya Hera pada anak kecil yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Dan jujur, itu membuat Rigel menjadi terpukau. Bukan hanya parasnya yang cantik ternyata Hera juga memiliki hati yang lembut dan terlihat cantik.


"Ayo, kita bicara di luar," ajak Hera yang telah menyadarkan Rigel dari lamunannya akan dirinya.


__ADS_2