
"Rigel, kau sudah pulang?"
Suara lembut itu terdengar saat Rigel baru saja memasuki sebuah rumah yang belakangan ini telah dia tinggali. Dimana seorang wanita dengan pakaian kasualnya itu sudah menyambutnya di depan pintu utama yang baru saja dia buka.
"Oh, Hera. Iya, aku baru saja pulang," jawab Rigel kemudian.
Rigel sendiri tidak tahu kenapa Hera seolah bersikap tengah menyambut kedatangannya. Belum lagi dengan senyuman lebar yang juga telah wanita itu tunjukan padanya. Sebuah senyuman yang sama sekali tidak Rigel ketahui artinya.
"Ada apa, Hera? Apakah kau menungguku pulang?" tanya Rigel pada akhirnya. Dia juga tidak bisa diam saja saat mendapati hak yang begitu canggung ini.
Maka, sembari melangkahkan kakinya masuk, dan kembali menutup pintu utama itu dengan rapat, Rigel menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh wanita di sampingnya. Berharap jika wanita itu tidak memberikan jawaban yang rumit atau bahkan memusingkan.
"Tidak juga, aku berniat pergi keluar dan saat aku bersiap keluar pintu, aku mendengar suara mobilnya yang berhenti," jawab Hera.
Dan ya, setidaknya jawaban itu cukup membuat Rigel tenang. Karena dia akan merasa tidak nyaman kalau saja Hera malah menjawab jika dia benar-benar menunggu Rigel pulang dan dengan sengaja menyambutnya. Rigel tidak ingin membuat dirinya semakin kesulitan dan merasa bersalah pada wanita itu.
"Lalu?" tanya Rigel yang kini sudah menghentikan langkahnya.
"Ya?" Respon Lyra yang juga sudah menghentikan langkahnya. Menatap Rigel dengan cukup kebingungan.
"Tadi, kau mengatakan akan pergi keluar, Hera. Lalu, kenapa kau malah mengikuti ku untuk masuk ke dalam lagi?" tanya Rigel dengan satu alis yang telah terangkat saat menatap wanita itu.
Mendengar hal itu, lantas Hera membuka mulutnya dan mengangguk pelan. "Ah, itu. Iya, karena kau sudah pulang. Ada yang harus aku bicarakan juga padamu. Jadi aku ikut masuk kembali mengikutimu. Apa aku tidak boleh melakukannya? Apa kau merasa tidak nyaman dengan ini?" tanya Hera kemudian. Saat dia sadar Rigel tidak begitu menunjukan respon yang baik.
Namun, Rigel dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia membantah apa yang baru saja ditanyakan oleh Hera pada dirinya. "Tidak begitu, Hera. Aku hanya cukup heran saja kenapa kau malah ikut masuk padahal seharusnya kau berjalan keluar."
__ADS_1
Ya, secepat mungkin Rigel membereskan kesalahpahaman Hera. Dia tidak mau kalau wanita itu juga malah kecewa padanya. Dengan maksud Rigel yang memang tidak seperti itu. "Memangnya, apa yang mau kau bicarakan padaku? Ah, iya. Aku juga mau mengayakan sesuatu padamu," ucap Rigel yang teringat sesuatu.
Setidaknya, dia juga harus menceritakan pada Hera yang telah banyak membantunya soal apa yang baru saja dia dapatkan dari Tuan Moris. Mungkin, Rigel juga akan memberikan beberapa nilai uang untuk Hera. Sebagai rasa terima kasihnya.
Kemari, kita duduk di sana dan berbicara sembari duduk saja," ajak Hera yang sudah menarik lengan Rigel untuk berjalan ke arah sofa yang ada di sana.
Tentu saja Rigel juga masih ingat dengan sofa itu. Sofa yang tidak akan dia lupakan. Dimana sofa itu adalah tempat permulaan apa yang dia lakukan bersama Hera. Tempat yang pada akhirnya mengantarkan Rigel pada surga dunia yang dia capai bersama seorang wanita yang masih perawan.
"Rigel? Kau baik-baik saja?"
Panggilan Hera berhasil membuat Rigel segera menarik diri ke dalam kesadarannya. Dia segera mengenyahkan segala pikirannya tentang apa yang terjadi pada malam itu. Malam dimana dia merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa. Malam panas yang dia habiskan dengan Hera, denhan segala kenikmatan yang baru pertama kali dia dapatkan.
Berc*nta dengan perawan.
"Ya? Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Rigel.
Hera terdiam untuk beberapa saat, membuat Rigel cukup bertanya-tanya dan berhasil mengalihkan fokusnya dari memori indah malam itu.
"Tentang Andrey. Ah, sebelumnya aku juga tahu kau baru saja mendapat sedikit pengakuan dari Tuan Moris. Dia memberitahuku beberapa saat lalu. Selamat untukmu, Rigel.
Rigel ikut tersenyum saat Hera juga telah menyunggingkan senyum padanya. "sebenarnya itu juga yang ingin aku katakan padamu. Tidak tahu kalau ternyata Tuan Moris memberitahukan padamu terlebih dahulu."
Hera kembali tersenyum bahkan terkekeh lirih dibuatnya. "Ah, seharusnya aku berpura-pura tidak tahu saja ya tadi. Maaf."
Rigel ikut terkekeh dengan Hera. "Ya, tapi sayangnya sudah terlambat. Jadi, terima kasih Hera. Aku juga bisa mendapatkannya berkat bantuanmu," ucap Rigel.
__ADS_1
Dia mengatakan rasa terima kasih itu dengan tulus. Sungguh, Rigel benar-benar berterima kasih pada Hera dengan sedalam-dalamnya. Wanita itu banyak membantu dan mengorbankan dirinya. Hingga Rigel bisa mendapatkan nominal uang yang besar yang tak pernah dia miliki.
Hera mengangguk, tapi senyumannya memudar secara perlahan.
"Apa semuanya baik-baik saja. Apa Andrey kembali bersikap brengsek padamu?" tanya Rigel pada akhirnya.
Bagaimana pun, Rigel juga cukup merasa khawatir saat melihat Hera seperti itu. Dan kembali mengingat apa yang coba dilakukan oleh Andrey pada Hera, membuat Rigel semakin khawatir lagi dibuatnya.
Dan sebuah gelengan yang ditunjukan Hera telah berhasil membuat Rigel mendapat jawabannya. Karena pada kenyataannya, Hera memang tidak baik-baik saja sekarang.
"Apa yang terjadi?" tanya Rigel sekali lagi.
Hera menghela nafasnya berat untuk yang ke sekian kalinya. Matanya terpejam untuk Beberapa saat. Sebelum akhirnya dia telah kembali menatap mata Rigel yang tengah duduk di hadapannya sekarang.
"Andrey mulai curiga padaku. Dia juga sudah mulai melarangku memasuki beberapa ruangan pribadinya. Dan itu, pasti akan menyulitkan ku kalau ingin mencari beberapa hal yang kau perlukan lagi," ucap Hera yang sudah menunjukan raut kesedihannya.
Iya, sedih. Karena bagaimana pun Hera memang kecewa saat dia sudah tidak bisa lagi membantu banyak hak untuk Rigel.
Bersamaan dengan itu, Rigel segera mengulurkan tangan pada Hera. Mengusap lengan atas wanita itu dengan lembut. Senyumannya juga ikut terlukis di sana. "It's okay, Hera. Tidak apa-apa. Aku juga sudah memutuskan akan mencari cara lain untuk membuat bisnisku lebih berkembang. Selain itu, bukan salahmu juga semua ini terjadi. Justru aku yang harus meminta maaf karena telah memanfaatkan."
Bukannya merasa lega, air mata Hera justru malah menetes. Membuat Rigel terkejut di buatnya. "Hei, kenapa menangis, Hera? Jangan menangis, Hera. Kau sama sekali tidak bersalah," ucap Rigel yang sudah membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Hera menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Rigel. Sedangkan tangannya juga telah terulur untuk membalas pelukan yang diberikan oleh Rigel di sana.
"Maaf, Rigel. Maaf. Aku tidak bisa membantumu lagi. Dan karena itu juga, aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut pada akhrinya aku akan dibuang begitu saja saat aku sudah tidak lagi berguna untukmu."
__ADS_1
Pernyataan itu, sukses membuat Rigel tertegun di tempatnya. Tanpa dia sangka, Hera akan menangis karena memikirkan hal itu. Sesuatu yang juga pernah Rigel pikirkan.
Rigel yang pernah berpikir untuk menjauhi Hera setelah apa yang dia inginkan berhasil di dapatkan. Habis manis sepah dibuang.