Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Bukan Urusanku


__ADS_3

Para tamu berbisik satu sama lain dan segera tahu apa yang terjadi di luar.


Putra angkat dari keluarga Tanujaya jelas hadir dengan tujuan yang tidak baik!


Di masa lalu, keluarga Tjandrawinata membantu keluarga Tanujaya, sikap Handoko sekarang bukankah sama dengan membalas budi dengan dendam?


"Chandra, tidak masalah jika kamu tidak berterima kasih atas budi yang dulu kuberikan, tapi kamu tidak perlu dengan cara begini menghancurkan keluargaku.” Max berkata dengan dingin.


Chandra terlihat sangat cemas, hal yang paling membuatnya khawatir akhirnya terjadi.


Pak Direktur Tjandrawinata, mohon dengarkan penjelasanku, Pram dibawa pergi oleh supervisor jaringan jelas merupakan sebuah kesalah pahaman..."


"Apa yang kamu bicarakan, anakku ditangkap?!" Max berteriak keras.


Chandra terkejut sejenak, keluarga Tjandrawinata tidak tahu tentang masalah ini? Tidak heran dia begitu kebingungan, Grup Tjandrawinata dengan latar belakang yang begitu kuat ternyata tidak mengetahui hal ini! Ini jelas tidak normal!


“Pram ditangkap karena perbuatannya. Apakah kalian puas dengan hadiah ini?” Handoko membalikkan badan dan duduk di kursi, ia bercanda menyilangkan kakinya sambil melihat ekspresi ketidakpastian dari ayah dan anak keluarga Tjandrawinata.


Semua tamu terkejut, ia benar-benar membalas budi dengan dendam, ini terlalu kejam! Anak angkat dari keluarga Tanujaya sungguh kejam!


“Chandra, apakah Pram telah berbuat salah terhadap kalian?” tanya Max.


Chandra menggelengkan kepalanya, Pram sangat menjaga dan memperhatikan Susan, dia sangat puas dengan "menantu laki-laki" ini.


Lalu mengapa keluarga Tanujaya memperlakukannya seperti itu dan membuat keributan pada perayaan hari jadi Grup Tjandrawinata?” Max berteriak.


Wajah Chandra memerah, hatinya penuh rasa bersalah, tetapi dia tidak bisa menegur Handoko di depan umum, dia benar-benar tidak bisa melakukannya!


"Max, kebenaran bukan terletak pada suaramu yang lantang, coba tanyakan pada diri sendiri, pada saat itu apakah keluarga Tjandrawinata yang membantu keluarga Tanujaya bebas dari kesulitan?


Ekspresi wajah Handoko terlihat menekan! Tatapan dingin dan tak kenal ampunnya bagaikan dewa kematian turun ke dunia. Chandra tidak dapat mempercayai matanya, mengapa putra angkatnya menjadi begitu mengerikan?


Lina menundukkan kepalanya dan tidak berani berkata apa-apa, ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ditatap oleh tatapan seperti ini.


Max merasa sekujur tubuhnya dingin dan jantungnya hampir berhenti berdetak.


Astaga, berapa banyak orang yang harus dibunuh baru dapat mengumpulkan amarah yang begitu mengerikan!


Grup Tjandrawinata memulai bisnisnya dengan cara yang tidak terhormat, sebagai seorang yang berpengalaman, Max sangat mengetahui dari mana sumber aura Handoko.


“Keadilan ada di hati rakyat, benar atau tidak, semua orang melihatnya, apakah kamu harus memaksaku untuk menyangkalnya?” Max memiliki mental yang sangat bagus.


Melihat Lina berdiri dengan patuh di belakang Handoko, dia tentu tidak berani bertindak agresif.


Tetapi untuk membuat dirinya mengakui perampasan jasa yang ia lakukan di masa lalu——benar-benar mustahil!


“Menghadapi seorang Toy boy yang hanya tahu mengandalkan wanita, apa yang kalian takutkan?” bisik Felicia Yelvita.


Awalnya tidak masalah, tapi dia lupa bahwa dia akan segera mempersembahkan lagu di atas pentas, mikrofon di depan dadanya masih menyala!

__ADS_1


Semua orang mendengar suara penghinaan dari speaker!


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan!” Ekspresi Theo sedikit berubah, dia segera mengulurkan tangan dan mematikan mikrofon yang ada di depan dada Felicia.


Jika bukan karena di tempat yang salah, ia benar-benar ingin membunuh wanita bodoh ini!


Walau ia seorang Toy boy, tetapi dengan dukungan putri kecil dari keluarga Nugraha, siapa yang berani memprovokasinya? !


“Tuan Muda Tjandrawinata, bukankah anda bisa menghubungi pihak militer dan meminta  pesawat tempur untuk mengawalku, buat apa takut padanya?” kata Felicia dengan marah.


Dia meminta seseorang untuk mengetahui bahwa pesawat tempur bukanlah sesuatu yang dapat dimobilisasi orang biasa, Tuan Muda Tjandrawinata terlalu merendahkan hati.


Para tamu tampak terkejut, semua orang pernah mendengar tentang pengawalan dengan pesawat tempur, tetapi mereka tidak menyangka hal itu dilakukan oleh keluarga Tjandrawinata.


Wajah Lina sedikit berubah, tidak ada yang tahu lebih baik darinya, apa artinya memobilisasi pesawat tempur dengan sesuka hati!


Aku tidak menyangka keluarga Tjandrawinata memiliki kemampuan untuk melakukannya, tidak ada yang tahu selama bertahun-tahun, mereka menyembunyikannya dengan baik.


Apakah akan tambah satu keluarga terkemuka lagi di Pulau Jawa?


Wajah Chandra tampak pucat, ia tak tahu harus bagaimana!


Handoko tidak mengubah ekspresi wajahnya, bahkan ia ingin tertawa: " Theo, apa kamu yakin kamulah yang memobilisasi pesawat tempur itu?"


Theo sudah tidak bisa mengelak, tetapi melihat kekaguman dari mata semua orang, ada rasa kepuasan yang tak terlukiskan.


"Tentu saja, apakah kamu takut? Jika kamu tahu diri, segera berlutut dan minta maaflah. Orang yang tidak tahu membalas budi sepertimu masih memiliki keberanian untuk kembali?!"


“Berlututlah dan tampar dirimu sendiri, jika tidak, jangan berharap keluarga Tanujaya memiliki tempat pijakan di Pulau Jawa! Teriak Felicia dengan penuh kegembiraan di dalam hatinya.


Dia tidak akan pernah melupakan bagaimana wajahnya ditampar pada saat itu, ia ingin membalas dendamnya sejak lama!


Putri kecil keluarga Nugraha tidak ada di sini, aku mau lihat siapa yang akan melindungimu!


Handoko telah berada di kemiliteran selama empat tahun, sudah lama sekali ia tidak merasakan berbagai bentuk kehidupan, adegan hari ini membuatnya sangat bahagia.


Aku hanya ingin tahu berapa banyak orang yang masih mendukung keluarga Tjandrawinata!


“Mereka memperlakukan tamu agungmu seperti ini, apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?” Handoko menolehkan kepalaya dan bertanya kepada Lina.


Wajah Theo sedikit berubah, ia berpikir jika keluarga Ramadhani bersikeras untuk membantu, keluarga Tjandrawinata pasti akan kewalahan!


“Aku hanya bertanggung jawab untuk menjemputmu. Sisanya adalah masalah pribadimu.” Wajah Lina tampak seperti es, ia telah melupakan perintah kakeknya.


Ia malu dengan kepribadian Handoko yang tidak tahu berterima kasih, ditambah lagi dengan kemampuan keluarga Tjandrawinata memobilisasi pesawat tempur, tentu saja tidak boleh membiarkan keluarga Ramadhani terjerumus ke dalam perselisihan ini.


Handoko menggelengkan kepalanya dan tersenyum berkata, "Sepertinya yang kamu ketahui terbatas."


Felicia berteriak: "Kamu ini, Toy boy yang hanya berani bertindak di belakang wanita, semua pria sudah dipermalukan olehmu!”

__ADS_1


Hati Theo sangat senang dan berkata: "Segera berlutut dan minta maaf di hadapanku, jika tidak, akan kupatahkan kakimu!"


Nona keluarga Ramadhani tidak menghiraukanmu, siapa lagi yang bisa menyelamatkan kamu!


Putri kecil keluarga Nugraha kah?


Sayang sekali keluarga Nugraha tidak suka dengan Toy boy yang tahunya cuma mengandalkan wanita!


Jangan! Pukul aku saja, tidak ada hubungannya dengan Handoko! ” Chandra berteriak dan berlutut di lantai.


Jangan melihat ketidaksukaannya pada anak angkatnya, tapi pada saat kritis, dia pasti akan mendukung Handoko.


Karena dia adalah seorang ayah!


“Ayah!” Mata Handoko hampir terbelah, dia bergegas maju untuk memapah ayah angkatnya, di dalam hatinya penuh dengan rasa bersalah!


Handoko, sia-sia kamu sebagai dewa perang wilayah Barat Laut, kepala instruktur utama militer!


Membiarkan ayah angkatmu mendapatkan penghinaan sebesar ini! Kamu benar tidak pantas untuk hidup!


“Handoko, ayo minta maaf, kamu telah salah, keluarga Tjandrawinata lah yang  membantu keluarga Tanujaya!” Teriak Chandra membujuk.


“Tidak boleh, mesti mematahkan kakinya, dia harus dibawa untuk makan malam di penjara. Ia baru saja mematahkan kaki anakku!” Ayah Danu, Janu Prasetya, berteriak keras.


Seketika ada lebih dari dua puluh penjaga keamanan yang memegang tongkat listrik masuk ke dalam ruangan.


Ketika Lina mengungkapkan sikapnya, manajer Hotel Rose sudah tahu apa yang harus dilakukan.


“Tidak, itu tidak ada hubungannya dengan Handoko!” Chandra berusaha meilindungi putra angkatnya.


“Sampai sekarang, apakah kamu masih melindungi orang yang tidak tahu berterima kasih ini? Kalau tahu begini, aku tidak akan menyelamatkan keluargamu saat itu!” Max berkata dengan dingin.


“Tangkap dia dan patahkan kakinya!” Theo berteriak dengan keras.


Lebih dari dua puluh penjaga keamanan maju kedepan, ekspresi Handoko tetap tidak berubah, melambaikan tangannya yang besar!


Adegan mengejutkan terjadi!


Lebih dari 20 petugas keamanan itu terpental jatuh, berguling-guling di lantai, muntah darah dan tidak bisa bangun!


Dewa Perang marah dan darah mengalir ribuan mil jauhnya. Situasi kecil semacam ini tidak berarti apa-apa baginya!


Tatapan mata Handoko sangat dingin, kengeriannya bagaikan gelombang ombak amarah menerpa ayah dan anak keluarga Tjandrawinata.


"Tangkap Theo dan kawal dia ke otoritas Pulau Jawa!"


"Baik"


Kedua anggota tim melangkah maju, menjatuhkan tubuh Theo dan menekan kedua tangannya ke lantai, tidak ada yang tahu kapan mereka masuk.

__ADS_1


Semua orang hanya ingin tahu, apa alasan Handoko menangkap Theo?


Siapa yang memberinya hak itu?


__ADS_2