Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Kehadiran Yovita


__ADS_3

Tapi ada pengecualian.


Kedua kaki Danu dan Raven dipatahkan oleh Handoko karena menghina Susan.


Jika tidak menyentuh batas kesabarannya, maka dia tidak akan membalasnya!


Sebaliknya, dia akan membalas seratus kali lipat!


"Hentikan!" Seseorang tiba-tiba meraung.


Teja dan seorang pria paruh baya berjalan ke ruangan konferensi pers.


Pria paruh baya yang berteriak adalah ayah Gunawan, Joni Madaharsa.


“Mengapa menangkap anakku? Kesalahan apa yang dia lakukan?” Joni bertanya dengan suara keras.


Handoko mengabaikan keberadaannya dan menatap Theo.


Theo hanya merasa dingin di sekujur tubuhnya, seolah-olah dia merasakan tatapan kematian.


Seorang anggota tim operasi menjawab dengan tajam, "Gunawan menghalangi otoritas pusat melaksanakan tugas dan melukai pasukan Dragon, menyebabkan dua mata-mata Dark Net melarikan diri, sampai saat ini mereka masih belum berhasil ditangkap dan dibawa ke pengadilan."


Ini sama sekali bukan rahasia, petinggi di Jawa Tengah tidak ada seorang pun yang tidak tahu kalau Gunawan menyuruh Grup Tiger Security untuk membuat keonaran di tempat kejadian.


Meskipun itu adalah kesalahpahaman, pertanyaannya adalah apakah pasukan Dragon akan meminta pertanggungjawaban atau tidak!


Gunawan baik-baik saja akhir-akhir ini, semua orang mengira masalahnya sudah berakhir.


Ternyata Handoko menangkap orang pada acara konferensi pers.


Itu jelas untuk memalukannya!


“Tuan Muda Madaharsa, tolong selamatkan aku!” desis Gunawan.


Ini adalah satu-satunya tempat sandarannya!


Gunawan tidak tahu bahwa ketika Theo mengetahui bahwa orang yang ia sebut sebagai tokoh besar adalah Teja, hatinya terasa hancur!


Teja menghadapi Yovita seperti kucing melihat tikus, itu sudah menjadi lelucon di kalangan Surabaya.


Mengandalkan dia untuk membereskan Handoko? Omong kosong!


“Ehm...ehm...Kamu adalah bawahan Yovita bukan? Lepaskan Gunawan, ini semua hanya salah paham,” kata Teja dengan suara batuk.


Dia maju dengan terpaksa.


Jika tahu bahwa dibalik undangan Gunawan ada masalah seperti ini, mati pun dia tidak akan datang!


Untung, adik perempuannya tidak ada di sana, jika tidak, dia hanya bisa melarikan diri dengan tak berdaya.


“Siapa kamu?” Handoko berbalik dan bertanya.


“Apakah kamu tidak mengenalku?” Teja terkejut.


“Kenapa aku harus mengenalmu?” Handoko tertawa.


Karena Teja memanggil Yovita dengan panggilan kecilnya, Handoko baru bertanya dengan wajah senyum.


Jika tidak, nasibnya akan seperti Gunawan.


“Aku adalah kakak dari Yovita, Teja, sekarang kamu sudah mengenalku bukan?” kata Teja dengan marah.


Sungguh lucu, pasukan Dragon dari Otoritas Pusat tapi tidak mengenalku.


“Cepat lepaskan Gunawan. Ini adalah pembalasan secara terang-terangan, tahukah kamu?” Teja mengambil keuntungan dari Gunawan sehingga harus membelanya.


Semua orang bereaksi, akan terjadi pertunjukan bagus.

__ADS_1


Handoko bertugas di Otoritas Pusat, apakah dia berani menentang Tuan Muda Nugraha?


Gunawan dengan wajah sombong berpikir dalam hati: “Aku sengaja mengundang tokoh besar untuk menanganimu!”


"Putraku selalu berbisnis dengan integritas dan mematuhi hukum. Bagaimana mungkin dia berkolusi dengan Dark Net? Kamu harus memberi penjelasan kepada keluarga Madaharsa!" Joni berkata dengan dingin.


Hanya dengan begitu dia baru dapat mengembalikan mukanya yang hilang.


“Penjelasan seperti apa yang kamu inginkan?”Handoko berbalik dan bertanya.


Badan Theo tiba-tiba gemetaran, sekali lagi dia memikirkan akhir tragis nasib dari Djani dan Tisna.


"Berlutut dan minta maaf!"  kata Joni dengan tegas.


Ada Tuan Muda Madaharsa di sini, apa yang bisa kamu lakukan, hari ini aku akan menyingkirkan kesombonganmu!


“Tidak seru.” Handoko sangat kecewa.


Kemampuan orang-orang jahat ini hanya begini saja, trik yang dimainkan hanya itu-itu saja.


Ketika semua orang masih memikirkan mengapa dia kecewa, dari arah luar terdengar sebuah suara hujatan yang lembut.


“Teja, siapa yang menyuruhmu kemari!” Yovita melangkah masuk ke dalam ruangan acara, wajahnya penuh amarah.


Ekspresi wajah Teja berubah drastis, orang yang ia takutkan sudah datang, Apa yang harus aku lakukan?


"Kepala Instruktur, maafkan aku..." Yovita merasa bersalah.


Karena dia tahu Teja datang ke Jawa Tengah, makanya dia segera kembali, tetapi untungnya, masih belum terjadi masalah besar.


“Tidak apa-apa.”Handoko melambaikan tangannya berulang kali.


Meskipun Teja suka berfoya-foya, tapi sifatnya masih tidak terlalu buruk.


Melihat muka Yovita, Handoko tidak akan mempermasalahkannya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Mengapa putri kecil keluarga Nugraha begitu lembut pada Handoko?


Theo tidak berdaya, aku sudah tahu inilah yang akan terjadi!


Tokoh besar apaan, apakah mengundangnya untuk di permalukan oleh Handoko?


Jika bukan melihat ayah dan anak keluarga Madaharsa merasa terkejut, Theo akan merasa curiga apakah mereka sedang mempermainkannya!


"Yovita, ini..." Teja penuh dengan pertanyaan.


“Berlututlah!”Yovita berbalik dan memarahinya.


“Puff!” Teja berlutut tanpa ragu-ragu.


Sepertinya hal seperti ini sering terjadi, dan dia sudah terbiasa berlutut.


Semua orang tidak tahu mau berkata apa.


Mengingat apa yang dikatakan Joni barusan.


Dia meminta Handoko untuk berlutut dan meminta maaf, tetapi ternyata yang terjadi adalah seperti ini...


Yovita melangkah ke hadapan Joni dan menamparnya dua kali!


"Kamu juga berlutut!"


Bagaimana mungkin wibawa Kepala Instruktur boleh dihina, Sampah-sampah seperti kalian masih berani menyuruh Kepala Instruktur untuk berlutut?


Joni pusing setelah mendapat tamparan tersebut, Teja sudah berlutut. Apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya bisa segera berlutut ke lantai dengan kakinya yang gemetaran.

__ADS_1


Kali ini, dia telah dipermalukan sepenuhnya, dan keluarga Madaharsa pasti akan menjadi lelucon di antara keluarga terkemuka di Jawa Tengah, ini adalah sebuah penghinaan yang tidak dapat dihapus seumur hidup.


Siapa pun dengan mata yang tajam dapat melihat bahwa acara penandatanganan telah berakhir dan begitu pula dengan Gunawan!


Tapi ada satu orang lagi yaitu Theo!


Dia telah ditangkap saat itu, apakah Handoko akan melepaskannya kali ini?


Semua orang merasakan kekejaman Handoko terhadap musuh, bagaikan dewa pembunuh...


Handoko sedikit mengangkat tangannya.


Yovita segera berteriak: "Orang-orang yang tidak berkaitan segera meninggalkan ruangan, semua media lepaskan peralatan kalian!"


Orang-orang diam-diam berkata dalam hati mereka: Sudah berakhir, Theo pasti mati!


Tidak ada yang berani menghalangi pasukan Dragon dalam menangani kasus, pembersihan ruangan selesai dalam waktu beberapa menit.


Theo tidak bisa menahan rasa takut di hatinya, seluruh tubuhnya bergemetar dengan kuat.


"Yovita..." Teja ingin mengatakan sesuatu.


“Diam! Nanti pulang aku akan membereskanmu!” Yovita menghujatnya dengan suara dingin!


Dia sudah tahu apa yang terjadi minggu lalu, dan dia juga tahu bahwa Budiono pasti akan mati!


Tidak ada yang bisa menyelamatkannya!


Ayah dan anak keluarga Madaharsa penuh ketakutan, bagaimana pun cara mereka memikirkannya, mereka tetap tidak tahu apa latar belakang Handoko.


Putri kecil dari keluarga Nugraha begitu patuh padanya? !


Handoko berjalan ke hadapan Theo.


Handoko bertanya: "Masalah yang sama, jika kamu berkuasa hari ini, apa yang akan kamu lakukan terhadapku?"


Theo penuh ketakutan!


Jika dia mengatakan pemikirannya yang sebenarnya, dengan temperamen Handoko, dia pasti tidak akan melepaskannya.


Tapi jika menyuruhnya untuk menipu dirinya sendiri, dia tidak dapat melakukannya!


"Aku akan membunuhmu, aku hanya benci tidak dapat menghancurkanmu dan membalas dendam orang tuaku yang sudah meninggal!"


Theo meraung marah, melampiaskan keengganannya.


Kalau tidak dikatakan, hatinya tidak akan tenang seumur hidup!


“Seluruh keluargamu mati, apakah kamu tidak berpikir untuk membunuh seluruh keluargaku?” Handoko lanjut bertanya.


Theo dengan wajah penuh kesedihan dan air mata berkata sambil mencibir, "Kesalahan tidak pada keluarga, aku bukan manusia brutal seperti kamu!”


Aku, Theo adalah orang yang memiliki integritas, meskipun aku suka menonjolkan diri sendiri tapi masih memiliki batas kemanusiaan!


“Berani sekali!”Yovita memarahi dengan marah.


Handoko mengangkat tangannya untuk berhenti.


"Bagus, dengan apa yang kamu katakan sekarang, aku ingin memberimu sebuah hadiah besar."


Handoko berkata dengan santai.


“Ayo berikan! Bukankah hanya kematian? Siapa yang takut!”Theo benar-benar telah lepas.      .


Mati pun dia tidak takut, tidak ada lagi yang ia takuti lagi!


“Bawa orangnya keluar.” Handoko berteriak.

__ADS_1


Theo segera menoleh dan melihat kebelakang, dia terkejut ketika melihatnya!


__ADS_2