
Gadis kecil itu selalu mengikuti Handoko kemana-mana sejak dia masih kecil, dan ayah serta ibu angkatnya sibuk bekerja, bisa dikatakan bahwa Sarah dibesarkan olehnya.
“Aku juga merindukan Sarah.” kata Handoko dengan penuh semangat sambil mengelus kepalanya.
“Pembohong, kamu hanya merindukan kakakku.” Ucap Sarah sambil menangis tersedu, dan kata-katanya tidak mungkin dapat dibantah oleh Handoko.
“Ada apa?” Lidya bergegas keluar dari dapur saat mendengar suara di depan pintu.
Dia terkejut saat melihat Handoko, wajahnya sekejap berubah menjadi muram.
“Ibu,” ucap Handoko.
“Heh, kamu salah orang, aku tidak punya anak sepertimu,” kata Lidya sambil mencibir.
“Ada apa ribut-ribut, apa kamu tidak tahu bahwa Sasha sedang tidur?” Chandra Tanujaya turun sambil mengomel.
Melihat Handoko berdiri di depan pintu, ekspresinya juga berubah muram.
“Ayah,” ucap Handoko lagi.
“Kenapa kalian membukakan pintu untuk orang asing!” Teriak Chandra dengan nada kesal.
Handoko sangat terkejut, masalah keluarga Tanujaya telah terselesaikan, mengapa orang tua angkat masih menolakku?
“Kakak bukanlah orang yang jahat, Prathama Tjandrawinatalah orang jahat yang sesungguhnya!” Teriak Sarah dengan keras.
“Anak kecil, kalau kamu bicara sembarangan lagi nanti akan aku hukum.” Chandra menjadi semakin marah.
“Memang benar begitu adanya, kalian hanya percaya padanya, tapi tidak mempercayai kakak!” Ucap Sarah tak mau mengalah.
“Jangan berteriak lagi, ini sangat memalukan.” Lidya menarik keduanya.
Dia menutup pintu “Bam!", kemudian berbalik dan berjalan ke ruang tamu untuk duduk di sofa, tidak menyediakan apapun.
“Kak, ayo ikut denganku.” Sarah menarik Handoko, tidak memedulikan ekspresi kesal dari orang tuanya, “Duduklah, kak!”
Gadis kecil itu mendorong Handoko sampai ke sofa, menghadap orang tuanya dengan dagu terangkat, seperti putri kecil yang arogan.
Suasananya sangat canggung, Handoko menduga bahwa sikap buruk orang tua angkatnya pasti terkait dengan “Prathama Tjandrawinata" yang barusan disebutkan oleh Sarah.
Dalam kondisi seperti ini, tidak ada cara untuk menanyakan hal ini.
Ayah angkatnya memiliki temperamen yang buruk, dan Handoko sudah puas karena tidak diusir olehnya.
Pada saat ini, Handoko mendengar suara samar, ia menoleh dan melihat sekeliling, kemudian melihat seorang gadis kecil berusia satu tahun lebih sedang turun dari tangga dan menatapnya dengan rasa ingin tahu.
“Ini… ini putriku!” Handoko merasa sangat senang, dan tubuhnya sedikit mati rasa!
Handoko telah berlatih selama bertahun-tahun, dan dia dapat melihat sekilas bahwa putrinya telah berlatih “Rahasia Langit" dari pendeta tua!
“Sasha, pelan-pelan dan jangan sampai terjatuh!” Lidya mendongak dan melihat Sasha yang sedang turun dari tangga merasa ketakutan, khawatir bila Sasha akan terjatuh.
Chandra bergerak lebih cepat dan berlari menaiki tangga untuk menggendong gadis kecil itu, ia tidak ingin Handoko bertemu dengan anaknya.
“Huhuhu… aku ingin digendong paman, aku ingin digendong paman!” Sasha menangis dengan kencang.
__ADS_1
Hati Handoko hancur berkeping-keping, ia segera bangkit untuk melangkah maju tapi tidak berani, karena takut membuat orang tua angkatnya marah.
“Apa kau sudah tahu?” Tanya Chandra.
Handoko mengangguk berulang kali, matanya penuh kelembutan, pandangannya tak lepas dari putrinya.
“Huh, Sasha ini, kenapa sifatmu mirip dengan bibimu!” Chandra hanya bisa turun dan menurunkan anak itu.
Mereka membenci Handoko karena ia melarikan diri saat keluarganya menghadapi krisis, tetapi mereka tidak dapat menghalangi ayah dan putrinya bertemu, ini terlalu kejam bagi Sasha.
Sasha segera berhenti menangis saat kakinya menyentuh lantai, dan segera berlari menuju Handoko.
“Pelan-pelan, Sasha!” Lidya berteriak dengan cemas.
Keduanya saling memandang, tetapi mereka hanya bisa menghela napas secara diam-diam, hubungan darah memang benar-benar aneh, ini adalah pertama kali keduanya bertemu, dan Sasha begitu cepat dekat dengan Handoko.
“Paman,” teriak Sasha.
“Hap.” Handoko menggendong putrinya, sekujur tubuhnya terasa kebas karena kegembiraan.
Dia lebih ingin mendengar panggilan “Ayah" dari mulut kecil putrinya, tetapi itu tidak realistis saat ini.
Handoko menyadari bahwa putrinya telah sepenuhnya mewarisi bakat alaminya sendiri dan cocok untuk berlatih, tak heran sang guru mengajarkan Rahasia Langit kepada Sasha.
Rahasia Langit tidak memandang laki-laki ataupun perempuan, muda atau tua, orang yang berbakat dapat dengan cepat mempelajarinya, dan orang yang tidak berbakat tidak akan dapat bisa mempelajarinya sampai mati sekali pun.
“Huh, makanlah di sini siang ini.” Lidya menghela napas dan pergi ke dapur.
“Bu, istirahatlah, biar aku saja!” Handoko menurunkan putrinya, ia beniat untuk memperbaiki hubungan.
“Tidak perlu, aku khawatir kamu akan menaruh racun.” Ucap Lidya sambil memutar matanya.
“Sarah jaga Sasha baik-baik, Handoko, ikuti aku ke atas.” Chandra berkata, betapapun bencinya dia terhadap Handoko, tapi masih banyak masalah yang harus diselesaikan.
“Kak, jangan takut, pergilah!” Sarah menyemangati kakaknya.
Handoko sangat tidak berdaya, bagaimana aku bisa tidak takut dalam kondisi seperti ini?
“Sasha main dulu bersama bibi ya, paman akan main dengan Sasha lagi nanti, oke?”
"Baik, aku menunggumu."
Sasha sangat penurut.
Jika bukan karena ayah angkatnya yang berteriak, dia benar-benar tidak ingin dipisahkan dari Sasha yang imut itu.
Chandra duduk dengan ekspresi muram di ruang belajar di lantai dua.
Handoko menutup pintu setelah ia masuk.
“Mungkin kau sudah tahu, Sansan telah kehilangan ingatannya, dan keadaannya mulai membaik sedikit walau sudah bertahun-tahun. Tidak peduli apakah dia akan mengenalimu atau tidak, aku harap kelak kamu tidak akan mengganggu hidupnya lagi, mengerti?” Chandra berkata tanpa berperasaan.
"Tidak."
Aku mencintainya, tidak ada yang bisa memisahkan kami! "Handoko menolak, ini adalah garis yang tidak bisa dilewati!
__ADS_1
“Heh, kalau keluarga Tanujaya menghadapi krisis lagi, apakah kamu akan pergi lagi seperti yang kamu lakukan empat tahun lalu?” Ucap Chandra menyindirnya.
"Ayah, setelah aku pergi, bisnis keluarga..." Handoko disela oleh Chandra sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
“Apa kamu ingin mengatakan bahwa alasan mengapa keluarga Tanujaya bisa bebas dari krisis adalah berkat pendeta tua yang kamu sebut itu?” Chandra mencibir.
“Meskipun kamu tidak percaya, tapi itu benar adanya.” Nada suara Handoko sangat tegas.
“Sampah, keluarga ini akan hancur tanpa bantuan Grup Tjandrawinata!” Chandra meraung marah, “Apa kamu tahu apa yang aku benci darimu? Jelas-jelas melarikan diri, tapi masih saja mencari segala macam alasan!”
“Ayah…”
"Jangan panggil aku ayah, aku tidak punya anak sepertimu!”
"Handoko, dengarkan baik-baik, aku tidak ingin melihatmu mengganggu Sansan lagi."
Handoko menundukkan kepalanya, takut amarah dan nafsu membunuh di matanya akan membuat ayah angkatnya takut…
Grup Tjandrawinata? Heh, apakah kalian yang menyelesaikan krisis keluarga Tanujaya saat itu?
Beraninya mengambil pujian atas usaha pendeta tua, aku akan membuat kalian menyesal datang ke dunia ini!
"Untuk membalas kebaikan mereka, aku telah setuju untuk menikahkan Sansan dengan keluarga Tjandrawinata. Anggap saja aku sedang memohon kepadamu, pertimbangkan atas budi merawatmu selama sepuluh tahun lebih, jangan biarkan keluarga Tanujaya menanggung dirimu yang tidak tahu bagaimana membalas budi, oke?!" Teriak Chandra.
“Ayah, lihat, ada begitu banyak medali di tas kakak!” Teriak Sarah, mengetuk pintu ruang belajar.
Perlahan Handoko meredakan amarahnya, meski orang tua angkatnya salah paham terhadapku, setidaknya masih ada Sarah yang mempercayaiku, bukan?
Gadis kecil itu sangat pintar dan tahu bagaimana meredakan konflik.
"Chandra, kemari dan lihatlah!”
Chandra tidak ingin pergi, tetapi istrinya juga sudah berteriak dengan keras.
Dia hanya bisa bangktit dan turun dari lantai dua, kemudian melihat medali di atas meja, meskipun banyak mereka tetap tidak mengerti, namun setidaknya mereka mengerti kata-kata "Kontribusi Khusus" dan “Kontribusi Kelas Satu".
“… Kontribusi khusus ?!” Chandra tertegun.
Meskipun dia adalah orang biasa, dia juga tahu bahwa prestasi ini sangat sulit didapatkan!
Medali lainnya seperti kontribusi kelas dua dan lainnya lebih banyak lagi, jika menghadiri acara besar, Handoko tidak akan dapat menggantung begitu banyak medali ditubuhnya!
“Sarah jangan difoto, apalagi diunggah ke internet.” Melihat gadis kecil itu mengangkat ponselnya, Handoko langsung menghentikannya.
Boleh saja memperlihatkan begitu banyak medali kepada kerabat, tapi bila di upload ke internet akan menimbulkan masalah!
Karena di balik setiap medali khusus, ada nyawa yang direnggut oleh Dewa Perang yang akan memancing orang-orang yang ingin membalaskan dendamnya!
“Ya, aku mengerti.” Sarah menyimpannya dengan patuh.
Chandra dan Lidya sangat terkejut, karakter Handoko dapat dilihat dari begitu banyak medali yang didapatkannya, tetapi keluarga Tanujaya telah bangkit kembali, dan itu jelas merupakan berkat bantuan Grup Tjandrawinata.
Sebenarnya siapa yang sedang berbohong?
Selama empat tahun ini! Pertama kalinya muncul keraguan dalam hati!
__ADS_1