
Di bawah kaki gunung, Yovita sedang duduk di dalam mobil. Dia melihat ponselnya dari waktu ke waktu, dan terlihat sangat cemas. Handoko menolak membiarkannya pergi ke rumah Keluarga Setyawan, jadi dia hanya bisa menunggu di kaki gunung.
Meskipun dia tahu bahwa Kepala Instruktur sangat kuat, tapi pengawal yang ada di rumah Keluarga Setyawan bukanlah pengawal biasa, tetapi merupakan anggota Grup Mercenary Ocean milik Jarot!
Baru saja, dia mendengar suara tembakan berulang kali, terdengar dengan begitu jelas di malam yang sunyi. Orang biasa pasti menganggapnya sebagai petasan, namun dia bertugas di Phoenix Merah selama tiga tahun, bagaimana mungkin dia tidak dapat membedakan suara tembakan dengan petasan.
Sosok ramping muncul di bawah sinar rembulan, Yovita sangat gembira dan turun dari mobil untuk menyambutnya.
"Kepala Instruktur, apakah Anda baik-baik saja?"
Handoko tersenyum, "Apa yang mungkin bisa terjadi padaku, ayo pergi."
Yovita membantunya membuka pintu dan berkata: "Tadi ada mobil keluarga Setyawan yang turun dari gunung, yang mengemudi adalah pelayan keluarga Setyawan."
Handoko mengangguk, "Ya, dia membawa Tirta ke rumah sakit."
Biarkan si tua bangka itu hidup dulu, jika Jarot tidak kembali, bagaimana bisa menangkap mereka semua?
Yovita tahu bahwa perjalanan Kepala Instruktur kali ini pasti berjalan lancar.
Dia berkata: "Ibu Susan masih di perusahaan dan belum kembali ke rumah, Ariani pergi ke TK untuk menjemput Sasha dan mengantarnya pulang terlebih dahulu."
Handoko sedikit terkejut, mengapa Susan masih berada di perusahaan selarut ini?
"Kalau begitu kita pergi ke Grup Tanujaya."
"Baik, Kepala Instruktur!"
Yovita segera menyalakan mobil.
Di seluruh gedung Tanujaya, hanya kantor CEO di lantai delapan belas yang masih menyala.
“Kepala Instruktur, Ibu Susan sedang menunggumu di kantor.” Ganendra yang menunggu di depan pintu tampak serius melaporkan.
“Apakah Susan tahu bahwa aku pergi ke rumah keluarga Setyawan?” Handoko merasa sangat aneh.
Jika hanya karena lembur, Ganendra tidak mungkin terlihat seperti ini. Dia menatap satu halaman dokumen di tangannya selama setengah jam, duduk di sana tanpa bergerak." Jawab Ganendra.
“Baiklah, pergi dan istirahatlah.” Handoko naik ke atas.
Ariani duduk di kursi sekretaris di depan pintu Kantor CEO, sedangkan Clarinta telah disuruh pulang oleh Susan.
“Kepala Instruktur!” Ariani segera berdiri.
“Kamu dan Ganendra pulang dulu, ada aku di sini.” Handoko mengangguk.
“Baik! Kepala Instruktur.” Ariani kemudian pergi.
Dia dan Ganendra tidak khawatir sama sekali, tidak seperti Yovita yang khawatir setengah mati. Hanya mereka yang pernah berhubungan dengan Handoko yang tahu betapa mengerikannya batas kemampuan seorang manusia.
Handoko mendorong pintu kantor...
"Ariani, kamu pulang dulu, aku baik-baik saja sendirian." Kata Susan yang sedang melamun.
“Dia sudah pulang.” Handoko berkata dengan lembut.
Susan tiba-tiba mengangkat kepalanya, dengan air mata terkejut, dia berdiri dan bergegas maju, tetapi karena duduk terlalu lama, kakinya sedikit mati rasa dan hampir saja terjatuh, Handoko segera memapahnya, Susan memeluknya erat-erat.
"Kakak, apa yang kamu lakukan di rumah Keluarga Setyawan? Kamu membuatku takut setengah mati!"
Di dalam hatinya, hanya ada cinta untuk seorang kakak.
__ADS_1
“Darimana kamu tahu, siapa yang memberitahumu?” Handoko bertanya dengan perasaan aneh.
Ganendra dan Ariani tentu tidak akan mengatakannya, siapa yang memberitahunya?
"Seseorang mengirimiku pesan teks, tahukah kamu bahwa aku sangat ketakutan saat itu, aku takut tidak akan pernah melihatmu lagi." Susan menangis.
“Jangan takut, bukankah aku telah kembali?” Handoko menyentuh kepalanya dan tersenyum.
Tidak perlu dipikirkan pun sudah tahu siapa yang mengirim pesan teks tersebut. Tisna melakukan segalanya untuk membalas dendam, bahkan jika dia tidak mampu melukai Handoko, dia masih harus mencari cara lain untuk membuat orang lain merasa jijik.
Mungkin menurutnya, Handoko pergi ke rumah Setyawan untuk mencari mati. Sangat disayangkan, dia tidak tahu sesuatu telah terjadi dan sisa hidupnya tidak akan lama lagi.
“Kakak, berjanjilah padaku untuk tidak bertindak gegabah lagi, sangatlah tidak mudah bagi keluarga kita untuk bisa berkumpul bersama.” Susan tampak serius.
“Baik, aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan bertindak gegabah lagi kecuali aku yakin dapat melakukannya.” Handoko menjawab.
Janji yang ia berikan itu sama saja dengan tidak berjanji.
“Ayo pulang, aku rasa Sasha pasti sedang menunggu kita.” Pipi Susan sedikit merona, dia segera melepaskan pelukan Handoko.
Tadi terlalu tergesa-gesa, sekarang baru menyadari betapa memalukannya hal tersebut. Ketika keduanya kembali ke rumah, ternyata benar Sasha masih belum tidur. Chandra dan Lidya hanya bisa duduk di sofa dan menunggu bersama cucu perempuan mereka.
“Ayah sudah kembali!” Sasha melompat ke pelukan Handoko dengan kaki pendeknya.
Susan cemberut dan merasa cemburu lagi.
“Sasha, biarkan ibu memandikanmu, kemudian pergi tidur ya?” Kata Lidya.
“Baiklah, ibu gendong aku.” Sasha mengulurkan tangan kecilnya.
Susan sangat senang dan membawanya ke kamar mandi.
Handoko tertawa diam-diam, putrinya yang menguasai Rahasia Langit tahu bagaimana membuat orang dewasa senang.
Handoko sedikit tercengang, Tisna memang sudah gila, dia mengirim pesan teks ke semua orang.
"Jangan khawatir, masalah telah selesai, aku benar-benar tidak memperdulikan keluarga Setyawan."
Perkataan ini penuh dengan keyakinan.
"Aku tahu bahwa pesan teks yang dikirim oleh nomor aneh itu tidak masuk akal sama sekali. Ayo istriku, mari pergi tidur, Handoko, kalian juga harus istirahat lebih awal." Chandra menghela nafas panjang dengan lega.
Pasangan itu kembali ke kamar tidur mereka dengan mengerutkan dahinya.
“Chandra, apakah menurutmu Dekan Institut Logistik Umum yang turun tangan?” Lidya bertanya dengan cemas.
“Aku tidak tahu, besok aku akan mencari info untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.” Chandra menggelengkan kepalanya berulang kali.
Masalah ini telah menjadi simpul di dalam hati mereka! Sasha yang selesai mandi, mengenakan piyama kartun lucu, memeluk leher Handoko dan berkata dengan suara manis.
"Ayah, Sasha tidak boleh tidur dengan ayah dan ibu lagi."
Handoko tertegun dan bertanya, "Mengapa?"
"Kata Saputra, hanya ibu dan ayah yang boleh tidur bersama, anak yang sudah dewasa harus tidur sendiri."
Susan mendengarnya dan merasa cemas.
Bagaimana boleh!
Ada Sasha di tengah ranjang saja aku sudah meletakkan kakiku di atas badan kakak.
__ADS_1
Jika Sasha tidak ada...
Susan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bangun di pagi hari!
“Apakah kamu tidak takut tidur sendirian?” Handoko bertanya, dalam hatinya dia berpikir: “Besok pagi dia harus menelepon Lingga dan memintanya untuk menambahkan steak ayam untuk Saputra!
“Tidak takut, Sasha sudah besar!” kata Sasha dengan penuh percaya diri.
“Baiklah, Ayah akan menggendongmu untuk pergi tidur.” Handoko membawa putrinya ke kamarnya sendiri.
Sasha tidur siang di sini, selimutnya sudah ada di kamar.
Melihat putrinya menutup matanya, Handoko membantu menutupi selimut dan mematikan lampu. Susan memakai pakaian yang tertutup ketat, berbaring menyamping di tempat tidur dan berpura-pura tidur.
Handoko masuk ke kamar, ia dapat merasakan nafas dan detak jantung Susan berdenyut cepat, tetapi ia tidak berani mengatakannya, takut mereka berdua merasa canggung.
Setelah tidak mendengar suara dan gerakan untuk waktu yang lama, Susan berbalik dan melihat Handoko meletakkan selimut di lantai dan tertidur.
"Kakak?"
"Iya?"
"Lebih baik kamu tidur di ranjang saja, aku akan pergi ke kamar lain untuk tidur." Susan menyarankan.
“Tetap begini saja, jangan biarkan Sasha mengetahuinya, kalau tidak dia akan sedih.” Handoko tentu saja tidak akan setuju.
"Uhm..." Susan hanya bisa menyerah, tetapi dia tidak bisa tidur.
Handoko tiba-tiba berbalik dan melompat ke tempat tidur dan memeluknya!
"Apa yang kamu lakukan!" Ekspresi wajah Susan berubah drastis, tanpa sadar dia mengangkat tangannya untuk menampar wajah Handoko.
"Krek!" Pintu kamar terbuka.
Sebuah kepala kecil masuk, melihat dua sosok di tempat tidur, diam-diam menutup pintu dan pergi. Susan hampir saja menamparnya, terasa marah dan lucu, Sasha benar-benar seperti hantu kecil.
Barusan kalau bukan Handoko bereaksi dengan cepat, mereka pasti telah tertangkap basah oleh Sasha!
“Maaf, tadi aku salah paham terhadapmu.” Susan merasa sangat bersalah.
“Tidak apa-apa, siapa suruh Sasha begitu pintar.” Kata Handoko, dia bersiap untuk bangun dari tempat tidur dan kembali tidur di lantai.
"Kakak, kamu... tidur saja di ranjang, takutnya Sasha kembali lagi," kata Susan dengan tersipu malu.
"Uhm... Baiklah." dalam hati Handoko merasa sangat senang.
Keduanya berbaring di ranjang yang sama, sekarang tidak ada Sasha yang menghalangi mereka di tengah, Susan merasa gugup dan tidak bisa tidur.
Handoko menotok titik tidur di tubuh Susan dengan energinya. Jika terus begini sampai besok pagi, mata Susan pasti akan menjadi mata panda.
Di pagi hari berikutnya, ponsel Handoko berbunyi dengan keras. Keduanya yang terbangun membuka mata, mereka saling berpelukan, kaki panjang Susan berada diatas tubuh Handoko.
“Ah!” Susan segera mendorong badan Handoko, menutupi kepalanya sendiri dengan selimut, ia merasa malu!
Handoko mengambil ponselnya, ternyata Ugraha yang meneleponnya! Dia berjalan keluar dari kamar tidur dan menjawab panggilan.
"Kepala Instruktur?"
"Ini aku, katakan!"
"Kapal barang Grup Setyawan telah berlayar."
__ADS_1
"Lakukan pencegatan di perairan Tasyaldavia, jika ada perlawanan, bunuh semuanya!"
Saatnya untuk membuat penyelesaikan dengan keluarga Setyawan.