Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Terjadi Kesalahpahaman!


__ADS_3

"Kepala Instruktur, ada darah di sudut mulut Anda?!"


Sulit bagi Santoso untuk menahan amarahnya, siapa yang berani melukai Kepala Instruktur?


Dia dengan penuh amarah, hanya ingin melawan bajingan sialan itu!


"Tidak apa-apa, jangan gugup, itu hanyalah cedera sebelumnya yang belum sembuh sepenuhnya."


Handoko menyeka noda darah di sudut mulutnya, tapi untungnya, Susan tidak melihatnya.


Dalam pertempuran puncak yang menentukan itu, dia membunuh enam dewa perang dari pasukan koalisi musuh, tetapi dia juga mengalami cedera.


Demi tidak melukai Susan, dia menghentikan mobil Bentley secara paksa dan mengubah kekuatan benturan menjadi kekuatannya sendiri sehingga membuat cedera lamanya kambuh.


Handoko tidak ingin membuat orang lain khawatir, tetapi suara Santoso terlalu nyaring, Ganendra yang berada di ruang pemantauan mendengar dengan jelas melalui kamera di tempat parkir.


Tanpa menunggu mobilnya pergi, Ganendra keluar dari gedung dengan niat membunuh yang besar, amarah pada dirinya membuat matanya memerah.


"Kepala Instruktur, siapa yang melakukannya? Aku akan membunuhnya!" Ganendra meraung dengan marah.


“Bicaralah dengan pelan, berapa banyak orang yang ingin kamu suruh kemari?” Handoko merasa tidak berdaya.


Hanya masalah kecil, apa perlu meneriaki supaya semua orang tahu?


"Tapi, orang yang melukai Anda..." Ganendra merasa cemas dan marah.


“Susan yang melukaiku, apakah kamu ingin mencarinya?” Handoko berkata dengan marah.


Ganendra terkejut sejenak dan bergumam: "Anda bercanda lagi denganku, bagaimana mungkin Ibu Susan melukaimu."


Masih ada kalimat lain yang belum dia ucapkan: Dia juga tidak rela menyakitimu.


Dewa Perang wilayah Barat Laut yang dapat membunuh Enam Dewa Perang Besar, mana mungkin terluka dipukuli Susan, walaupun dia berdiri dan membiarkan diri sendiri dipukuli, kulitnya pun tidak akan terluka!


Handoko merasa sakit kepala mendengarnya, dia tahu bawahan mencintainya, jika dia tidak mengatakan yang hal sebenarnya, anak-anak ini tidak akan bisa tidur nyenyak.


"Susan mengemudi mobil sendiri dan terjadi kecelakaan, aku memaksa mobil berhenti dengan kecepatan 130 kilometer per jam, itu yang menyebabkan cedera lamaku kambuh."


Ganendra dan Santoso yang mendengarnya pun tercengang...


Sunggu... sungguh berlebihan!


Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan 130 kilometer per jam!


Ganendra melihat ke arah Bentley yang masih utuh dan berhenti tidak jauh di sana, dia bahkan tidak bisa menutup mulutnya.


Dengan imajinasinya yang buruk, dia benar-benar tidak bisa memikirkan kejadian saat itu.


"Ada rekaman pengemudi di dalam mobil, pergi dan lihatlah jika kamu mau, tapi jangan lupa untuk menghapusnya setelah melihatnya, jangan sampai diketahui oleh Susan," kata Handoko.


Ganendra mengangguk berulang kali, dia pergi dengan kunci mobil yang dilemparkan oleh Kepala Instruktur kepadanya.


Handoko berpikir bahwa masalahnya sudah selesai, tapi siapa tahu sebuah Land Rover melaju kemari dengan kencang!


“Critt!” rem yang mendadak, meninggalkan bekas ban yang panjang.


Yovita membuka pintu dan keluar dari mobil, matanya memerah dan bergegas bertanya: "Kepala Instruktur, siapa dia?!"


Handoko tidak tahu mau berkata apa.


Seorang Kepala Instruktur yang memimpin tiga pasukan militer, mau taruh di mana mukanya?


Meskipun rasa peduli dari para bawahan terasa hangat di hatinya...

__ADS_1


Tapi! Mereka sama sekali tidak memikirkan, kecuali enam Dewa Perang menyerangnya secara bersamaan, kalau tidak siapa yang bisa melukainya!


Jika ada enam Dewa Perang musuh di Tasyaldavia, bagaimana mungkin masih begitu aman?


"Dring..."


Telepon berdering lagi.


Handoko mengangkat dan melihatnya, ternyata Lukas yang meneleponnya.


“Kepala Instruktur, apakah Dark Net yang melakukannya? Aku akan menguliti mereka hidup-hidup!” Nada suara Lukas terdengar dingin.


“Aku baik-baik saja, jangan dengarkan omongan orang lain, lakukan tugasmu dengan baik.” Handoko menutup telepon.


Tak lama kemudian, teleponnya berdering lagi.


Kali ini Ugraha yang meneleponnya.


Handoko benar-benar tidak dapat berkata lagi, dia mengangkat kepalanya dan bertanya, "Berapa banyak orang yang telah kalian beritahu?"


Yovita tampak bingung, apakah terjadi kesalahpahaman?


"Pokoknya... apa pun yang bisa dikatakan, sudah kukatakan..." Yovita menundukkan kepalanya dan merasa sangat malu.


Handoko tidak tahu mau berkata apa lagi, dia menunjuk Yovita dengan senyum dan memarahinya: "Masalah yang kamu timbulkan, kamu yang jelaskan.”


“Ah?!” Yovita membuka matanya lebar-lebar, jangan dong, aku pasti akan dimarahi mati-matian oleh Instruktur Zee.


“Ah apa, kalau kamu tidak menjelaskan, aku khawatir mereka semua akan datang ke Jawa Tengah!” Handoko mengetuk kepalanya.


Yovita hanya bisa cemberut, ketika ia bersiap-siap untuk menelepon satu per satu, ia berhenti sejenak ketika mengeluarkan ponselnya.


"Bagaimana menjelaskannya, aku tidak tahu apa yang terjadi!"


"Haha, jangan khawatir, kamu akan tahu setelah melihatnya." Kata Ganendra sambil mengeluarkan kartu memori rekaman pengemudi yang ada di mobil Bentley.


"Kepala Instruktur terluka, tapi dia masih pergi ke titik intelijen Dark Net," kata Yovita dengan cemas.


"Seharusnya kamu mengkhawatirkan bajingan Dark Net itu, Kepala Instruktur tanpa menggunakan tangan dan kakinya pun bisa menghancurkan sampah-sampah itu. " Kata Ganendra dengan nada menghina.


Jika dikatakan bahwa Ugraha melenyapkan Grup Mercenary Ocean bagaikan meriam membunuh nyamuk, maka yang dilakukan Kepala Instruktur kali ini bagaikan membunuh nyamuk dengan bom atom!


“Lalu tunggu apa lagi, ayo lihat video yang ada di rekaman.” Yovita pergi dengan menarik Ganendra, dia masih harus menyelesaikan masalah yang ia timbulkan.


Keduanya kembali ke departemen keamanan, membuka rekaman video dengan menggunakan komputer, menyesuaikan waktu dengan perlahan...


“Ketua Ganendra, coba lihat dari sini,” teriak Yovita.


“Apa otak kamu bermasalah, apa yang perlu dilihat dari rutinitas harian Kepala Instruktur dan Ibu Susan,” kata Ganendra dengan nada menghina.


Yovita diam-diam menerima pukulan dari perkataan Ganendra, status jomblo membuat pukulan tersebut terasa berlipat ganda.


"Aku ingin melihatnya, apa tidak boleh?" katanya dengan percaya diri.


“Baiklah, kamu lihat saja.” Ganendra hanya bisa menyerah.


Dalam video tersebut, orang bodoh pun dapat melihat dengan jelas kelembutan dan kasih sayang Handoko terhadap Susan.


Hati Yovita kembali terpukul, tapi dia menontonnya dengan senang...


“Kepala Instruktur sangat perhatian, jika aku punya pacar seperti Kepala Instruktur, aku akan bangun sambil tertawa saat bermimpi.” Gumam Yovita pada dirinya sendiri.


"Kamu terus bermimpi saja, di dalam mimpi semuanya akan menjadi kenyataan," kata Ganendra dengan kejam.

__ADS_1


Yovita memutarkan matanya, apakah tidak boleh membayangkannya?


Aku tidak tahu bagaimana Ariani bisa jatuh cinta dengan orang bodoh sepertimu.


Video tersebut berputar dengan cepat, sampai pada bagian di mana Susan sedang mencoba untuk mengemudi mobil sendirian.


Keduanya dapat merasakan kekhawatiran Kepala Instruktur, tetapi tidak punya pilihan selain memotivasi Ibu Susan untuk mencoba.


Sampai penyakit Susan kambuh, meskipun mereka tahu tidak terjadi apa-apa, tapi keduanya masih saja merasa takut.


Melihat Bentley bergegas keluar dari jalan dan menabrak kaki gunung, sosok Handoko tiba-tiba melintas, dia memaksa Bentley untuk berhenti dengan satu pukulan!


“Mana mungkin! Apa Kepala Instruktur manusia?!” Yovita berkata tanpa sengaja.


Ganendra memelototinya, kalau bukan manusia, apa dia? Mana boleh berkata demikian terhadap Kepala Instruktur?


Dia tidak bisa menahan rasa takut di hatinya, sekarang dia baru mengetahui sebetapa kuatnya Kepala Instruktur.


Itulah alasan mengapa begitu banyak Dewa Perang yang menghormatinya!


Keduanya menontonnya bolak-balik berkali-kali, tetapi mereka masih tidak mengerti bagaimana cara Kepala Instruktur melakukan pukulan yang melanggar hukum fisika itu.


Yovita tidak tahu, tapi Ganendra sangat jelas.


Kekuatan semacam ini benar-benar telah melampaui kekuatan seorang Dewa Perang!


“Aku tidak mengerti, aku tidak ingin melihatnya lagi, lihat dari awal saja.” Yovita merasa terpukul, pertunjukkan kasih antara Kepala Instruktur dan Ibu Susan lebih seru.


"Apa otak kamu bermasalah? Pertunjukkan yang begitu luar biasa..." Ganendra hanya ingin mempelajari pukulan tersebut.


“Bisakah kamu mengerti?” Yovita berkata dengan nada menghina.


Ganendra menggelengkan kepalanya.


“Lalu apa yang kamu lihat?” Yovita dengan kejam mengungkapkan faktanya.


“Hmph... aku tidak ingin bertengkar dengan wanita.” Ganendra hanya bisa pergi dan mencari Ariani untuk menenangkan hatinya yang terluka.


Yovita memutar video itu kembali dari awal, yang paling dia sukai adalah rutinitas harian Handoko dan Susan.


Bahkan, dia tidak sadar kalau dirinya mengalirkan air mata...


Kapan pangeran dan putri akan bersama?


.........


.........


Handoko dibuat pusing oleh panggilan-panggilan telepon tadi!


Satu panggilan demi satu panggilan, semua menanyakan masalah tentang lukanya.


Dia akhirnya menutup panggilan terakhir, jika Yovita ada di depannya, kepalanya pasti akan bengkak.


Tadi katanya Yovita yang akan menjelaskannya, tapi pada akhirnya, dia yang harus menjelaskannya sendiri!


Santoso mengemudikan mobil tanpa berkata apa-apa, semua kesalahpahaman dimulai dari raungan keras darinya.


Kejadian ini mengejutkan seluruh Tasyaldavia!


Haruskah ia merasa terhormat?


"Kepala Instruktur, ini dia, ini adalah titik intelijen Dark Net."

__ADS_1


__ADS_2