
Keluarga Setyawan, sebuah keluarga terkemuka di Pulau Jawa, sedang diselimuti oleh suasana duka. Foto Yoda di atas meja aula perkabungan adalah foto yang dia tinggalkan ketika ia berusia dua puluhan tahun, fotonya tampak arogan dan percaya diri! Rasanya tidak akan pernah ada orang yang berpikir bahwa foto yang ditinggalkan di masa kejayaannya akan menjadi atribut di pemakaman.
“Ayah, berapa lama kita harus bersabar?!” Mata Sambara memerah, dia hampir tidak dapat mengendalikan dirinya.
Dendam putranya adalah dendam besar yang harus dibalas! Kalau masih bersabar, apakah keluarga Setyawan masih memiliki kehormatan untuk di klaim sebagai keluarga terkemuka di Pulau Jawa?!
"Tua bangka Keluarga Ramadhani itu telah berulang kali memperingatkanku bahwa Handoko tidak dapat diprovokasi, tetapi dia tidak memberitahuku mengapa dia tidak dapat diprovokasi..." Hati Tirta terjadi konflik, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Dendam dan kesedihan mengantar kepergian cucunya yang masih begitu muda bergejolak di dalam hatinya, tetapi dia masih harus mempertimbangkan keselamatan keluarganya juga!
"Tua bangka itu sengaja tidak membuka rahasia, aku tidak percaya bahwa si binatang kecil yang baru menjadi prajurit selama empat tahun itu memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk melawan keluargaku!" Sambara meraung dengan marah.
Tirta mengangguk dan berkata, "Tapi apakah kamu memikirkan satu hal? Tulisan tangan yang ditinggalkan di tempat kejadian jelas adalah niat pelaku untuk melempar kesalahan kepada orang lain."
Djani yang awalnya hatinya merasa senang, setelah mendengar perkataan tersebut, ekspresi wajahnya berubah drastis!
"Hu...huhuhu...” matanya berkaca-kaca, wajahnya penuh amarah.
Tapi dalam hatinya ia berpikir: “Apakah obat tetes mata yang ia pakai masih tidak cukup?”
Meskipun semua orang tidak tahu apa yang ia bicarakan, tetapi mereka dapat mengerti apa yang ingin ia ungkapkan. Jika ada seseorang memiliki dendam terhadap Handoko, ia juga tidak berani membunuh Yoda untuk melempar kesalahan kepadanya! Hati Sambara hanya ingin membalas dendam.
Dia tahu ada sesuatu yang aneh, tetapi karena didorong oleh kebenciannya, ia hanya ingin Handoko mati!
"Handoko harus mati, semua orang sedang menunggu untuk melihat lelucon keluarga kita!"
Tirta menghela nafas panjang.
Benar, sejak menghadapi Handoko, keluarga Setyawan tidak berdaya sama sekali.
“Tuan, gawat, Handoko datang kemari!” Pengurus rumah berlari ke aula perkabungan dengan wajah panik.
"Buat apa panik? Dia bukan raja langit, apa yang kamu takutkan!" tegur Sambara.
“Aneh, mengapa dia datang ke sini saat ini?” kata Tirta dengan wajah tampak waspada.
“Apa lagi yang bisa dia lakukan, dia pasti datang untuk memberi penghormatan kepada Yoda, sekalian mengklarifikasi dirinya sendiri.” Mata Sambara memerah, “Ayah, jangan ragu lagi, dia ke sini untuk mencari mati!"
Tirta sedikit terdiam, dari ekspresi dinginnya tampak dia telah melakukan keputusan. Kekuatan Handoko yang ditunjukkan pada perayaan ulang tahun Grup Tjandrawinata dianggap sebagai sebuah drama yang dimainkan bersama keluarga Ramadhani! Mana mungkin Handoko dapat menjatuhkan tiga puluhan penjaga keamanan dengan hanya mengangkat tangannya saja? Memangnya sedang membuat film?!
“Ck..ck..ck..., aula perkabungan ini tampak terlalu lusuh, orang yang datang untuk memberi penghormatan pun tidak ada?” Handoko melangkah ke pintu masuk, orang-orang yang berani menghentikannya, semuanya dijatuhkan, tangan dan kaki mereka dipatahkan, semuanya berguling kesakitan di atas lantai.
Ekspresi Tirta dan Sambara tampak ketakutan, jelas dia datang untuk mencari masalah! Hanya Djani yang tertawa liar di dalam hatinya: Handoko, Handoko, kamu benar-benar cari mati.......
__ADS_1
“Handoko, kamu pandai bertarung bukan? tetapi apakah kamu dapat bergerak lebih cepat daripada peluru?!” Ucap Sambara.
Lima pria berpakaian hitam bergegas masuk, mengarahkan senjata mereka ke arah Handoko, bersiap menembaknya hanya dengan menunggu satu perintah saja! Perintah ini hanya dapat dikeluarkan oleh Tirta.
“Aku tidak tahu apa latar belakangmu, tetapi kamu terlalu bertindak agresif, bukankah kamu sudah keterlaluan?” Nada bicara Tirta terdengar dingin.
Rubah tua yang licik ini sangat berhati-hati, sampai saat ini pun ia masih tidak lupa untuk mengetes Handoko.
“Berlututlah dan minta maaf kepada putraku, jika tidak, kamu tidak usah berpikir untuk dapat keluar dari pintu ini hari ini!” Sambara tidak dapat menahan dirinya.
Dia sudah memprovokasi sampai ke tempat kita, untuk apa bicara baik-baik dengannya lagi?!
"Ahhh Wuuu..." Djani juga berteriak, tetapi diabaikan oleh semua orang.
Siapa yang mengerti akan apa yang ia katakan.
“Handoko, mengapa kamu membunuh cucu tertuaku? Aku berharap kamu bisa memberiku sebuah penjelasan.” Tirta mulai menunjukkan niat membunuhnya.
Berani datang sendiri tanpa pengawal.
Baiklah, kepalamu ini, keluarga Setyawan akan menerimanya, aku akan menggunakan darahmu untuk menjadikannya sebagai sesajian kepada Yoda!
“Jika aku yang melakukannya, aku pasti akan mengakuinya, kematian Yoda tidak ada hubungannya denganku. Percaya atau tidak terserah kalian.” Handoko tampak acuh tak acuh.
"Aku akan mencabut urat nadimu, dan juga si wanita jalang keluarga Tanujaya itu..."
"Plak!"
Handoko menamparnya, Sambara terpental dan terjatuh.
Semua giginya hancur!
Jika bukan karena pertunjukan utamanya belum dimulai, dengan niat buruknya terhadap Susan tadi, mati puluhan kali pun tidak cukup baginya!
“Berani sekali kamu datang ke rumah keluarga Setyawan dan bertindak lancang!” Tirta berkata dengan marah, tetapi tidak memerintahkan untuk menembak.
Rubah tua ini dikejutkan oleh keberanian Handoko. Orang biasa jika ditodong senjata pasti akan ketakutan sampai tidak bisa berbicara, tetapi dia masih berani memukul orang!
“Aku sudah memukul orang, kamu masih bertanya padaku apakah aku berani atau tidak, apa otakmu bermasalah?” Handoko berkata dengan nada menghina.
Tirta ketakutan hingga urat biru di lehernya muncul, dia makin tidak berani memerintahkan untuk menembak. Handoko sendirian menghadapi sekelompok orang. Berbicara dan tertawa di bawah todongan senjata dengan santai, bagaimana mungkin orang biasa bisa memiliki keberanian seperti itu!
“Mari kita bicarakan, apa yang ingin kamu lakukan!” Tirta menutup matanya, tidak berani membiarkan orang lain melihat ketakutannya.
__ADS_1
Handoko memandang Djani sambil tersenyum. Djani tiba-tiba punya firasat buruk!
“Aku ke sini untuk memberikan dua hadiah besar.” kata Handoko dengan enteng.
Sekarang kamu baru ingin meredakan keadaan, bukankah sudah terlambat?” Tirta bertanya dengan dingin.
Dendam bagaikan lautan darah yang tiada akhir, apakah dapat diselesaikan hanya dengan dua hadiah saja?!
“Jangan buru-buru menolak, percayalah, kamu pasti menyukainya.” Handoko memegang dua tas dokumen di tangannya dan melemparkan salah satunya kepada mereka.
Ekspresi Tirta suram, dia memberi isyarat kepada Sambara untuk mengambil tas dokumen yang ada di atas lantai.
Tirta yang telah ditampar, kelihatan jauh lebih patuh, tetapi kebencian di matanya sama sekali tidak berkurang, dia sekarang tidak berani mengatakan kata-kata yang membawa provokasi. Tirta membuka tas dokumen dan terkejut ketika melihat isi dalamnya!
"Haha, lelucon apa yang kamu mainkan, memalsukan catatan komunikasi, hanya ingin mengklarifikasi diri sendiri?"
Dia tidak percaya bahwa dokumen-dokumen itu benar adanya! Tetapi dia percaya bahwa Djani mungkin saja membunuh kakaknya demi memperoleh ahli waris kekayaannya!
“Percaya atau tidak, terserah kamu, kamu memiliki cara untuk mencari kebenaran dari informasi tersebut.” kata Handoko dengan sikap tidak peduli.
Mereka berdua sama-sama adalah darah dagingmu. Aku ingin melihat bagaimana cara kamu menghukum Djani. Tirta menutup matanya lagi, semangatnya langsung merosot, seolah-olah dia berusia lebih tua sepuluh tahun.
Dia menyerahkan catatan komunikasi kepada Sambara. Informasi ini sangat detail dan akurat. Tidak hanya ada catatan pesan teks dari Djani dan Tisna, tetapi juga bukti transaksi Djani di Dark Net.
Yang paling khusus ada di dalam pernyataan transaksi, permintaan agar si pembunuh meninggalkan kalimat "Handoko si pembunuh" di tempat kejadian.
"Tidak mungkin!" Sambara penuh amarah, tetapi dalam hatinya sudah hampir percaya.
Karena... Ekspresi Djani sudah cukup untuk menjelaskan masalahnya! Panik dan bingung, kalau bukan karena hati nuraninya merasa bersalah, kenapa harus begitu?!
“Dengan IQ dan kualitas mentalmu yang begitu rendah, apakah kamu masih ingin melemparkan kesalahan kepada orang lain?” Handoko berkata dengan nada menghina.
Kaki Djani lemas dan segera berlutut ke lantai!
"Ahwuahwu....."
Siapapun dengan mata yang tajam dapat melihat bahwa dia sedang memohon pengampunan! Handoko berdiri di samping dengan tatapan dingin, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan keluarga Setyawan terhadap Djani. Ini terkait dengan efek hasil dari hadiah besar kedua yang akan dia berikan.
Jangan khawatir, ini baru permulaan!
__ADS_1