Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Perayaan Hari Jadi Kesepuluh


__ADS_3

Inilah alasannya mengapa Handoko menghadiri pesta. Tidaklah mudah untuk mengumpulkan orang-orang yang dulunya menekan keluarga Tanujaya. Dia ingin mengumumkan kepada semua orang bahwa "Aku telah kembali!"


Penghinaan yang diderita saat itu harus dibayar satu per satu! Tak satu pun dari musuh yang mencelakai keluarga Tanujaya akan dilepaskan! Yang lebih penting adalah menemukan dalang yang mencelekai Susan!


“Apakah kamu sudah selesai berbicara?” Handoko bertanya dengan ringan.


Suara tawa dari ejekan menjadi tenang dan kemudian terdengar sarkasme yang lebih kasar lagi.


"Haha, aku benar-benar tidak tahu dari mana datangnya keberanian dari anjing yang ditinggalkan keluarganya hingga bisa berkata demikian. Apakah kamu ingin menunjukkan kepada kami bagaimana penampilan anjing yang melarikan diri dengan menjepit ekor di pantatnya?" Danu tertawa.


“Penjaga keamanan, tunggu apalagi, kenapa masih tidak menyeretnya keluar, menunggu dia menjadi maskot perayaan di sini?” Raven berteriak.


"Sebenarnya, membiarkan dia di sini juga bukan suatu hal yang buruk. Bukankah dia suka istrinya selingkuh? Prathama sudah mendapatkan Susan seperti yang dia inginkan." Danu mencibir.


Kalimat ini tidak hanya menghina Susan, tetapi juga menghina para prajurit yang mempertahankan kedamaian dan membela negara mereka!


“Kamu cari mati!” Handoko dengan wajah dinginnya menampar Danu hingga terpental.


Keadaan di sekitar tiba-tiba menjadi hening dan mengerikan, semua ketakutan oleh kekuatan tamparan ini!


Astaga, seberapa besar kekuatan tamparan yang dibutuhkan hingga pria dengan berat tujuh puluh lima kilo terpental seperti itu?


“Handoko, berani sekali kamu, beraninya kamu seperti itu?” Raven berteriak sambil bersembunyi ke belakang.


Penjaga keamanan yang barusan sadar atas kejadiaan tadi bergegas menghadang dengan tongkatnya.


Tidak ada yang bisa melihat bagaimana Handoko melakukannya. Dalam sekejap delapan petugas keamanan ikut terpental dan terjatuh, kemudian tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi.


“Bukankah tadi kamu masih bisa tertawa, ayo teruskan tawamu.” Handoko berjalan ke hadapan Raven.


“Berani-beraninya kau membuat masalah di Hotel Rose, keluarga Ramadhani tidak akan membiarkanmu begitu saja!” Raven berkata.


Keluarga Ramadhani merupakan salah satu dari lima keluarga paling terkemuka di Pulau Jawa. Karena hubungannya dengan pihak militer, hampir tidak ada yang berani memprovokasi keluarga Ramadhani.


“Berisik!” Handoko memberikan satu tamparan lagi, seketika Raven pun terpental dan terjatuh ke lantai.


Dia mengendalikan kekuatannya dengan sangat baik. Keduanya sepertinya terluka parah, tapi mereka masih dalam kondisi sadar...


Karena permusuhan ini masih belum selesai!


“Sampai kapan kalian berdua masih mau berpura-pura?” Handoko bertanya dengan ringan.


Danu dan Raven tidak menanggapi.


Orang pintar dapat memahami kondisi saat ini dan daripada berdiri serta menerima pukulanmu, lebih baik aku pura-pura pingsan, pokoknya keluarga Ramadhani akan memberimu pelajaran nantinya.


Cara yang dilakukan Handoko sangat sederhana, ia mematahkan kedua kaki Danu, seluruh tulang lututnya hancur, sisa hidupnya hanya bisa dihabiskan di kursi roda.


"Ah! Kakiku, tolong aku, cepat panggil ambulans..." Danu merintih kesakitan.


Raven segera bangkit dan berlari karena ketakutan, tetapi baru mengambil dua langkah ia sudah terjatuh!


"Kenapa... apa yang terjadi! Kakiku mati rasa!"


Kerumunan penonton ketakutan.


Tidak ada yang percaya bahwa Handoko yang meninggalkan keluarga Tanujaya dan melarikan diri saat itu menjadi sekejam ini!


Apakah dia tidak takut membuat keluarga Ramadhani marah?!


Apalagi masih ada keluarga Tjandrawinata!


Perbuatan Handoko akan mendatangkan bencana bagi keluarga Tanujaya!

__ADS_1


“Kak Lina, anda sudah tiba!” Seseorang tiba-tiba berteriak.


Handoko menoleh dan melihat ternyata yang datang adalah kenalan lama, tadi pagi mereka baru bertemu.


Apa namanya? Iya benar, dia menyebut dirinya Lina, apakah ia berasal dari keluarga Ramadhani?


“Kak Lina, Anda harus membantuku membalas perbuatannya, orang ini gila!” Raven berkata sambil menangis.


Sedangkan Danu sudah tidak sadarkan diri karena kesakitan.


Handoko dengan ekspresi bercanda, jika Lina masih tidak tahu diri, jangan salahkan dia tidak menganggapnya sebagai wanita.


Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi...


“Halo, Tuan Handoko, keterlambatanku telah menyusahkan Anda.” Lina tampak bersikap hormat.


Bukan hanya karena perintah Kakeknya, tapi juga karena ia melihat sendiri kekuatan Handoko.


Sebenarnya dia sudah lama tiba, ia diam-diam mengamati seberapa besar kemampuan sosok orang yang ditakuti kakeknya.


Kenyataannya lebih menakutkan daripada yang ia pikirkan!


Sebaliknya, jika dia yang menghadapi Handoko mungkin satu jurus pun tidak mampu ia terima!


Terpikir tadi pagi ia masih menertawakan Handoko, punggung Lina penuh dengan keringat dingin!


“Kamu sudah tahu semuanya?” Handoko mengira dia tahu identitasnya.


“Akulah yang bodoh, tolong maafkan aku.” Lina segera menundukkan kepalanya untuk mengakui kesalahannya.


Handoko mengangguk sedikit dan berjalan dengan angkuh ke ruang perjamuan di bawah tatapan semua orang.


Lina bergegas membantunya membuka pintu, ia bertindak layaknya pelayan kecil.


"Apa sebenarnya yang sedang terjadi?"


"Kamu bertanya kepadaku, lalu aku bertanya pada siapa!"


Raven hanya merasa sekujur tubuhnya kedinginan, dia ingin tahu darimana datangnya keberanian Handoko, mengapa sampai-sampai keluarga Ramadhani pun tidak berani memprovokasinya.


Yang harus dipikirkannya saat ini bukanlah balas dendam, tapi bagaimana melindungi diri sendiri!


    ……


    ……


Pintu ruang perjamuan sangat kedap suara, orang-orang yang duduk di dalam tidak tahu apa yang terjadi di luar.


“Ayah, ponsel Pram tidak aktif, tidak tahu ia ke mana.” Theo terlihat tidak berdaya, tapi sebenarnya di dalam hatinya sangat gembira.


Perayaan hari jadi kesepuluh grup pun ia berani absen. Apa pandangan pemegang saham tentang hal ini, bukankah ini sama artinya dengan menyerah dari persaingan?


“Memang berengsek, setiap hari hanya bisa mendekati wanita keluarga Tanujaya itu, benar-benar tidak berguna!” Max Tjandrawinata sangat marah.


Sebenarnya, dia tahu apa yang dipikiran anak keduanya, tujuannya tidak lebih yaitu demi merampas kekayaan orang, tapi tidak berhasil melakukannya dalam waktu empat tahun, sungguh tidak berguna!


“Apakah semua tamu sudah hadir?” Tanya Max Tjandrawinata.


“Hampir hadir semuanya, tinggal keluarga Ramadhani saja,” Jawab Theo.


“Huh, keluarga Ramadhani mungkin tidak mengutus orangnya kemari, bagaimana mungkin di mata lima keluarga terkemuka itu ada kita.” Max tidak bisa menerima.


Bukan hanya Keluarga Ramadhani tidak datang, takutnya surat undangan yang dikirim ke empat keluarga terkemuka lainnya telah dibuang ke tempat sampah.

__ADS_1


Theo teringat kejadian kemarin, jika ia berhasil mendekati putri kecil dari keluarga Nugraha, maka tidak perlu takut lagi pada lima keluarga terkemuka Pulau Jawa itu.


Si Toy boy itu benar-benar beruntung!


“Tidak perlu menunggu lagi, ayo mulai acaranya!” Max melambaikan tangannya.


Perayaan adalah nomor dua, yang paling penting adalah menambah keakraban sesama keluarga besar.


Ketika Max hendak naik ke panggung untuk berbicara satu dua patah kata, Chandra datang dan menghentikannya di tengah jalan.


“Pak Direktur Tjandrawinata, mari berbicara sebentar."


Kejadian ini terlalu memalukan, bagaimana ia bisa mengatakan bahwa putra angkatnya mengirim putra orang yang berbudi padanya ke penjara.


“Mari kita bicarakan setelah pesta ini.” Max berkata dengan dingin, dalam hatinya ia diam-diam memarahi keluarga Tanujaya sebagai keluarga yang tidak tahu diri.


Seorang wanita yang sudah memiliki anak menelantarkan anakku selama bertahun-tahun, siapa yang memberinya keberanian ini?


Chandra melihat bayangan Max, ia mengira bahwa keluarga Tjandrawinata sudah tahu bahwa Prathama telah ditangkap.


"Oh, bagaimana ini! Apa aku harus membawa Handoko kemari untuk meminta maaf?"


Tapi kamera stasiun TV di luar menyala, bagimana menyuruhnya untuk meminta maaf.


Chandra kembali ke ruang perjamuan dengan ketidakberdayaan.


Tetapi dia melihat Max yang baru saja terlihat murung dapat tersenyum berseri kembali.


Dia terkejut atas apa yang ada di depan matanya saat ini!


Mengapa Handoko ada di sini?!


Anak ini selalu membuat orang khawatir, kali ini konflik sudah tidak bisa terhindari lagi.


“Nona Lina, selamat datang.” Max berjalan melewati Handoko dan di matanya hanya ada Nona Lina.


Tetapi perhatian Theo tertuju pada Handoko, dalam hati ia berpikir: “Mengapa Si Toy boy ini juga datang, siapa yang mengundangnya?”


“Pak Direktur Tjandrawinata tidak usah sungkan, aku hanya menemani tamu terhormat.” mana berani Lina menarik pusat perhatian di depan Handoko.


Mimik wajah Max menjadi serius, tamu terhormat keluarga Ramadhani pasti sangat luar biasa, ia memandang Handoko dan bertanya, "Maafkan aku, anda......"


Lina sedang bersiap untuk memperkenalkan, tetapi dihentikan oleh Handoko, "Kamu tidak hanya buta, tetapi juga berhati buruk."


Ekspresi setiap orang sedikit berubah, dia jelas datang untuk mencari masalah!


“Oh tamu terhormat, apakah aku pernah menyinggung Anda?” wajah Max tampak jelek tetapi masih berusaha bersikap hormat.


Orang yang ditakuti oleh keluarga Ramadhani, keluarga Tjandrawinata lebih-lebih tidak berani menyinggungnya!


“Maaf Pak Direktur Tjandrawinata, dia anak angkatku Handoko, maafkan dia karena tidak tahu apa-apa.” Chandra bergegas ke depan.


“Ayah? Kenapa kamu ada di sini juga?” Handoko tidak heran ketika memikirkan dengan seksama.


Ayah angkatnya adalah orang yang sangat mementingkan budi jasa yang diberikan oleh keluarga Tjandrawinata, tentu saja dia tidak akan melewatkan perayaan hari jadi Grup Tjandrawinata.


Lina juga merasa bingung.


Dia mengenal Chandra, tetapi dia tidak menyangka bahwa orang yang ditakuti kakeknya adalah Handoko, orang yang telah melarikan diri dari keluarga Tanujaya yang masuk ke militer.


Pantas saja kekuatannya begitu mengerikan, tetapi sekuat apapun kamu tidak dapat mengubah fakta bahwa kamu memiliki kepribadian yang buruk!


Di dalam hati Lina tidak ada lagi rasa "hormat", yang ada hanyalah rasa "hina".

__ADS_1


Handoko tidak mengetahui penilaian Lina terhadap dirinya telah berubah, walaupun begitu, dia tidak akan menghiraukannya!


Seorang Dewa Perang wilayah Barat Laut yang bermartabat tidak perlu mempedulikan pandangan orang lain untuk melakukan sesuatu.


__ADS_2