Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Pesan Kepada Keluarga Kamajaya


__ADS_3

Sebelumnya dia berbaik hati melepaskan Theo, saat ini dia berubah menjadi iblis yang brutal.


Semua orang tidak bisa mengerti mengapa dua wajah yang kontradiktif seperti itu muncul pada satu orang yang sama.


Budiono terus mengalirkan keringat dingin, dia menundukkan kepalanya dan tidak berani membiarkan Handoko melihat kebencian di matanya.


Handoko menjambak rambutnya dan menarik kepalanya, dan bertanya dengan dingin: "Apakah Gunawan yang mengundangmu ke Jawa Tengah?"


Yovita sedikit tercengang, mengapa Kepala Instrukur menanyakan hal-hal yang telah dikonfirmasi oleh anggotanya?


Joni dan Gunawan tampak panik, apakah dia akan terus mempermasalahkan masalah ini?


“Benar!” Budiono menggertakkan giginya.


Di matanya, Handoko sudah mati, keluarga Kamajaya tidak akan melepaskannya!


"Plak!"


Handoko menamparnya.


Wajah bengkak yang belum sembuh itu hancur, Budiono memuntahkan darah dan separuh gusinya juga hancur.


“Aku akan bertanya sekali lagi, siapa dia! Yang menyuruhmu datang ke Jawa Tengah!” Handoko terus bertanya.


Budiono penuh ketakutan dan tidak berani menatap Handoko.


"Darsa Wibowo yang menyuruhku kesini."


Tidak ada yang mengira ini jawabannya!


Darsa adalah anak dari cabang keluarga Wibowo di Surabaya.


Keluarga Nugraha, keluarga Kamajaya, dan keluarga Wibowo adalah tiga keluarga kaya.


Semuanya berhubungan dengan konflik hari ini!


Wajah Gunawan kelihatan senang, tidak peduli siapa yang mendukungmu, kamu pasti akan mati!


“Apa yang dia katakan padamu?” Handoko lanjut bertanya.


"Dia...dia mengatakan bahwa di Jawa tengah ada seorang wanita cantik yang bernama Susan dan memiliki pesona yang mengagumkan diantara wanita lainnya. Dan pas Gunawan mengundangku, akhirnya aku pun datang kemari."


Budiono tidak pernah berpikir untuk menyembunyikannya. Di hati sekelompok anak kaya itu, teman baik memang untuk dikhianati!


Ekspresi wajah Yovita sangat jelek, dia tidak menyangka ada rahasia tersembunyi di balik kejadian ini.


Tapi bagaimana Kepala Instruktur dapat mengetahuinya?


“Karena kejujuranmu, aku akan membuatmu mati dengan enak.” Handoko meremas leher Budiono dengan satu tangan.


Jangan bunuh aku, tolong lepaskan aku, aku tidak akan berani lagi!" Budiono penuh ketidakberdayaan.


Ketika kematian datang, kesombongan pada dirinya menghilang.


Alam semesta selalu adil untuk semua orang, bagaimana pun hebatnya kekuatan dan kekayaanmu.


Hanyalah daging dan darah, tidak dapat melawan hukum kematian!


"Krek!"


Leher Budiono patah!

__ADS_1


Kepanikan dan keengganan berangsur-angsur memudar di pupil matanya.


Dengan mata terbuka lebar, yang ada hanya kekosongan...


Di saat matipun dia tidak akan menyangka, sebuah perjalanan dalam berburu wanita cantik akan menghilangkan nyawanya.


Yovita memberikan sapu tangan dengan kedua tangannya, kemudian Handoko menyeka darah Budiono yang ada di tangannya.


Untuk sesaat, seluruh ruangan terasa sunyi...


Semua orang tidak percaya, Handoko berani membunuh Budiono!


“Namamu Teja, kan?” Handoko bertanya.


"Ya...ya." Teja gemetar ketakutan.


Yovita menutupi dahinya dan tidak tahan untuk melihatnya langsung. Lihat dirimu yang ketakutan ini, Kepala Instruktur tidak akan membunuhmu.


"Pergi dan bawa pesan kepada keluarga Kamajaya. Pukul sembilan besok malam, aku akan datang berkunjung. " Handoko memapahnya berdiri dan berkata.


Teja penuh ketakutan, kakinya lemas dan hampir jatuh lagi.


Apa benar? Anda membunuh cucu keluarga Kamajaya dan masih ingin pergi ke rumah mereka untuk memprovokasi?


Apakah Anda tidak mau hidup lagi? !


Joni dan Gunawan juga tidak bisa mempercayai telinga mereka.


Perbuatan Handoko sama dengan mencari mati!


Namun, ini masih belum seberapa!


“Bawa pesan kepada keluarga Wibowo untuk menyerahkan Darsa, setelah keluarga Kamajaya lenyap, giliran mereka juga akan segera sampai.” Nada bicara Handoko sangat santai, sama sekali tidak ada niat membunuh.


Tidak ada yang tahu dari mana datangnya kepercayaan dirinya. Mereka adalah raksasa di Provinsi Jawa Timur. Apa yang bisa kamu gunakan untuk melawan mereka?


Teja terkejut dan tidak bisa menutup mulutnya.


"Jika menyuruhmu pergi, pergilah sekarang juga, apa yang kamu lakukan disini." tegur Yovita.


Teja mengangguk berulang kali.


Gila, semuanya orang gila!


Adik kecilku juga ikut gila!


Meskipun keluarga Nugraha juga salah satu diantara tiga raksasa, tetapi bagaimana mungkin mereka memiliki kekuatan untuk melawan kedua keluarga lainnya?


“Sudah, ayo pergi.” Handoko melihat sekeliling, amarah di hatinya berangsur-angsur menghilang.


Ini belum berakhir, siapa pun yang berencana untuk mencelakainya harus mati!


“Tuan Handoko, keluarga Madaharsa mengakui kegagalan dan kekalahan ini, tapi tolong lepaskan anakku.” Joni berteriak keras.


Handoko tidak menoleh ke belakang, "Kamu mengakuinya atau tidak, apa hubungannya denganku?"


Ya, dari awal hingga akhir, dia sama sekali tidak peduli dengan keluarga Madaharsa!


Mereka hanya orang-orang kerdil saja.


Gunawan dibawa pergi.

__ADS_1


Keluarga Madaharsa seharusnya berdoa kepada Tuhan, berharap Gunawan bisa pandai-pandai sendiri dalam menghadapi masalah ini.


Joni jatuh ke lantai dengan tidak berdaya, dia yang ingin mengambil keuntungan dari kedua belah pihak malah mencelakai dirinya sendiri.


Dia sekarang hanya berharap keluarga Kamajaya dan keluarga Wibowo dapat membunuh Handoko!


Teja mengejar keluar dan bergegas berjalan ke samping Handoko.


Anggota kelompok aksi mengenalnya sehingga tidak menghalangnya.


"Adik ipar, jika bisa tolong dengarkan nasihatku, jangan memprovokasi lagi. Keluarga Kamajaya dan Wibowo sangat kuat. Jika mereka bergabung, kita tidak mampu melawannya."


Pikiran Teja sangat sederhana, adiknya yang begitu angkuh tidak pernah bersikap baik pada pria lain.


Namun, di depan Handoko, dia begitu patuh, dan membawa pasukan Dragon untuk mendukungnya, jelas, keluarganya sudah setuju terhadap hubungan mereka berdua.


Handoko melirik Yovita dari sudut matanya, makna di matanya jelas: Apakah ada masalah dengan otak kakakmu?


“Apa yang kamu bicarakan, ini adalah Kepala Instruktur!” Yovita menendang kakaknya dengan marah.


“Kepala Instruktur? Nama panggilan macam apa ini, apakah ini berhubungan dengan **?” Teja segera minggir dan bertanya dengan perasaan bingung.


“Pergi!” Yovita sangat marah, kali ini dia tidak dapat menahan emosinya dan langsung menendang pantatnya!


“Ah!” Teja terhempas, terjatuh di lima meter jauhnya, mencengkeram pantatnya dan berlari.


Kali ini benar-benar bengkak.


Wajah Gunawan tidak berdaya!


Tidak heran Handoko tidak takut pada siapa pun, ternyata dia adalah menantu keluarga Nugraha.


Aku bodoh sekali, malah menyuruh Tuan Muda Nugraha untuk membantuku.


Yovita ketakutan, mengejar Handoko untuk menjelaskan: "Maaf, Kepala Instruktur, kakakku berbicara sembarangan, telah merepotkan Anda."


Handoko menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, biarlah dia berbicara di depan orang sendiri , tapi jangan biarkan dia berbicara di luar sana."


“Baik, aku akan menjaga mulutnya.” Yovita menggertakkan giginya.


Teja, yang baru saja masuk ke dalam mobil, sekujur tubuhnya gemetaran.


“Tuan Muda Nugraha, Tuan Muda Kamajaya sudah mati, apa yang harus kita lakukan?” Beberapa anak muda lainnnya terlihat panik.


“Apa lagi yang bisa dilakukan, kalau tidak kembali ke Surabaya, apakah kalian berencana untuk membalas dendam Budiono?” Teja berkata dengan marah.


Sekelompok anak muda itu melambaikan tangan berulang kali, jangan bercanda, kami masih belum hidup bosan!


“Aii, Provinsi Jawa Timur akan terjadi kekacauan.” Teja menghela nafas tak berdaya.


Keluarga Kamajaya tidak akan menerima kenyataan ini, sekarang telah melibatkan keluarga Wibowo, mana mungkin tidak terjadi kekacauan!


Mereka masuk ke mobil dan pergi dengan tergesa-gesa, banyak dari mereka yang diam-diam mengambil keputusan: Seumur hidup ini tidak akan datang ke tempat hantu ini lagi!


Handoko masuk ke dalam mobil dan bertanya, "Kemana Theo pergi?"


Yovita segera menjawab: "Pulang ke rumah, orang yang mengawasinya berkata bahwa dia sedang berkemas, sepertinya dia ingin meninggalkan Jawa Tengah."


Handoko mengangguk.


Bagi Theo, Jawa Tengah adalah tempat yang menyedihkan, dan telah meninggalkan trauma kepada Ardana.

__ADS_1


Demi kesehatan anak itu, dia harus meninggalkan tempat ini.


“Kepala Instruktur, ada satu hal yang tidak kumengerti. Bagaimana Anda bisa tahu ada seseorang di belakang Budiono yang menghasutnya?” Yovita bertanya dengan perasaan aneh.


__ADS_2