
Anggota tim aksi membawa keluar seorang anak kecil.
Melihat Theo, anak kecil itu berlari ke hadapannya sambil menangis.
"Huhuhu... Paman!"
Theo baru bereaksi, memeluk anak itu dan tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat.
Ardana ternyata tidak mati? Dia masih hidup!
Meskipun dia membenci Tisna yang serakah, tapi dia menyukai Ardana, keponakannya yang nakal ini.
Meski tidak ada hubungan darah diantara mereka, tapi tidak menghalanginya untuk mencintai anak itu.
“Ardana, kemana saja kamu akhir-akhir ini?” Theo bertanya sambil menghiburnya.
“Kakek buyut ingin membunuhku, Paman Handoko yang menyelamatkanku.”Mata Ardana berkabut karena air mata.
Anak nakal ini menjadi lebih dewasa setelah mengalami lika-liku antara hidup dan mati.
Theo tidak bisa mempercayai telinganya, memandang Handoko dengan heran, dan bertanya, "Mengapa?"
Handoko berkata dengan santai, "Mengapa anak kecil harus bertanggung jawab atas kesalahan orang dewasa?"
Ada sebuah perkataan yang tidak ia katakan, Dia juga adalah seorang ayah, tidak mungkin ia membiarkan Ardana mati di rumah keluarga Setyawan.
Theo tidak percaya bahwa ini adalah Handoko yang ia kenal.
Pria brutal ini juga memiliki sisi yang baik?
Diantara kekejaman dan cinta kasih.
Yang mana dia yang sebenarnya?
“Orang tuamu dan Tisna dibunuh oleh Tirta.” Yovita menjelaskan: “Karena Ardana adalah anak dari Tisna dan Pram.”
Wajah Theo tampak tidak percaya!
Dia selalu mengira bahwa Handokolah yang membunuh orang tuanya, tetapi ternyata ini baru kebenarannya!
Ardana ternyata keponakannya sendiri!
“Tirta sudah mengaku. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya kepada pihak otoritas” kata Yovita dengan santai.
Theo menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tidak, aku percaya!"
Karena Ardana dan Pram terlihat sedikit mirip.
Jika tidak, bagaimana mungkin keluarga Setyawan ingin membunuhnya?
“Aku sepenuh hati ingin membunuhmu dan membalas dendam, mengapa kamu melepaskanku?” Theo bertanya.
Handoko berbalik dan berkata: "Dulu ketika Pram membunuh orang, kamu yang diam-diam membantu putra korban dan menjamin sekolah dan kehidupannya."
"Selain itu, ada 129 remaja yang disponsori olehmu supaya mereka tidak putus sekolah, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
"Dalam sepuluh tahun terakhir, kamu telah mendonorkan sembilan puluh sembilan kali darah, dengan total 68.000 ml."
"Memberikan donasi sebanyak 284 kali, dengan total 40,50 miliar."
Theo jatuh ke lantai, menatap sosok Handoko, hanya kejutan dan kengerian di matanya!
Dia saja tidak dapat mengingat semua data ini, tetapi Handoko bisa mendapatkannya!
Pria ini sungguh mengerikan!
Teja beserta ayah dan anak keluarga Madaharsa sulit mempercayainya.
__ADS_1
Theo yang suka bermain dengan bintang wanita, memiliki sisi yang begitu mulia.
Apa sebenarnya yang ingin dia dapatkan?
“Paman Handoko, tolong lepaskan paman, ini adalah salah Ardana, maafkan aku.” Ardana menangis dan berlari ke arah Handoko, membungkuk dan meminta maaf.
Handoko memegang kepalanya, dia sudah tidak mempermasalahkan Ardana menyebut Sasha sebagai anak liar.
Apa yang dimengerti oleh anak kecil, semua ini Tisna yang mengajarkannya.
“Kamu berbuat begitu banyak amal tapi tidak memberitahu orang lain, mengapa?” Handoko bertanya.
Demi menghukum mati Theo dan membuatnya dijatuhi hukuman mati seperti Pram, tim aksi melakukan penyelidikan menyeluruh terhadapnya.
Tapi tidak disangka ternyata dia tidak hanya memiliki fondasi yang bersih, tetapi juga seorang dermawan.
Kekejaman Handoko hanya ditujukan pada orang jahat.
Tetapi terhadap orang baik, dia akan menunjukkan toleransi dan kesabaran yang tinggi.
Tentu saja, dia memiliki batas kesabaran, yaitu keluarganya!
“Grup Tjandrawinata memulai usahanya dengan tidak terhormat. Ketika masih kecil, aku sering melihat ayahku merebut bisnis orang lain dan memukulinya sampai setengah mati. Sejak saat itu, aku sudah tahu bahwa akan ada hari seperti ini.” Theo merasa lega setelah mengatakannya.
“Jadi, kamu melakukan perbuatan baik untuk menebus dosa keluargamu?” Handoko bertanya.
Theo menggelengkan kepalanya, "Tidak, hanya untuk mendamaikan hati."
Sekarang, tidak ada lagi kebencian di hatinya.
Di hadapan Handoko, hanya ada rasa hormat yang mendalam!
Dia tidak pernah berpikir bahwa ini adalah Handoko yang sebenarnya!
Handoko, seorang pria yang penuh simpati, tetapi juga dapat membedakan kebaikan dan kebencian dengan jelas!
Mengucapkan kata-kata ini secara langsung pasti akan membuat Ardana ketakutan.
Handoko percaya Theo mengerti apa yang dia maksud.
Tentu saja Theo mengerti, dia bangkit dengan perlahan.
Dia sedikit ragu-ragu, berjalan ke Handoko dan berbisik.
"Mengenai kejadian empat tahun lalu, sepertinya aku menemukan sesuatu dan tujuan keluarga Madaharsa merebut kekayaan keluarga kami, kita bicarakan secara terperinci setelah Anda menyelesaikan masalah disini."
Mata Handoko berbinar!
Apa yang terjadi empat tahun lalu adalah penyesalan terbesar di hatinya!
Bukankah semua hal yang dia lakukan setelah kembali ke Jawa Tengah adalah demi mencari kebenaran?
Tidak diduga, yang dia lakukan tidak sia-sia, melepaskan Theo ternyata bisa mendapatkan hal yang ingin dia ketahui.
“Baik!” Handoko mengangguk.
Theo memberi hormat dan pergi dengan Ardana.
Ayah dan anak keluarga Madaharsa ingin tahu apa yang dibisikkan Theo kepada Handoko.
Pada saat ini, mereka tidak ada keberanian untuk bertanya.
Mereka berpikir bahwa perselisihan ini telah berakhir, dan Gunawan juga bersiap-siap untuk dibawa pergi.
Tidak disangka...
“Di mana Budiono?” Handoko bertanya dengan santai.
__ADS_1
Teja sangat terkejut, masalah hari ini apa hubungannya dengan Budi?
“Tuan Muda Kamajaya sedang beristirahat di kamar.” Joni buru-buru menjawab.
Dia akhirnya menyadari, Handoko tidak mampu diprovokasi!
"Panggil dia," kata Handoko.
Joni segera melambaikan tangan dan mengirim seseorang untuk memanggil Budiono.
Tidak butuh waktu lama terdengar suara hujatan dari luar sana.
"Anak mana yang ingin menjumpaiku, sombong sekali, apakah dia tidak tahu untuk datang sendiri?"
Budiono dan beberapa anak muda kaya berjalan ke ruangan acara dengan angkuh.
Sekilas, dia melihat Yovita yang dingin dan Teja yang berlutut di lantai.
“Ada apa, Teja masalah apa yang kamu buat?” Budiono bertanya dengan heran.
Pipi kirinya bengkak sekali, suaranya agak tidak jelas, tapi masi bisa mendengar apa yang dia katakan.
Handoko menatapnya dengan dingin, dan bertanya, "Apakah wajahmu masih sakit?"
Budiono terkejut sejenak, dia tiba-tiba menyadarinya.
"Persetan\, ternyata kamu bajingan. Berlutut dan minta maaf padaku\, Jika suasana hatiku baik\, aku akan membuatmu mati lebih enak\, jika tidak\, aku akan membunuh seluruh keluargamu... omong-omong\, di mana wanita jalang itu\, aku ingin***wanita itu!"
Keluarga Kamajaya di Surabaya memiliki kekuasaan yang besar sehingga Budiono tidak pernah menderita kerugian seperti itu.
Dia mengutuk terus menerus, berjalan ke depan dan ingin memukul Handoko.
"Pamm!"
Handoko mengangkat kakinya dan menendang perutnya.
Budiono merangkak di lantai dan tidak bisa bangun.
"Bocah tengik, siapa kamu?"
"Beraninya memukul Budi, apakah kamu tidak ingin hidup lagi?"
"Tuan Muda Nugraha, siapa bajingan ini?"
Sekelompok anak muda kaya itu mengutuk terus, tetapi tidak ada satu pun yang berani maju.
Teja mengedipkan matanya berulang kali, memberi isyarat agar mereka diam!
Dia tidak menyangka bahwa orang yang berselisih dengan Budiono malam itu ternyata adalah Handoko!
Meskipun Teja tidak tahu identitas Handoko, tetai adiknya begitu patuh padanya, tentu orang ini tidak sederhana!
"Sakit...sakit sekali, bajingan, kamu pasti akan mati, seluruh keluargamu..." Mulut Budiono masih saja berbicara kotor.
Handoko tidak mengatakan sepatah kata pun, dan mematahkan kakinya dengan satu injakan!
Daging dan tulang kakinya hancur, tidak mungkin bisa disambung kembali!
"Ah...Ah...Ah.." Budiono berguling-guling kesakitan di atas lantai.
“Jika kamu tidak ingin kaki yang satu lagi patah, segera tutup mulutmu,”kata Handoko santai.
Wajah Budiono penuh dengan ketakutan dan kebencian, dia segera menutup mulutnya.
__ADS_1
“Selanjutnya, aku akan bertanya dan kamu yang menjawab.” Handoko berjongkok di hadapannya.