Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Memberikan Saham


__ADS_3

Bagi tim aksi, ini adalah pengabaian tugas yang serius.


Tidak menyelidiki penyebab masalahnya, hampir saja melepaskan pelaku yang sebenarnya.


Yovita menggunakan mentalitas belajar, maka dia harus bertanya.


Handoko tidak akan menyembunyikan apa yang ia ketahui.


Kepala Instruktur dari tiga pasukan militer tidak hanya dapat meningkatkan efektivitas tempur para peserta latihan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menganalisis masalah secara acak.


“Seberapa besar perbedaan kekuatan antara keluarga Madaharsa dan keluarga Kamajaya?” Handoko bertanya.


"Sangat besar. Hanya dengan lima keluarga terkemuka di Jawa Tengah bersatu, barulah mungkin untuk bersaing dengan keluarga Kamajaya," jawab Yovita.


“Bagaimana cara Gunawan mengundang kakakmu?” Handoko lanjut bertanya.


"Dia memberi kakakku kaligrafi dan lukisan, dan berjanji akan memberi hadiah besar. Terakhir kali aku menelepon Anda karena masalahku, Gunawan mengira kakakku yang menyuruh Anda meninggalkan Megah Tower," kata Yovita dengan marah.


Handoko sedikit terkejut, dia tidak menyangka ada kesalahpahaman seperti ini.


Tidak heran Gunawan begitu percaya diri, Teja memang tokoh besar baginya.


“Lalu apakah kamu sudah menyelidiki bagaimana Gunawan mengundang Budiono?” Handoko memandangnya, dan ini adalah inti permasalahannya.


Yovita sangat pintar dan segera bereaksi, "Keluarga Kamajaya yang kaya itu, tidak mungkin menempatkan keluarga Madaharsa dimatanya. Ketika Gunawan mengundang Teja, dia sengaja mengungkit keluar Kamajaya, Gunawan tidak menyangka Budiono akan datang sehingga tidak memberi hadiah apapun!”


Dalam keadaan begini, Budiono masih mau datang, jelas ini tidak normal!


Seberapa besar muka keluarga Madaharsa sehingga mengharuskan cucu dari dua keluarga kaya itu datang untuk memberi selamat padanya?


Masalah ini sangat sederhana, kuncinya hanya terletak pada pemahaman sifat manusia.


Handoko sudah tahu sejak awal bahwa masalah ini tidak sesederhana itu!


“Kepala Insturktur Anda tidak usah khawatir, aku akan menyelidikinya dengan jelas mengapa Darsa menghasutnya.” Yovita berjanji.


“Jangan repot-repot, aku akan bertanya sendiri.” Handoko melambaikan tangannya, dia hanya orang mati, tidak perlu diperdulikan.


“Tapi keluarga Wibowo tidak tahu identitasmu. Bagaimana jika mereka melawan dan tidak menyerahkan Darsa?” Yovita bertanya.


“Mereka akan menyerahkannya.” Nada bicara Handoko penuh percaya diri.


Yovita tidak pernah meragukan kepala instruktur. Dia hanya bisa mengatakan bahwa Darsa terlalu sombong, dia mengira bahwa Jawa Tengah hanyalah tempat kecil, apakah dia mampu memprovokasi semua orang disini?


Masalah di acara konferensi pers penandatanganan telah selesai, Handoko mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Susan.


"Susan, kamu ingin makan apa, aku akan membawakannya."


Suaranya sangat lembut, sangat berbeda dengan di saat acara konferensi pers pertandatangan itu.


“Tidak usah repot, aku tidak lapar.” Susan menjawab sambil membuka halaman buku.


Kekuatan telinga Handoko sangat tajam, dia segera bertanya, "Apakah kamu pergi ke perusahaan?"

__ADS_1


“Bagaimana kamu tahu?” Susan panik seperti telah melakukan suatu kesalahan.


“Aku menebaknya, kamu belum sepenuhnya pulih, untuk apa buru-buru kembali ke perusahaan?” Handoko tidak berdaya.


Hanya ada segelintir orang di dunia ini yang bisa membuat Dewa Perang wilayah Barat Laut tidak berdaya, salah satunya adalah Susan.


"Bisnis perusahaan sedang sibuk, jika aku berhenti sekarang, pekerjaan berikut akan mandek." Susan dengan malu menjelaskan.


“Baiklah, izinkan aku membawakanmu bubur jamur kuping putih dari Rumah Bubur Margaretna,” kata Handoko.


Itu adalah minuman favorit Susan.


"Baik." Susan sangat senang.


Selama bertahun-tahun, kakaknya tidak melupakan kesukaannya.


Yovita melihat pamer cinta mereka, ketika memikirkan kondisi Ibu Susan, dia merasa kasihan pada Kepala Instruktur.


Rumah Bubur Margaretnya di Jalan Pengantar, semangkok bubur jamur kuping putih jatuh ke tangan orang yang ditakuti musuh itu.


Handoko yang saat ini, tampak seperti iblis yang telah jatuh ke dunia fana karena cinta.


Setelah menyingkirkan hawa yang penuh keangkuhan, dia tidak berbeda dengan orang biasa.


"Dring..." Ponsel Yovita tiba-tiba berdering.


Dia langsung menjawab.


Handoko masuk ke mobil dan bertanya, "Ada apa?"


Yovita meletakkan ponselnya dan menjawab: "Theo sudah keluar dari rumah, kalau dilihat dari arah tujuannya sepertinya dia akan pergi ke Grup Tanujaya."


Handoko mengangguk, dia tidak dapat memahami pikiran Theo, yang pastinya dia tidak memiliki niat jahat.


Karena jarak berbeda, Theo sampai ke Grup Tanujaya sebelum Handoko.


Ganendra menerima pemberitahuan dari Yovita dan tidak menghalangnya.


“Halo, apakah Tuan Handoko sudah kembali?” Theo menggandeng Ardana, membawa sebuah kantong dokumen, tidak tahu apa isi di dalamnya.


“Belum, masih di jalan, apakah kamu ingin menunggu?” Ganendra bertanya, dia sangat tertarik pada anak muda kaya yang berbeda ini.


“Bisakah aku menemui Ibu Susan?” Theo tampak tulus.


“Tunggu sebentar, aku tanyakan dulu.” Ganendra segera menelepon Ariani.


Theo kelihatan sangat sabar.


Ketika kebencian di dalam hatinya hilang, dia seolah-olah mendapatkan pencerahan besar.


Melihat dunia ini jauh lebih jernih.


Dia dapat merasakan anggota penjaga keamanan Grup Tanujaya tidak sederhana!

__ADS_1


Sebelumnya, Theo mengira bahwa yang mendukung Handoko adalah keluarga Nugraha.


Sekarang tampaknya keluarga Nugraha juga sedang berusaha menjalin hubungan baik dengan Tuan Handoko.


“Tuan Theo, Anda sudah lama menunggu, silakan ikuti aku.” Ganendra sudah mendapatkan instruksi.


Dia membawa Theo ke kantor CEO.


Susan sangat terkejut, apa yang dilakukan Theo kemari.


Awalnya dia mengira Theo datang untuk membalas dendam, tetapi Ariani mengatakan kepadanya bahwa boleh menjumpainya.


Theo datang ke perusahaan dan membuat semua karyawan terkejut.


Semua orang sangat khawatir apakah Theo, yang keluarganya hancur, akan melakukan perlakuan ekstrem.


Anak laki-laki kecil yang dibawanya, saat itu menyebut putri Ibu Susan sebagai anak liar.


Di kantor CEO, Ariani berdiri di meja dengan tangan terlipat.


Meskipun kemungkinan balas dendam Theo sangat rendah, dia harus melakukan perlindungan dengan baik dan tidak boleh membiarkan kecelakaan terjadi.


Ganendra menjaga di depan pintu. Kedua pasangan itu mengapit dari depan belakang, bahkan jika yang datang adalah pembunuh tingkat platinum, mereka juga tidak akan berdaya!


“Ardana, ingat apa yang paman katakan padamu?” Theo bertanya.


Mata Ardana memerah, dia berjalan ke meja Susan, membungkuk dan berkata, "Maaf, Tante Susan, tolong maafkan aku."


Susan tidak marah pada anak kecil, dan ketika melihat kesedihan Ardana, dia segera bangkit dan berjalan ke samping meja, berjongkok di depan anak itu untuk menyeka air matanya.


"Laki-laki kuat, tidak boleh cengeng, tante sudah memaafkanmu!"


Dengan penuh rasa bersalah, Theo membungkuk dan berkata: "Kali ini aku ke sini untuk memberikan penjelasan mengenai permusuhan diantara kedua keluarga kita. Aku dengan tulus meminta maaf kepada Anda atas kesalahan yang telah dilakukan keluarga kami kepada Anda."


Kematian Pram adalah kesalahannya sendiri, Theo tidak mungkin membenci keluarga Tanujaya dan Handoko karena masalah tersebut.


“Jangan seperti ini, Tuan Theo, semua masalah itu sudah lewat, kamu tidak perlu mengingatnya lagi,” kata Susan buru-buru.


Theo semakin merasa bersalah Jika Pram menyakiti Ibu Susan yang baik hati ini, tidak peduli berapa banyak perbuatan baik yang dia lakukan, seumur hidup hatinya tidak akan merasa nyaman.


 "Ibu Susan, aku bermaksud memberi Anda semua saham Grup Tjandrawinata, ini dianggap sebagai kompensasi dari keluarga Tjandrawinata."


Susan melambaikan tangannya berulang kali, "Bagaimana boleh, tidak boleh, aku sudah memaafkan kalian, aku tidak boleh menerima saham ini, ini terlalu berharga!"


Meskipun Grup Tjandrawinata telah kehilangan kejayaannya, tapi masih termasuk perusahaan besar, aset saat ini setidaknya ada beberapa miliar!


“Jangan buru-buru menolaknya, aku pasti akan memberikan saham ini, tapi prasyaratnya adalah Tuan Handoko setuju.” Sikap Theo sangat tegas.


Susan tercengang, mengapa dia ingin kakaknya setuju?


 Theo tidak menyembunyikan alasannya, dan mengatakan: "Aku ingin pergi dengan Ardana dan tidak akan kembali ke Jawa Tengah lagi, tidak ada gunanya menyimpan saham ini."


Beberapa miliar aset diberikan begitu saja, sungguh sesuka hatinya!

__ADS_1


__ADS_2