
Mungkinkah Handoko ditipu oleh pendeta tua itu?
Selain itu, aku tidak bisa memikirkan alasan apapun.
Bagaimanapun, Grup Tjandrawinata yang memimpin dalam penandatanganan kontrak. Prathama Tjandrawinata, anak bungsu kedua dari keluarga Tjandrawinata membawa Chandra kesana kemari, sampai akhirnya mendapatkan kembali pesanan dari pengembang real estate besar dan perusahaan konstruksi.
"Handoko, bagaimana kamu melewati tahun-tahun ini..." Mata Lidya meneteskan air mata, semua kebenciannya lenyap, dan dia bangga memiliki anak seperti itu!
"Bu, aku bukannya tidak memberitahu, tapi..." Handoko tidak nyaman mengatakannya.
“Ibu mengerti, itu konfidensial.” Lidya dengan hati-hati mengamati putra angkatnya, baru kemudian menyadari bahwa temperamennya berbeda dari masa lalu.
Chandra masih sedikit curiga, tapi jika dipikirkan baik-baik, siapa yang berani memalsukan begitu banyak medali dan tidak takut masuk penjara!
"Ayah, kalian mungkin telah ditipu..." Handoko disela sebelum dia selesai berbicara.
“Jangan bicara lagi, kamulah yang menipu kami, dulu Grup Tjandrawinata menyelamatkan keluarga Tanujaya, tidak mungkin itu semua adalah kebohongan!” Sikap Chandra sangat tegas.
Hati Handoko penuh dengan kepahitan, dia harus menemukan cara agar orang tua angkatnya tahu yang sebenarnya!
Untungnya medalinya berguna, dan hubungannya dengan keluarganya sedikit membaik.
“Kreak!” Pintu terbuka, dan seorang pria bersama dengan seorang wanita masuk, mengganti sepatu dan menaruhnya lemari sepatu.
Handoko akhirnya melihat sosok yang sering ia mimpikan, Susan jauh lebih kurus dari empat tahun yang lalu.
Karena dia telah berlatih "Rahasia Langit", dia sangat peka terhadap emosi manusia, dan dia dengan sangat jelas merasakan kekhawatiran Susan!
“Bu!” Sasha melompat dari sofa dan bergegas menuju ke arah Susan.
Semua orang sedikit gugup, tidak tahu bagaimana reaksi Susan ketika ia melihat Handoko, jangan sampai kondisinya memburuk!
“Sasha, ayo sini paman peluk.” Prathama mengulurkan tangannya.
Sasha melewatinya dan bergegas berlari ke pelukan Susan, jelas tidak suka terhadap orang ini.
Handoko tahu alasannya hanya dengan melihatnya sekilas!
Karena Prathama adalah orang yang berbahaya, bagaimana mungkin dia bisa lepas dari persepsi Rahasia Langit?
Meskipun Sasha tidak mengatakannya, tapi dia pasti membencinya.
Melihat keduanya memasuki pintu bersama-sama, Hati Handoko sangat menderita, Sansan, apakah kamu benar-benar sudah melupakanku?
"Ayah, Ibu, kalian..." Susan berjalan ke ruang tamu sambil menggendong putrinya dan kemudian melihat Handoko.
Ekspresi rasa sakit dan bimbangnya secara bertahap muncul di wajahnya yang lembut... Detak jantung semua orang bedebar dengan cepat, menunggu reaksi Susan!
Prathama tidak mengenal Handoko, tetapi dia bisa merasakan bahwa kemunculan Handoko telah menyebabkan perubahan kecil dalam keluarga ini.
“Ah! Jangan!” Susan berteriak dan hampir jatuh, Handoko tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan dan memeluknya, hatinya sangat sakit!
Sansan benar-benar sudah melupakanku...
Ekspresi Prathama menjadi dingin, "Berengsek, lepaskan Sansan!"
Handoko menoleh untuk melihatnya, tatapannya sedingin es, seperti dewa kematian.
Prathama tidak bisa menahan ketakutan di dalam hatinya, seolah dibekukan oleh tatapan ini, dia hampir tidak bisa merasakan detak jantungnya!
“Sansan!” Chandra dan Lidya bergegas ke depan.
__ADS_1
Handoko segera membuang jauh-jauh niat membunuhnya.
Prathama perlahan tersadarkan, melihat Handoko yang mengenakan pakaian lusuh, hatinya hanya terisi dengan rasa malu dan marah.
Sialan! Bisa-bisanya aku takut oleh pria miskin ini!
Siapa dia, kenapa dia sepertinya punya hubungan baik dengan keluarga Tanujaya, dia bahkan bisa memicu penyakit Susan, apakah dia Handoko yang kabur dari keluarga Tanujaya saat itu?
“Sansan, kamu baik-baik saja 'kan!” Lidya menangis karena cemas.
Mengendarai mobil akan memperburuk penyakit putriku, bagaimana aku bisa mengantarnya ke rumah sakit jika penyakitnya kambuh di saat seperti ini!
Handoko menahan kesedihan di dalam hatinya, dan mengirimkan energi Rahasia Langit ke dalam tubuh Susan.
Penyakit Susan adalah penyakit mental, dan dia tahu bahwa tidak ada gunanya melakukan ini, namun itu lebih baik daripada tidak melakukan apapun.
Aku tidak tahu apakah energi yang kuberigan berguna atau tidak, atau mungkin suasana hati Susan sudah membaik, dia perlahan-lahan menjadi tenang, dan tatapan yang dipenuhi oleh rasa bingung yang disebabkan karena ia melihat sosok Handoko berangsur-angsur menjadi jelas...
Ia seolah sedang memikirkan sesuatu, dia memeluk Handoko dengan erat!
Hati Handoko sangat gembira, Sansan mengingatku!
Namun, tak lama kemudian, hatinya seperti sedang jatuh ke jurang yang dalam nan dingin.
"Kak! Aku mengenalimu, kamu adalah kakakku!" Isak Susan.
Jarak terjauh di dunia bukanlah saat aku bertatap muka denganmu dan kamu tidak mengenalku, tapi saat saling berpelukan, tapi kamu lupa bahwa aku adalah kekasihmu!
Ingatan Susan tentang Handoko terbangun delapan belas tahun yang lalu, Dia berusia enam tahun pada saat itu, lebih kecil dua tahun dari Handoko.
Hati Handoko seperti teriris pisau yang begitu tajam!
Wajah Prathama dipenuhi oleh senyuman, tetapi hatinya penuh dengan kekesalan, ternyata ayah dari pelacur kecil itu kembali.
Tetapi Susan hanya ingat bahwa kamu adalah kakaknya, sedangkan Chandra dan istrinya berharap aku dan Susan bisa bersama, kau sudah kalah!
Satu-satunya masalah adalah Susan tidak membiarkan aku menyentuhnya selama lima tahun ini!
“Kak, ke mana saja kamu selama beberapa tahun ini?” Susan tersenyum ditemani oleh air matanya, seperti gadis kecil yang menangis lugu 18 tahun yang lalu.
“Kamu adalah Handoko yang melarikan diri dari keluarga Su empat tahun lalu 'kan… Maaf, kamu aku keceplosan.” Prathama mencibir.
Mata indah Susan penuh dengan keraguan, Apakah kakak kabur?
Chandra dan istrinya sangat canggung dan membantu menjelaskan: "Beberapa tahun ini Handoko telah menjadi tentara dalam pasukan militer."
“Kakak, ayo cepatlihat, semua medali ini didapatkan oleh kakak!” Teriak Sarah. Sarah sangat membenci Prathama dan hanya ingin kakaknya menjadi kakak iparnya!
Susan tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya... sebanyak ini?!
Prathama juga terkejut, pikiran pertamanya adalah: Pasti palsu 'kan!
Di usia Handoko seperti ini, tidak mungkin bisa mendapatkan begitu banyak penghargaan!
"Handoko, kemarilah bantu ibu memotong sayuran," kata Lidya.
Handoko tahu apa yang ingin dia katakan, tapi ia tidak bisa tidak mendengarkan.
Ketika kedua orang itu masuk ke dapur, Lidya mulai memasak dan sengaja membuat suara ribut, tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.
"Ibu tahu pikiran dan perasaanmu, tapi ini adalah yang terbaik, kamu..."
__ADS_1
“Aku tidak akan menyerah.” Sikap Handoko sangat tegas.
Lidya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela napas.
Saat memotong sayuran, Handoko memikirkan cara menyembuhkan penyakit Susan.
...
...
Di ruang tamu, Susan menggendong Sasha naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.
Prathama mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk memotret, berencana untuk bertanya kepada ahlinya.
“Kakak berkata bahwa tidak boleh memotretnya, dan juga tidak diperbolehkan untuk diposting ke internet.” Sarah segera menghalanginya.
Mata Prathama semakin bersinar, dan dia semakin yakin bahwa ada masalah dengan medali-medali itu, Itu jelas merupakan tanggapan dari kebohongan Handoko!
"Lalu apakah kamu pernah berpikir, mengapa dia tidak membiarkan kita memotretnya?"
Prathama harus mengungkap kepalsuan dari Handoko!
“Dasar bodoh, hal seperti ini saja tidak mengerti, ini pasti karena semua itu rahasia!” Kata Sarah menghina.
“Kenapa kau berbicara seperti itu dengan kak Prathama?” Chandra mengomel.
“Paman, tidak apa-apa, dia masih kecil dan masih belum mengerti apapun.” Prathama tidak menghentikan rencananya hanya karena Sarah telah melarangnya, bagaimana mungkin dia tidak melihat Cahndra mulai goyah.
“Kamu berbicara omong kosong.” Sarah sangat marah.
“Sarah! Kembali ke kamar!” Ekspresi Chandra sangat mengerikan.
“Huhuhu… Kamu tidak pernah percaya pada kakak, aku membencimu!” Sarah berlari ke atas sambil menangis.
Prathama mengambil foto dan mempostingnya di Internet: Adakah yang pernah melihat medali ini?
Chandra tidak menghentikannya, karena kesalah pahaman sebelumnya terhadap Handoko, dia juga meragukan apakah medali ini palsu atau benar adanya.
"Lihat, Paman Su, ini adalah balasan dari beberapa temanku, mereka semua adalah penggemar militer dan hampir tidak ada yang tidak mereka ketahui."
Prathama sangat bangga dan menunjukkan ponselnya kepada Chandra.
"Medali ini palsu, aku belum pernah melihatnya..."
"Aku hanya tahu kontribusi kelas khusus, kelas satu, kelas dua dan kelas tiga..."
Hati Chandra penuh dengan amarah dan kekecewaan yang mendalam...
“Brak!” Chandra menggebrak meja, menyingkirkan semua medali dari atas meja, bangkit dan berjalan ke dapur, kemudian berteriak dengan kesal: “Handoko, keluar kamu!”
“Ada apa?” Lidya bertanya kebingungan.
Handoko juga bertanya-tanya apakah Prathama mengatakan sesuatu di depan ayah angkatnya.
Semua Medali itu palsu, Prathama memposting ke Internet dan bertanya tentang medali-medali itu, tidak ada yang tahu mengenai medali-medali sebanyak itu! ” Chandra kecewa.
Handoko bergegas ke ruang tamu dan melihat medali berjatuhan di seluruh lantai. Dia hampir tidak bisa menahan diri, dan ingin membunuh Prathama di tempat!
__ADS_1