
Di pintu masuk Grup Averony, ada belasan orang yang terbaring di lantai, meratap kesakitan, semua kaki dan tangan mereka patah.
“Lapor Kepala Instruktur, mereka berniat untuk menghancurkan mobilmu.” Santoso, salah seorang anggota tim melangkah maju dan berkata.
Handoko sedikit menganggukkan kepala, mengabaikan orang-orang yang berguling-guling di lantai itu. Dia membawa Sasha ke kursi belakang, dan pergi dengan mengendarai mobil Hummer.
Tak lama setelah itu, terlihat karyawan Grup Averony membawa Janu ke dalam mobil dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Adegan ini, merupakan peringatan bagi yang lainnya, yang pertama adalah keluarga Max menghilang, dan kemudian diikuti oleh Janu yang kakinya dipatahkan. Orang-orang yang memojokkan dan menekan keluarga Tanujaya saat itu benar-benar telah merasa ketakutan!
“Sasha, apakah tadi kamu merasa takut?” Handoko berbalik dan bertanya.
“Ayah mengajari Sasha untuk melindungi ibu, Sasha tidak takut!” Peri kecil itu menjawab dengan penuh keberanian.
Handoko merasa sedih dan marah!
Karena kecelakaan mobil beruntun saat itulah yang membuat kehidupan putrinya berubah. Dia yang masih kecil, sudah ditakdirkan untuk tidak dapat menikmati masa kecil yang penuh keriangan seperti anak-anak kecil lainnya.
“Sashaku sayang, kamu benar-benar baik, apakah kamu masih ingat perjanjian di antara kita?” Handoko bertanya dengan lembut.
“Tentu saja aku ingat, itu adalah rahasia kita berdua, kita tidak boleh memberitahu siapa pun.” Jawab Sasha.
“Kenapa tidak boleh memberi tahu ibu?” Handoko lanjut bertanya.
"Karena aku ingin memberikan kejutan untuk ibu." kata Sasha dengan gembira.
Handoko memarkir mobil di pinggir jalan, dengan penuh rasa bersalah dia tidak berani menoleh dan bertanya, "Apakah setelah Sasha dewasa akan membenci ayah?”
Maaf, peri kecilku sayang, Ayah telah membawamu untuk berjalan di jalan yang penuh duri.
"Mengapa harus membenci ayah? Sasha paling mencintai ayah, dan juga masih ada ibu, kakek, nenek, bibi..." Sasha menghitung dengan jari kecilnya, ia sungguh kelihatan imut.
Handoko tiba-tiba berbalik dan memeluknya erat-erat!
"Ayah, apakah kamu menangis?" Sasha terpengaruh oleh emosinya, kemudian merasa sedih dan mengalirkan air mata.
Meskipun dia tidak tahu mengapa ayahnya sedih.
“Tidak, mata ayah kemasukkan debu.” Handoko mengendalikan emosinya dan tersenyum.
Dewa Perang hanya akan meneteskan darah dan tidak akan pernah meneteskan air mata!
Handoko awalnya mengira dia tidak mungkin mengalirkan air mata, tetapi menghadapi putrinya, dia tidak bisa menahan kesedihan di dalam hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, dua puluh tahun kemudian, dua ratus tahun kemudian, apakah Sasha masih ingat apa yang dikatakan hari ini?
Handoko kembali menyalakan mobilnya.
Ajaran yang diberikannya hari ini sangat lancar, putrinya yang cerdas dapat mengerti dan memahami analogi dengan tepat.
Tapi... Sepertinya dia melupakan sesuatu?
Akhirnya ia teringat!
__ADS_1
Handoko segera mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan. Baru saja berdering dua kali sudah langsung terhubung.
“Tuan Handoko, apakah ada instruksi?” Suara Lingga yang penuh hormat terdengar dari speaker ponsel.
“Jangan gugup, tidak ada masalah, hanya ingin mengingatkan kamu untuk menambahkan steak ayam untuk Saputra setiap kali makan.” Suasana hati Handoko berangsur-angsur membaik.
Menambahkan steak ayam adalah penghargaan yang paling umum diberikan dalam pelatihan militer!
"Baik, aku akan menuruti instruksi Anda.” Lingga merasa bingung dengan apa yang dikatakan Handoko.
Mengapa Tuan Handoko membuat permintaan yang aneh?
Tidak, aku harus bertanya pada kakek!
Lingga segera pergi ke Permata Residence.
Hideki sedang menyiram bunga, ketika dia melihat cucunya masuk, ia bertanya dengan aneh: "Mengapa kamu punya waktu untuk pulang hari ini?"
Lingga segera mengambil tong penyiram bunga dari tangan kakeknya dan berkata sambil menyiram bunga: "Aku baru saja menerima telepon dari Tuan Handoko, dia memintaku untuk menambahkan steak ayam untuk Saputra setiap kali makan. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Kakek, apakah Anda tahu??"
Ekspresi Hideki tampak serius, "Tuan Handoko pasti memiliki tujuannya sendiri, apa maksud dia sebenarnya?"
“Di mana Lina, apakah kamu masih melakukan latihan bersama Tuan Handoko?” Lingga bertanya.
"Dia telah menguasainya, aku juga hampir menguasainya, sudah ada tanda-tanda pemulihan pada cedera lamaku... Aku sudah mengerti maksud dari Tuan Handoko!” Hideki tiba-tiba menyadarinya.
“Kakek, tolong katakan, jangan menyembunyikannya padaku.” Lingga bertanya dengan buru-buru.
Lingga tiba-tiba menyadari, "Ya, kenapa aku tidak memikirkannya, pasti begitu!"
Dia memutuskan untuk menambah steak ayam untuk putranya setiap kali makan!
Kemudian Hideki berkata dengan serius: "Ingat pesanku, kamu harus menghormati Tuan Handoko."
Ekspresi Lingga sangat serius, "Tentu, aku tidak akan seperti Lina, mengabaikan kata-katamu.”
Hideki menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak cukup! Tahukah kamu, nasib keluarga Setyawan sudah berakhir!"
Ekspresi wajah Lingga berubah drastis, bagaimana mungkin! Mereka adalah keluarga terkemuka di Pulau Jawa, mana mungkin nasib mereka berakhir dengan sunyi senyap? Bukankah berarti hanya tinggal empat keluarga terkemuka yang tersisa di Pulau Jawa?
Seolah mendengar suara hatinya, Hideki mencibir dan berkata: "Lihatlah, akan ada satu atau dua keluarga yang akan disingkirkan lagi, dan akan ada beberapa keluarga yang akan mencari mati."
Lingga tidak bisa mempercayainya, "Mana mungkin, pelajaran yang diberikan Handoko kepada keluarga Setyawan begitu mengerikan, apa masih ada orang yang berani melawan Tuan Handoko?”
Hideki menghela nafas dan berkata: "Di dunia ini, tidak akan pernah kekurangan orang yang mencari keuntungan, merasa diri sendiri benar dan bertindak sombong!"
Lingga berkata dengan cemas, "Anda pasti mengetahui sesuatu, apakah Anda telah memberi peringatan kepada Tuan Handoko?"
Hideki menggelengkan kepalanya, tersenyum dan berkata, "Tuan Handoko memiliki kemampuan untuk mengetahui semuanya, siapa yang dapat membohonginya?
.........
.........
__ADS_1
Janu yang telah menjalani operasi, berbaring di ranjang rumah sakit. Setelah obat bius berlalu, rasa sakit yang seperti gelombang menyerang sarafnya yang rapuh.
Dokter mengatakan kepadanya bahwa tulang kakinya telah hancur, tidak dapat disembuhkan lagi dan hanya bisa diamputasi, dia hanya bisa menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda sama seperti putranya Danu.
Kebencian dan amarah menupuk di dadanya, pikiran Janu penuh dengan niat untuk membalas dendam!
“Jangan khawatir, Ayah, aku telah menambahkan imbalan sebesar 20 miliar lagi untuk mempercepat eksekusi!” kata Danu menghibur.
Dalam waktu tiga hari, Handoko pasti mati!
“Bagus! Aku hanya merasa sayang karena tidak dapat melihat dia mati di depanku dengan mataku sendiri! Kata Janu.
"Bukankah masih ada keluarga Tanujaya? Handoko sudah mati, Keluarga Ramadhani pasti tidak akan ikut campur lagi, kita dapat perlahan-lahan menangani keluarga Tanujaya." kata Danu sambil mencibir.
“Baik! Kakiku sakit sekali, nyalakan TV, aku akan mengalihkan perhatianku.” kata Janu dengan mimik wajah kesakitan.
Danu segera menyalakan TV, yang tampil di layar tv adalah siaran berita.
"Terungkap kasus penyelundupan besar di Pulau Jawa, aset Grup Setyawan disita, kapal barang yang melakukan penyelundupan berhasil ditangkap oleh tim Seal..."
Kedua ayah dan anak itu tercengang!
Yang diberitakan di TV tidak hanya kapal barang yang diperiksa, yang melakukan misi adalah tim Seal, dan juga ada gambar Tirta yang dibawa pergi oleh pihak otoritas!
Mereka memperhatikan dengan sangat detail...
Tirta yang duduk di kursi roda tampak kelihatan tua belasan tahun.
Apakah ini hasil yang dilakukan oleh Handoko?
Bagaimana bisa!
“A... ayah... apa yang harus ki... kita lakukan?” Danu ketakutan.
Keluarga Setyawan saja dilenyapkan apalagi mereka!
"Jangan khawatir, kita bicarakan lagi tiga hari kemudian..." Janu masih kelihatan tenang.
Jika Handoko mati di tangan pembunuh bayaran Dark Net, semua masalah bukanlah masalah lagi baginya!
Pertanyaan yang masih ada di benak kedua ayah dan anak itu adalah apakah latar belakang Handoko adalah keluarga Ramadhani? Keluarga Setyawan memiliki kekuasaan yang sangat besar, bagaimana mungkin keluarga Ramadhani memiliki kemampuan untuk melenyapkan keluarga Setyawan dalam waktu sesingkat itu. Jika bukan keluarga Ramadhani, apa sebenarnya latar belakang Handoko?
“Bagaimana jika Handoko tidak mati?” Danu bertanya dengan rasa takut.
“Tidak mungkin, dia pasti mati!” Janu kehilangan kendali atas emosinya.
__ADS_1